Mereka berjalan beriringan mengikuti santri yang memberitahunya tadi menuju ndalem Yai .
Setelah sampai terlihat Abah Yai, Neng Zul (istri Abah Yai ) dan Mas Zham duduk berjejer .
"Assalamualaikum ... Yai " ucap Ayah Uqi sembari menyalami Abah Yai dan Mas Zham ada sedikit rasa heran di hati sang Ayah kenapa beliau di panggil Abah Yai apalagi melihat sikap Mas Zham saat Ayah Uqi menyalaminya Mas Zham langsung memcium tangannya .
Mereka duduk saling berhadapan "Silahkan di makan camilannya" ucap Bu Neng.
Istri Abah Yai memang biasanya akrab di panggil Bu Neng tapi yang membuat heran kenapa Bu Neng ikut menjamu tamu biasanya beliau tidak pernah menjamu tamu jika di ruang tamu ada laki laki yang bukan muhrimnya.
"Iya terima kasih Bu Neng."Jawab Ibu Uqi sedikit gugup setelah menyalami Bu Neng tadi Ibu Uqi hanya terdiam dengan berbagai fikiran yang berkecambuk di kepalanya sedang Arif hanya diam mematung.
"Ada apa Abah ? Apakah Uqi anak saya melakukan kesalahan hingga saya di panggil ke sini .?" tanya Ayah Uqi .
Abah Yai tersenyum.
"Begini saya memanggil kalian mau meminta Izin ..." ucap Abah Yai kemudian tersenyum kembali .
"Anak saya ingin melakukan ta'aruf dengan Uqi putrimu ." Abah Yai menjeda ucapannya melihat ekspresi keluarga Uqi yang tentunya sangat terkejut mendengarnya .
"Apakah kamu mengizinkannya.?" sambung Abah Yai
"Sebelumnya saya minta maaf Abah Yai ..." Ayah Uqi menjeda ucapannya yang reflek membuat Mas Zham mendongak terlihat jelas di wajahnya kekecewaan karena ucapan maaf dari calon mertuanya dia berfikir jika Uqi sudah ada yang punya Ayah Uqi yang melihat sekilas raut wajah Mas Zhan langsung meneruskan ucapannya.
"Maksud saya Abah Yai meminta Izin untuk ta'arruf itu bagaimana ? Bukannya Mas Zham sudah melihat Uqi karena mereka berada di satu lingkungan yang sama pasti mereka pernah bertemu."
"Saya meminta Izin untuk menjadikan Uqi sebagai haddam di pesantren ini, selama masa Ta'arruf Uqi akan di tugaskan sebagai haddam di rumah Ilzam." jelas Abah .
"Apakah keluarga Nak Uqi menyetujuinya ?" Kali ini Bu Neng yang bertanya.
Sungguh suatu Anugerah bagi keluarga Uqi tak menyangka jika anaknya yang manja dan terkesan seenaknya sendiri bisa di sukai seorang Ilzam yang notabenya putera Yai terpandang,Terukir jelas senyum mengembang di bibir mereka sedangkan Arif hanya tertegun tak percaya 'Gila ni Uqi baru 4 bulan nyantri udah bisa bikin putera Yai suka sama dia' batin Arif
"Kalau saya sekeluarga pasrah sama Abah Yai sama seperti Anisa jika memang jodoh ... kami akan menerima dengan senang hati " ucap Ayah Uqi.
'Bukan jika kalau jodoh tapi Uqi memang harus jadi milikku' batin mas Zham.
Ingatlah anak Yai juga manusia selain memiliki sifat dingin Mas Zham juga termasuk orang yang keras kepala paling tidak suka di bantah mungkin itu sifat turunan dari kakeknya yang notabenya seorang pembisnis juga pemimpin pabrik .
"Alhamdulillah, jika di izinkan mulai hari ini Uqi akan saya tugaskan di Rumah Ilzam di bantu Mbak Imah" ucap Abah Yai meyakinkan keputusan Ayah Uqi.
" Iya Abah Yai saya menyetujuinya." jawab Ayah Uqi
"Emm ... kalau boleh saya minta rahasiakan semua ini dari Uqi." sela Mas Zham mengejutkan keluarga Uqi
"Kenap harus di rahasiakan ?" tanya Arif yang sedikit kaget mendengarnya.
"Tidak apa apa bang saya hanya tidak ingin ada kecanggungan saat Uqi berada di rumah saya" jelas Mas Zham.
"Seenggaknya biarlah Uqi tahu sendiri nanti ketika saya sudah melamarnya." sambung Mas Zham
"Ohh baiklah Ayah dan Ibu setuju saja."
"Alhamdulillah ..." Serempak semua yang di dalam ruang tamu tersenyum.
Setelah sedikit berbincang bincang akhirnya keluarga Uqi memutuskan untuk pulang.
Di kamar Uqi
"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga" ucap Uqi sembari menyenderkan punggungnya di tumpukan bantal, di pesantren ini bantal selimut dan kasur lantai yang biasa di buat tidur biasanya di susun di pojokan kamar.
Uqi merogoh kantong di sebelah kiri abayanya mengambil amplop putih berisi uang dari Kak Anisa Uqi yang penasaran dengan isinyapun membuka amplop itu.
"Wahh lumayan emang ya rezeqi anak soleha" gumamku sembari tersenyum lebar menatap tiga uang seratus ribuan, Uqi biasanya mendapat jatah 150.000 perminggu dan jatah itu akan menjadi dua kali lipat jika sudah dapat kiriman dari Kakak perempuannya, Kakak laki lakinya juga baik meski tau jika jatah Uqi akan menjadi dua kali lipat jika di kirimi Kak Anisa dia tidak pernah mengurangi jatah.
"Uqi kamu di panggil Bu Neng ..." Suara Mbak Imah mengejutkanku.
"Ehhh ada apa mbak ya kok tiba tiba Bu Neng memanggilku ?" Reflek aku langsung bertanya.
"Gak tau Uqi" jawab mbak Imah enteng
"Mbak temenin aku ya ..." Pintaku sembari menunnjukkan puppy eyesnya
"Hadech kebiasaan iya deh iya ayo aku anter ..."
Kami berjalan beriringan menuju ndalem Abah Yai melewati pintu samping yang ada di dalam pesantren
"Assalamualaikum " ucap kami bersamaan seraya masuk ke ndalem
"Waalaikumsalam masuk Mbak "
Kami masuk ke dalam ruang tengah kebetulan Bu Neng sedang duduk santai melihat berita di TV.
"Mbak Uqi ?" tanyanya memandangku dari atas kebawah tersenyum penuh arti
"Iya saya Bu Neng ."Jawabku menundukkan kepala menunjukkan ta'dzim pada guru
"Uqi mau gak jika Bu Neng menugaskan Uqi untuk bersih bersih sekaligus memasak di Rumah Mas Zham .?" Bu Neng kembali bertanya
"Iya Bu Neng ... apapun yang Bu Neng perintahkan selagi baik untuk saya, saya mau Bu Neng ." jawabku gugup.
Sekian lama aku nyantri baru kali ini aku bertatap muka dan berbicara sama Bu Neng biasanya aku hanya akan melihatnya di teras samping saat memanggil santri lain atau aku hanya mendengar suaranya saat mengaji kitab karena terlalu banyak santri jadi setiap ngaji kitab bersama Bu Neng selalu memakai speaker supaya dapat di dengar semua .
"Baiklah, setelah ini kamu ke rumah Mas Zham sama Mbak Imah nanti mbak Imah yang akan menjelaskan tugasmu ,"
"Baik Bu Neng "
"Mbak Imah antar Uqi dan temani dia !" titah Bu neng
" Iya Bu Neng ."
Kami berdua melangkah berjalan beriringan menuju kerumah Mas Zham
"Assalamualaikum ..." ucap Mbak Imah
Ckleeek....
Pintu terbuka tampaklah Mas Zham dengan mengenakan kaos putih dan sarung terlihat tampan tapi tidak bagi Uqi semua terasa biasa saja karena Uqi tidak pernah memandang Mas Zham dengan lekat dia hanya menunduk .
"Masuklah !" titah Mas Zham sembari melenggang pergi
"Uqi buatkan saya Teh hangat !" titahnya sebelum pergi
"Baik Mas Zham"
'Belum belum udah nyuruh nyuruh seenaknya huft' batinku
Aku memang kurang suka cowok yang suka memerintah seenaknya tipe cowok idamanku yang ramah sopan plus murah senyum, dengan langkah gontai aku menuju dapur membuatkan teh yang di minta Mas Zham, dan Mbak Imah langsung menyapu lantai .
Kulihat Mas Zham duduk bersila di ruang tengah menatap serius laptop di hadapannya dengan beberapa kertas seperti berkas berkas orang kantoran.
"Mas Zham tehnya di taruh mana ?" tanyaku
Bukannya menjawab dia hanya melirikku dan terdiam dengan posisi masih melirikku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 303 Episodes
Comments
Nia Manjungkan
aku suka alur cerita nya Thor.semangaat Author.
2021-06-11
0
Yasriza
Ini ky’y cerita fakta author’y nih😁😁😁😁
2021-05-29
2
AzZurah 🌸
goodd ceritanya...
2021-04-28
1