Dengan senyum mengembang ku gandeng tangan kedua Kakakku.
"Kita kemana ini kak ?." tanyaku .
"Gimana kalau ke tokoh peralatan mandi dulu habis itu ke tokoh buku juga ke tokoh gamis, terakhir kita makan ke cafe" usul kak Anisa .
"Aduhh alamat jadi bodyguard dadakan ini" Ucap kak Arif sembari menepuk jidatnya pelan .
"Hehehe...Gak papalah Kak kan bentar lagi aku mau nyantri kita bakal jarang ketemu" celotehku.
"Iya sekali kali gak apa apalah dek" sela kak Anisa.
"Iya ni kak Arif entar kalau aku udah jadi santri jangan kangen ya." candaku, sembari tersenyum lebar menunjukkan deretan gigiku yang gingsul.
"Yaelah pede bener sapa yang bakal rindu paling paling juga kamu yang rindu sama Kakak" jawab Kak Arif .
"Awas ya nanti kalau kangen aku gak bakal mau nemui Kakak" ancamku .
"Duhh gitu aja ngambek Kakak cuma bercanda kok" Rayu kak Arif sembari mengelus lembut pucuk kepalaku.
Tak terasa waktu berjalan dengan cepat, setelah lelah seharian muter muter yang di akhiri dengan makan di cafe rekomendasi Kak Arif aku pulang dengan tiga kantong penuh belanjaanku, ya di sini cuma aku yang membeli kedua Kakakku cuma dapat bagian membayar .
Sampai di rumah.
"Assalamualaikum" teriakku.
"Waalaikumsalam"Jawab ibu sembari membuka pintu.
"Kebiasaan anak gadis jangan teriak reriak gak baik tau" Nasehat yang hampir tiap hari di ucapkan ibu .
"Hehehe... Maaf Ibu Uqi hilaf , peace..." belaku.
"Pas pis pas pis kamu selalu ngomong gitu tapi ujung ujungnya di ulangi lagi, capek dech." Canda Ibuku sambil menirukan anak muda menaruh punggung tangannya dijidat dan melenggang pergi aku hanya tecengang dengan tingkah lucunya .
"Kak itu tadi Ibu ?, Aku gak salah liat, kan ?" Tanyaku pada kak Anisa dan Kak Arif yang baru saja sampai disampingku, mereka hanya mengedikkan bahu tanda tak mengerti.
Selesai makan dan kumpul keluarga aku merenung di sisi ranjang membayangkan bagaimana hidup di pesantren ada rasa takut, cemas dan penasaran yang hinggap di benakku hingga suara notif ponsel mengejutkanku, saat kulihat ada pesan dari Kak Anam tersungging senyum di bibirku,
saat itu Kak Anam mengirim foto, yang baru aku ingat karena terlalu sibuk jadi aku lupa masalah foto.
Me
Fotonya bagus kak 😍
Balasku dengan emot love menunjukkan kekagumanku.
Kak Anam
Iya cantik 😍😍😍
Me
Maksudnya ?
Kak Anam
Kamu cantik 😍😍
Me
Ahh Kakak bisa aja 😊
Kak Anam
Kakak serius Uqi kamu cantik semoga saja belum ada yang punya😉
Me
Kakak ini ngomong apa sih ?
kak Anam
Itu kode Uqi ,
masak kamu gak ngerti ?
Me
Ehh Kak udah malem Uqi tidur dulu yach soalnya besok mau berangkat ke pesantren bye Kak 👋👋
Kak Anam
Ehhh tunggu kamu mau nyantri ?
Me
Iya Kak
udah yach Kak
Aku mau tidur good night
Kumatikan ponselku dan ku pandangi benda pipih yg selalu menemani hari hariku, mulai besok aku gak bakal bisa megang benda ini.
Akankah aku bisa menjalani hari hariku di tempat yang berbeda ?
Berteman dengan mereka yang mungkin berbeda dengan teman temanku di sini.
Kata teman temanku anak santri itu kalem, alim, sopan, pendiam sedangkan selama ini aku berteman dengan mereka yang asyik dan terkesan terlihat sedikit urakan kalau sedang bercanda .
Akankah aku mampu menyesuaikan diri dengan mereka ?, begitu banyak pertanyaan di benakku hingga tak terasa aku terlelap dengan sendirinya.
Kicauan burung kenari dan kokokan ayam tetangga membangunkanku dari mimpi indah yang berhasil membuaiku.
Tamu bulananku masih belum pergi karena baru kemaren sore datang hingga aku masih bisa bangun terlambat, ku renggangkan kedua tanganku berjalan dan membuka jendela kamar kulihat masih remang remang padahal jam sudah menunjukkan 05:45 aku menengadah dan kulihat ternyata langit mendung penyebabnya dengan malas ku langkahkan kaki keluar kamar untuk mandi dan sarapan.
"Uqi ... sudah bangun nak ?" tanya ibu yang tak sengaja melihatku keluar dari kamar dengan berselempang handuk di pundak.
"Hemm..." Jawabku malas karena baru bangun.
"Dah cepet mandi habis itu gabung sama yang lain" titahnya.
"Iya Ibuku sayang" Jawabku tanpa menoleh kebelakang ku putar gagang pintu kamar mandi dan masuk ke dalamnya.
Setelah usai mandi dan berganti pakaian aku berjalan menuju meja makan kulihat semua keluargaku sudah lengkap duduk bersila dengan makanan di tengahnya di rumahku memang tidak ada kursi makan kami biasa makan beralaskan karpet.
"Hey calon santri ! kok pakaiannya kayak ghitu ?" celoteh kak Anisa yach saat ini aku memang sedang memakai celana pendek dan kaos oblong.
"Kan masih calon Kak belum jadi santri beneran" elakku tak mau kalah .
"Karena masih calon kamu harus belajar pakai baju ala santri"jelasnya
"Iya ... iya nanti aku ganti" jawabku.
"Ya harus gantilah gk lucu kali, kamu masuk pesantren pakek baju itu nanti" Jelasnya sembari menunjuk baju yg ku pakai.
"Emang mau berangkat jam berapa Kak ?" tanyaku.
"Jam 8..." Jawab kak Anisa dan aku hanya ber "0" riya.
08:45 am
"Toriqol jannah" Tulisan besar di atas gerbang hijau yang menunjukkan nama pesantren yang akan aku tempati.
Tempat pertama yang terlihat adalah sebuah masjid yang lumayan besar dan di sebelahnya terdapat rumah minimalis sederhana bertingkat satu namun terlihat indah, di depannya terdapat halaman yang lumayan luas dan ada ruang kelas ber jejer di sisi kanan dan kiri juga terdapat pintu hijau mirip gerbang tapi kecil di atasnya bertuliskan putri dan putra, saat turun aku termenung mengamati situasi kulihat setiap sudut tempat ini,
'Ya Allah bisakah aku hidup di lingkungan ini betahkah aku terkurung di sini' batinku.
"Hey dek jangan bengong." ucap kak Anisa mengejutkanku .
"Tau ni anak dari tadi bengong aja" sahut Kak Arif.
"Sudah ayo masuk" Kali ini Kak Ilham yang buka suara dengan Aqila yang masih setia tidur di gendongannya.
Aqila memang lebih suka di gendong kak Ilham jika dia sedang libur, aku hanya tersenyum menanggapi semua ucapan Kakak Kakakku sedang Ibu dan Ayah sudah lebih dulu berjalan menuju rumah minimalis yang kata Kak Anisa itu ndalem Yai .
Ketika aku menoleh ke kiri ku lihat seorang laki laki tampan bersarung dan berkopyah putih menenteng buku yang bertuliskan arab di tangan kanannya, entah mengapa aura seorang santri memancarkan ketenangan dan ketampanan yang berbeda dan aku mengagumi seorang santri meski aku merasa takut untuk nyantri, dia menoleh dan melihatku yang sedari tadi meliriknya akupun langsung mengalihkan pandanganku.
"Ayo dek buruan" ucap Kak Anisa sembari menarik tanganku.
"Lambat udah kayak siput" Ejek Kak Arif aku hanya cemberut menanggapinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 303 Episodes
Comments
Risa Istifa
🤗🤗🤗🤗
2022-02-22
0
Enin Ocha
author tidak bisa membedakan toko dengan tokoh ya ?! Beda jauh thor !
2021-06-25
0
riza riza
Bagus ceritanya 👍
2021-06-19
3