"Assalamualaikum " ucap Ibu dan Ayah .
"Waalaikumsalam " sahut seseorang dari dalam rumah.
Ceklek..
Suara pintu terbuka muncullah seorang laki laki paruh baya terlihat begitu berwibawa dan berkarisma .
"Yai.." Kini Ayah buka suara lebih dulu.
"Masuklah dulu " ucap Yai .
Kami duduk berjejer didalam ruang tamu beralaskan karpet permadani bercorak bunga berwarna coklat, ruang tamu ini tidak terlalu luas tapi terkesan mewah dan nyaman dengan hiasan lemari jam dinding besar di pojok juga lampu besar di atas.
"Kalau tidak salah ini Anisah ya ?" Tanya Yai sepertinya beliau mengenali Kak Anisa yang notabennya alumni di sini.
"Iya Yai ini saya Anisah" Jawab Kak Anisa sembari menundukkan kepala tanda tawaddu' ke gurunya.
"Yai tujuan kami kemari mau mendaftarkan anak saya Uqi ke pesantren ini"jelas Ayah sembari menunjukku yang kala itu duduk di samping Kak Anisa.
"Oh iya silahkan nanti kalau mau daftar langsung saja ke kantor pondok putri, Nak Anisah pasti sudah tau dimana letaknya ." jelas Yai .
"Ini anak kamu Anisa ?" lanjut Yai .
"Iya Yai ini anak saya namanya Aqila" jawab kak Anisa sembari tersenyum.
"Kalau suamimu masih dinas di sni ?" tanyanya lagi.
"Alhamdulillah masih Yai" Merasa dirinya di sebut Kak Ilham menjawabnya.
Kak Ilham dan Kak Anisah memang di jodohkan dan Yai lah yang menjodohkan mereka kebetulan kak Ilham adalah anak dari alumni santri Yai.
"Silahkan di makan dulu makanannya ..."
Yai mempersilahkan kami memakan makanan ringan yang tadi sudah di bukanya, dengan air gelas mineral di sampingnya .
"Yai bagaimana kalau kami langsung saja ke pesantren supaya Uqi bisa melihat dan mengikuti kegiatan pesantren hari ini."usul Ayah .
"Oh iya silahkan" jawab yai .
Ayah dan kedua Kakak laki lakiku pun bersalaman dan kami masuk ke gerbang bertuliskan "PUTRI".
"Kak aku takut ..." Rengekku pada Kak Anisa , kupegang tangannya dan bergelayut.
"Astaghfirullah dek udah gedhe jangan manja deh ." tegasnya .
"Isshhh Kak Anisa gak peka" ucapku sedikit kesal .
"Dek ...Di pesantren itu harus mandiri jangan manja kalau kamu manja yang ada kamu gak bakal betah ada di pesantren karena pesantren itu beda dari rumah." jelas Kak Anisa.
"Iya dek udah ya, manjanya nanti aja kalau udah pulang ke rumah" Kali ini Kak Arif yang bicara.
"Baru juga masuk udah bahas pulang masih lama kali Kak ! " ucapku kesal.
Di dalam pesantren terlihat sebuah rumah bertingkat yang lumayan megah tapi seperti baru di bangun.
Di sisi kanan terdapat Aula bertuliskan balai di pojok terdapat ruangan kecil dengan speaker yang terus memanggil salah satu santri dan kamar yang di tempati.
sedangkan di sisi kiri terdapat mushollah yang lumayan luas didepannya terdapat halaman menjadi penyekat antara rumah dan mushollah.
Didepan balai ada ruangan bertuliskan "KANTOR"
Setelah sampai di depan kantor kami di sambut wanita cantik berhijab n bergamis warna pink memberi kesan kalem tersenyum dan mempersilahkan masuk.
"Mbak saya mau mendaftatkan adik saya Uqi ..." ujar Kak Anisa sembari menunjukku.
"Oh iya sebentar ..." ucap mbak tadi beralih mengambil buku tebal di belakangnya yang terdapat rak lemari terbuka berisi buku.
"Mbak silahkan isi data diri dan formulirnya..." Mbak tadi menyodorkan buku tebal serta secarik kertas, kami masuk kantor memang berdua yang lain menunggu di Aula Ayah dan Ibu memang menyuruh Kak Anisah yang mendampingiku karena mereka yakin Kak Anisah lebih tau apa yang harus di lakukan, Kak Anisa dulu juga pernah dapat tugas jaga kantor sebelum menikah.
Setelah mengisi data dan formulir juga menyerahkan syarat syarat yang lain kami berjalan keluar di temani mbak lain yang memakai gamis navy .
" Mbak mari saya antar ke kamar dan berkeliling pesantren" ucapnya .
"Tunggu sebentar mbak saya mau mengajak Ibu" sela kak Anisa, yang di tanggapi dengan anggukan oleh mbak tadi .
"Bu ayo kita ke dalam lihat-lihat suasana dan kamar Uqi." ucap mbk Anisa.
Kami melangkah masuk kedalam pesantren.
"Perkenalkan nama saya Imah" ucap mbak Imah memperkenalkan diri.
"Saya Anisa dan ini adek saya Uqi" Jawab kak Anisa sembari menjabat tangan mbak Imah.
" Saya Uqi mbk ." Aku juga memperkenalkan diri sembari menjabat tangan mbak Imah.
"Semoga betah ya" Lanjut Mbak Imah yang ku tanggapi dengan anggukan dan senyum lebar.
"Mbak Imah di kamar mana ..?" tanya kak Anisa
"Saya di kamar B3 mbak." jawabnya.
"Benarkah ..? Dulu saya juga di kamar B3..." ucap Kak Anisa.
"Oh iya pantas saja mbak seperti sudah biasa berada di sini." ucap mbak Imah, mungkin sudah terlihat dari mimik wajah ku kalau aku memang masih merasa heran dan bingung dengan situasi di sini .
"Benarkah ? Padahal saya sudah lumayan lama lulus dari sini ." jawab kak Anisa.
"Uqi mau ke kamar yang mana ?" sambungnya.
"Aku terserah Kakak kalau menurut Kakak kamar itu cocok sama aku, aku nurut aja." jawabku singkat .
Ku lirik Ibuku hanya tersenyum memandangi aku tersirat kebahagiaan dan kelegaan di wajahnya yang membuat aku bertekad untuk melawan rasa takutku.
"Coba Mbak Uqi lihat lihat dulu ini Asrama A kalau yang sebelah kiri ini Asrama B dan yang di depan sana Asrama C." jelas mbak Imah sembari menunjuk bangunan panjang mirip kos kosan.
" Kalau aku mau sekamar sama mbak Imah gimana gak papa kan ?" tanyaku spontan.
"Boleh ... Kebetulan di kamar B3 saya ketua kamarnya" jawab Mbak Imah.
"Wah kebetulan banget, udah Uqi di kamar B3 aja insya allah anggota kamarnya baik2 kok ketua kamarnya aja ramah seprti ini" ucap kak Anisa
"Baiklah kak ."
Kami pun melangkah menuju bangunan sebelah kiri diatas pintu tertulis B3 Ibu dan kak Anisa menuntunku masuk .
"Mari silahkan ..." Mbak Imah mempersilahkan kami masuk di dalam kamar, ada beberapa mbak mbak yang sibuk melakukat aktifitas masing masing dan seketika duduk berjejer meninggalkan aktifitasnya saat melihat kami masuk .
"Mbak Uqi ini lokernya ..." Tunjuk mbk imah
di dalam kamar terdapat loker berisi 12 loker di sisi kiri dan rak kardus berjejer di sisi kanan,Juga gantungan baju yg terdapat beberapa baju tergantung di atas jendela kamar .
Entah apa yang aku rasakan saat ini perasaan asing sedih takut campur aduk. Ku genggam jemari tangan Ibu yang di balas dengan elusan dan senyuman .
"Sudah tenanglah Uqi semuanya akan baik baik saja" ucap ibu menenangkanku .
Ku buka tas ransel yang sedari tadi ku bawa, Kak Anisah juga Ibu membantu menata barang barangku Ibu membuka kardus yang di bawanya dan Kak Anisah, kardis pertama berisi peralatan sekolah dan make up, kardus kedua berisi sisa pakaian yang terbungkus koran dan makanan ringan untuk bekal di sini.
-
-
-
-
mohon dukungannya ya jangan lupa like vote dan komen...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 303 Episodes
Comments
bung@ter@t@i
hemmm novel cerita ponpes sungguh selalu bikin penasaran
2022-12-30
0
Nina Puji Handayani
ceritanya kayak real,bener2 seperti orang mau mondok👍
2022-02-16
0
Bang AS Syahdika
nyimak aja dulu
2021-09-17
0