"Maaf saya santri di sini, Anda siapa ?" spontan ku.
"Kamu pasti santri baru ya?" Dia bertanya lagi.
Aku tak bisa menjawab menurutku aku bukan santri baru karena lumayan lama juga aku berada di pesantren ini tapi selama jadi santri aku tak pernah melihatnya.
"Sudahlah, saya mau istirahat kamu silahkan keluar dari kamar saya." titahnya .
Dengan langkah cepat aku melangkah keluar kamar 'Ya allah siapa sih tu orang wajahnya nyeremin mana nada bicaranya acuh di dekat tu orang jadi berasa kayak di kutub dingin ' gumamku dalam hati.
Di tengah jalan aku melihat Mbak Imah yang berjalan ke arahku.
"Mbak Imah ..." panggilku
"Uqi ..." Dia sedikit berlari untuk mendekat.
"Mbak kemana aja ?" Setelah dekat aku langsung memprotes .
"Maaf Uqi tadi perut mbak sakit jadi agak lama" Mbak Imah memberi alasan.
"Mbak Imah tadi ada laki laki masuk kamar orangnya pakek jas nada bicarax acuh serem ..." Ku ceritakan kejadian yang ku alami di kamar .
"Ohh mungkin itu Mas Zham Puteranya Abah Yai ..." jelas mbak Imah
"Serem ya mbak, gak seperti Ustad Fariz udah ganteng ramah lagi plus murah senyum" jelasku .
Salman Al Farizi adalah laki laki yang pertama kali aku lihat saat masuk pesantren dia juga menjadi Ustad di kelasku 4 kali dalam seminggu aku bertemu dengannya di kelas .
"Ustad Fariz murah senyum dan ramah kalau pas ngajar di kelas kamu aja, kalau kamu tau aslinya sama aja kayak Mas Zham gak ada bedanya, malah Ustad Fariz lebih sadis kalau lagi nyemak hafalan." jelas mbak Imah panjang lebar .
" Masak sih Mbak ? dari awal aku bertemu ... Sekalipun aku gak pernah tu liat beliau marah" Aku masih tidak terima jika Ustad idolaku di samakan dengan Putera Abah Yai yang dingin kayak es batu.
"Besok besok coba deh kamu tanya sama temen kamu yang udah lama nyantri di sini, Gimana sifat aslinya Ustad Fariz ..." Mbak Imah masih keukeuh dengan pendapatnya.
"Baiklah besok aku bakal tanya sama Titin ..." jawabku mengakhiri perdebatan.
Tak terasa malampun tiba hari ini adalah hari kamis itu artinya besok semua kegiatan libur dan setiap malam khusus hari kamis ba'da isya' para santri satu pondok akan berkumpul menonton TV bersama di Aula, satu TV untuk bersama.
"Uqi buruan keburu mulai ini acaranya ..." Teriak Icha yang sudah heboh menungguku di depan kamar dengan cemilan di tangannya .
"Iya Cha bentar ..." jawabku singkat .
Aku masih memasukkan beberapa cemilan dan minuman ke dalam kresek untuk bekal .
"Udah cha yuk ke Aula !" ajakku
"Loh yang lain mana ?" sambungku .
Aku celingak celinguk mencari anggota yang lain tp dengan tidak sabar Icha menarik lenganku .
"Yang lain udah pada di sana nyari tempat yang pas buat nonton ." Jelas Icha dan aku hanya menanggapi dengan kata "0".
Di Aula...
Banyak santri yang sudah berkumpul menunggu Ustadaz menyalakan TV.
Di pesantren ini memiliki aturan bahwa boleh menonton TV bahkan di fasilitasi tapi hanya sekali dalam seminggu itupun di batasi hanya dua jam katanya buat refreshing otak dan biar tau kabar dunia luar terkadang kami menonton sinetron kadang juga menonton berita tapi percayalah meski hanya dua jam dalam seminggu atau hanya berita yang di tonton rasanya seneeeng banget ngalahin perasaan bahagia saat menang undian .
(maaf di sini author rada lebay tapi emang itu yang pernah author rasain dulu @ pengalaman pribadi 😅😅).
"Woi Icha, Uqi sini !" teriak Ika melambaikan tangan.
Kita duduk berjejer di barisan paling belakang pojok tempat favourite bukan hanya saat menonton saja tapi itu tempat favourite kita juga waktu ngaji kitab bersama, di sini setiap hari Senin di adakan agenda ngaji kitab irsyad agenda ngaji ini di juluki ngaji central dan sampai sekarang aku belum mengerti kenapa di juluki seperti itu.
"Eh kalian bawa apa ?" ucap Ika melirik keresek yang aku dan Icha pegang sembari menaik turunkan alisnya.
"Makananlah Ika ya kalee aku bawa sampah ke mari ..."Jawab Icha sembari ketawa.
"Kali aja otakmu gesrek gara gara gak bisa deketin Fahri ." goda Ika
Fahri Ramadhan cowok yang katanya udah lama jadi inceran Icha tapi cuma bisa memandang dari jauh karena takut sama peraturan pondok yang melarang berpacaran .
"Sue' Lo bikin kesel aja, gue gibeng juga lo !" sungut Icha
" Peaseee ..." ucap Ika mengancungkan dua jari
"Kalau loe guenya udah keluar atut akyu ..." sambungnya.
"Aku ini bukan gak bisa mendekati tapi aku memang mengaguminya dari jauh sebagai semangatku menggapai cita cita" ucapnya dengan nada menggebu gebu mengepalkan tangan ke udara.
"Udah jangan pada ribut TV nya udah di nyalain tuh ." ucap Imel menengahi perdebatan mereka.
Semua cemilan yang kita bawa tadi dikumpulkan jadi satu memakannya bareng bareng, Ini adalah moment indah di pesantren.
"Mbak Uqi ..." Suara Titin membuyarkan konsentrasiku saat menonton TV.
"Apaan sih Tin bikin kaget aja ." celetukku yang merasa terganggu .
"Di cariin Mbak Imah tuh ..." jelas Titin
" Mana ?" tanyaku mengernyitkan dahi.
"Itu di depan Aula." Jelasnya sembari menunjuk ke tempat Mbak Imah berada .
"Temen temen aku pergi dulu ya di panggil Mbak Imah nih." ucap ku pada Trio I sejenak mereka menoleh dan menganggukkan kepala kemudian kembali fokus pada TV yang sedang di nyalakan .
Aku berjalan menghampiri mbk Imah yang kulihat berdiri menungguku.
"Ada apa mbak ?" spontan aku langsung bertanya .
"Uqi ... Mas Zham minta buatin nasi goreng ." ucap mbak Imah .
"Lah ya tinggal di masakin lah Mbak ." jawabku
"Masalahnya dia minta di buatin sama kamu ." jelas mbak Ima
"Lah kok bisa ghitu ?" Aku mengernyitkan dahi tanda tak mengerti .
"Waktu itukan kamu pernah bantuin Mbak masak dan kamu masak nasi goreng, nah Mas Zham suka sama masakanmu ..." jelas Mbak Imah lagi
' Hadeuch nih Putera Abah Yai kok nyusain banget sih gak tau apa aku lagi seru serunya nonton ' gerutuku dalam hati
Sedetik kemudian ....
"Astaghfirullah " ucapku spotan, sembari mengelus dada
"Kamu kenapa Uqi ?" tanya mbak Imah yang heran melihatku tiba tiba beristighfar.
" Eh gak papa kok Mbak, cuma pengen istighfar aja ..." elakku
Aku memang sering di ajak Mbak Imah ke ndalem untuk membantunya bersih bersih terkadang akupun membantunya memasak jika Mbak yang bertugas memasak sedang ada kegiatan lain .
"Loh Mbak kita mau kemana ? bukannya biasanya kalau masak di dapur ndalem Abah Yai ya ?" tanyaku .
Karena arah kami berjalan berbeda biasanya kami akan ke dapur ndalem Yai lewat pintu kecil sebelah mushollah yang langsung menuju ke dapur .
"Kita ke ndalemnya mas Zham ." jawab mbk Imah.
"Loh kok kesana sih ?" Pertanyaan bertujuan untuk memperotes .
"Yang minta itu Mas Zham jadi masaknya di rumahnya Mas Zham." jelas Mbak Imah
Dengan sedikit gontai ku langkahkan kakiku mengikuti langkah Mbak Imah ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 303 Episodes
Comments
Nina Puji Handayani
ntar dari lidah turun ke hati ya mas Zham 😁😁
2022-02-16
2
Farzah Faza
bukannya kalau anak pak yai dijuluki Gus ya 😂
eh gak tau lah
2021-10-24
1
Ifa El Abdurrahman
aku jdi rindu pesantren thor..
rindu ms ustadz juga🤭🤭
2021-07-09
0