Joshua sudah siap dengan pakaian formalnya, sebuah kemeja denga motif kotak-korak tampak dan celana chinnos tampak tampan dia gunakan, sejujurnya Joshua itu terlihat tampan, dia juga rajin menjaga bentuk tubuhnya, namun sebelas duabelas dengan sahabat sejatinya itu, Joshua sama sekali tak punya pasangan, bahkan lebih parah dari Sandra, dia bahkan belum pernah menggandeng wanita sejak pertama kali Sandra mengenalnya.
Joshua mengunci mobil Mercy miliknya, dengan langkah percaya diri khas miliknya dia mengetuk pintu rumah kontrakan milik Sandra, tak lama terdengar suara teriakan khas Sandra, dan pintu segera terbuka.
Joshua tercengang dengan dandanan Sandra, bukan, bukan terpukau, ini lebih parah lagi, Sandra hanya menggunakan kaos hitam dan celana jean kucelnya itu, Joshua hingga tak bisa menutupi ketercengangannya, bagaimana bisa Sandra menggunakan pakaian seperti itu ke restoran formal seperti Orlando.
"Apaan?" tanya Sandra yang melihat Joshua menatapnya dari atas hingga bawah.
"Lu pake baju gini doang?" tanya Joshua memastikan lagi.
"Iya, kenapa? terlalu ketat ya?" tanya Sandra yang seolah tak sadar tatapan menyindir dari Joshua.
"Eh, Mbak Sandra, Mbok-mbok yang suka nyariin kutu aja lebih menarik dari pada dandanan lu sekarang, lu ini mau makan bakso emperan atau mau makan di restauran fine dinnning sih?" tanya Joshua tak tahan lagi, kali ini sahabat kentalnya ini harus disadarkan.
"Jadi? emang kalau kita pakai baju gini ga boleh makan di sana? kalau gua sanggup bayar, mau gua pake bikini pasti mereka juga bakalan layanin Gua!" kata Sandra kesal dengan sindiran Joshua.
"Lu punya bikini? pake gih, lebih bagus dari pada dandanan lu yang kayak jagal gini," kata Joshua lagi
"Ogah! gua pergi gini atau gak sama sekali," kesal Sandra lagi, mempertahankan dirinya, dia paling anti dikomentari tentang penampilannya.
"Ya, ya udah, ckckck," Joshua akhirnya menyerah juga, dia tahu Sandra bagaimana, tentu dia tak enak jika tiba-tiba Sandra tak datang karena Devan jelas mengatakan malam ini untuk Sandra.
Sandra masuk ke dalam mobil Mercy milik Joshua, awalnya Joshua ingin membukakan pintu, tapi tanpa aba-aba Sandra langsung membukanya dan masuk, Joshua menahan dirinya, mengenggam tangannya yang tak jadi membukakan pintu, sahabatnya ini benar-benar tak tahu tentang hal romantis ya.
Mobil langsung melaju dengan kecepatan sedang, Joshua juga harus menjemput Larra yang entah kenapa masuk dalam lingkaran mereka, si Nona cuek bebek yang duduk di samping Joshua hanya menurunkan sandaran kursinya dan mulai membaringkan tubuhnya.
"Heh, Nona, aku bukan supir ya," Joshua memukul paha Sandra hingga Sandra terduduk kesakitan.
"Eh! si gila! sakit tahu, ini kalo ga ada Jeansnya, pasti ada gambaran telapak tangan lu!" Kata Sandra sambil menjitak kepala Joshua, Joshua tentu kesakitan apalagi kekuatan Sandra tak main-main.
"Sakit tau! dasar Lu perawan tua!" kata Joshua lagi kesal.
"Siapa bilang gua masih perawan," kata Sandra lagi-lagi hanya mengikuti emosinya.
"Oh, lupa, lu mah udah di-onohin Ama si Rayhan ya?" kata Joshua asal saja, sama kesalnya, rasa sakit di kepalanya masih berdenyut akibat jitakan super dari Sandra.
Sandra terdiam mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Joshua, Joshua pun baru sadar apa yang dikatakan olehnya, mulutnya langsung terasa tak enak, apa yang sudah dia katakan.
Sandra hanya diam, wajahnya dialihkannya ke arah jendela yang hanya terlihat jalanan mulai mengelap, sinar mentari sudah lama pupus dari bumi, cuma bayangannya saja yang terlihat, mereka memang harus berkendara cukup jauh untuk bisa sampai ke kota.
Sandra tak masalah jika Joshua mengungkap kesalahannya dimasa lalu, tapi Sandra sangat benci mendengar nama itu lagi.
"San, San, Gua minta maaf, gua ga punya maksud begitu San," kata Joshua yang melihat tampang sedih Sandra, entah kenapa dia juga merasa sedih karenanya.
Sandra bergeming, dia hanya diam menatap jendela, Joshua sudah tahu tingkah Sandra, dia selalu begitu jika benar-benar marah, jika Sandra masih bisa membalas perkataan walaupun dengan nada marah, tandanya dia belum-belum marah, tapi jika dia diam, itu artinya perang dunia akan segera dimulai.
"San, sorry San, jangan gitu dong, janji deh gua ga gitu lagi," kata Joshua memelas, sesekali melihat ke arah Sandra, namun fokus juga kejalanan yang mulai gelap.
Sandra melirik ke arah Joshua, walau sejujurnya hatinya masih sakit, tapi Sandra menelannya, lagi pula apa yang harus disakitinya dengan pria itu, dia sudah milik orang lain, seorang anak profesor yang bisa mengantarkannya hingga menjadi seorang spesialis seperti sekarang, bahkan anaknya sudah 2, apalagi yang harus dia ratapi bukan?
"Ya udah beliin gue eskrim entar, awas lu lupa, seumur hidup gue ga akan ngomongan Ama lu," Sandra berpura-pura memakai wajah ngambeknya, membuat Joshua tertawa namun dalam hati lega, dia segera mengacak-ngacak rambut Sandra, Sandra berontak.
"Woi, gua baru nyisir tahu,"kata Sandra lagi memperbaiki rambutnya.
"Oh, begitu udah disisir? model kayak habis ditiup topan ya?" tanya Joshua kembali bercanda.
"Enak aja lu, eh ini ke rumah Larra kan?" tanya Sandra lagi. Joshua malas menjawabnya, dia hanya mengangguk sebelum tiba-tiba teleponnya berdering, Sandra melirik sedikit ke arah ponsel Joshua, tulisan BUBU ada di layarnya.
Joshua langsung mengambil ponselnya, tanpa angin apa pun dia menolak panggilan telepon itu, dan seperti mengirim pesan, Sandra melihat itu bertingkah seolah mengerti, bubu adalah panggilan sayang bukan?
Sandra terus memasang wajah senyum yang mengisyaratkan godaannya terhadap Joshua.
"Napa muka lu? bahan boker?" tanya Joshua yang kelihatan cukup salah tingkah.
"Ceile, pake bubu segala, kayak anak ABG lu, siapa?" kata Sandra mengangkat kedua alisnya berulang kali, akhirnya menangkap basah Joshua punya pacar.
"Apaan sih lu?" kata Joshua tersenyum-senyu. salah tingkah khas orang kasmaran.
"Asik gua bulan ini banyak yang neraktirin! ye!" ujar Sandra langsung berjoget dengan gayanya.
"Enggak ah, orang gua udah lama jadian Ama dia," kata Joshua keceplosan.
"Woh! ada yang ga setia kawan ternyata, udah lama jadian ga kasih tahu gua, sahabat macam apa lu?" tanya Sandra lagi sambil mendorong pundak Joshua, Joshua hanya tertawa kecil.
"Ya, karena menghargai lu, gua ga mau umbar-umbar hubungan gua."
"Kenalin dong Ama gua, biar gua lihat dia gimana? biar entar lu patah hati gua tahu mau marahin siapa?"
"Lu doain gua putus gitu? kurang ajar amat lu."
Sandra tertawa terkekeh-kekeh mendengar jawaban Joshua, dia tak menjawab karena mobil sudah masuk ke dalam halaman rumah Larra
Joshua segera turun, dia membuka pintunya untuk Sandra, dan mereka segera menuju pintu rumah Larra, tak perlu diketuk, nyatanya Larra sudah menunggu mereka hingga dia keluar duluan.
Larra terhenti melihat penampilan Sandra, kalau Joshua jangan ditanya, dia tampan dari sananya, tapi bahkan untuk seorang wanita, dandanan Sandra sangat mencengangkan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 176 Episodes
Comments
Aini Cimengg
maraton disini dulu sambil nunggu Xavier up date
2021-11-19
0
Runa💖💓
Move on kenapa sih, Sandra
2021-05-18
0
RaraQRF
dandan dikit knp dok,biar gk kucel2 amat😁
2021-04-04
0