Sayup-sayup kicauan burung memecah kesunyian pagi. Cahaya matahari menyelinap di celah-celah jendela. Perlahan, Anita mulai membuka matanya yang sembab karena menangis semalaman dan baru bisa tertidur menjelang subuh. Bahkan, Anita tidak mendengar suara ketukan pintu saat ibu membangunkannya untuk sarapan.
Gadis itu melirik arah jarum jam yang sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Buru-buru meraih jubah mandinya dan segera masuk ke kamar mandi.
Setelah berganti pakaian, Anita menyambar tas dan memasukkan surat yang ditulis Dimas untuk Mia ke dalam tasnya.
Pelan-pelan, Anita menuruni tangga, sambil matanya melirik ke segala arah. Biasanya jika telah selesai sarapan, ibu akan berada di ruang keluarga untuk menonton acara tv kesukaannya.
Dan, saat menuju ruang keluarga, Anita menemukan ibu sedang menangis dengan matanya yang tertuju pada tv. Anita pun tersentak kaget ketika menyadari ibu sedang melihat berita yang memuat kecelakaan yang menimpa Dimas kemarin. Ragu-ragu, gadis itu mendekat pada sang mertua.
"I-Ibu..." panggil Anita dengan nada bergetar.
Wanita paruh baya itu menoleh pada sosok menantunya yang berdiri di sudut ruangan itu dengan mata sembab. Seketika Anita menundukkan kepalanya, merasa bersalah karena telah menutupi apa yang terjadi pada sang suami dari ibu kandungnya sendiri.
Ibu kemudian berdiri dari duduknya, menghampiri Anita yang belum sanggup mendongakkan kepalanya.
"Kenapa kau menyembunyikan semua ini dari ibu?" lirih wanita itu.
Anita mengusap air matanya yang berderai, "Maafkan aku, Ibu... Kami sepakat menyembunyikan ini dari ibu. Demi menjaga kesehatan Ibu."
"Dimas itu anakku, Anita! Bagaimana kau bisa menyembunyikan apa yang terjadi padanya dariku?"
Anita hanya dapat menangis, tidak dapat lagi menjawab pertanyaan yang menyayat hatinya itu. Sesaat kemudian, wanita paruh baya itu memeluk Anita. Mereka berdua pun menangis di ruangan itu.
"Ibu, duduklah dulu. Aku akan menjelaskan semuanya," ucap Anita seraya membawa sang mertua untuk duduk di sofa. Gadis itu kemudian beranjak menuju dapur dan mengambil air segelas putih untuk sang mertua. "Minunlah, Bu!" Anita menyodorkan segelas air putih itu, kemudian berlutut di hadapan mertuanya.
"Apa dia masih kritis?" tanya ibu dengan deraian air matanya yang enggan berhenti menetes.
"Ibu, percayalah Dimas akan baik-baik saja. Di sana ada dokter terbaik yang menanganinya. Semalam aku bersamanya dan aku yakin dia akan segera sadar."
"Tapi siapa yang menjaganya di rumah sakit?"
"Ibu jangan khawatir. Maliq dan Rama yang menjaganya di rumah sakit."
Ibu membelai wajah Anita yang terlihat sembab dan begitu lelah. Merasa tidak tega pada menantunya itu. "Kau pasti habis menangis semalam, kan?"
"Aku tidak apa-apa, Bu. Aku... hanya merasa merasa menjadi orang paling jahat di dunia," ucap Anita membuat ibu mengerutkan alisnya.
"Kenapa kau bicara begitu, Nak?"
Anita memberanikan diri menatap mata mertuanya itu, dengan deraian air mata yang seolah enggan berhenti. "Kenapa aku harus menjadi penghalang kebahagiaan orang lain, Bu? Aku tidak tahu kalau suamiku sudah memiliki seseorang di dalam hatinya sebelum menikah denganku?"
"Apa maksudmu, Anita?"
"Dimas sudah mencintai orang lain sebelum menikahiku, Bu. Sebelum aku masuk ke dalam hidupnya, dia sudah memendam perasaannya untuk Mia. Dan kehadiranku sudah menghancurkan harapannya untuk bisa bersama seseorang yang dia cintai. Aku merasa sangat egois, Bu..."
Ibu mengusap wajah Anita yang telah banjir air mata, lalu memeluknya dan mengusap punggungnya. "Tapi bagaimana kau tahu? Apa Dimas pernah mengatakannya?" tanya ibu diikuti gelengan kepala oleh Anita.
Gadis itu kemudian mengeluarkan sepucuk surat yang ditulis Dimas untuk Mia, yang berisi ungkapan perasaannya. Sepertinya saat membakar semua foto Mia, Dimas lupa tentang surat yang tersimpan di dalam laci meja.
"Aku menemukan surat ini. Dimas menulisnya untuk Mia. Apa ibu tahu kalau Dimas sudah mencintai Mia sebelumnya?" tanya Anita, Walaupun sebenarnya hatinya terasa disayat saat menanyakan itu. Sementara Ibu, hanya dapat menjawab dengan menganggukkan kepalanya,
"Semua ini kesalahanku, Bu. Aku yang menyebabkan Dimas seperti sekarang. Demi menjagaku dari mantan suamiku, dia membahayakan nyawanya sendiri. Lalu bagaimana aku bisa memaafkan diriku?"
"Jangan berkata begitu, Anita. Kalian sudah menikah. Dan ikatan pernikahan itu lebih kuat daripada sekedar perasaan semata. Walaupun dia pernah mencintai Mia. Tapi sekarang ada kau yang berstatus istrinya. Jadi jangan pikirkan tentang itu." Ibu kembali memeluk Anita, membuat gadis itu menangis sejadi-jadinya di pelukan sang mertua.
****
Dimas masih terbaing tak sadarkan diri di dalam ruang ICU. Ibu memasuki ruangan itu dengan perasaan yang teramat sedih. Seumur hidupnya, tidak pernah sekalipun dia melihat anak semata wayangnya dalam keadaan selemah itu. Selama ini, Dimas tampil sebagai seseorang yang selalu ceria dan sangat pecicilan, dengan mulutnya yang sangat suka asal bicara.
Namun, dibalik itu semua, ada sosok lelaki yang sangat dewasa dan bertanggung jawab.
Wanita itu mendekat pada anaknya itu, menyentuh beberapa bagian tubuhnya yang terbalut perban, dengan leher yang menggunakan gips. Diusapnya puncak kepala anaknya dengan sayang, bersamaan dengan air matanya yang mengalir deras.
Ibu kemudian duduk di kursi di sisi pembaringan anaknya itu.
"Dimas anakku, bangunlah! Kau tidak kasihan pada ibu dan istrimu? Apa kau tahu, dia merasa sangat bersalah. Dia merasa dirinyalah yang menyebabkanmu menjadi seperti ini. Bangunlah, Nak! Kau bertanggung jawab untuk membuatnya bahagia. Bukankah, kau pernah bilang pada ibu ingin membuat Anita bahagia? Lalu kenapa kau membuatnya sedih dengan cara seperti ini?"
Ibu terus berbisik pada Dimas yang masih belum tersadar dari kritisnya. Sementara Anita yang masih berada di luar ruangan itu, duduk melamun dengan perasaan bersalah yang terus menghantuinya. Anita kemudian berdiri dari duduknya.
"Rama, aku mau pergi sebentar. Tolong jaga ibu dan Dimas," ucap Anita pada Rama.
Rama yang sebelumnya mendapat perintah dari sang bos untuk menjaga Anita dan ibunya hanya dapat menelan salivanya. Jika dia melarang Anita pergi, bisa-bisa wajahnya babak belur dihajar Anita.
"Ta-tapi... Kata bos kau jangan kemana-mana," ucap Rama terbata-bata.
"Kalau begitu jangan katakan padanya kalau aku pergi!" bentak Anita.
"Aku mohon, Anita! Jangan lakukan ini padaku, atau aku akan..." belum sempat Rama menyelesaikan kalimatnya, mulutnya sudah seperti terkunci, karena Anita kembali memberinya ancaman todongan senjata andalan.
"Minggir dan jangan halangi aku. Atau peluruku akan menembus kepalamu!"
Dan, jika Anita sudah mengancam seperti itu, nyali siapapun pasti akan menciut. Rama menjatuhkan tubuhnya di kursi panjang itu dengan tangannya yang terangkat sejajar dengan bahunya.
"Bagus! Kalau begitu titip ibuku! Tolong jaga dia!"
Setelah itu, Anita bergegas menuju area parkir rumah sakit milik Zian itu. Dan, saat tiba di sana, beberapa pengawal Kia Group segera mendekatinya.
"Nona, mau kemana?" tanya salah seorang pengawal.
"Bukan urusan kalian!" jawan Anita dengan ketusnya, membuat nyali mereka menciut.
"Tapi bos bilang Nona tidak boleh pergi sendiri!"
Dengan garangnya, Anita melirik satu persatu para pengawal yang bertubuh tinggi besar itu dengan tatapan yang tidak ramah.
"Apa kalian sedang menantangku?"
"Ti-tidak, Nona. Tapi..."
"Kalau begitu diam! Dan jangan coba-coba ikuti aku, atau kalian akan menyesal!" ucap Anita lalu naik ke mobil.
Sesaat kemudian, mobil yang dikendarai Anita melaju, meninggalkan halaman rumah sakit itu. Tinggallah beberapa pengawal yang hanya saling melirik takut. Ancaman Anita sang monster betina selalu lebih menakutkan dari bos yang sebenarnya.
Berselang dua puluh menit, Anita tiba di depan sebuah toko bunga, dimana Mia sedang membantu ibunya merangkai bunga.
Bagaimana aku harus mengatakannya pada Mia. Harus mulai darimana? batin Anita.
*** BERSAMBUNG
apakah Mia memiliki perasaan yang sama dengan Dimas?????
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Sweet Girl
Iya, Mia juga syuka sama Dimas... sepertinya begitu...
2024-06-28
1
kalea rizuky
kasian anita masak dimas dapet bekasi kayak anita g trima q
2024-02-07
0
Fiera
Anita ❤️❤️❤️
2023-04-04
0