M I A...!

Sayup-sayup kicauan burung memecah kesunyian pagi. Cahaya matahari menyelinap di celah-celah jendela. Perlahan, Anita mulai membuka matanya yang sembab karena menangis semalaman dan baru bisa tertidur menjelang subuh. Bahkan, Anita tidak mendengar suara ketukan pintu saat ibu membangunkannya untuk sarapan.

Gadis itu melirik arah jarum jam yang sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Buru-buru meraih jubah mandinya dan segera masuk ke kamar mandi.

Setelah berganti pakaian, Anita menyambar tas dan memasukkan surat yang ditulis Dimas untuk Mia ke dalam tasnya.

Pelan-pelan, Anita menuruni tangga, sambil matanya melirik ke segala arah. Biasanya jika telah selesai sarapan, ibu akan berada di ruang keluarga untuk menonton acara tv kesukaannya.

Dan, saat menuju ruang keluarga, Anita menemukan ibu sedang menangis dengan matanya yang tertuju pada tv. Anita pun tersentak kaget ketika menyadari ibu sedang melihat berita yang memuat kecelakaan yang menimpa Dimas kemarin. Ragu-ragu, gadis itu mendekat pada sang mertua.

"I-Ibu..." panggil Anita dengan nada bergetar.

Wanita paruh baya itu menoleh pada sosok menantunya yang berdiri di sudut ruangan itu dengan mata sembab. Seketika Anita menundukkan kepalanya, merasa bersalah karena telah menutupi apa yang terjadi pada sang suami dari ibu kandungnya sendiri.

Ibu kemudian berdiri dari duduknya, menghampiri Anita yang belum sanggup mendongakkan kepalanya.

"Kenapa kau menyembunyikan semua ini dari ibu?" lirih wanita itu.

Anita mengusap air matanya yang berderai, "Maafkan aku, Ibu... Kami sepakat menyembunyikan ini dari ibu. Demi menjaga kesehatan Ibu."

"Dimas itu anakku, Anita! Bagaimana kau bisa menyembunyikan apa yang terjadi padanya dariku?"

Anita hanya dapat menangis, tidak dapat lagi menjawab pertanyaan yang menyayat hatinya itu. Sesaat kemudian, wanita paruh baya itu memeluk Anita. Mereka berdua pun menangis di ruangan itu.

"Ibu, duduklah dulu. Aku akan menjelaskan semuanya," ucap Anita seraya membawa sang mertua untuk duduk di sofa. Gadis itu kemudian beranjak menuju dapur dan mengambil air segelas putih untuk sang mertua. "Minunlah, Bu!" Anita menyodorkan segelas air putih itu, kemudian berlutut di hadapan mertuanya.

"Apa dia masih kritis?" tanya ibu dengan deraian air matanya yang enggan berhenti menetes.

"Ibu, percayalah Dimas akan baik-baik saja. Di sana ada dokter terbaik yang menanganinya. Semalam aku bersamanya dan aku yakin dia akan segera sadar."

"Tapi siapa yang menjaganya di rumah sakit?"

"Ibu jangan khawatir. Maliq dan Rama yang menjaganya di rumah sakit."

Ibu membelai wajah Anita yang terlihat sembab dan begitu lelah. Merasa tidak tega pada menantunya itu. "Kau pasti habis menangis semalam, kan?"

"Aku tidak apa-apa, Bu. Aku... hanya merasa merasa menjadi orang paling jahat di dunia," ucap Anita membuat ibu mengerutkan alisnya.

"Kenapa kau bicara begitu, Nak?"

Anita memberanikan diri menatap mata mertuanya itu, dengan deraian air mata yang seolah enggan berhenti. "Kenapa aku harus menjadi penghalang kebahagiaan orang lain, Bu? Aku tidak tahu kalau suamiku sudah memiliki seseorang di dalam hatinya sebelum menikah denganku?"

"Apa maksudmu, Anita?"

"Dimas sudah mencintai orang lain sebelum menikahiku, Bu. Sebelum aku masuk ke dalam hidupnya, dia sudah memendam perasaannya untuk Mia. Dan kehadiranku sudah menghancurkan harapannya untuk bisa bersama seseorang yang dia cintai. Aku merasa sangat egois, Bu..."

Ibu mengusap wajah Anita yang telah banjir air mata, lalu memeluknya dan mengusap punggungnya. "Tapi bagaimana kau tahu? Apa Dimas pernah mengatakannya?" tanya ibu diikuti gelengan kepala oleh Anita.

Gadis itu kemudian mengeluarkan sepucuk surat yang ditulis Dimas untuk Mia, yang berisi ungkapan perasaannya. Sepertinya saat membakar semua foto Mia, Dimas lupa tentang surat yang tersimpan di dalam laci meja.

"Aku menemukan surat ini. Dimas menulisnya untuk Mia. Apa ibu tahu kalau Dimas sudah mencintai Mia sebelumnya?" tanya Anita, Walaupun sebenarnya hatinya terasa disayat saat menanyakan itu. Sementara Ibu, hanya dapat menjawab dengan menganggukkan kepalanya,

"Semua ini kesalahanku, Bu. Aku yang menyebabkan Dimas seperti sekarang. Demi menjagaku dari mantan suamiku, dia membahayakan nyawanya sendiri. Lalu bagaimana aku bisa memaafkan diriku?"

"Jangan berkata begitu, Anita. Kalian sudah menikah. Dan ikatan pernikahan itu lebih kuat daripada sekedar perasaan semata. Walaupun dia pernah mencintai Mia. Tapi sekarang ada kau yang berstatus istrinya. Jadi jangan pikirkan tentang itu." Ibu kembali memeluk Anita, membuat gadis itu menangis sejadi-jadinya di pelukan sang mertua.

****

Dimas masih terbaing tak sadarkan diri di dalam ruang ICU. Ibu memasuki ruangan itu dengan perasaan yang teramat sedih. Seumur hidupnya, tidak pernah sekalipun dia melihat anak semata wayangnya dalam keadaan selemah itu. Selama ini, Dimas tampil sebagai seseorang yang selalu ceria dan sangat pecicilan, dengan mulutnya yang sangat suka asal bicara.

Namun, dibalik itu semua, ada sosok lelaki yang sangat dewasa dan bertanggung jawab.

Wanita itu mendekat pada anaknya itu, menyentuh beberapa bagian tubuhnya yang terbalut perban, dengan leher yang menggunakan gips. Diusapnya puncak kepala anaknya dengan sayang, bersamaan dengan air matanya yang mengalir deras.

Ibu kemudian duduk di kursi di sisi pembaringan anaknya itu.

"Dimas anakku, bangunlah! Kau tidak kasihan pada ibu dan istrimu? Apa kau tahu, dia merasa sangat bersalah. Dia merasa dirinyalah yang menyebabkanmu menjadi seperti ini. Bangunlah, Nak! Kau bertanggung jawab untuk membuatnya bahagia. Bukankah, kau pernah bilang pada ibu ingin membuat Anita bahagia? Lalu kenapa kau membuatnya sedih dengan cara seperti ini?"

Ibu terus berbisik pada Dimas yang masih belum tersadar dari kritisnya. Sementara Anita yang masih berada di luar ruangan itu, duduk melamun dengan perasaan bersalah yang terus menghantuinya. Anita kemudian berdiri dari duduknya.

"Rama, aku mau pergi sebentar. Tolong jaga ibu dan Dimas," ucap Anita pada Rama.

Rama yang sebelumnya mendapat perintah dari sang bos untuk menjaga Anita dan ibunya hanya dapat menelan salivanya. Jika dia melarang Anita pergi, bisa-bisa wajahnya babak belur dihajar Anita.

"Ta-tapi... Kata bos kau jangan kemana-mana," ucap Rama terbata-bata.

"Kalau begitu jangan katakan padanya kalau aku pergi!" bentak Anita.

"Aku mohon, Anita! Jangan lakukan ini padaku, atau aku akan..." belum sempat Rama menyelesaikan kalimatnya, mulutnya sudah seperti terkunci, karena Anita kembali memberinya ancaman todongan senjata andalan.

"Minggir dan jangan halangi aku. Atau peluruku akan menembus kepalamu!"

Dan, jika Anita sudah mengancam seperti itu, nyali siapapun pasti akan menciut. Rama menjatuhkan tubuhnya di kursi panjang itu dengan tangannya yang terangkat sejajar dengan bahunya.

"Bagus! Kalau begitu titip ibuku! Tolong jaga dia!"

Setelah itu, Anita bergegas menuju area parkir rumah sakit milik Zian itu. Dan, saat tiba di sana, beberapa pengawal Kia Group segera mendekatinya.

"Nona, mau kemana?" tanya salah seorang pengawal.

"Bukan urusan kalian!" jawan Anita dengan ketusnya, membuat nyali mereka menciut.

"Tapi bos bilang Nona tidak boleh pergi sendiri!"

Dengan garangnya, Anita melirik satu persatu para pengawal yang bertubuh tinggi besar itu dengan tatapan yang tidak ramah.

"Apa kalian sedang menantangku?"

"Ti-tidak, Nona. Tapi..."

"Kalau begitu diam! Dan jangan coba-coba ikuti aku, atau kalian akan menyesal!" ucap Anita lalu naik ke mobil.

Sesaat kemudian, mobil yang dikendarai Anita melaju, meninggalkan halaman rumah sakit itu. Tinggallah beberapa pengawal yang hanya saling melirik takut. Ancaman Anita sang monster betina selalu lebih menakutkan dari bos yang sebenarnya.

Berselang dua puluh menit, Anita tiba di depan sebuah toko bunga, dimana Mia sedang membantu ibunya merangkai bunga.

Bagaimana aku harus mengatakannya pada Mia. Harus mulai darimana? batin Anita.

*** BERSAMBUNG

apakah Mia memiliki perasaan yang sama dengan Dimas?????

Terpopuler

Comments

Sweet Girl

Sweet Girl

Iya, Mia juga syuka sama Dimas... sepertinya begitu...

2024-06-28

1

kalea rizuky

kalea rizuky

kasian anita masak dimas dapet bekasi kayak anita g trima q

2024-02-07

0

Fiera

Fiera

Anita ❤️❤️❤️

2023-04-04

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Masa Lalu Yang Kelam
3 Permohonan Bos!
4 Rahasia masa lalu Dimas
5 Aku akan menikah!
6 Jurus menjinakkan monster betina
7 HANYA PERNIKAHAN BIASA.
8 Oh, Dimasku!!
9 Masih trauma
10 Anita yang sesungguhnya....
11 Minuman racun dari Ibu
12 Drama salah paham
13 Ibu dan Anita
14 Teror Kenzo part 1
15 Teror part 2
16 Sabotase
17 Kritis!!!
18 Sepucuk surat dari masa lalu
19 M I A...!
20 Pengakuan....
21 Sadar!!!
22 Berpisah???
23 Hey, Monster Betina!
24 Evan dan Mia?
25 Pulang
26 Keluar negeri?
27 Kenzo dan Marco!
28 TERBONGKAR
29 Butuh Oksigen!
30 Titik Terang
31 Menolong Skala dan menghubungi Tuan Byon
32 Trio Azkara
33 DIMANA ELSA?
34 PARTNER IN CRIME!!!
35 Ular Kobra Masuk Kandang
36 Udang di balik batu
37 Makan malam di rumah Tuan Byon
38 TERUNGKAP
39 Pokemon!
40 Yes No Yes No!!!
41 Berusaha jujur
42 jurus Gudang mengamuk
43 Aku merinding!!!
44 Misteri Gudang Tersegel
45 Dua Tahun Vs Dua Bulan
46 Lima bulan Vs Satu Bulan
47 Ketika Ular Kobra Menggantung
48 MENANG BANYAK
49 Panik Luar Biasa
50 Kabar Bahagia
51 Sensitif
52 Baby Monster
53 Curhat Membawa Emosi Jiwa
54 Ngidam Ekstrim
55 Zian Vs Elsa
56 Rahasia Yang Bocor
57 Detektif Dadakan
58 Biang Keladi
59 Firasat
60 Bertahanlah, Monster Betinaku!
61 Antara Hidup dan Mati.
62 Pertemuan Pertama
63 Bolehkah Aku Bawa Ibu Pergi?
64 Sakitnya Kehilangan!
65 Penyesalan
66 Memulai Hidup Baru
67 Izinkan atau kutembak!!!!
68 Cemburu
69 Keanehan
70 Kedatangan mengejutkan
71 Mau pulang!
72 Baby Monster datang lagi
73 Baby Monster Kembar
74 JIWA LICIK SANG BOS
75 Bos baru
76 Definisi kerja Cerdas
77 Udah dibalik terigu
78 Penculikan lagi
79 Kapan cuti?
80 Menjelang kelahiran
81 Ngidam Ekstrim!!!
82 Mengigau Harus Ada Batasnya!
83 Kemarahan Dimas Part 1
84 Kemarahan Dimas Part 2
85 Kemarahan Dimas Part 3
86 Aku Tidak Sedang Menghukummu!
87 Tidak Akan Bisa Marah
88 Maukah Kau berjanji Untukku?
89 Adegan Dalam Novel
90 Mana janjimu?
91 Rayuan Maut
92 Korban Penculikan
93 TOLONG CULIK AKU!
94 Aku Mandiri, Kok!!!!
95 Semua Akan Baik-Baik Saja
96 Iri, Bilang Boss!!!
97 ENDING
98 Pengumuman
99 Pemenang Give away
100 Dokter Willy dan Elsa rilis
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Prolog
2
Masa Lalu Yang Kelam
3
Permohonan Bos!
4
Rahasia masa lalu Dimas
5
Aku akan menikah!
6
Jurus menjinakkan monster betina
7
HANYA PERNIKAHAN BIASA.
8
Oh, Dimasku!!
9
Masih trauma
10
Anita yang sesungguhnya....
11
Minuman racun dari Ibu
12
Drama salah paham
13
Ibu dan Anita
14
Teror Kenzo part 1
15
Teror part 2
16
Sabotase
17
Kritis!!!
18
Sepucuk surat dari masa lalu
19
M I A...!
20
Pengakuan....
21
Sadar!!!
22
Berpisah???
23
Hey, Monster Betina!
24
Evan dan Mia?
25
Pulang
26
Keluar negeri?
27
Kenzo dan Marco!
28
TERBONGKAR
29
Butuh Oksigen!
30
Titik Terang
31
Menolong Skala dan menghubungi Tuan Byon
32
Trio Azkara
33
DIMANA ELSA?
34
PARTNER IN CRIME!!!
35
Ular Kobra Masuk Kandang
36
Udang di balik batu
37
Makan malam di rumah Tuan Byon
38
TERUNGKAP
39
Pokemon!
40
Yes No Yes No!!!
41
Berusaha jujur
42
jurus Gudang mengamuk
43
Aku merinding!!!
44
Misteri Gudang Tersegel
45
Dua Tahun Vs Dua Bulan
46
Lima bulan Vs Satu Bulan
47
Ketika Ular Kobra Menggantung
48
MENANG BANYAK
49
Panik Luar Biasa
50
Kabar Bahagia
51
Sensitif
52
Baby Monster
53
Curhat Membawa Emosi Jiwa
54
Ngidam Ekstrim
55
Zian Vs Elsa
56
Rahasia Yang Bocor
57
Detektif Dadakan
58
Biang Keladi
59
Firasat
60
Bertahanlah, Monster Betinaku!
61
Antara Hidup dan Mati.
62
Pertemuan Pertama
63
Bolehkah Aku Bawa Ibu Pergi?
64
Sakitnya Kehilangan!
65
Penyesalan
66
Memulai Hidup Baru
67
Izinkan atau kutembak!!!!
68
Cemburu
69
Keanehan
70
Kedatangan mengejutkan
71
Mau pulang!
72
Baby Monster datang lagi
73
Baby Monster Kembar
74
JIWA LICIK SANG BOS
75
Bos baru
76
Definisi kerja Cerdas
77
Udah dibalik terigu
78
Penculikan lagi
79
Kapan cuti?
80
Menjelang kelahiran
81
Ngidam Ekstrim!!!
82
Mengigau Harus Ada Batasnya!
83
Kemarahan Dimas Part 1
84
Kemarahan Dimas Part 2
85
Kemarahan Dimas Part 3
86
Aku Tidak Sedang Menghukummu!
87
Tidak Akan Bisa Marah
88
Maukah Kau berjanji Untukku?
89
Adegan Dalam Novel
90
Mana janjimu?
91
Rayuan Maut
92
Korban Penculikan
93
TOLONG CULIK AKU!
94
Aku Mandiri, Kok!!!!
95
Semua Akan Baik-Baik Saja
96
Iri, Bilang Boss!!!
97
ENDING
98
Pengumuman
99
Pemenang Give away
100
Dokter Willy dan Elsa rilis

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!