Dimas segera memutar arah menuju sebuah jalan yang dirasa lumayan sepi, demi menghindari resiko kecelakaan yang mungkin terjadi. Sementara sebuah mobil terus mengikutinya dari arah belakang. Dimas sangat yakin, Kenzo berencana membunuhnya untuk bisa merebut Anita kembali, karena ancaman Kenzo semalam tidak membuatnya gentar.
Hingga Dimas berhasil membawa mobil itu ke tempat yang lumayan lengang. Sambil berusaha mengendalikan laju mobil yang melesat semakin cepat, Dimas melirik kaca spion. Dari arah belakang, tampak seseorang mengarahkan senjata ke mobil yang dikendarai oleh Dimas.
DOR!
Terdengar suara letusan dari senjata api milik pria di belakang sana. Dan tepat mengenai kaca mobil bagian belakang hingga pecah. Namun, sebisa mungkin Dimas berusaha tenang menghadapi keadaan yang membahayakan itu. Bahkan, beberapa kali Dimas harus menghindari bertabrakan dengan pengendara lain dari arah depan.
"Anita, ibu..." gumamnya.
Dimas kemudian berusaha meraih ponselnya yang terletak di kursi penumpang depan lalu menghubungi sang bos.
Zian, sedang disibukkan dengan pekerjaannya di kantor saat ponselnya berdering. Alisnya mengerut saat melihat nama Dimas tertera di layar ponselnya. Laki-laki itu pun segera menjawab panggilan itu.
"Bos, aku sedang dalam masalah. Jika sesuatu terjadi padaku, tolong bawa Anita dan ibuku untuk tinggal bersamamu!" Terdengar suara Dimas yang sepertinya sedang panik dan beberapa kali terdengar suara decitan ban mobil dari sana.
"Apa yang terjadi? Kau dimana?" Zian sudah mulai panik mendengar suara Dimas.
"Sepertinya Kenzo merusak rem mobilku, aku sedang berusaha mengatasinya."
Zian tersentak kaget mendengar ucapan Dimas, laki-laki itu berdiri ari duduknya. Tergambar jelas raut kemarahan di wajahnya dengan rahang mengeras.
"Cobalah untuk mengarahkan mobilmu ke tempat yang lebih sepi dan..." Belumlah Zian menyelesaikan ucapannya, sudah terdengar suara seperti benturan keras, dan juga teriakan Dimas. Membuat wajah Zian memucat. Laki-laki itu menjatuhkan ponsel dari genggamannya.
"Dimas?"
***
Bunyi sirine ambulan yang terdengar begitu nyaring membelah keramaian jalanan. Dimas terbaring di dalam ambulan itu dengan berbagai peralatan medis dan juga beberapa luka sobekan di tubuhnya.
Mobil yang di kendarai Dimas menabrak trotoar sehingga terguling di jalan beberapa kali. Kondisi mobil yang ringsek membuat Dimas terjepit di dalam mobil, mengakibatkan proses evakuasi berlangsung dramatis.
Setibanya di rumah sakit, Dimas langsung ditangani beberapa dokter, salah satunya Dokter Elma.
***
Di rumah, Anita masih duduk di bibir tempat tidur. Dengan wajahnya yang memucat dan tangannya gemetaran. Beberapa waktu lalu, Kenzo menghubunginya dan memberinya sebuah ancaman yang membuat Anita bahkan tidak sanggup berdiri di atas kakinya.
Walaupun belum sepenuhnya percaya pada apa yang dikatakan mantan suaminya itu, namun Anita sudah merasa sangat mengkhawatirkan Dimas. Anita begitu mengenal sosok Kenzo. Dia kejam dan tidak punya belas kasih dan nyawa manusia hanyalah seperti mainan baginya. Sangat mudah bagi Kenzo untuk bisa membunuh seseorang.
"Dimas..." Anita menjatuhkan setitik air matanya teringat pada sang suami yang menghilang pagi itu. Dan, sudah puluhan kali Anita mencoba menghubungi nomor telepon sang suami, namun tidak juga tersambung.
Kenzo juga memberitahu Anita tentang rahasia masa lalu Dimas yang ternyata adalah orang yang dicari Zian selama ini. Seseorang yang menyebabkan Zian nekat masuk ke dalam sindikat mafia. Penculik adiknya, Elsa. Kenzo bahkan mengancam akan memberitahu Zian dan juga membunuh Dimas jika Anita tidak menyerahkan dirinya.
"Apa maliq akan tega membunuh Dimas jika dia tahu kebenarannya?" gumamnya.
Tidak! Maliq tidak boleh tahu kalau Dimas adalah orang yang telah menculik Elsa. Dia akan membunuhnya.
Anita masih larut dalam lamunannya ketika terdengar suara ketukan pintu. Dengan langkah berat, Anita beranjak menuju pintu dan membukanya. Bibi Rina, sang asisten rumah tangganya berdiri di ambang pintu dengan menyembunyikan raut wajah sedihnya.
"Ada apa, Bibi?"
"Anita... Dimas..." Wanita itu seakan belum sanggup memberitahu Anita tentang apa yang terjadi pada Dimas. Namun Anita, sudah menduga sesuatu yang buruk sudah terjadi pada suaminya itu. Air matanya pun lolos begitu saja.
"Dimas kenapa, Bibi? Ada apa dengan suamiku?" lirihnya.
"Seseorang bernama Rama ada di depan. Dia kemari untuk menjemputmu. Dimas mengalami kecelakaan dan sekarang ada di rumah sakit," ucapnya seraya mengusap air mata.
Anita langsung terkulai lemas dan bersandar di dinding ruangan itu. Kembali teringat setiap kata yang diucapkan Kenzo padanya di telepon tadi. Dan, kini Kenzo mewujudkan ancamannya hanya dalam beberapa jam saja.
Bibi Rina pun berusaha untuk menenangkan Anita yang kini menangis sesegukan. "Jangan khawatir. Dimas pasti akan baik-baik saja," ucap Bibi Rina seraya mengusap punggung Anita. Gadis itu masih belum dapat menguasai perasaannya.
"Bibi, bagaimana dengan ibu? Apa ibu sudah tahu?"
"Tidak! Lebih baik jangan diberitahu dulu. Dia akan terkejut dan itu tidak baik untuk kesehatannya."
"Aku akan ke rumah sakit. Bibi, tolong jangan tinggalkan ibu sebelum aku kembali." Anita mengusap air matanya, berusaha bersikap senormal mungkin. Lalu dengan segera menuruni tangga.
Seperti biasa, ibu sedang bersantai sambil menonton acara tv kesukaannya. Anita menghampiri ibu mertuanya itu dan duduk di sampingnya.
"Ibu, aku akan keluar sebentar. Ibu sudah minum obat, kan?" tanya Anita pada sang mertua.
"Mau kemana kau? Bukankah Dimas melarangmu keluar rumah tanpanya?"
Anita memaksakan diri tersenyum, "Aku ada urusan sebentar, Bu! Aku akan segera kembali. Aku juga sudah meminta izinnya untuk keluar. Lagi pula aku pergi bersama beberapa penjaga."
Ibu mengusap puncak kepala Anita dengan sayang. "Baiklah, tapi hati-hati dan cepat kembali!"
"Iya, Bu..."
***
Di rumah sakit, Zian duduk menunggu di depan ruang IGD dengan perasaan tak menentu. Terlebih, Dokter Elma baru saja memberitahunya bahwa kondisi Dimas lumayan parah akibat terjepit di dalam mobil. Dimas sedang dalam keadaan kritis.
Yang Zian khawatirkan sejak awal akhirnya terjadi. Selama ini dia berusaha melindungi Anita dan Dimas, namun entah mengapa semua itu bisa terjadi. Zian merasa kecolongan oleh Kenzo.
Rasa bersalahpun menjalar di hatinya. Karena mengetahui perasaan yang dimiliki Anita untuk Dimas, Zian terpaksa meminta Dimas menikahi Anita. Walaupun Zian menyadari, Dimas menyukai Mia sejak pertama kali Dimas datang ke bengkelnya dan meminta diberi pekerjaan. Namun, dengan egoisnya, Zian tetap meminta Dimas menikahi Anita.
Tidak lama kemudian, Rama datang bersama Anita. Mereka menghampiri Zian yang sedang duduk sendiri.
"Maliq... Bagimana keadaan suamiku?" tanya Anita.
Zian berdiri dari duduknya. Dan entah harus menjawab apa pada Anita. Zian hanya dapat mendudukkan Anita di kursi panjang itu lalu menyandarkan Anita di bahunya
"Jangan khawatir. Dimas pasti akan baik-baik saja." Seketika, pertahanan Anita runtuh. Gadis itu menangis sejadi-jadinya.
****
Dimas terbaring dengan banyaknya peralatan medis yang melekat di tubuhnya. Dengan pakaian steril berwarna hijau, Anita masuk ke ruangan itu. Dia duduk di sisi sang suami yang kini tidak sadarkan diri. Digenggamnya tangan lelaki yang baru sebulan menjadi suaminya itu dengan deraian air matanya yang semakin deras.
"Maafkan aku. Kau mengalami semua ini karena aku. Kenapa aku begitu egois? Hanya untuk terbebas dari Kenzo, aku sudah mengikatmu ke dalam pernikahan ini dan memaksamu menerimaku. Sekarang aku harus bilang apa pada ibu? Jawab aku, Dimas... Kenapa kau diam saja?"
***
BERSAMBUNG
Yang sabar pemirsah, konflik dulu baru yang manis manis 😂
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Cata Leya
syukurlh anita ttp mndukung dimas
2025-03-06
0
Sweet Girl
😭😭😭😭😭sabar ya Anita, badai pasti akan berlalu.
2024-06-27
1
Nartadi Yana
sabar pemirsa, Elsa belum ketemu
2024-05-19
0