Pesta pernikahan yang berlangsung meriah itu pun selesai. Para tamu yang tadinya memenuhi ballroom hotel itu mulai menghilang satu persatu. Dimas dan Anita masih duduk di sebuah kursi ukiran jati yang begitu indah. Mereka layaknya sepasang raja dan ratu yang tampil begitu serasi.
"Malam ini kalian akan menginap di hotel ini. Dan besok kalian akan tinggal di rumah baru yang sudah aku persiapkan untuk kalian," ucap Zian.
Sang bos dari jauh-jauh hari, sebelum meminta Dimas menikahi Anita, sudah menyiapkan sebuah rumah mewah untuk Anita dan suaminya jika menikah suatu hari nanti.
Dimas begitu terharu dengan kebaikan sang bos. Laki-laki itu tidak tahu harus berkata apa.
"Terima kasih, Bos! Aku bukan ingin menolak pemberianmu. Tapi aku dan Anita akan tetap tinggal di rumahku saja. Kami akan mulai semuanya dari awal. Aku lebih nyaman tinggal di rumahku." Sekilas Dimas melirik sang istri yang berdiri di sampingnya.
"Tapi bagaimana dengan keamanan Anita dan kau sendiri?"
"Aku bisa menjaga Anita, Bos. Percayalah padaku."
"Baiklah, tapi rumah itu akan tetap menjadi milik kalian. Terserah kapan pun kalian mau menempatinya." Zian memeluk Anita dan Dimas bersamaan. Dua orang asistennya yang sudah dianggapnya bagai adik sendiri.
"Ayah, ayo kita pulang..." suara Deniz yang terdengar begitu menggemaskan menghentikan pembicaraan itu. Dimas berjongkok seraya merentangkan tangannya membuat bocah laki-laki itu mendekat padanya.
"Kau sudah mengantuk ya, jagoan kecilku...?" tanya Dimas pada anak lelaki Zian itu. Deniz pun menjawab dengan anggukan. "Baiklah, tos dulu." Dimas menaikkan telapak tangannya lalu disambut Deniz dengan tawa yang renyah.
"Baiklah, sepertinya aku harus pergi. Ayo, Deniz..." Zian menggendong Deniz, lalu mendekat pada Dimas dan berbisik, "Ingat jurus ular kobra masuk kandang. Kau sudah membaca buku itu kan." Dimas membulatkan matanya mendengar bisikan itu. Sementara Anita memicingkan matanya curiga.
Setelah drama bisikan gaib itu, Zian meninggalkan Anita dan Dimas yang masih berdiri di panggung. Bersamaan dengan para tamu yang sudah pulang, sehingga tinggal mereka dan beberapa orang Kia Group di sana.
"Maliq berbisik apa padamu?" tanya Anita dengan raut wajah curiga.
"Tidak apa-apa. Dia hanya bilang aku harus memakai jurus ular kobra..." Dimas menggantung ucapannya, lalu menutup mulutnya dengan telapak tangan. Anita sudah kembali memicingkan matanya, membuat nyali Dimas menciut. Dengan segera Dimas mengasah otaknya, agar terhindar dari amukan sang istri. "Hehe, Apa kau lelah?" tanya Dimas kemudian.
"Sedikit. Kakiku sakit, sepertinya terlalu lama berdiri dengan sepatu ini," jawab Anita seraya melirik ke bawah sana.
"Hehe, kau bisa merasakan sakit juga, ya... Aku pikir kau tidak bisa merasakan sakit," ucapan Dimas yang bermuatan ledekan itu membuat Anita menampakkan wujud aslinya. Dari seorang putri manja menjadi monster betina. Menyadari raut wajah itu, Wajah Dimas pun berubah. "ampuni aku! Jangan keluarkan senjatamu!" Dimas melirik setiap bagian tubuh Anita. Curiga jika Anita sedang menyembunyikan senjata di dalam gaun indahnya.
"Kau pikir aku gila? Aku tidak mungkin menyelipkan senjata di dalam gaunku, kan?" ucapnya sambil menahan kesal pada suami pecicilannya itu.
"Kau kan tidak pernah meninggalkan senjatamu. Bahkan saat kau masuk ke kamar mandi, senjata itu tetap menjadi temanmu satu-satunya."
"Apa kau sedang meledekku?" Anita kembali memperlihatkan wajah garangnya. Walaupun terlihat sangat cantik dalam balutan gaun dan make up, Dimas tetap dapat melihat wujud monster betina dalam diri Anita.
Dimas kemudian melepas sepatunya dan memberikannya pada Anita.
"Pakai saja sepatuku. Kakimu tidak akan sakit jika memakai sepatu ini." Dimas berjongkok dan memakaikan sepatunya untuk Anita, walaupun sepatu itu sangat terlihat jelas kelonggaran untuk Anita.
Sesaat kemudian, Dimas mengambil sepatu Anita dan membawanya di tangannya. Dan tangan satunya menggenggam tangan sang istri menuju kamar mereka yang telah dipersiapkan oleh pihak hotel.
Anita menyeret kakinya yang menggunakan sepatu milik Dimas yang kelonggaran itu menuju lift, bersama beberapa orang di belakangnya. Gadis cantik itu menatap lelaki yang kini berstatus suaminya itu dengan tatapan sendu. Dimas rela memberikan sepatunya pada Anita dan hanya menggunakan kaos kaki saja berjalan menuju kamar mereka yang terletak di lantai teratas hotel mewah itu.
Hingga mereka masuk ke dalam lift, Anita masih menatap Dimas yang baginya sangat berbeda dengan suami pertamanya. Kenzo adalah seorang suami yang sangat jahat. Di hari pertama pernikahannya saja, laki-laki bejat itu sudah memukulinya hingga babak belur, berikut penyiksaan fisik di hari-hari berikutnya selama hampir satu tahun.
Sangat berbeda dengan Dimas, seorang laki-laki pecicilan. Namun, perhatian kecil Dimas yang memberikan sepatunya saja sudah mampu membuat sang monster betina itu terenyuh. Dimas memang sosok laki-laki paling berbeda yang pernah ditemui Anita.
Jika laki-laki lain kadang tidak berkedip saat menatap Anita yang cantik jelita, maka berbeda dengan Zian dan Dimas yang selalu menatap Anita dengan biasa saja. Dimas masih menggenggam tangan Anita dengan erat. Seakan menunjukkan bahwa Anita adalah miliknya.
Pintu lift terbuka, bersamaan dengan beberapa petugas hotel yang sudah menunggu dan membawa mereka memasuki sebuah kamar.
Mata Anita begitu termanjakan dengan kamar yang sudah dihias sedemikian rupa itu. Kamar pengantin yang sangat indah. Berbeda dengan Dimas yang sejak tadi diam membisu. Walaupun di wajahnya terlihat gundah, namun sang Mr.Pecicilan itu berusaha menutupi kegalauannya.
Tinggallah mereka berdua di dalam kamar indah itu. Di sana juga telah tersedia menu makan malam dengan konsep Candle light dinner. Ya, kamar itu hias seindah mungkin dengan cahaya lilin kecil yang bertebaran di lantai. Dan hanya satu lampu tidur yang menyala. Sungguh, sebuah tempat yang sangat romantis.
Dimas dan Anita pun hanya saling melirik geli, membayangkan yang tidak-tidak di benak masing-masing.
"A-aku mau ganti baju. Pakaian ini sangat berat dan menyiksaku," ucap Anita dengan sedikit nada bergetar. Sedangkan Dimas mengusap wajahnya kasar. Walaupun di hatinya masih ada Mia, namun laki-laki itu sadar, akan menjadi dosa baginya jika memikirkan wanita lain yang bukan istrinya.
"Dimas, tolong aku..." Anita berdiri membelakangi Dimas, meminta tolong agar resleting pakaiannya ditarik ke bawah.
"Eh, kenapa kau memintaku melakukannya? Kau tidak malu meminta itu dari seorang pria?" ucap Dimas membuat Anita kesal.
"Lalu aku harus minta bantuan siapa?"
Sambil menutup matanya, Dimas membuka resleting gaun yang dipakai Anita sehingga menampilkan punggungnya yang putih bersih. Sementara Dimas masih enggan membuka matanya. Anita kemudian berbalik dan menatap wajah Dimas yang masih memejamkan kedua matanya.
Setelah itu, Anita pun masuk ke kamar mandi. Sementara Dimas menunggu di sofa dengan memegangi piyamanya. Sesekali melirik kamar mandi dimana Anita berada.
Setelah hampir satu jam menunggu, Anita keluar dari kamar mandi dengan memakai jubah mandi berwarna putih. Dimas kemudian gantian masuk ke kamar mandi.
****
Dua orang yang sama-sama kaku itu hanya saling melirik di depan hidangan makan malam itu. Jika bagi Anita Dimas sangat pecicilan namun bertanggung jawab, maka bagi Dimas Anita tetaplah monster betina yang menakutkan. Sekalipun dia menyadari, di dalam diri seorang gadis tangguh seperti Anita, ada hati seorang gadis polos yang rapuh.
"Anita, maafkan aku. Karena aku menolak rumah yang bos berikan untukmu. Aku hanya ingin kita tinggal di rumahku. Rumah yang aku peroleh dari hasil kerjaku sendiri. Kau bisa mengerti, kan? Aku ingin kita hidup dari hasil kerjaku saja. Aku suka kehidupanku yang sekarang. Aku tidak suka kehidupan yang serba mewah."
"Baiklah... Tidak masalah bagiku."
Setelah itu, mereka pun menyantap hidangan malam itu dengan saling diam.
Hingga malam semakin larut, pasangan suami istri itu tidak tahu harus berbuat apa. Dimas melirik Anita yang terlihat sudah cukup lelah, membuat Dimas membuka suara.
"Kau tidurlah. Malam ini pasti melelahkan bagimu," ucap Dimas. Anita segera membaringkan tubuhnya di tempat tidur, lalu menarik selimut, menutupi tubuhnya yang terasa dingin.
Sementara Dimas masih duduk melamun memikirkan bisikan gaib dari sang bos yang kurang berakhlak itu. Dia melirik Anita yang sudah tertidur dengan posisi membelakang.
Jurus ular kobra masuk kandang. Sepertinya bos ingin aku patah tulang di hari pertama pernikahanku. Dia seakan lupa bagaimana si monster betina ini. Ya ampun, ibu... Haruskah aku tidur di tempat yang sama dengannya. Bagaimana kalau dia punya penyakit 'sleep walker' ? Dia akan terbangun tanpa sadar dan mencekikku di malam hari.
***
Di tempat lain, ada Zian yang baru saja mendapatkan jatah malamnya. Laki-laki itu benar-benar penasaran sedang apa Dimas dan Anita di hotel. Zian penuh harap Dimas benar-benar menggunakan jurus andalan yang dibisikan olehnya tadi.
"Ayo, Dimas! Lakukan yang terbaik. Kejutan sedang menantimu. Kau akan merasa mendapat berlian dalam lumpur," gumam laki-laki itu.
BERSAMBUNG
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Sweet Girl
sepertinya Anita masih perawan walaupun Jendes....
2024-06-27
2
Katherina Ajawaila
Xian somplak. bikin yg baca mesem2
2024-05-29
0
Tanza Dimas Heriyanto
emang dasar Zian bos sontoloyo hahah
2023-12-20
0