Kantor Kia Group
Pagi itu, Zian sedang berada di ruangannya bersama Rama. Mereka sedang membicarakan perusahaan Adiwinata yang berhasil direbut kembali oleh Zian dengan bantuan Rama. Rama adalah satu-satunya saksi kunci kejahatan Marvin Alexander yang menipu Ayah Naya dengan liciknya sehingga perusahaan Adiwinata terancam bangkrut.
"Sepertinya Marvin Alexander akan dihukum mati," ucap Rama seraya membaca berkas di tangannya.
"Biar saja. Orang sepertinya jika dibiarkan hidup hanya akan menjadi parasit di dunia," balas Zian. "Ngomong-ngomong, kau sudah kerjakan apa yang aku suruh, kan?"
"Iya, Bos. Aku sudah kirim banyak pengawal untuk berjaga di rumah Dimas."
"Bagus! Pastikan Anita dan Dimas selalu aman dari Kenzo."
"Tapi kenapa Dimas menolak tinggal di rumah yang sudah disiapkan untuk mereka? Bukankah akan lebih baik bagi mereka?"
"Entahah. Sepertinya Dimas lebih nyaman tinggal di rumahnya yang sekarang."
Tidak lama kemudian, telepon kantor berdering. Rama segera meraih pesawat telepon itu dan menjawab panggilan.
"Bos, ini telepon untukmu." Rama menyerahkan pesawat telepon itu ke tangan sang bos, sebelum keluar dari ruangan itu. Wajah Zian pun langsung berubah ketika mendengar suara orang yang menghubunginya itu.
"Zildjian Maliq Azkara. Apa kabar?" ucap seseorang di seberang sana.
"Nyalimu besar juga. Kau masih berani menghubungiku," balas Zian ketika menyadari pemilik suara berat itu.
"Aku hanya ingin membuat kesepakatan denganmu."
"Aku tidak ada kepentingan untuk membuat kesepakatan denganmu. Lagi pula kau seharusnya bersembunyi ke tempat paling aman. Sambil menunggu sampai polisi menangkapmu."
"Tapi aku pastikan, kau akan tertarik jika aku memberitahumu, kesepakatan yang ingin aku buat denganmu."
"Lain kali saja," Zian akan menutup panggilan itu, namun Kenzo langsung bicara lagi.
"Kau mencari pelaku penculikan terhadap adik bungsumu, kan... Aku bisa menyerahkan padamu pelaku penculikan itu." Zian begitu terkejut mendengar ucapan Kenzo. Seketika matanya membulat sempurna dengan rahang mengeras. Sampai sekarang, pelaku penculikan dan pembunuhan terhadap Elsa masih menjadi misteri.
"Kesepakatan apa yang ingin kau buat denganku?" tanya Zian geram.
"Itu mudah saja. Aku punya beberapa syarat yang harus kau penuhi. Kalau tidak, kau tidak akan pernah tahu siapa orang yang menyebabkan kematian adikmu."
Zian mengusap wajahnya dengan telapak tangannya. Sampai sekarang, laki-laki itu belum dapat melupakan kejadian menyedihkan yang membuat keluarganya hancur. Dimulai saat Elsa hilang selama berminggu-minggu, hingga ditemukan dalam keadaan sudah tidak dapat dikenali. Beruntung, saat itu mereka mengenali jasad Elsa dari pakaian yang digunakannya.
"Katakan, apa yang kau inginkan?"
"Serahkan Kinara Marissa padaku. Maka aku akan serahkan orang selama ini kau cari-cari."
Zian terkekeh sinis mendengar ucapan Kenzo, membuat laki-laki itu murka.
"Jangan bermimpi. Aku pastikan kau tidak akan pernah mendapatkan Marissa. Jadi, simpan saja rahasiamu itu. Aku tidak tertarik membuat kesepakatan apapun denganmu." Zian menutup panggilan itu, kemudian terdiam memikirkan ucapan Kenzo. Matanya mulai berkaca-kaca. Setiap kali mengingat apa yang terjadi pada Elsa, Zian akan merasa sangat geram dan kehilangan sisi manusianya.
Zian memang belum bisa mengikhlaskan apa yang terjadi pada Elsa. Entah apa yang akan dia lakukan jika menemukan pelaku penculikan dan pembunuhan adik kesayangannya itu. Namun, Anita juga sangat berarti baginya. Tidak mungkin dirinya mengorbankan Anita hanya untuk memuaskan dahaganya untuk balas dendam pada orang yang telah tega menculik dan membunuh adiknya.
Tidak lama kemudian, Dimas masuk ke ruangan itu dan mendapati sang bos sedang duduk bersandar di kursi kebesarannya dengan posisi membelakang.
"Bos..." panggil Dimas.
Zian tampak mengusap sisa cairan bening yang mengalir di ekor matanya, kemudian melirik Dimas. "Kau... Bukankah kau seharusnya sedang cuti?" ucap Zian lalu membalikkan kursinya sehingga posisi mereka sekarang berhadapan.
"Iya. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, Bos! Tadi aku melihat pemberitaan Kenzo di tv."
"Ya, dia juga menghubungiku tadi. Dia ingin membuat kesepakatan denganku. Kau dan Anita harus lebih berhati-hati. Dia bisa nekat melakukan apapun."
Dimas mengerutkan alinya mendengar ucapan Zian. "Kesepakatan? Kesepakatan apa?" tanya Dimas penasaran.
"Dia bilang, dia akan meyerahkan pelaku pembunuhan Elsa. Dengan syarat, aku membantunya untuk bisa keluar negeri. Dan menyerahkan Anita padanya. Dia benar-benar sudah gila."
Dimas begitu terkejut mendengar ucapan sang bos. Rasa bersalahnya yang telah menjadi penyebab utama kematian Elsa semakin besar.
"Kau harus hati-hati. Dia menginginkan Anita kembali. Aku yakin dia akan melakukan apapun untuk bisa mendapatkan Anita." lanjut Zian.
Dimas belum dapat berkata-kata, terlebih melihat raut kesedihan di wajah sang bos. Kematian Elsa menyisakan duka mendalam di keluarga Azkara. Dalam pikiran Dimas, bukan hanya Zian. Tetapi Dokter Fahri dan Evan mungkin tidak akan mengampuni Dimas jika mereka tahu kebenarannya, bahwa Dimaslah yang menjadi penyebab utama kematian Elsa.
"Bos, boleh aku tanya sesuatu?" Dimas bertanya dengan wajah serius. Tidak seperti biasanya.
"Apa?"
"Jika kau menemukan pelaku penculikan adikmu, apa yang akan kau lakukan padanya?"
Zian terdiam mendengar pertanyaan Dimas. Laki-laki itu kembali teringat pada jasad Elsa yang telah membusuk dan juga pada sang ibu yang mengalami depresi sampai akhirnya meninggal setelah dua tahun kematian Elsa.
"Aku... Aku hanya benar-benar berharap tidak akan pernah bertemu dengan orang itu. Karena jika aku menemukan pelakunya, mungkin aku akan menjadi seorang pembunuh. Akan lebih baik jika aku tidak pernah menemukan orang itu," ucap Zian dengan menahan kemarahannya.
Jika kau tahu akulah yang menculik Elsa, apa yang akan kau lakukan. Aku tidak apa-apa jika kau membunuhku, Bos. Tapi Anita dan ibuku, mereka mungkin tidak akan memaafkanku juga. Terutama ibu. Dia merasa berhutang pada ibu Alina. Tapi apa yang aku lakukan untuk membalas kebaikannya. batin Dimas.
"Oh, ya... Bagaimana keadaan Anita? Aku dengar Kenzo hampir saja menculiknya." Zian mencoba mengalihkan pembicaraan yang akan membuatnya sedih.
"Sepertinya Kenzo benar-benar berusaha mendapatkannya lagi. Anita sangat ketakutan malam itu. Tapi dia baik-baik saja."
"Baguslah. Setidaknya sekarang aku bisa bernapas lega. Kau menjaga Anita lebih baik dari aku."
"Dia sangat lihai bersembunyi. Bahkan polisi tidak bisa melacak keberadaannya."
"Ya, kau benar. Sangat sulit menangkap sibajingan itu."
****
Dimas tiba di rumah dengan wajah kurang bersemangat. Pembicaraannya dengan Zian di kantor benar-benar bagaikan sayatan sembilu di hatinya. Mungkin, rasa bersalah itu akan selamanya tinggal di hatinya. Kematian Elsa disusul kepergian ibu Alina untuk selama-lamanya, membuat Zian seakan hancur.
Saking larutnya dalam lamunannya, Dimas sampai tidak mendengar sapaan ibu dan Anita. Laki-laki itu berlalu begitu saja tanpa sepatah kata pun.
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Fiera
kasihan Dimas
2023-04-03
1
galaxi
yg tdk aq mengerti thor kenapa bisa mia adeknya zian....mksudku kan jasad udh ditemukan dlm keadaan yg mengenaskan....iiih..jd makin penasaran deh....kapan terbongkarny 😂
2023-03-21
0
𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒
mksdnya ellsa yg mn di, bkne elsa itu istrinya willy dokter playboy y...aq kok bingung.. krn aq baca kisah willy dl baru kesini
2022-11-28
0