Mia menghentikan kegiatannya sejenak ketika melihat Anita ada di sana. Gadis itu pun meletakkan sebuket bunga yang baru saja dirangkainya, lalu beranjak keluar dari toko bunga sederhana itu.
"Kak Anita..." Mia memperhatikan wajah Anita yang begitu sedih dengan mata yang sembab.
"Mia, bisakah kita bicara sebentar?" tanya Anita berusaha menyembunyikan kesedihannya.
Mereka menuju sebuah taman kecil yang terletak di belakang toko bunga tersebut.
"Ada apa, Kak?"
Anita menundukkan kepalanya. Bingung entah harus memulai dari mana. Kedua bola matanya hanya menatap sebuah amplop putih yang berada di genggamannya. Dia berusaha menguatkan hatinya untuk kemungkinan terburuk jika ternyata Mia juga memendam perasaan yang sama untuk suaminya.
"Maafkan aku, Mia. Aku mungkin sedang mengganggumu. Kau... Kau tahu kan, kemarin Dimas mengalami kecelakaan dan sekarang dia kritis di rumah sakit," ucap Anita tanpa berani menatap Mia.
"Aku tahu dari dari Naya. Aku juga sudah melihat beritanya di tv tadi pagi. Bagaimana keadaan Kak Dimas?"
"Dia kritis," jawab Anita singkat membuat wajah Mia berubah sedih.
Tanpa berbasa-basi lagi, Anita menyerahkan amplop putih yang berada di genggamannya kepada Mia. Seketika wajah Mia terlihat bingung. Alisnya mengerut dengan tangan gemetar memegang amplop itu.
"Apa ini?"
Anita menyeka setitik air matanya yang jatuh, membuat Mia merasa semakin penasaran. Tidak pernah sebelumnya Anita terlihat sangat lemah seperti sekarang. Selama ini, baik sedih atau pun senang, wajah Anita tetap datar tanpa ekspresi yang berlebihan. Namun kini, Mia dapat melihat raut kesedihan di wajah Anita.
Mia mengusap bahu Anita, "Kak Anita..."
"Bacalah! Dimas menulis itu untukmu beberapa tahun lalu. Dan dia masih menyimpannya sampai sekarang. Aku menemukannya semalam."
Dengan perasaan tidak menentu, Mia membuka amplop itu dan mengeluarkan sebuah kertas dari dalam sana. Sesekali gadis manis itu melirik Anita yang sedang menahan air matanya.
Mia pun membaca kata demi kata yang tertulis di dalam sepucuk surat tersebut. Setitik air matanya terjatuh, Mia sama sekali tidak menyangka bahwa ternyata perhatian yang diberikan Dimas padanya selama ini adalah bentuk cinta. Sejak bergabung bersama Kia Group, kadang Dimas mengajaknya berjalan-jalan walaupun hanya untuk melepas kebosanan saja. Semua kenangan Dimas bermunculan di benak gadis itu.
Bagaimana mungkin selama ini aku tidak menyadari perasaan Kak Dimas. Dia memang sangat perhatian padaku. Tapi aku pikir dia menganggapku seperti adiknya sendiri. Sama seperti dia menganggap Naya seperti adiknya sendiri. Kenapa aku tidak peka? batin Mia.
Mia melirik Anita yang kini duduk di sampingnya, sesekali menghela napas panjang.
"Aku mohon, Mia... Temuilah Dimas. Dia pasti akan senang kalau kau yang datang menemaninya."
"Tapi kau adalah istrinya, Kak! Dan surat ini sudah lama. Kak Dimas pasti sudah melupakannya. Dia sekarang memilikimu sebagai istrinya," ucap Mia mencoba menghibur Anita.
"Kalau dia sudah melupakannya, dia pasti sudah membuangnya, kan? Tapi dia menyimpannya dengan sangat baik. Karena itulah sampai saat ini dia belum bisa menerimaku."
Mia tidak dapat lagi berkata-kata. Gadis itu hanya terus mencoba menguatkan Anita.
"Maafkan aku, Mia. Melalui Maliq, aku sudah memaksanya untuk menikahiku. Dia menikah denganku hanya karena ingin balas budi pada Maliq. Bukan karena dia menyukaiku. Baginya, aku hanyalah seorang monster betina yang tidak akan pernah bisa masuk ke hatinya. Dia mencintaimu. Dan aku sudah menjadi penghalangnya untuk bersama orang yang dia cintai."
Mia kemudian teringat saat pertama kalinya bertwmu dengan Dimas. Saat itu, entah mengapa Mia merasa sangat takut pada Dimas. Sesuatu yang sangat aneh baginya. Pertama kalinya bertemu dengan seseorang yang rasanya tidak asing baginya, namun entah untuk alasan apa Mia merasa takut pada Dimas. Sebaliknya, sangat nyaman dengan Zian. Padahal saat itu, Zian sangat galak dan suka marah-marah.
Akhirnya, setelah dua bulan mencoba saling mengenal, ditambah kegilaan Naya yang jatuh cinta pada Zian, dan akhirnya menikah, Mia dan Dimas semakin sering bertemu.
Dan bahkan Dimas sering membawanya bertemu dengan ibunya. Namun, tidak pernah terlintas dalam benak Mia bahwa Dimas memiliki perasaan lebih pada dirinya.
****
Mia memasuki sebuah ruangan dimana Dimas terbaring tak sadarkan diri. Dengan langkah meragu, gadis itu mendekat ke pembaringan itu. Setitik air matanya lolos begitu saja, melihat sosok lelaki yang sudah dianggapnya bagai kakak sendiri itu sedang terbaring lemah.
Dimas yang selama ini disebut Mia sebagai ice breaker itu hanya terdiam dalam tidurnya. Mia menggenggam tangan Dimas yang terasa begitu dingin.
"Kak Dimas... Maafkan aku. Aku kurang peka, sehingga tidak mengenali perasaanmu. Aku selama ini menganggapmu sebagai kakakku sendiri. Aku tidak pernah membayangkan sebelumnya kalau kau memiliki perasaan yang lebih untukku. Dan mungkin itu sudah melukaimu. Tapi kau... Sekarang memiliki Kak Anita. Dia wanita yang sangat baik. Bahkan walaupun dia sudah menjadi istrimu, dia tetap bisa merelakanmu untuk bahagia bersama seseorang yang kau cintai. Lalu bagaimana bisa aku menyakiti wanita sebaik itu? Kau sangat beruntung memilikinya. Tidak banyak wanita yang memiliki hati sepertinya. Apa kau tega meninggalkannya?"
Mia mengusap air matanya yang berjatuhan. Dan, tanpa disadari oleh gadis itu, bahwa Dimas sedang menitikkan air matanya.
Di luar sana, Anita terduduk seorang diri dengan perasaan tak menentu. Gadis itu merasa seakan berdiri di antara ancaman Kenzo dan kebahagiaan Dimas.
Jika saja Zian tidak memaksa Dimas menikahi dirinya, mungkin akan ada jalan bagi Dimas untuk bersama orang yang dicintainya tanpa melukai siapapun. Dan beban rasa bersalah itu sekarang ditanggung oleh Anita.
Pintu ruangan itu terbuka diikuti oleh Mia yang tampak keluar dari dalam sana. Anita langsung berdiri dari duduknya. Menatap Mia yang kini berdiri di hadapannya.
"Terima kasih, Mia. Kau sudah mau memenuhi permintaanku untuk menemuinya," ucap Anita.
"Jangan khawatir, Kak. Kak Dimas pasti akan baik-baik saja. Aku yakin sebentar lagi dia akan terbangun dari tidurnya."
****
Hari itu merupakan hari yang sangat berat bagi Anita. Mengambil sebuah keputusan itu tidaklah mudah. Ditambah dengan ancaman Kenzo yang terus menghantuinya. Sudah beberapa kali surat kaleng berisi ancaman pembunuhan terhadap Dimas datang pada Anita.
Malam itu, Anita duduk di tempat tidur dengan memegangi secarik kertas dengan darah sebagai tinta, yang tertera nama Dimas di dalamnya. Tangan Anita pun gemetaran memegangi kertas itu.
Di dalam kamar itulah, Anita meringkuk merenungi nasibnya. Berusaha menerima bahwa kebahagiaan memang bukan untuknya.
Kenapa aku harus menjadi beban untuk suamiku. Dan ibu, walaupun dia tahu akulah yang menyebabkan anaknya seperti sekarang, tapi dia tidak membenciku. Kenapa aku harus egois?
*****
BERSAMBUNG*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Cata Leya
otak wanita mang gini...sok nelangsa..otakny penuh hal2 negatif
2025-03-06
0
Zieya🖤
aku rasa mia itu elsa, elsa belum mati
2024-07-01
2
Sweet Girl
Karena Dimas yang menculik mu.
2024-06-28
0