Kicauan burung yang saling bersahutan memecah kesunyian pagi. Cahaya matahari mulai menyelinap di celah-celah jendela. Di dalam sebuah kamar, dua manusia masih tertidur dengan lelapnya.
Semalaman, Anita begitu lelap dengan menjadikan lengan Dimas sebagai bantal. Tidak pernah sebelumnya Anita tidur senyenyak dua hari belakangan ini. Perlahan, gadis bermata cokelat itu membuka matanya. Tatapannya langsung tertuju pada sang suami yang bebaring di sampingya. Anita begitu terpaku dengan wajah Dimas yang masih begitu lelap dalam tidurnya, dengan lengan kanannya yang masih melingkar di atas perut sang istri.
Tidak pernah dibayangkan Anita sebelumnya jika Dimas yang menyebalkan itu, bisa terlihat sangat tampan dan seksi di pagi hari. Seketika wajahnya merona mengingat apa yang baru saja dia pikirkan.
Anita menepuk-nepuk wajahnya beberapa kali, mencoba menghilangkan pikiran yang menghinggapi benaknya. Gadis itu mengumpati dirinya sendiri di dalam hati dengan menyebut dirinya sudah gila. Namun, wajah sang suami bagaikan memiliki magnet, yang terus menariknya agar menoleh padanya.
Sekali lagi, Anita menatap dalam-dalam wajah Dimas yang masih tertidur. Dan, ketika Dimas menggeliat pelan, dengan kelopak matanya yang mulai bergerak-gerak pertanda laki-laki itu akan segera terbangun dari tidurnya. Anita buru-buru memejamkan matanya kembali. Berpura-pura masih tidur.
Bukannya terbangun, Dimas malah mengeratkan pelukannya, bagaikan sedang memeluk bantal guling, membuat Anita membulatkan matanya.
Dimas yang masih setengah sadar merasa heran, mengapa bantal guling yang dipeluknya memiliki rambut dengan aroma yang sangat wangi. Laki-laki itu pun membuka matanya perlahan, dan seketika...
Aaaaa!!!! MONSTER BETINAAAA!!!!!
Teriakan Dimas menggelegar di pagi hari. Laki-laki itu begitu terkejut mengapa bantal guling yang dipeluknya berubah wujud menjadi monster betina. Dimas, sempat lupa kalau dia sudah menikahi sang monster betina itu.
Anita langsung bangun dan duduk di pinggiran tempat tidur dengan wajah merengut kesal. Betapa tidak, Dimas benar-benar membuatnya naik pitam. Bukannya mendapat ucapan selamat pagi yang manis, suaminya malah berteriak seperti sangat ketakutan.
"Maaf, aku reflek. Aku tidak sengaja," ucap Dimas yang masih berusaha mengumpulkan kesadarannya, mengambil sebuah bantal dan meletakkan di depan dadanya untuk dijadikan tameng jika monster betina itu mengamuk.
"Reflek? Apa bagimu aku benar-benar menakutkan sampai kau harus berteriak begitu?"
Bukan pertanyaan itu yang membuat Dimas menganga tak percaya, melainkan suara Anita yang terdengar sangat manja dan sensual di telinga Dimas. Sungguh pagi itu Anita tidak seperti yang biasanya. Dia mulai menunjukkan sisi manjanya di hadapan suaminya itu. Bagaimana mungkin monster galak dan menakutkan seperti Anita bisa berubah menjadi anak kucing dalam dua hari. Dimas benar-benar dibuat tercengang olehnya.
Ragu-ragu, Dimas mendekat dan mengambil posisi duduk di samping Anita. "Bukan begitu. Aku benar-benar minta maaf. Aku pikir sedang memeluk bantal guling. Aku tidak tahu kalau itu kau."
Anita pun menoleh pada Dimas dengan bibir yang mengerucut lucu, serta mata berkaca-kaca, Ini benar-benar tidak seperti Anita yang biasanya. Laki-laki itu sampai berpikir istrinya memiliki kepribadian ganda. Dan entah kenapa sikap Anita itu sangat manis bagi Dimas
Apakah ini wujud asli dari monster betina ini? Dia benar-benar seperti anak kucing yang manja. Kemana sisi galak dan mengerikannya saat di kantor? batin Dimas.
Menyadari wajah Anita yang terlihat sedih, Dimas segera memeluknya. "Sudah, jangan sedih! Aku salah, aku minta maaf." Dimas mengusap punggung Anita beberapa kali lalu kemudian melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul enam pagi.
"Mandilah dan segera turun. Ibu suka pada pada gadis yang rajin bangun pagi dan membantunya di dapur."
****
"Selamat pagi, Ibu..." ucap Anita ragu-ragu pada sosok mertua yang sedang membuat sarapan di dapur.
Wanita paruh baya itu belum menjawab salam dari menantunya. Yang dia lakukan adalah meneliti setiap bagian tubuh menantunya itu, sehingga membuat Anita salah tingkah.
"Mau apa kau sepagi ini di dapur?"
"Mau membantu Ibu membuat sarapan..." Anita menjawab getir.
"Kau tidak lelah?"
Anita mengerutkan alisnya mendengar pertanyaan itu. "Lelah kenapa, Bu? Aku tidak lelah..."
"Aku pikir Dimas akan membuatmu kelelahan." Masih dengan tatapan menyelidik, wanita itu meneliti setiap bagian tubuh menantunya itu, mencari tanda yang mungkin ditinggalkan Dimas di sana. Akan tetapi, Anita bersih. Tidak ada tanda apapun di sana.
"Kelelahan kenapa, Bu?" Anita semakin tidak mengerti.
Wanita itu terlihat lumayan terkejut. Bagaimana mungkin seorang janda seperti Anita tidak mengerti dengan ucapan sang mertua. Bahkan, wajahnya kini terlihat sangat bingung.
"Apa Dimas belum membongkar gudangmu?" Pertanyaan frontal itu malah membuat Anita semakin tidak mengerti. Anita hanya garuk-garuk kepala tidak jelas.
Gudang? Di apartemenku ada gudang. Tapi Dimas tidak pernah masuk kesana? Lalu kenapa ibu mengira dimas sudah membongkar gudangku?
"Dimas tidak pernah masuk ke gudangku, Bu... Bagaimana bisa membongkarnya?" jawab Anita dengan polosnya. Dan jawaban itu membuat sang mertua tersendak udara, seraya mengelus dadanya. Tentu saja yang ada di pikiran Anita adalah gudang yang sebenarnya. Bukan gudang seperti yang dimaksud ibu.
"Baiklah, kemari cepat!" Ibu mulai lagi menunjukkan sisi galaknya pada Anita. Begitu Anita mendekat padanya, wanita itu mengambilkan gelas berisi minuman yang dia buat khusus untuk Anita. Sebenarnya, bukan untuk Anita, melainkan untuk Dimas. Tapi Anitalah yang harus meminumnya.
"Minum ini?"
Anita meraih gelas berisi minuman dengan aroma yang terasa aneh baginya. Gadis itu menjauhkan gelas itu dari wajahnya begitu aroma yang keluar dari gelas terasa menyiksa penciumannya. Takut-takut, Anita melirik sang mertua yang masih terlihat judes itu. Mengira sang mertua sedang memberinya minuman racun.
"Apa ini, Bu?" tanya Anita ragu-ragu sambil menatap gelas dan ibu bergantian.
"Kau tidak tahu itu minuman apa?" tanya ibu membuat Anita menggeleng pelan.
"Minuman itu untuk merapatkan gudangmu!" Dan jawaban ibu membuat Anita membelalakkan matanya. Bagaimana mungkin minuman berbau aneh itu bisa merapatkan gudang. Anita mulai berpikir mertuanya itu sudah gila. Lebih parah, dia berpikir sang mertua benar-benar akan meracuninya.
"Aku tidak mau meminumnya!" Anita meletakkan gelas itu di meja.
"Kenapa kau tidak mau meminumnya? Ayo cepat minum!" Ibu mengambil gelas itu dan kembali menyodorkannya pada Anita. Yang Anita lakukan hanya mundur perlahan, namun ibu semakin bergerak maju mendekatinya.
Tidak pernah merasakan hadirnya sosok seorang ibu dalam hidupnya, membuat Anita berpikir kalau semua ibu di dunia itu galak dan menakutkan, hanya dengan melihat kepribadian mertuanya. Jika saja wanita itu bukan ibunya Dimas, mungkin Anita sudah menghadiahinya kepalan tinju miliknya. Namun, Anita yang menguasai beberapa ilmu bela diri sama sekali belum pernah memukul seorang wanita.
"Bagaimana kalau aku mati setelah meminumnya? Jika minuman itu saja bisa merapatkan gudang? Apalagi kedua mataku. Mataku akan tertutup rapat setelah meminumnya, kan?" gumam-gumam kecil itu lolos begitu saja dari mulut Anita tapi bisa didengar dengan jelas oleh sang mertua.
"Kenapa kau berpikir aku mau membunuhmu? Aku hanya menyuruhmu minum ini." Ibu sudah meninggikan suaranya, lalu mendekat dan berbisik pada Anita, sambil matanya melirik tangga, hendak memastikan Dimas belum turun. "Kau ini kan janda, kau butuh minuman ini untuk memanjakan suamimu. Tidak mungkin kau tidak tahu minuman apa ini?"
Memanjakan suami? Ya, aku tahu. Maksud ibu pasti supaya Dimas bisa menikah lagi dengan seorang gadis yang bukan janda.
"Ibu tidak menyukaiku, kan? Karena aku seorang janda... Makanya ibu memberiku minuman itu," tuduh Anita.
"Memangnya kau pikir ini minuman apa?" bentak ibu.
"Tadi Ibu bilang untuk merapatkan gudang..."
"Kau paham kalau minuman ini untuk merapatkan gudangmu. Lalu kenapa kau tidak..." Ibu menggantung ucapannya ketika menyadari sesuatu. Anita sangat polos dan tidak mengerti minuman apa yang dibuatkan olehnya.
Tunggu! Dia sama sekali tidak mengerti minuman ini. Apa jangan-jangan dia masih...
***
BERSAMBUNG*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Safitri Agus
kalau Anita masih ting² rugi banyaklah si Kenzo dah menyia²kan nya
2024-12-07
1
Sarah vilain
/Scowl//Drool//Tongue/
2024-08-05
0
🦋🦋 Lore Cia 🦋🦋
🤣
2024-08-01
0