Hati berganti hari. Hubungan Dimas dan Anita mulai menunjukkan banyak kemajuan. Dengan dukungan dari sang mertua, Anita terus berusaha mendapatkan hati sang suami dengan berbagai cara yang terkadang bagi Anita sangat memalukan.
Dan, tidak pernah dibayangkan oleh Dimas sebelumnya, bahwa dirinya tidak membutuhkan usaha lebih keras untuk bisa menerima Anita dan melupakan Mia yang selama ini mengisi hatinya. Kurang dari satu bulan saja, tanpa sadar, kepolosan Anita sudah membuatnya jatuh cinta. Namun, seperti kata ibu, Dimas bukan seseorang yang mudah mengakui perasaannya.
Tidak ingin mengulangi kesalahan Zian yang di awal pernikahannya terus mengabaikan Naya, maka Dimas mulai menunjukkan perhatiannya pada sang istri, walaupun masih kaku. Kini mereka hidup layaknya sepasang suami istri pada umumnya. Hanya jurus ular kobra masuk kandang ala Zian saja yang belum berani dilaksanakan oleh Dimas.
Setelah pembicaraannya dengan sang bos tentang kesepakatan yang diajukan oleh Kenzo, Dimas seakan terus dihantui oleh rasa bersalah. Laki-laki itu menjadi lebih pendiam di kantor ataupun di rumah.
Malam itu, Dimas masih disibukkan dengan setumpukan pekerjaannya. Sesekali melirik arah jarum jam yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam.
Suara deringan ponsel yang berbunyi nyaring memecah kesunyian di dalam ruangan itu. Dimas melirik ponsel yang terletak di atas meja. Tertera nomor yang tidak dikenal di layar ponsel. Dengan cepat, Dimas menggeser simbol hijau.
Wajahnya pun langsung berubah setelah mendengar suara berat dari sang penelepon gelap itu.
****
"Senang bertemu denganmu, Dimas!" ucap seorang pria yang tiba-tiba datang. Dimas berbalik dan menatap tajam sosok laki-laki tinggi besar yang menghubunginya saat masih di kantor dan meminta bertemu malam itu. Saat ini mereka sedang berada di suatu tempat yang cukup sunyi.
"Aku tidak suka basa-basi. Apa yang kau inginkan?" tanya Dimas dengan wajah mendatar.
Kenzo terkekeh sinis, sambil melangkahkan kakinya mendekat pada mantan anak buahnya itu. "Kau pasti tahu apa yang aku inginkan, bukan?" Laki-laki itu berdiri tepat di hadapan Dimas dengan menyunggingkan senyum jahatnya. "Serahkan Kinara Marissa padaku dan aku akan mengampunimu."
"Jangan mimpi. Aku tidak peduli pada ancamanmu itu. Aku tidak akan menyerahkan dia padamu. Dan lebih baik, kau pikirkan saja hukuman apa yang akan diberikan pengadilan padamu nanti."
Dimas melangkahkan kakinya hendak meninggalkan Kenzo, namun laki-laki itu segera menghentikannya.
"Elsa Azkara!" ucap Kenzo dengan suara lantang yang akhirnya menghentikan langkah kaki Dimas. "Kau masih ingat dengan anak perempuan yang kau serahkan padaku 15 tahun yang lalu?" Dimas melirik Kenzo dengan ekor matanya, lalu menatap lurus ke depan, seperti menahan amarah.
"Kau bisa bayangkan akan semarah apa bosmu itu, jika mengetahui, asisten kesayangannya adalah orang yang telah menculik adiknya. Orang yang telah lama dia cari-cari." Kenzo melangkah maju mendekat pada Dimas sehingga mereka kembali berhadapan. "Aku bisa saja langsung memberitahunya, bahwa kau adalah orang yang dia cari selama ini. Tapi... Aku masih ingin membuat kesepakatan dulu denganmu."
Dimas menghela napas panjang, menahan amarahnya yang terasa telah menembus ubun-ubunnya. "Dan kau pikir, kau bisa menggunakan itu untuk mengancamku?"
"Aku bisa melakukan lebih dari itu."
"Maka lakukanlah sesukamu!" Ucapan Dimas yang seolah menantang itu membuat Kenzo naik pitam. Terlihat jelas di wajahnya raut kemarahan. "Aku tidak akan menghalangimu kalau kau mau mengatakan padanya. Tapi, selama aku masih hidup, jangan bermimpi untuk bisa menyentuh istriku!"
****
Arah jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, namun Dimas belum juga tiba di rumah. Anita sudah puluhan kali menghubunginya, namun tidak juga tersambung.
Dengan raut wajah khawatir, Anita mondar-mandir di ruang tamu, sesekali melirik jam di dinding.
"Dimas belum pulang, ya..." Terdengar suara ibu yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Iya, Bu. Dia belum pulang. Ponselnya juga tidak aktif. Aku sudah menghubungi kantor, tapi mereka bilang dia sudah pergi sejak tadi." Pikiran Anita sudah menjalar kemana-mana. Takit jika Kenzo berbuat jahat pada sang suami. Anita tahu betul, sekejam apa Kenzo.
"Mungkin sedang bersama Tuan Maliq itu," Ibu mencoba menenangkan Anita yang terlihat sangat khawatir.
"Entahlah, Bu. Maliq juga tidak bisa dihubungi."
"Tenanglah dulu. Dimas sudah biasa pulang larut malam."
"Ibu istirahat saja, aku akan menunggunya di sini. Ibu sudah minum obat, kan?" tanya Anita, lalu diikuti anggukan oleh sang mertua.
Anita kemudian mengantar ibu ke kamar, agar sang mertua dapat beristirahat.
Berselang satu jam kemudian, terdengarlah suara ketukan pintu, membuyarkan lamunan Anita yang sedang berbaring di sofa ruang tamu. Dengan segera, gadis itu menuju pintu dan membukanya. Seketika matanya terbelalak melihat Dimas yang baru saja datang dengan wajah yang berlumuran darah dan beberapa luka lebam.
"Dimas... A-apa yang terjadi? Kenapa kau berdarah?" Anita mengusap wajah sang suami yang penuh bekas pukulan itu. Air matanya lolos begitu saja.
"Aku tidak apa-apa," ucap Dimas mencoba menyembunyikan rasa sakit di tubuhnya dengan senyuman.
"Tapi kau berdarah. Siapa yang melakukannya?"
"Zzttt!" Dimas meletakkan jari telunjuknya di depan hidung, lalu melirik kesana-kemari, "Ibu sudah tidur, kan?"
Anita menghapus air matanya, lalu mengangguk pelan.
"Baguslah. Jangan sampai ibu tahu kalau aku pulang dalam keadaan seperti ini. Ayo kita ke kamar saja," Dimas merangkul Anita menuju kamar mereka di lantai dua.
Sesampainya di kamar, Anita membantu melepas kemeja yang digunakan Dimas yang telah penuh bercak darah, lalu mendudukkannya di pinggir tempat tidur. Anita kemudian bergegas ke lantai bawah untuk mengambil obat merah.
Sambil mengusap air matanya yang terus menetes, Anita membasuh wajah Dimas dengan handuk basah.
"Jangan menangis, aku tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil," ucap Dimas seraya mengusap wajah Anita yang basah oleh air mata.
"Tapi siapa yang melakukannya?"
Dimas tidak menjawab pertanyaan itu, hanya senyum tipis yang terbit di sudut bibirnya. Dan walaupun Dimas berusaha meyakinkan Anita bahwa dia tidak apa-apa, nyatanya tidak membuat Anita bernafas lega.
"Kenapa kau sangat khawatir. Kau juga sering memukuliku sampai aku babak belur. Bukankah luka seperti ini sudah biasa bagimu?" ucapnya sambil terkekeh.
"Tapi aku tidak membuatmu berdarah-darah seperti sekarang." Anita masih belum dapat meredam tangisannya. "Apa Kenzo yang melakukannya?"
Dimas hanya menggeleng, sambil menatap dalam-dalam wajah Anita yang baginya sangat imut tanpa riasan sedikit pun. Tanpa banyak bicara, Dimas memeluk Anita dengan eratnya.
"Maafkan aku."
"Kenapa kau minta maaf? Dan cepat lepaskan aku! Aku mau obati lukamu,"
"Hentikan dulu tangisanmu! Kau jadi jelek saat menangis. Mana ada monster betina yang cengeng sepertimu." Ucapan Dimas yang bermuatan ledekan itu membuat Anita kesal. Jika dulu sebelum menikah, Anita pasti sudah menghadiahi Dimas persatuan lima jari miliknya, namun kini sang monster betina itu telah berubah mencadi gadis polos dan cengeng.
Anita melepas pelukan itu. lalu melanjutkan mengobati luka-luka di wajah sang suami.
"Aku tidak akan memaafkan siapapun yang melakukan ini padamu," ucapnya sambil memberi obat merah pada luka-luka itu.
"Sudah, jangan dipikirkan."
***
Bersambung.
Maaf baru up. otor lagi berduka. maapin juga kalo banyak typo dan bahasanya acakadul. Lagi gak konsen 😢
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Arini Chania
pasti dimas dan hajar Malik, karena dah mengaku.
2024-08-21
1
Sarah vilain
hahhh ada konflik lagi 😔
2024-08-05
0
Sweet Girl
Klo jurusnya Dimas, Ular Cobra masuk gudang.
2024-06-27
0