"Jangan menangisi laki-laki itu lagi. Dia sangat tidak pantas untuk kau tangisi," ucap Dimas mencoba menenangkan sang istri yang kini sesegukan. Ada perasaan sakit di hati Dimas yang entah dari mana berasal. Melihat istrinya menangis sesegukan seperti sekarang hanya karena seorang laki-laki dari masa lalunya.
"A-ku bu-kan menangisinya. Aku menangisi diriku. Kalau dia menangkapku, aku lebih baik mati saja." Anita berbicara dengan suara yang tersendat-sendat, namun Dimas masih dapat mendengarnya dengan jelas. Dimas pun mengeratkan pelukannya. Sementara Anita menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Dimas.
Pertama kalinya Anita mengadu pada seseorang selain Zian, adalah pada Dimas. Laki-laki itupun menyadari, di balik sikap Anita yang selalu galak dan sangat menakutkan, ada sosok gadis cengeng dan manja di sana. Dan Anita berhasil menutupi semuanya dengan sempurna.
Dimas kemudian membawa Anita duduk di pinggiran tempat tidur itu. Namun, Anita belum dapat membendung air matanya. Tubuhnya pun masih sedikit gemetaran. Dimas memandangi wajah Anita yang terlihat lain dari biasanya. Ketakutan yang sama terlihat ketika Dimas mendapati Anita di apartementnya saat akan mencoba bunuh diri. Dan melihat itu saja, Dimas sudah kembali memeluk Anita.
"Jangan khawatir. Sebelum dia menyentuhmu, dia harus melangkahi mayatku dulu. Aku tidak akan membiarkan dia menjangkaumu," ucap Dimas sambil mengusap-usap rambut istrinya itu. "Apa selama kalian menikah, dia tidak pernah sekalipun bersikap baik padamu?"
"Tidak! Sejak awal dia hanya memukuliku. Dia juga tidak membiarkan aku mati. Aku pernah mencoba bunuh diri dengan meminum racun serangga. Tapi dia membawaku ke rumah sakit. Dan begitu aku sembuh, dia kembali menyiksaku. Lalu..."
"Hentikan! Jangan lanjutkan. Rasanya aku sangat ingin membunuhnya sekarang." Anita terdiam. Ada rasa hangat yang tiba-tiba menjalar di hatinya mendengar ucapan Dimas.
Traumanya pada sebuah pernikahan membuatnya menutup rapat-rapat hatinya dari semua lelaki yang pernah mencoba mendekatinya. Namun, baik Zian ataupun Anita sendiri tidak pernah memberi celah sedikit pun bagi mereka untuk mwndekatinya.
Tapi Dimas seseorang yang berbeda. Dan untuk pertama kalinya, gadis itu merasa sangat aman saat bersama seseorang selain Zian, adalah saat bersama Dimas. Anita meresapi hangatnya pelukan laki-laki yang kini berstatus suaminya itu.
"Baiklah, jangan menangis lagi. Bagaimana kalau aku membantumu membereskan barang-barangmu," Dimas mencoba mengalihkan perhatian Anita dari rasa sedihnya.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Dimas melihat sosok Anita yang manis dan sederhana. Kegalakannya menghilang entah kemana. Dan Dimas terlihat lebih dewasa, entah kemana sifat pecicilannya yang selama ini melekat dalam dirinya.
Seolah sebutan Mr.Pecicilan dan Monster Betina hanyalah topeng dari kedua orang itu untuk menutupi wujud aslinya.
***
Makan malam berlalu dengan kecanggungan Anita. Karena menyadari sang ibu mertua tidak begitu menyukainya. Namun, Dimas berperan sebagai seorang suami yang baik. Laki-laki itu terus berusaha agar ibunya bisa menerima Anita sebagai bagian dari keluarga mereka.
"Anita, kembalilah ke kamar duluan. Aku akan menyusul. Aku mau bicara dengan ibu dulu," ucap Dimas sesaat setelah makan malam.
"Baiklah. Selamat malam, Ibu..." Tanpa menunggu balasan dari ibu, Anita langsung melangkahkan kakinya meninggalkan meja makan, membuat ibu semakin geram.
Dimas merangkul ibunya menuju ruang keluarga, sesekali matanya melirik tangga, memastikan Anita benar-benar sudah ke kamar. Dimas mendudukkan sang ibu di sofa dan berjongkok di depannya.
"Bu, aku mohon jangan bersikap seperti ini pada Anita. Dia sekarang istriku, Bu! Aku akan berdosa jika menyakitinya," ucap Dimas melembutkan suaranya.
Wanita paruh baya itu melirik Dimas dengan ekor matanya. "Apa kau bisa menerima dia sebagai istrimu semudah itu? Coba kau lihat dia! Dia bahkan tidak bisa memasak dengan benar. Dia tidak tahu cara memperlakukan orang tua dengan baik. Dan dia terlihat sangat sombong."
Dimas mengecup punggung tangan ibunya itu. "Bu... Ibu belum mengenal Anita. Bukan salahnya jika dia tidak bisa melakukan apa yang bisa dilakukan wanita lain di luar sana. Dia tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu, tanpa perlindungan seorang ayah. Masa kecilnya penuh dengan perjuangan. Saat anak-anak perempuan lain bermain boneka, Anita-ku berjuang hidup dengan bekerja, sendirian, Bu! Tidak ada seorang ibu, ayah atau pun saudara yang menjadi tempatnya mengadu. Lalu, apa salah kalau aku ingin memberinya sedikit kebahagiaan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya?"
Ibu menjatuhkan setitik air matanya mendengar ucapan anaknya itu. Untuk pertama kalinya, Dimas yang selama ini sering bicara sesuatu yang tidak berguna, malam itu terdengar seperti seseorang yang sangat dewasa dan bijak. Wanita paruh baya itu sampai penasaran dengan Anita. Apa dilakukan Anita pada anaknya, sehingga Dimas menjadi lebih dewasa dari sebelumnya.
"Tapi dia itu seorang janda, Dimas...!" lirih ibu.
"Bu, janda atau bukan tidak masalah bagiku. Itu hanyalah sebuah status yang tidak penting. Anita itu gadis yang baik... Percayalah padaku, Bu. Jika ibu mengenalnya lebih jauh, penilaian ibu akan berubah."
"Apa kau sudah bisa menerimanya dan melupakan Mia?"
"Aku sedang belajar, Bu. Saat ini memang aku belum bisa menerimanya sepenuh hatiku. Tapi aku ingin menjadi suami yang baik. Akan menjadi dosa bagiku, kalau aku masih memikirkan gadis lain. Ibu juga mau kan, belajar menerima Anita sebagai bagian dari keluarga kita."
Wanita itu menghela napas, sambil mengusap kepala anaknya itu, "Baiklah, tapi ibu punya cara sendiri untuk mendidiknya."
Dan, ucapan sang ibu menerbitkan senyuman di wajah Dimas. Dia tahu, jika ibunya sudah berkata begitu, artinya dia akan belajar menerima menantunya itu. Setelah pembicaraan itu, Dimas kembali ke kamar. Anita sudah berganti pakaian dengan piyamanya. Sedang duduk selonjoran di tempat tidur sambil memainkan ponselnya.
"Sepertinya ibumu tidak menyukaiku," ucap Anita saat Dimas memasuki kamar itu.
Dimas beranjak menuju lemari pakaiannya dan mengambil baju kaos dari dalam sana. "Jangan pikirkan itu. Ibu memang agak sulit beradaptasi dengan orang baru. Lambat laun, dia akan bisa menerimamu."
Dimas membuka kemejanya tanpa rasa malu di hadapan Anita sehingga tampaklah tubuhnya yang kekar dan seksi, lalu kembali memakai baju kaos yang tadi di ambilnya dari dalam lemari. Anita sampai menunduk malu melihatnya.
Setelah mengganti pakaiannya, Dimas mengambil bantal dari tempat tidur dan meletakkannya di sofa panjang yang ada di dalam kamar itu.
"Kau tidurlah," ucap Dimas lalu membaringkan tubuhnya di sofa.
"Tapi kenapa kau tidur disana?"
"Aku hanya tidak mau mengganggumu, kau pasti butuh istirahat kan. Aku juga tidak mau kau mencekikku tengah malam saat terbangun." Kekehan kecil bermuatan ledekan keluar begitu saja dari mulut pria pecicilan itu, bermaksud mencairkan suasana kaku di antara mereka. Namun ucapan Dimas membuat darah Anita seakan mendidih.
Sungguh diluar dugaan, Anita menodongkan senjata andalannya ke arah Dimas, "Kemari, atau aku tembak!"
Dimas terlonjak kaget saat menyadari nada bicara Anita yang sudah mulai galak itu. Ketika berbalik, nyalinya menciut dengan todongan senjata itu.
"Eh, kau... Walaupun tidur kenapa masih membawa benda itu?" Dimas bangun dari posisi berbaringnya di sofa. Sementara Anita memberi isyarat agar Dimas segera naik ke tempat tidur. "Baiklah, ampuni aku! Turunkan itu dulu!"
Anita menurunkan senjatanya, sedangkan Dimas dengan segera naik ke tempat tidur dan berbaring di sana. Setelah itu, Anita meletakkan senjatanya di atas meja nakas, dan menarik selimut.
Dimas menggeser posisinya sehingga kini berada di ujung tempat tidur. Saat tatapan itu saling bertemu, Dimas tersenyum tipis, membuat Anita salah tingkah.
*
*
*
*(Aku kasih kalian foto babang Dimas cute)
*
"Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Anita ragu-ragu.
"Apa?"
"Kenapa kau mau menikah denganku? Kau kan tidak menyukaiku. Jika tadi aku tidak mengancammu, kau lebih memilih tidur di sofa dari pada tidur di sampingku. Maliq pasti memaksamu menikahiku, kan?"
"Kau juga tidak menyukaiku. Lalu kenapa kau mau menikah denganku? Apa bos juga memaksamu?"
Dan, pertanyaan itu membuat sesak di dada masing-masing. Anita memang memiliki ketertarikan pada lelaki di sampingnya sejak lama, sehingga tidak ada penolakan darinya saat Zian memintanya menikah dengan Dimas. Tanpa di ketahui Anita, Dimas masih memiliki gadis lain di hatinya. Walaupun begitu Dimas tetap berusaha membuka hatinya untuk sang monster betina itu.
Berkaca dari masa lalu Zian dan Naya, yang penuh air mata. Dimas tidak ingin jatuh ke lubang yang sama. Maka dia mengubur dalam-dalam rasa cintanya untuk Mia dan mencoba memulai segalanya dengan wanita yang kini berstatus istrinya.
"Lebih baik jangan memikirkan itu. Dipaksa atau tidak, bukankah kita sekarang sudah menikah. Itu lebih penting untuk dipikirkan. Jadi sekarang, tidurlah. " ucap Dimas, lalu mematikan lampu kamar itu.
*****
Gemercik hujan mulai terdengar, semakin lama semakin deras. Bersamaan dengan angin yang bertiup kencang dan gemuruh petir yang menggema dari langit.
Dimas sudah lelap dalam tidurnya, meninggalkan Anita yang masih belum dapat memejamkan matanya. Gadis itu menutup kedua telinganya dengan telapak tangannya. Sesuatu yang tidak pernah diketahui orang lain, termasuk Zian adalah, Anita sangat takut dengan suara petir.
DUAARRRR
Suara petir yang menggema dan menggetarkan rumah itu membuat Anita berteriak ketakutan, sehingga makhluk yang berbaring di sebelahnya terbangun karena terkejut dengan teriakannya.
"Ada apa? Kenapa kau berteriak?" Dimas menyalakan lampu tidur, lalu melirik Anita yang meringkuk di sampingnya dengan menutup kedua telinganya.
"A-aku takut petir!" suara Anita terdengar terbata-bata, membuat Dimas menganga tidak percaya. Bagaimana mungkin monster betina yang selama ini begitu tangguh dan ditakuti oleh seisi kantor Kia grup takut pada suara petir. Dimas benar-benar gemas dengan istrinya itu. Sepertinya ada banyak hal menarik yang belum diketahui Dimas tentang Anita.
Suara petir yang menggelegar membuat malam terasa mencekam bagi gadis itu, sehingga secara reflek mendekat dan menempelkan tubuhnya pada sang suami. Ada pertanyaan yang timbul di benak Dimas. Bagaimana Anita melewati malam-malam sebelumnya ketika terjadi hal yang sama. Malam itu, Dimas dapat melihat Anita sebagai seorang gadis penakut dan manja.
"Jangan takut, itu hanya suara petir. Kau aman di sini." ucapnya sambil memeluk tubuh sang istri dan menjadikan lengannya sebagai bantal untuk Anita. Gadis itu masih ketakutan, membuat Dimas mengeratkan pelukannya. "aku akan menjagamu. Sekarang cobalah untuk tidur."
Selama beberapa saat, Dimas mengusap punggung Anita hingga tertidur. Posisi tangan Anita masih menutupi kedua telinganya. Dimas kemudian memikirkan ucapan sang bos beberapa waktu lalu saat berkata, Anita hanya seorang gadis rapuh yang butuh perlindungan. Kini Dimas merasa itu benar adanya.
Aku Akan berusaha membuka hatiku untukmu, walaupun mungkin aku harus sedikit berusaha lebih keras. Tapi aku berjanji, akan melakukan apapun untuk melindungimu.
****
BERSAMBUNG
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Yulianti 1707
bijaksana kali kau pak Dimas...semoga menjadi pasangan yang luaaaar biaaasaaa
2024-09-20
1
Yulianti 1707
bshhshahahhahahahahhaha🤣🤣🤣🤣🤣
2024-09-20
0
🦋🦋 Lore Cia 🦋🦋
,😭🤣🤣🤣🤣
2024-08-01
0