Chapter 18

Atheena, 2011

...Cinta sejati adalah takdir......

...Karunia sekaligus kutukan!...

...Sebagaimana kutukan dilahirkan dari karunia dan karunia dilahirkan dari kutukan, cinta sejati mampu mengubah kutukan dengan kecupan. Tapi cinta itu sendiri adalah kutukan dan kesejatian adalah kehidupan....

...Kehidupan adalah Aisha!...

...Namaku Aisha Maulanna....

...Di dalam namaku, terdapat tanda kutukan yang kedua!...

..._...

Sepanjang perjalanan pulang, Nizar dan Aisha tidak saling bicara seperti biasa. Tapi aura yang dipancarkan Nizar terasa berbeda di hati Aisha.

Aisha bahkan tak bisa menebak perasaannya sendiri ketika kepedihan yang teramat misterius menyelinap di sela-sela hatinya.

Nizar tak mau memandang Aisha.

..._...

"Sayang, apa kamu tahu Nizar ke kantormu tadi?" Vita memberanikan diri bertanya pada kekasihnya ketika mereka dalam perjalanan pulang. "Apa ada masalah serius?"

"Oh, ya?" Dion Markus membelalakkan matanya.

"Ya, Ezra Minor juga!" Vita memberitahu.

"Mmmm...." Dion Markus tampak berpikir keras. "Kenapa mereka tidak bilang padaku?" Ia bertanya. Lebih kepada dirinya sendiri.

"Mungkin mereka berdua tidak menganggapmu penting?" Vita mendelik sambil bersedekap dengan tampang konyol.

Dion melotot ke arahnya. "Apa?" Geramnya, pura-pura marah.

Tawa Vita langsung meledak.

"Mudahnya membuatmu bahagia," kata Dion Markus seraya mengalihkan kembali perhatiannya ke arah jalan.

"Jangan terlalu senang, sayangku!" Vita berkilah. "Setelah kenyang tertawa biasanya aku mulai lapar."

"Kalau begitu kita ke rumah Nizar sekarang!"

"Untuk apa?" Vita membulatkan kedua matanya.

"Kau akan kehilangan selera makan saat kau menatapnya, percayalah! Dia sama sekali tidak lucu."

"Huahahahahaha....." Tawa Vita kembali menggelar.

Sesaat kemudian, Dion Markus tampak mengerutkan dahi. Kembali berpikir keras.

Vita meliriknya diam-diam.

"Oh, aku tahu!" Dion berkata tiba-tiba. "Nizar datang untuk menjemput Valentine!"

Vita tercengang mendengarnya. "Valentine?"

"Jadi kau belum tahu kalau Valentine itu putra Nizar?" Dion bertanya heran.

Vita menanggapinya dengan tak kalah heran. "Valentine putra Nizar?"

"Well, yeah... Maksudku, putra angkatnya!" Dion menambahkan.

Vita mendadak terdiam dan menautkan kedua alisnya. Lalu apa hubungannya dengan Aisha? Bukankah Aisha kekasih Valentine? Kenapa Valentine meninggalkan Aisha saat Nizar datang?

"Apa kau salah makan hari ini?" Dion Markus melirik Vita sekilas.

"Aku belum makan," jawab Vita sekenanya. "Dari orok!" Kelakarnya dengan gaya merajuk. Tapi tatapannya terlihat menerawang.

Dion kembali meliriknya.

..._...

Aisha mengeluarkan secarik kertas dari dalam saku celananya ketika ia tiba di kamarnya. Kemudian membacanya:

Everlasting Flower Street

Aisha mengerutkan dahi. Just it?

Tak lama kemudian Aisha mendengar pintu kamarnya diketuk dari luar.

Itu pasti Nizar, pikir Aisha. Lalu buru-buru melipat kertas tadi dan menyelipkannya di buku harian yang ada di laci mejanya, di sisi tempat tidur.

Sesuatu yang jatuh dari dalam buku harian itu menarik perhatian Aisha. Aisha memicingkan matanya.

Ketukan di pintu kamarnya terdengar tak sabar.

Aisha masih tercenung mengamati lipatan kertas yang terjatuh dari dalam buku hariannya. Seingat Aisha, ia tidak pernah menyimpan lipatan kertas di dalam buku hariannya. Seketika jantungnya berdegup kencang. Entah kenapa ia punya firasat buruk melihat lipatan kertas itu.

Ketukan di pintu kamarnya telah berubah menjadi gedoran.

Aisha mendadak bimbang. Lalu memutuskan untuk berpura-pura tidak mendengar ketukan itu. Mungkin tidak lama lagi dia akan menyerah, pikirnya.

Sesaat kemudian, ketukan di pintu kamarnya benar-benar berhenti.

Aisha membuka lipatan kertas itu dan memekik tertahan. Ia membekap mulutnya dengan sebelah tangannya, sementara sebelah tangan lainnya memegangi dua lembar kertas dengan gemetar.

Kertas satunya berisi surat pernyataan cerai yang telah ditandatangani oleh Nizar, dengan sisa tiga kolom tanda tangan yang masih kosong. Kertas satunya lagi berupa fotocopy dari surat pernyataan saksi nikah yang telah ditandatangani oleh empat orang. Dan salah satunya adalah Amanah. Ibunya.

Ternyata selama ini aku telah resmi menjadi istri Nizar sejak aku di bawa ke sini, batinnya getir.

Seketika bayang-bayang kemesraan yang telah dilakukannya bersama Valentine melintas dalam kepalanya. Membuat ulu hatinya serasa ditikam.

Aku telah berdosa, katanya dalam hati. Dan aku tidak menyadarinya. Begitu aku menyadarinya, tahu-tahu dia sudah menceraikanku. Tapi kenapa? Apakah karena Valentine?

Mendadak hatinya menjadi tak yakin mengenai Valentine. Seketika hatinya hambar dan perasaannya pada Valentine memudar. Airmata Aisha mulai merebak di pelupuk matanya.

Dan seketika itu pula, hujan deras mendera seluruh kota.

"Apa Tuhan sedang bercanda?" Vita memekik tak percaya. Ia baru saja tiba di pekarangan rumahnya ketika hujan mendadak turun.

"Kurasa Si Penulis konyol ini tidak mengerti apa arti liburan musim panas!" Dion Markus menimpali seraya melindungi kepala Vita dengan jaketnya.

Pada saat yang sama, Valentine tengah mengendap-endap di teras belakang kamar Aisha. Ia juga terkejut ketika hujan deras mendadak turun menerpa dirinya. Ia menyisi dengan cepat menghindari hujan itu dan akhirnya membentur jendela kamar Aisha.

Aisha tersentak mendengar jendela kamarnya berderak, disusul suara gemerincing logam. Siapa di sana? Ia coba bertanya. Tapi kerongkongannya mendadak tercekik. Bayang-bayang masa lalunya di dalam ruang isolasi tiba-tiba berkelebat dalam kepalanya.

"Mama..." Pekik seorang gadis kecil ketika sosok perempuan berusia 30 tahun mendorong paksa tubuh kecilnya ke dalam ruang sempit yang biasa digunakan untuk mengisolasi seseorang yang terjangkit virus menular.

Perempuan berusia 30 tahun yang dipanggil Mama itu menjauh dari dirinya kemudian menghilang di balik pintu.

Gadis itu berusaha menahan langkah perempuan itu, tapi seuntai rantai besi membelenggu kedua tangan dan juga kakinya. Membebaninya. Tubuhnya tersungkur di lantai ketika tangan dan kakinya meronta.

Tak lama pintu itu terbanting menutup, disusul suara logam bertautan. Menandakan pintu telah dikunci. Gelap gulita menyelimuti ruang sempit itu.

"Tidaaaakkk...!" Aisha melolong sekuat tenaga seraya menjatuhkan dirinya ke lantai.

Valentine memekik di luar jendela kamarnya. "Aisha!" Ia berteriak khawatir. Apa aku menakutinya? Ia bertanya dalam hati. "Ini aku Aisha!" Valentine memutar ke teras belakang setelah mengetuk pintu kamar Aisha dan tak mendapat jawaban. Ia hanya ingin memastikan apakah Aisha baik-baik saja. Tapi kelihatannya tidak.

Jeritan Aisha menggema ke seluruh ruangan dalam rumah itu dan membangunkan Nizar.

Aku tidak ingin merasakan sakit yang seperti ini lagi, ratap Aisha dalam hati. "Jangan tinggalkan aku!" Jeritnya diluar batas kesadarannya.

Seketika Valentine mengerutkan dahi. Apa sebenarnya yang terjadi? Ia berkutat berusaha menarik dan mendorong jendela kamar Aisha dengan sikap gusar. Tapi ia tahu Nizar telah merancang rumah itu sedemikian rupa sehingga nyamuk pun takkan mampu menembus pertahanannya. Ia menempelkan telinganya untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi di dalam sana. Tapi yang didengarnya hanya jeritan melengking Aisha yang tidak biasa. "Aisha!" Pekiknya panik.

Tak lama terdengar suara berdebuk ribut di depan kamar Aisha, disusul suara-suara gedoran di pintu.

Valentine masih menyimaknya.

Aisha masih menjerit-jerit tak terkendali. Ia membenamkan wajahnya di telapak tangannya. Tubuhnya menekuk gemetar dan tersungkur di lantai. Bayang-bayang pria itu mulai terukir dalam penglihatannya.

Sesosok pria tinggi berjubah panjang dengan selubung kain meliliti kepala dan wajahnya, berdiri membelakangi cahaya jingga di kaki langit. Wajahnya tak dapat dikenali akibat selubung wajah dan bias cahaya yang menyamarkannya. Tapi terlihat cukup jelas pria itu sudah dewasa. Dan terasa sekali pria itu sedang mengawasi Aisha.

Tak lama kemudian sosok itu terlihat menjauh. Aisha mengulurkan tangannya ke arah pria itu. "Kembali!" Jerit Aisha. Tapi sosok pria itu terlihat semakin membias hingga hanya terlihat seperti siluet. "Tidaaaakkk.... Jangan tinggalkan aku!"

Aisha merasakan tubuhnya diseret ke belakang oleh sesuatu yang mencengkeram kuat di bahunya.

Tidak, pekik Aisha dalam hati. Bukan dia yang menjauh. Tapi aku!

Terpopuler

Comments

hanz

hanz

bab ini bukan cerita flash back tapi kenapa waktunya mundur dari tahun 2016 ke tahun 2011 ?

2024-07-24

0

hanz

hanz

cinta itu menurutku bukan kutukan, tapi karunia sekaligus cobaan.

2024-07-24

0

Fanny Mononutu

Fanny Mononutu

Baru mulai mencoba baca marathon serial ini.. Tapi begitu liat profil Author, langsung nyadar kalau ini serial Saga..
Boleh minta saran Thor, yg mana harus dibaca duluan biar pas timelinenya..?
Diary Paravisi atau Minority Talent .?

2021-03-09

0

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 83 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!