Sebuah pepatah klasik mengatakan: Cinta pertama seorang perempuan adalah ayahnya.
Mereka bilang, anak perempuan akan mencari kekasih yang mirip dengan ayahnya.
Kenapa segala sesuatu tentang Nizar selalu mengingatkanku pada ayahku?
..._...
Hujan deras mendadak bercampur badai, bergemuruh melanda pusat kota Atheena. Gelegar halilintar meledak-ledak menggetarkan seisi kota.
Ezra Minor melirik jam dinding di atas meja kerja ayahnya. Waktu telah menunjukkan pukul 00:00.
Jason Minor, Ayah Ezra mematung di dekat jendela kaca setinggi dua meter di ruang kerja pribadinya di lantai 3. "Cuaca cerah, beberapa jam yang lalu." Ia menggumam seraya memandang lepas ke pekarangan. "Tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Bahkan para ahli prakiraan cuaca tidak memberikan informasi terkait potensi hujan maupun badai."
Ezra diam saja.
Dan seisi ruangan mendadak hening seketika. Perubahan cuaca yang mendadak itu telah mengalihkan perhatian mereka.
Ardian Kusuma menghela napas dan menyandarkan punggungnya di atas sofa beludru di sisi Ezra. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, kemudian memandang menerawang ke langit-langit di atas kepalanya. Ardian Kusuma adalah pengusaha muda paling terkenal di kota Atheena. Orang terkaya nomor dua.
Hari itu Jason Minor mengundang Ardian makan malam di rumahnya dan berbincang-bincang hingga tengah malam di ruang kerja pribadinya.
Dua orang Polisi Kota juga bergabung bersama mereka. Dion Markus dan Martin Hernandez.
Jason Minor adalah Walikota Atheena. Masa jabatannya diwarnai konflik sosial dan krisis kemanusiaan.
Dan satu-satunya pemicu terjadinya seluruh konflik di kota itu adalah gerakan Para Fanatik yang memerangi siapa saja untuk mempertahankan hukum adat di seluruh wilayah.
Jason Minor sudah hampir menyerah mengatasi konflik ini, sampai putranya, Ezra Minor kemudian memberinya sebuah gagasan.
"Mohammed Ibraheem mengadopsi anak-anak dari pengasingan," tutur Ezra suatu malam. "Dan terbukti efektif sampai sekarang!"
Lalu diundanglah sejumlah orang paling berpengaruh di kota Atheena seperti Ardian Kusuma dan kedua Polisi Kota itu sebagai langkah awal mereka.
"Aku juga sebetulnya mengundang Mohammed Ibraheem, tapi ia membatalkan janjinya karena urusan keluarga!" Ezra memberitahu.
Kedua Polisi Kota di depannya menyimak Ezra tanpa berkata-kata.
Sementara Ardian Kusuma masih mendongak mengamati langit-langit seraya berpikir. "Haruskah aku mendirikan Yayasan Khusus untuk menampung anak-anak Indigo?"
Ezra menoleh ke arah Ardian dengan dahi berkerut-kerut. Antara kagum dan setengah tak percaya. Tapi jelas ia menilai gagasannya luar biasa. "Aku akan menjadi Donatur pertama jika kau merealisasikannya!"
Ardian Kusuma langsung menatapnya dengan sorot mata berbinar-binar.
"Terlalu beresiko!" Martin Hernandez akhirnya membuka suara. "Yayasan Anak Indigo akan dianggap sebagai ancaman. Para Fanatik akan mengetahuinya, kemudian memeranginya juga. Akan berbeda jika Anak Indigo menyandang gelar Anak Pejabat atau anak Ardian Kusuma!" Polisi Kota itu kemudian menyeringai ke arah Ardian.
"Oh, aku tak siap menjadi ayah!" Ardian Kusuma mengerang.
"Martinez benar." Dion Markus menimpali. Martinez adalah panggilan pendeknya untuk Martin Hernandez. "Anak-anak Indigo hanya butuh nama belakang orang paling berpengaruh. Mohammed berhasil karena ia menjadikan mereka sebagai anak-anaknya! Siapa yang berani mengusik putra Mohammed di kota ini?"
Seisi ruangan kembali tercenung.
Kilat berkeredap membelah kegelapan malam disusul ledakan halilintar yang menggelegar. Hujan deras masih membadai mengguyur seluruh kota.
Aisha meringkuk di atas tempat tidurnya dengan tubuh gemetar tak terkendali. Tapi bukan cuaca yang membuatnya menggigil. Ia sudah patah arang. Ia tak sanggup beranjak meski untuk berganti pakaian tidur, atau sekedar menggerakan tangan untuk menyelimuti dirinya sendiri.
Hannah dan para pelayan pribadinya berusaha mendekati Aisha tapi tak satu pun diterimanya.
"Let me alone!" Perintahnya dengan nada datar. Tapi isi kepala dan juga dadanya seperti gunung yang tengah erupsi.
Nizar melangkah memasuki kamar Aisha tanpa bersuara. Pria itu berdiri bimbang beberapa saat, mengawasi tubuh Aisha yang tengah berguncang. Tapi tak terdengar isak tangis maupun rintihan. Ia menghela napas dan mendekat, lalu duduk di tepi ranjang Aisha dengan hati-hati. Dengan perasaan sakit yang tak terperi, pria itu turut meringkuk di sisi Aisha. Lalu melingkarkan kedua lengannya di sekeliling pinggang Aisha.
Aisha diam saja. Tidak menolak atau pun menyambutnya. Perasaan gadis itu kembali kebas seperti sembilan tahun yang lalu, ketika pria asing membawanya pergi meninggalkan ibunya. Meninggalkan tanah kelahirannya. Meninggalkan seluruh kepahitannya.
Nizar adalah malaikat pelindung sekaligus malaikat mautnya.
Benarkah aku tidak mencintai Nizar? Kenapa aku begitu terluka membayangkan hidupku jika tanpa Nizar? Aku pasti hanya takut kehilangan perlindungan dan tak siap menjadi sebatang kara.
Nizar menekankan dagunya yang masih berselubung di puncak kepala Aisha. Tapi tak sepatah kata pun keluar seperti biasa.
Aisha heran perasaannya mendadak tenang. Dan tubuhnya berhenti berguncang.
Dan hujan di luar seketika berhenti.
Ya, kata Aisha dalam hati. Aku memang mencintainya. Tapi bukan sebagai kekasih. Aku mencintai Nizar sebagai seorang ayah.
Valentine menelan ludah. Ia baru saja menyelinap memasuki kamar Aisha untuk memastikan gadis itu tidak terkena serangan jantung. Tapi pemandangan di depannya membuat semangatnya seketika pupus. Entah kenapa pemandangan itu membuat hatinya betul-betul patah.
Valentine tidak pernah tahu Aisha telah menikah. Hanya pengasuh dan para pelayan pribadi Aisha yang diberi tahu perihal pernikahan Nizar dan Aisha. Tujuannya supaya mereka menjaga dan memperlakukan Aisha selayaknya nyonya di rumah ini. Tapi mereka semua sudah diberi mandat untuk merahasiakannya pada siapa pun, termasuk Aisha, sampai genap waktunya.
Sampai Aisha siap!
Nizar tak pernah menduga tindakannya telah mendatangkan dosa besar bagi putranya.
Ya, Valentine jatuh cinta pada Aisha. Dan ia tahu persis Aisha tidak pernah mencintai ayahnya. Kenyataan itulah yang telah memberinya keberanian untuk merebut hati Aisha.
Nizar memejamkan kedua matanya lekat-lekat untuk menekan perasaan perih di dalam hatinya. Ia tahu Valentine sedang mengawasinya. Tapi ia sengaja berpura-pura tidak menyadarinya, seperti yang baru dilakukan putranya saat di ruang baca.
Perlahan mata Aisha mulai meredup dan jatuh tertidur. Kemudian tenggelam dalam mimpi panjang tanpa makna dan terbangun dengan terhenyak. Aisha mengurut pelipisnya seraya mengernyit. Mencoba mengingat seluruh mimpinya. Tapi tak satu pun diingatnya.
Hembusan hangat napas teratur menggelitik tengkuk Aisha. Ia berbalik dan mendapati seraut wajah yang berselubung tengah terlelap. Kain selubung yang menutupi wajahnya sedikit melorot memperlihatkan hidung mancungnya yang mendongak sempurna.
Ini pertama kalinya Aisha melihat Nizar dalam jarak dekat.
Ia tak mengira hidung pria itu lebih mancung dari Valentine. Bulu matanya jauh lebih lentik dan tebal. Garis alisnya tampak tegas dan arogan. Tidak ada kerutan di bawah mau pun di sudut matanya yang tengah terpejam.
Berapa usia pria ini sebenarnya? Aisha mulai penasaran. Kemudian tergoda untuk membuka selubung wajahnya. Apakah ia selalu mengenakannya saat ia tidur di kamarnya sendiri? Apa ia akan marah jika aku membukanya? Aisha mengaitkan ujung telunjuknya pada tepi kain di bawah pelipis pria itu dengan hati-hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Agil Revenely
gw menyimpulkan semua anaknya, anak angkat...
dan usia paman Nizar tak setua yang dibayangkan
2021-07-26
0
+1714868-0120
"Cinta pertama seorang perempuan adalah ayahnya"
pepatah klasik ini berlaku sepanjang masa ya 😁
2021-07-26
1
M.J.I
Dan sebagai cowok tampan dewasa kenapa gw harus baca karya bucin Penulis Keparat semalam suntuk 🥱
2021-07-25
0