Chapter 9

Segumpal kabut di kaki bukit, semburat jingga di kaki langit dan segurat awan di puncak Edelweiss, menatah wajah malaikat cinta.

Menggurat tarikh dan peristiwa: Anak manusia dilahirkan atas nama cinta.

Tapi cinta datang berlalu seperti maut!

Dan penyesalan terus mengintai seperti pencuri.

Ketika cinta itu pergi, penyesalan datang secara serentak.

Dan anak manusia, lahir prematur dalam buaian yang salah. Kemudian tumbuh di bawah asuhan yang keliru!

..._...

Valentine memarkir mobilnya di tepi tebing, dekat gerbang perbatasan kota. Lalu keluar dan merentangkan tangannya menghadap ke arah tebing curam di lereng bukit cemara yang menjadi taman wisata favorit anak muda di kota Atheena.

Aisha melengak mengamati sekeliling tempat itu setelah ia melangkah keluar dari mobil Valentine. Ia tak mengira pria itu akan membawanya ke tempat biasa pasangan remaja berkencan saat akhir pekan.

"Aku sudah lama tak menghirup udara segar pegunungan," tutur Valentine tanpa menoleh. Kedua tangannya masih terentang dengan kelopak mata terpejam. Seperti sedang menyerap energi alam dan menunggu aliran energi itu meresap ke seluruh tubuhnya. Tak lama kemudian ia menurunkan tangannya dan menyeringai ke arah Aisha seraya menyelipkan telapak tangannya ke dalam saku jaketnya.

Aisha mengamati wajah pria itu dari sisinya ketika Valentine mengalihkan perhatiannya ke puncak bukit Edelweiss di seberang bukit Cemara.

Hidung mancung Valentine mendongak angkuh di bawah beanie hat yang membungkus kepalanya. Senyuman lebarnya bahkan tak pernah berhasil mengubah citranya sebagai pria arogan.

Apakah wajah Nizar lebih mengerikan dari Valentine? Aisha menebak-nebak.

Sesaat Valentine meliriknya lagi.

Tapi Aisha sudah mengalihkan perhatiannya ke pusat kota di dasar bukit.

Langit di atas mereka telah meredup menyambut senja. Matahari sudah mulai tenggelam di ufuk barat. Dan kota itu tampak berkilauan di bawah kaki mereka.

Valentine menelan ludah memandangi wajah Aisha yang tengah tertunduk. Ia terlihat seperti Dewi Perang Yunani, batinnya. Aura gadis itu membuatnya merinding. Secara alami, Valentine memiliki kemampuan untuk melihat zodiak pada diri setiap orang. Lebih tepatnya, karakter dewa dalam jiwa seseorang. Salah satu bentuk dari keahlian bakat visi. Sesaat Valentine melihat gadis itu meregangkan busur panah.

Ketika gadis itu memutar tubuhnya menghadap Valentine, angin berhembus menyapu rambutnya yang diikat kencang di belakang kepalanya. Aisha menatap pria itu dengan sorot mata yang berkilat.

Valentine terkesiap. Kenapa aku melihat Athena di dalam dirinya? Valentine membatin. Kemudian bergidik.

"Are you ok?" Tahu-tahu Aisha sudah berdiri dekat di sisi Valentine.

Valentine menelan ludah dan tergagap. "It's ok," katanya gugup. Lalu bergegas ke dalam mobilnya dan menyelinap di balik kemudi. "Kita harus segera pulang," katanya tergesa.

Aisha mengerutkan dahi.

Tak lama kemudian mobil sport itu melesat menuruni bukit dalam kecepatan tinggi.

Jalan terjal yang meliuk-liuk membuat Aisha memucat ketakutan.

Valentine terkekeh mentertawakannya dan masih terpingkal-pingkal setelah tiba di rumah. Ia menuntun Aisha keluar dari mobilnya sambil meminta maaf. Sampai mereka tiba di teras, telapak tangannya masih melingkar di pergelangan tangan Aisha, yang kemudian disambut tatapan tajam Nizar di pintu masuk.

Aisha menepiskan tangannya dengan sikap gusar. Wajahnya terlihat semakin pucat setelah ketakutan akibat cara Valentine berkendara, ditambah cara Nizar menatap mereka.

Valentine menyeringai ke arah ayahnya tanpa raut wajah menyesal, kemudian mengecup punggung tangan pria itu tanpa rasa bersalah.

Cahaya mata ayahnya berkilat mengawasinya ketika Valentine menerobos pintu di sisi bahunya.

Aisha menyentuh tangan itu dengan tangan gemetar, kemudian mengecupnya dengan sikap gugup.

Degup jantung pria itu meletup-letup seperti ingin meledak. Tapi tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya yang dibalut kain selubung.

Saat makan malam, suasana dalam ruang makan terasa angker. Ditambah kehadiran El Khanza yang lebih tepat disebut Nefertiti, Sang Ratu Mesir. Garis wajah perempuan itu sedikit mirip dengan gambaran Cleopatra, tapi sorot matanya terlihat culas seperti Izebel. Dan kehadirannya menambah tiga tingkat nilai mistis dalam ruang makan.

Aisha mendongakkan rahangnya ketika tatapan perempuan itu menelisik dirinya. Cara khas Aisha ketika menghadapai situasi gugup adalah menentangnya.

Nizar tidak berusaha memperkenalkan mereka secara resmi setelah ia memergoki Aisha dan Valentine bergandengan tangan.

Aisha menebak wanita berusia setengah abad itu adalah istrinya.

Menjelang tengah malam, Aisha tak sengaja mendengar Nizar bersitegang dengan El Khanza di pintu masuk perpustakaan pribadinya.

"Gadis itu berani menatapku, Mohammed!" El Khanza merutuk tak senang.

Pada saat yang sama, Aisha dan Valentine sedang membaca dalam ruangan itu. Dan Nizar belum menyadarinya.

Valentine melirik Aisha melalui sudut matanya. Sementara wajahnya tersembunyi di balik buku tebal yang tengah dibacanya sambil berbaring di atas sofa usang di sudut ruangan.

"Kenapa tidak kau nikahi saja Lilith, jika kau memang menyukai gadis belia!" El Khanza kembali bersuara

Aisha tercengang di bangku kayu di dekat jendela yang menghadap ke pekarangan belakang. Berseberangan dengan tempat Valentine. Kukira Lilith putri Nizar, batinnya seraya menelan ludah dan mengetatkan rahangnya menekan perasaan gelisah.

Valentine mengawasi Aisha sekali lagi untuk memastikan gadis itu tidak menangis atau jatuh pingsan.

"Tapi Lilith putriku, Ummi!" Nizar memperlembut suaranya penuh hormat.

Ummi? Aisha tak percaya. Perempuan itu ibunya?! Berapa usia Nizar sebenarnya?

"Apa bedanya?!" Sergah El Khanza tanpa basa-basi. "Kau sama-sama memungutnya!"

Seketika Aisha merasa ulu hatinya ditikam.

Tak lama terdengar pria itu berusaha tertawa. Sikap itu jelas di luar kebiasaannya. Hingga terkesan seperti siaran sandiwara radio.

Detik berikutnya langkah keduanya sampai di ruang baca tempat Aisha dan Valentine berada.

Serentak Nizar merasa terpukul mendapati wajah cantik Aisha memucat di sudut ruangan.

El Khanza terhenyak mendapati keberadaannya. Sebelah tangannya tertangkup menutupi mulutnya yang mendadak tergagap.

Aisha menunduk menghindari tatapan keduanya. Lalu melipat buku di tangannya dan beranjak.

Valentine masih terlentang di atas sofa dan berpura-pura ketiduran dengan buku menutupi wajahnya. Hatinya mendadak kecut membayangkan perasaan Aisha.

Nizar berdeham ketika langkah Aisha semakin dekat dan mengulurkan tangannya hendak menyentuh bahunya.

Tapi gadis itu hanya merunduk singkat ke arah El Khanza, "damai sejahtera, Ummi!" Kemudian berjalan melewati keduanya dengan rahang mendongak.

El Khanza mengerjapkan matanya dengan sikap gugup. Lalu menyisih memberinya jalan.

Nizar melirik ke sudut ruangan dan mendapati putranya terlentang di atas sofa. Hatinya mendadak perih mengingat apa yang dilakukan anak itu beberapa jam yang lalu. Putraku lebih pantas mendampingi Aisha, batinnya getir. Aku akan menceraikan Aisha jika ia sungguh-sungguh mencintainya, tekadnya. Tapi kesungguhannya perlu diuji. Aisha terlalu berharga untukku. Aku belum siap melepaskannya untuk orang lain. Sekalipun ia adalah putraku. Dia masih milikku sekarang!

Aisha berjalan menyusuri koridor dengan langkah lebar. Rahangnya masih mendongak angkuh menentang kepedihan yang mulai merambat ke tenggorokannya. Secercah airmata memburai di pelupuk matanya. Disusul ledakan halilintar yang menggelegar di langit malam.

El Khanza melompat karena terkejut.

Valentine terperanjat hingga terduduk. Buku tebal yang bertengger di wajahnya terlempar ke lantai.

Nizar terbelalak. Cahanya matanya berkilat-kilat khawatir. Firasatnya mengatakan hal buruk akan terjadi.

Aisha menghela napas berat untuk meredam gejolak di dalam dadanya. Tapi ia gagal. Letupan kepahitan menggeliat di pelupuk matanya. Bayangan sosok ayahnya berkelebat di tengah kilat yang berkeredap. Tidak, pekik Aisha di dalam hatinya. Jangan ingatkan aku pada ayahku!

Terpopuler

Comments

Amara Riney

Amara Riney

Puisi khas 🤭

2021-08-10

0

Agil Revenely

Agil Revenely

Mana bisa begitu, Paman Nizar...🙄
Cinta kok dihadiahkan 😏

2021-07-26

0

+1714868-0120

+1714868-0120

Puisinya itu loh... aduhhh...👍

2021-07-26

0

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 83 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!