Chapter 13

Aisha masih membeku ketika gadis berkerudung itu melewatinya dengan langkah-langkah lebar. Tapi kemudian ia berpikir untuk meminta bantuannya. "Lilith!" Ia meliukkan tubuhnya menghadap ke arah Lilith.

Gadis itu menghentikan langkahnya dan menoleh dengan sikap enggan.

Aisha menghela napas, mencoba mengumpulkan keberanian. "Can you help me?" Ia bertanya ragu-ragu.

Lilith memutar tubuhnya kemudian bersedekap dan menautkan kedua alisnya. "Apa kau kekurangan pembantu akhir-akhir ini?" Gadis itu balas bertanya sedikit sinis.

Aisha berdeham gelisah, kemudian mencobanya lagi. "Well," ia terbata-bata. "Sebenarnya, aku hanya butuh bantuanmu untuk bicara pada Abi."

Wajah di depan Aisha berkerut-kerut kebingungan. "Kenapa aku harus membantumu? Bukankah kau memiliki power yang cukup untuk menaklukan Abi?"

Aisha mengangkat wajahnya dan menatap tajam ke arah Lilith. Lupakan saja, katanya dalam hati. Lilith takkan membantu.

"Kau yang paling cantik di rumah ini. Kau adalah ratunya, Aisha!" Kata-kata sinis itu berhamburan begitu saja dari mulut Lilith yang ia sendiri bahkan tidak menyadarinya. "Sejak kau tiba di rumah ini, tak seorang pun menarik perhatian Abi lagi. Itulah sebabnya kenapa Abi menyingkirkan kami semua ke Mesir!" Begitu ia menyadarinya, semua kata-kata itu sudah meluncur dari mulutnya dan langsung menyesal kenapa ia tak bisa menghentikannya.

Aisha terhenyak mendengar semua penuturannya. Sekali lagi ia merasakan ulu hatinya seperti ditusuk. "Apa masalahmu sebenarnya?" Aisha bertanya. "Apa perlu kau mengatakan semua itu hanya karena aku meminta bantuanmu? Kalau tak mau membantu katakan saja!"

Lilith menelan ludah dengan susah payah. Kenapa aku bisa kehilangan kendali?! Ia memarahi dirinya sendiri. Kecemburuannya pada Aisha sudah terlalu lama dipendamnya. Ia tak mengira bisa begitu mudah meledakkannya. "Abi selalu mendengarkanmu. Setengah dari dunia ini akan diberikan padamu kalau kau yang memintanya. Kau tak butuh bantuanku, Aisha! Kau tak butuh siapa pun!" Ia berkata ketus untuk menutupi perasaan getirnya. Kemudian membuang pandangannya ke sembarang arah dan mengambil sikap meninggalkan Aisha.

Aisha bergeming dengan perasaan terluka. Seketika darahnya mendidih dan kepahitan dari dalam hatinya mulai menggelegak.

Ledakan halilintar seketika menggelegar!

Nizar tersentak dari tempat duduknya di depan Ardian. Kemudian menghambur ke dekat jendela dan mendongak memeriksa langit. Lalu kilat berkeredap disusul gelegar halilintar sekali lagi. Tak lama hujan deras mendadak turun disertai badai. Aisha, batinnya.

Ardian Kusuma mengawasi pria itu dengan mata terpicing.

Ledakan halilintar yang ketiga disertai mati lampu di rumah Nizar. Aisha melolong dan menjatuhkan dirinya di lantai seraya menangkupkan telapak tangan di telinganya.

Valentine terhenyak mendengar jeritan itu. Ia tahu Aisha phobia pada kegelapan, tapi ia berusaha menahan dirinya untuk tidak khawatir. Tapi kemudian ia ingat ayahnya tidak sedang berada di rumah. Tak ada yang bisa menenangkannya sekarang. Lalu ia menyalakan sebuah lentera di sudut perpustakaan ayahnya dan bergegas keluar perpustakaan.

Jeritan Aisha menggemparkan seisi rumah.

"Di mana Syeikha?" Hannah berteriak seraya berlari ke sana ke mari dengan sebuah lentera di tangannya. "Syeikha tidak ada di kamarnya!"

Lilith mendengus seraya menyeringai menyimak kegaduhan di luar kamarnya. Siapa yang akan melindunginya sekarang? Pikirnya licik.

Halilintar kembali menggelegar.

Nizar memejamkan matanya seraya menghela napas berat. Firasatnya mengatakan hal buruk sedang terjadi. "Aku harus pulang!" Katanya pada Ardian.

Aisha menekuk tubuhnya di lantai dengan kedua tangan masih menutupi telinganya. Suara-suara ayahnya membahana memenuhi kepalanya.

"Aisha!" Suara itu meneriakinya.

Aisha mengetatkan kedua tangannya yang mulai gemetar.

"Aisha!"

"Tidaaaaaaakkk!" Jeritan Aisha melengking ketika sepasang tangan merenggut bahunya.

"Aisha!" Teriakan itu terdengar begitu dekat di atas kepalanya.

Aisha tersentak dan membuka matanya.

Seraut wajah tampan merunduk menatapnya dengan wajah khawatir.

"Valentine!" Aisha mendesis dan serentak menghambur ke dalam dekapannya. Lalu menangis sejadi-jadinya.

"Maafkan aku, Aisha!" Valentine balas mendesis. Entah meminta maaf untuk apa. Hanya Tuhan dan dirinya saja yang tahu kenapa ia begitu menyesal. Ia mengusap-usap punggung gadis itu dengan perasaan terluka. Aku tak bisa mengabaikan perasaanku, batinnya getir. Tubuh Aisha berguncang dalam dekapannya. Dan hal itu membuat perasaannya semakin perih.

Lilith menyelinap keluar dari kamarnya dan mengawasi keduanya dengan tatapan puas. Abi akan membunuhmu, batinnya senang.

Sebutir airmata bergulir dari kelopak mata Valentine. Pelukan itu terasa semakin dalam dan menyesakkannya.

Aisha membenamkan wajahnya di dada Valentine. Menguras habis airmatanya. Dan pelukan keduanya semakin bertambah lama.

Dan hal itu membuat Lilith memiliki kesempatan untuk mengambil gambar mereka dan mengirimkannya pada ayahnya.

Nizar baru saja keluar dari jalan setapak ketika telepon selulernya bergetar dalam sakunya. Tapi perasaannya sedang khawatir, ia tak berselera untuk menanggapi semua pesan maupun panggilan yang masuk ke telepon selulernya. Ia sedang terburu-buru!

Ardian Kusuma mengekor di belakangnya dengan dipenuhi firasat yang sama. Sesuatu yang salah sedang terjadi. Nizar tidak pernah segusar itu kecuali sesuatu betul-betul salah, katanya dalam hati. Tapi apa hubungannya dengan cuaca? Ia bertanya-tanya. Kemudian ia ingat perubahan cuaca mendadak juga pernah terjadi beberapa waktu yang lalu. Tapi ia tak berpikir ada yang aneh sampai ia menyaksikan gelagat Nizar. Aku akan menyelidiki rumahnya suatu saat, tekadnya.

Aisha telah kembali ke kamarnya bersama Valentine. Tapi tangisannya tak jua reda dan ia tak mau melepaskan pelukannya.

Valentine mengusap lembut rambutnya untuk menyadarkan gadis itu pada situasi. Kemudian mendorong tubuhnya menjauh dengan perlahan.

Aisha masih terisak ketika wajahnya terangkat dari dada pria itu. Dan tatapannya masih memburam meski lampu di kamarnya telah menyala. Sisa airmatanya mengembun menutupi pandangannya. Tapi ia bisa melihat jelas sosok pria berambut panjang yang berdiri rapat di depannya. Wajah Valentine tampak membias akibat airmata yang masih menggenang di pelupuk matanya. Mengingatkan dirinya pada sosok pria dalam mimpi-mimpinya.

Valentine membimbing tubuh Aisha ke tempat tidurnya.

Seketika bayangan mimpi-mimpinya kembali berkelebat dalam ingatannya. Tubuh Aisha kembali bergetar. Tapi kali ini bukan karena ketakutan.

Valentine kembali mendekapnya karena berpikir gadis itu masih ketakutan.

Perasaan hangat menyelinap di hati Aisha, dan menggetarkannya. Mimpi tentang pria yang menindihnya membuat napasnya mendadak tersenggal. Dan ia merasakan perutnya mulai menegang.

Sentuhan tangan Valentine merosot di punggung Aisha.

Bulu kuduk Aisha meremang dibuatnya.

Valentine melonggarkan dekapannya dan mengangkat wajah Aisha menghadap wajahnya, kemudian menatapnya dalam-dalam. Aku mencintaimu, katanya dalam hati. Lalu hatinya tergetar oleh kata-katanya sendiri.

Lalu tanpa mereka sadari, tatapan keduanya sudah beradu dan saling memperhatikan satu sama lain. Tak lama kemudian wajah mereka mulai mendekat dan akhirnya sepasang bibir mereka bertemu dan saling menenggelamkan diri.

Tak lama keduanya terhenyak dan saling melepaskan diri, ketika telepon seluler milik Aisha bergetar di atas meja kayu di sisi tempat tidurnya. Nama yang muncul pada layarnya adalah Mohammed Nizar Ibraheem.

Valentine menelan ludah seraya mengerjapkan matanya menatap layar ponsel itu kemudian mengamati wajah Aisha dengan jantung berdegup kencang.

Aisha balas menatapnya dengan tampang gusar.

Valentine menghela napas dan menarik dagu Aisha seraya tersenyum. Berusaha mengerti. Kemudian mengecup bibirnya. Setelah itu ia berbalik dan melangkah keluar dari kamar Aisha.

Aisha masih mematung di tempatnya memandangi punggung Valentine tanpa berkedip. Sementara telepon selulernya masih terus bergetar tanpa jawaban.

Di ambang pintu kamar Aisha, Valentine berpapasan dengan Hannah yang kemudian menatapnya dengan curiga. Tapi Valentine berpura-pura tidak memahami arti tatapan itu. Dengan raut wajah arogannya yang khas, ia melewati pengasuh itu dan meliriknya sekilas melalui sudut matanya.

Nizar baru tiba di rumahnya pukul tujuh pagi. Dan tempat pertama yang ia datangi saat ia memasuki rumahnya adalah kamar Aisha. Dan seketika itu juga hatinya melunak mendapati gadis itu tengah meringkuk tanpa selimut dan tidak mengganti pakaiannya. Ia membayangkan tubuh gadis itu gemetar tanpa daya dan tanpa perlindungan sepanjang malam.

Aisha terbangun karena suara langkah Nizar yang terdengar gusar saat memasuki kamarnya. Tapi ia berpura-pura tidak terganggu oleh kehadirannya.

Perlahan Nizar mendekat dan meringkuk di sisi Aisha seperti biasa, ketika ia berusaha menenangkannya. Lalu mengecup puncak kepala gadis itu penuh perasaan. Tak lama matanya mulai meredup dan terlelap dengan mendekap Aisha.

Sebutir airmata menggelinding di sudut mata Aisha. Rasa bersalah mulai merayapi dirinya mengingat apa yang dilakukannya dengan Valentine sebelum pria itu membuat panggilan yang kemudian diabaikannya.

Napas pria itu mulai teratur di belakang kepala Aisha.

Tapi Aisha menahan diri untuk tidak bergerak, kemudian membangunkannya. Terasa sekali pria itu betul-betul lelah. Ia tak sampai hati mengganggu tidurnya. Jadi ia memutuskan untuk menunggunya beberapa saat.

Tapi situasi di luar kamarnya mendadak gaduh dan akhirnya membangunkannya. Serta-merta Nizar merasa sudah cukup akrab dengan gelagat ini. Ia menatap Aisha yang sudah terduduk di sampingnya dengan wajah tercengang, kemudian mengecup puncak kepala gadis itu sekali lagi. Lalu beranjak dari tempat tidur Aisha dan melangkah ke luar dengan langkah-langkah lebar. Ia merasa sudah bisa menebak apa yang sedang terjadi.

Dan...

Benar saja!

Para pelayan pribadi Lilith melaporkan kabar duka. Tapi kabar itu tidak mengejutkannya sama sekali.

Terpopuler

Comments

Agil Revenely

Agil Revenely

drama bucin ini terasa seperti penyiksaan abadi 😅

2021-07-27

2

Gista Adelia

Gista Adelia

aduh lilith... lu pake cari perkara

2021-07-21

0

Eci Bae

Eci Bae

Ninggalin jejak dulu ah, sebelum tidur. Besok lanjut dari sini. Makasih ya, Thor buat novel kerennya

2021-06-16

0

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 83 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!