Chapter 2

"Ini rumah barumu, Syeikha!" Seorang perempuan seusia ibunya menuntun Aisha ke dalam sebuah rumah besar bergaya paduan Mesir-Rusia.

Aisha menoleh ke arah pria bercadar ketika pria itu kembali ke dalam mobil. Pria itu balas menatapnya sebelum kendaraannya berlalu meninggalkan pekarangan rumah itu.

"Dan ini kamarmu!" Perempuan itu memberitahu.

Sebuah kamar dengan design interior mewah terbuka di depan mata Aisha. Tapi raut wajah gadis kumal itu tak menunjukkan bahwa ia terkesan.

Perbedaan antara rumahnya dengan kamar itu berbanding jauh dan bertolak belakang, bahkan jika hanya dibandingkan dengan kamar mandinya. Perbedaan antara rumahnya dengan salah satu dari ruangan dalam rumah itu seperti langit dan bumi.

Tapi mata Aisha melihat lebih banyak dari sekedar apa yang dilihat manusia normal. Aisha memiliki kecenderungan melihat peristiwa di setiap tempat, atau di dalam setiap ruangan, dari masa ke masa.

Ia tak peduli seberapa hebat tempat ini di masa sekarang. Ia melihat tempat ini menjadi puing dan reruntuhan. Namun entah untuk waktu kapan. Gadis kecil itu tidak pernah bisa menebak kapan tepatnya sebuah peristiwa terjadi di suatu tempat. Ia tidak pernah bisa membedakan masa lalu dari masa depan sebuah peristiwa yang dilihatnya dalam setiap visinya.

Tapi jelas tempat ini tidak ada bedanya dengan bilik pengasingan yang memperlihatkan kepadanya sebuah masa depan yang membuatnya yakin hidupnya akan berlangsung lama. Itu sebabnya Aisha tidak pernah gentar. Ia telah melihat dirinya tumbuh dewasa dan menemukan cinta sejatinya. Entah di dalam mimpinya, atau di dalam visinya saat ini.

Ia melihat pria yang sama tengah memeluknya di atas tempat tidur asing di depan matanya.

Apakah di tempat ini aku akan menemukan cinta sejatiku? Aisha membatin. Di kamar ini? Tak mungkin pria itu, kan? Pria itu mungkin sudah seusia ibunya atau bahkan lebih tua. Pria dalam mimpinya bahkan tidak lebih tua darinya setelah ia dewasa. Ia melihat pria lebih muda. Dan itu artinya, saat ini pria itu masih anak-anak seperti dirinya.

Aisha kemudian ingat pria itu juga menyebutkan nama Athena. Mungkin maksudnya Atheena, pikirnya. Lalu suara Hannah mengusik lamunannya.

Selesai membersihkan diri dan mendandaninya dengan pakaian baru, perempuan itu menemani Aisha dan menyuapinya. Pelayanan berlebihan seperti itu membuat Aisha merasa tak nyaman. Ia tidak terbiasa dilayani, apalagi sampai makan saja harus disuapi. "Aku bukan orang cacat, Ibu!" Aisha menolak disuapi.

"Panggil aku Hannah saja, Syeikha!" Perempuan itu berkata. "Aku tak pantas mendapat gelar ibu di rumah ini!"

Syeikha? Gelar Ibu? Aisha menatap perempuan itu dengan alis bertautan. "Apakah gelar ibu membutuhkan prestasi tertentu?" Ia bertanya heran.

"Hanya keluarga Syeihk yang disebut ibu dalam rumah ini, Syeikha!"

"Panggil aku Aisha!" Aisha tahu panggilan Syeikha ditujukan untuk menyebutkan istri atau putri raja dalam tradisi Timur-Tengah.

"Tolong jangan mempersulitku dengan peraturanmu sendiri, Aisha! Aku hanya pengasuh. Bekerjasamalah supaya kita tidak ditendang dari rumah ini. Ikuti saja aturan mainnya dan kita semua akan baik-baik saja!"

Aisha melengak menatap perempuan itu. Dia mengerti posisiku, katanya dalam hati. Lalu terdiam dan melanjutkan acara makannya tanpa berkata-kata lagi.

Perempuan itu mengusap rambut cokelat Aisha seraya menatap prihatin. Masih kecil sudah dijodohkan, batinnya miris. "Aku akan menjagamu, Aisha. Bantulah aku supaya aku tidak dihalau dari sisimu, dan berusahalah untuk tidak melanggar peraturan dalam rumah ini!" Ia memohon.

Aisha menyentuh punggung tangan perempuan itu seraya menatap ke dalam matanya dan melihat peristiwa di mana perempuan itu terpuruk dan merangkak di atas hamparan padang pasir. Aisha menelan ludah. Perempuan itu memiliki masa lalu yang kurang beruntung seperti dirinya. Gadis itu mengerjapkan matanya dan tertunduk.

"Maafkan aku, Syeikha!" Perempuan itu menyesali. "Aku sudah lancang mengatakan ini seolah kau anak tiriku."

"Saat kita hanya berdua, kau boleh memanggilku Aisha!" Ia berbisik pada perempuan itu.

Perempuan itu tersenyum lembut dan mengusap-usap bahu Aisha. "Kau akan tumbuh menjadi perempuan paling cantik dan disegani, Aisha!"

Pukul tujuh malam, Aisha mendengar ruangan di luar kamarnya berubah gaduh. Tak lama kemudian, Hannah melangkah masuk ke dalam kamarnya dengan langkah tergesa. "Syeikh Nizar sudah kembali," katanya dengan napas tersenggal. Dengan gerakan cepat, perempuan itu menyiapkan pakaian baru untuk Aisha dan melumuri tubuh gadis itu dengan wewangian yang teramat asing bagi Aisha.

Aisha menurutinya saja sampai perempuan itu selesai merias tubuhnya dan menata rambutnya, kemudian menuntunnya ke ruang makan berukuran raksasa.

Seorang anak laki-laki berambut cokelat seusia dirinya menatapnya dari sisi pria bercadar itu dengan tampang pongah. Satu anak laki-laki 13 tahun dan satu anak perempuan 11 tahun, juga sudah duduk berhadapan di atas kursi lainnya, di depan meja raksasa dengan aneka hidangan dan perangkat makan yang tertata mewah. Sejumlah pelayan berderet di belakang masing-masing anak dengan wajah tertunduk.

Mereka semua pasti anak-anaknya, pikir Aisha. Tapi kenapa wajah mereka berlainan satu sama lain? Apakah mereka dilahirkan dari ibu yang berbeda-beda? Pria ini pasti memiliki istri segudang, batinnya masam. Tapi di mana istri-istrinya?

Pria bercadar itu menunjuk bangku di ujung meja berseberangan jauh dengan tempat duduknya. Satu-satunya bagian yang memiliki satu tempat duduk. Dan kedua sisi meja itu hanya di duduki Aisha dan pria itu. Tempat duduk lainnya berderet berdampingan. Dan masih tersisa sembilan bangku kosong di kedua sisinya.

Kenapa aku mendapat tempat duduk paling terpisah dari yang lainnya? Aisha bertanya-tanya.

"Perkenalkan, ini Aisha!" Pria itu mengumumkan.

Semua pelayan dalam ruangan itu merunduk hormat ke arah Aisha. "Damai sejahtera, Syeikha!"

Ketiga anak di depan meja itu mengerutkan dahi memandang Aisha, kemudian menatap pria itu penuh tanda tanya.

Pria itu diam saja. Hanya menatap mereka secara bergiliran dengan ekspresi dingin. Lalu kelimanya tertunduk.

Aisha juga tertunduk setelah Hannah menarik kursi untuknya, kemudian membantunya duduk dan menyiapkan perangkat makannya.

"Aisha, perkenalkan ini Valentine!" Pria bercadar itu menunjuk anak laki-laki berambut coklat di sisi tempat duduknya.

Aisha mengembangkan senyum ke arah anak laki-laki itu dengan terpaksa. Anak laki-laki itu hanya mendongakkan rahang dan menatapnya sekilas.

"Yang ini Arya Rachman!" Pria itu menunjuk anak laki-laki paling tua di antara yang lainnya.

Anak laki-laki berusia 13 tahun itu mengangkat dua jarinya dan menyeringai ke arah Aisha.

"Yang ini Lilith Al Maida," katanya lagi seraya menunjuk satu-satunya anak perempuan selain Aisha.

Gadis berusia 11 tahun itu menautkan kedua tepak tangannya di depan wajahnya dan mengucapkan salam.

Aisha membalasnya dengan senyuman ragu. Lalu mencuri pandang ke seberang meja ketika pria itu akhirnya menurunkan cadar.

Tapi jarak tempat duduknya tertaut sepuluh meter dari pria itu.

Aisha tak bisa melihat wajahnya, meski ia bisa memastikan bahwa pria itu tak setua yang dibayangkannya selama ini. Tapi tetap saja jauh lebih tua dari dirinya. Setidaknya pria itu sudah berusia sekitar 25 tahun. Ia tak bisa membayangkan bagaimana wajah pria itu saat ia menikahi Aisha kelak. Aku baru 9 tahun, batinnya getir.

Terpopuler

Comments

Seul Ye

Seul Ye

Aku kalo inget part ini dulu bacanya sambil maki2.
Sialan si nizar gak suka banget mukanya dijadiin fantasi ciwi2 piktor kaya seul 🤣

2022-11-29

0

Cherry Nine

Cherry Nine

Sepi amat nih kolem...
Pada kmna nih tim horeh??

Saatnya ambil nasi kotak, gaiss!

2021-08-04

1

Danny D. Luna

Danny D. Luna

Keliatan ya penulisnya berwawasan dan cukup berpengalaman

2021-08-01

0

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 83 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!