Chapter 1

Sepasang kaki bersepatu lars menginjak lantai marmer dengan meninggalkan suara berdebam yang membahana ke seluruh selasar.

Seorang pria berambut lurus berwarna hitam mengkilat tengah bertengger di puncak menara Athena dalam posisi berjongkok membelakangi. Rambut panjangnya melecut lembut di bawah punggungnya digelitik angin malam, kemudian menyapu tepi wajahnya ketika sosok itu menoleh. "Athena," desisnya melenting dan menggema seperti di tebing-tebing. "Kita berhasil mencapai puncak!" Lalu sebuah cahaya memancar membiaskan wajahnya.

Gadis kecil itu membuka mulutnya mencoba bersuara. Tapi sebuah cengkeram kuat menancap pada bahunya, membuat suaranya tercekat di tenggorokan.

"Aisha!" Panggilan itu menggelegar di atas kepalanya.

Membuat gadis itu terhenyak dan mendongak seketika.

Semburat cahaya jingga matahari pagi menerobos melalui pintu logam yang baru dibuka.

Gadis kecil berbadan kurus itu mengerjapkan matanya, berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya. Ini adalah pertama kalinya Aisha melihat cahaya setelah dua minggu terkurung dalam ruang gelap.

Seraut wajah tirus merunduk di atas kepalanya seraya menatap tajam dari bawah kerudung putih kusam yang dikenakannya.

"Mama..." Aisha menyadari. Kemudian menghela tubuhnya dari lantai tanah yang menjadi alas tidurnya sepanjang dua pekan terakhir. Rantai besi pada tangan dan kakinya berderak ketika ia beringsut mendudukkan dirinya. Mimpi itu lagi, pikirnya. Sudah tiga kali gadis itu mendapatkan mimpi yang sama dalam tiga hari terakhir.

Mimpi tentang dirinya yang telah dewasa. Tentang seorang pria yang sama, yang terus bersamanya hingga ia merasa begitu mengenalnya. Pria berambut sepinggang yang menjadi cinta sejatinya saat ia dewasa. Selain nama dan wajahnya, Aisha merasa telah mengenalnya dengan cukup baik jika suatu saat ia bertemu dengan pria itu dalam kenyataan.

Tapi semua itu hanya mimpi. Aisha mengingatkan dirinya. Pria seperti itu tidak pernah ada dalam kenyataan.

"Kau beruntung, Aisha!" Perempuan berusia 30 tahun itu menghela tubuh kecil Aisha hingga berdiri. "Hari ini kau dibebaskan."

Seringai mencurigakan di sudut bibir perempuan itu membuat Aisha menelan ludah. Langkahnya terhuyung ketika perempuan tadi menyeretnya keluar tanpa melepaskan rantai yang membelenggunya. Seluruh tubuhnya gemetar akibat dua minggu lamanya tak mendapat asupan makanan.

Bilik pengasingan itu dirancang untuk mengisolasi seseorang yang terkena virus menular yang mematikan. Kadang bilik itu juga digunakan untuk mengurung anak perempuan yang baru pertama kali mendapatkan menstruasi. Dalam beberapa kasus, bilik pengasingan juga digunakan untuk mengasingkan seseorang yang dianggap penyihir.

Dan Aisha baru berusia sembilan tahun. Ia belum mendapatkan menstuasi pertamanya. Ia juga tidak mengidap penyakit mematikan yang bisa menulari orang lain. Jadi sudah cukup jelas Aisha berada di dalam bilik pengasingan itu karena alasan ketiga.

Untuk alasan yang ketiga, tidak seorang pun dibiarkan keluar hidup-hidup.

Tak banyak orang dibebaskan dari bilik pengasingan kecuali seseorang telah menebusnya. Tapi ibu Aisha bukan tipe orang yang rela mengeluarkan uang demi kepentingan orang lain. Apalagi untuk Aisha. Meski jika ia memiliki banyak uang. Terutama saat ini, mereka hanya hidup berdua di bawah garis kemiskinan.

Dari mana Mama mendapatkan uang? Aisha bertanya-tanya dalam hatinya.

Sejumlah perempuan berselubung kain lusuh sudah berkerumun di luar bilik pengasingan itu. Para perempuan itu menutup hidung mereka dengan kerudungnya ketika Aisha melangkah keluar.

Sesosok pria tinggi berjubah panjang dengan selubung kain meliliti kepala dan wajahnya, telah menunggunya di depan pintu. Ia berdiri membelakangi cahaya jingga di kaki langit. Wajahnya tak dapat dikenali akibat selubung wajah dan bias cahaya yang menyamarkannya. Tapi terlihat cukup jelas pria itu sudah dewasa. Dan terasa sekali pria itu sedang mengawasi Aisha.

Perempuan di samping Aisya mengembangkan senyum ke arah pria itu dengan keramahan yang dibuat-buat. "Namanya Aisha Maulanna, Tuan!" Ia berkata seraya menepuk-nepuk bahu Aisha. "Usianya sembilan tahun."

Aisha melengak tak mengerti, menatap ibunya meminta penjelasan. Lalu memandang pria di depannya dengan alis bertautan.

"Kau tak sopan, Aisha!" Perempuan itu menghardik Aisha seraya mencubit lengannya.

Buru-buru gadis kecil itu menurunkan pandangannya dan menundukkan wajahnya dalam-dalam.

Pria berjubah khas Timur-Tengah itu melangkah mendekati Aisha kemudian berjongkok di depan gadis kecil itu dan mendongakkan wajah Aisha. Lalu mengamati ke dalam mata Aisha dengan mata terpicing. Seperti seseorang sedang memeriksa hewan piaraan yang akan dibelinya.

Aisha membalasnya dengan raut wajah datar namun tatapannya tajam. Mata jernih gadis itu berkilat-kilat menyiratkan kecermatan yang tak banyak diketahui orang, kecuali pria di depannya.

Pria itu mengembangkan senyum di balik selubung wajahnya. Lalu memerintahkan perempuan itu untuk melepaskan rantai di tangan dan kaki Aisha.

"Pria ini adalah calon suamimu, Aisha!" Perempuan itu berbisik di telinga Aisha. "Bersikap baiklah padanya. Kecuali jika kau lebih memilih kembali ke dalam sampai kau mati!" Perempuan itu menunjuk pintu ruang isolasi dengan sudut matanya.

Dengan kata lain kau telah menjualku, batin Aisha getir. Tapi mulut gadis itu terkatup rapat dan raut wajahnya tak sedikit pun menyiratkan ketakutan atau kesedihan. Perasaan Aisha telah kebas terhadap situasi apa pun karena terlalu sering merasakan sakit.

Wajah perempuan itu berbinar-binar senang ketika pria itu menuntun Aisha ke dalam kendaraannya. Kemudian berlalu dari hadapannya dengan meninggalkan setumpuk uang yang lebih dari cukup untuk mendapatkan semua barang-barang impiannya yang tak pernah tergapai kecuali hanya dalam mimpinya.

"Apa dia betul-betul ibu kandungmu?" Pria berjubah khas Timur-Tengah itu bertanya setelah mobilnya melesat cukup jauh dari pusat isolasi. Pria itu duduk di bangku belakang, di sisi Aisha.

Aisha menatap matanya sebelum menjawab, "ya!"

Sepasang mata di depan Aisha terpicing, tapi tatapannya berkilat-kilat. Entah marah, entah terkejut. Sulit mengetahui emosinya tanpa melihat raut wajahnya yang terus tersembunyi di balut kain selubung.

Aisha masih menatap matanya tanpa rasa gentar. Siapa yang akan percaya seorang ibu menjual anaknya sendiri, batin Aisha.

Tapi siapa yang tahu bahwa tindakan ibunya itu diakuinya sebagai jasa.

"Aku baru saja menyelamatkannya dari kematian yang memalukan." Amanah berkilah ketika ia memergoki beberapa perempuan seusianya tengah bergunjing.

Perempuan yang tengah berkerumun mempergunjingkan tindakannya itu sontak melengak ke arah Amanah. "Apa kau tak sadar, kau baru saja menjual anak kandungmu sendiri, Amanah?" Seorang perempuan setengah baya menghampirinya. "Aisha baru sembilan tahun, dan pria asing itu kelihatannya sudah berumur!"

"Apa pedulimu?" Ibu Aisha mendengus.

Sementara itu, VAZ-2109 yang membawa Aisha telah melesat jauh meninggalkan desa kecil tempat kelahirannya.

VAZ-2109 menjadi semacam kendaraan utama kelompok Mafia pada 1990-an. Satu-satunya mobil Rusia yang mampu berlari kencang dan relatif bisa diandalkan.

Pria bercadar itu sudah mulai sibuk mengetik sesuatu di layar telepon selulernya. Lalu mengatakan sesuatu pada pengemudi pribadinya dalam bahasa yang tak bisa dimengerti oleh Aisha. Mungkin bahasa Arab atau Rusia. Aisha tidak bisa membedakan keduanya.

Empat jam kemudian, kendaraan itu sampai di sebuah gerbang perbatasan bertulisan: SELAMAT DATANG DI KOTA ATHEENA!

Terpopuler

Comments

hanz

hanz

masyarakat berpikiran primitif

2024-07-13

1

Erfan Bonex

Erfan Bonex

menarik

2022-02-10

1

Deeann Hardie

Deeann Hardie

sinopsis sama prolognya bikin penasaran

2021-08-01

0

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 83 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!