Chapter 14

"Hey, Syeikha!" Diana melambai-lambaikan tangan ke arah Aisha sambil cengengesan di antara orang-orang yang berseliweran ke sana ke mari.

Valentine menoleh ke arah Diana dan juga Vita dengan dahi berkerut-kerut, kemudian melirik Aisha untuk memastikan apakah gadis itu betul-betul mendengarkan ketika kedua sahabatnya memanggilnya.

Tapi gadis itu hanya tersenyum tipis.

"Apa kabar, Syeikha?" Vita berteriak dengan suara jenis falsetto sembari menghambur ke arah Aisha dan Valentine.

Valentine tertawa ringan menanggapinya. "Kukira aku salah dengar tadi," katanya pada Vita dan Diana. "Kau panggil dia apa?" Valentine menggoyangkan ibu jarinya di sisi bahunya, menunjuk Aisha.

"Syeikha!" Teriak Vita dan Diana serentak.

Valentine tergelak.

Aisha tetap tersenyum tipis seperti biasa. Kemudian menggeleng-geleng.

"Lepaskan, Syeikha!" Vita berteriak lagi ke arah Aisha sambil tertawa lebar. Nada suaranya mulai naik dua oktaf dari sebelumnya. "Jangan ditahan!" Sekarang naik empat oktaf. "Kalau mau tertawa, tertawa saja!" Dan akhirnya delapan oktaf.

Aisha mengernyit seraya membekap telinganya.

Sementara Valentine dan Diana sudah terpingkal-pingkal.

Malam itu adalah malam Karnaval yang sibuk dibicarakan Diana.

Lilith Al Maida baru dikebumikan beberapa jam yang lalu. Tapi Nizar menghalau semua orang dari dalam rumah dan memberikan kebebasan tanpa batas kepada semua penghuni rumah untuk melakukan apa saja sesuka hatinya di luar rumah. "Aku tak ingin ada perkabungan," katanya.

Dan di sinilah Aisha sekarang. Di Pusat Karnaval, bersama Valentine pula.

Situasi ini jelas di luar kebiasaan Nizar. Aisha bisa merasakan ada yang janggal dengan sikap Nizar.

Tapi semua pelayan dan para pengawal membutuhkan liburan.

Dan Valentine terlihat seperti anak anjing lepas rantainya.

Sementara Aisha merasa tak nyaman sepanjang malam.

Dan Nizar mengurung dirinya di dalam rumah.

Nizar tercenung di sudut ruangan di depan meja kerja di perpustakaan pribadinya. Seisi rumah telah berubah hening. Kecuali detak jarum jam dan suara napasnya sendiri, sudah tidak ada lagi suara yang akan mengganggunya dalam rumah ini. Ia menatap layar ponselnya dengan tatapan beku.

Gambar Valentine dan Aisha yang sedang berpelukan hingga saling memagut satu sama lain, terpajang jelas di layar ponselnya.

Ia menghembuskan napasnya hingga terdengar sebagai suara terkeras dalam rumahnya saat ini. Kesunyian itu terasa mengerikan. Tapi tidak lebih mengerikan dibanding perasaan Nizar dan isi kepalanya.

Tangannya berkutat di atas selembar kertas dengan sebatang pena yang tengah mencatat sebuah surat pernyataan cerai kepada Aisha. Selesai menandatanganinya, ia melipat kertas itu dan menyelipkannya pada buku harian Aisha dalam laci meja di sisi tempat tidurnya di kamar Aisha.

Tak lama telepon selulernya bergetar dan nama Athena muncul pada layarnya. Nizar mematikan layar ponselnya dan bergegas keluar, ke pekarangan. Kemudian menyelinap ke dalam VAZ-2109 dengan terburu-buru, dan berlalu meninggalkan rumahnya.

"Hey, lihat itu!" Valentine menunjuk ke arah kerumunan orang-orang yang tengah menyaksikan pertunjukan tarian tradisional yang ditampilkan seorang gadis bertopeng dengan pakaian adat suku Jawa.

Ketiga gadis di dekatnya serentak menoleh ke arah kerumunan itu dan mendekat.

Vita bergidik dan mengerang ketika tengkuknya mendadak merinding.

Aisha dan Diana sontak menatapnya. "Are you ok, Sweetheart?" Keduanya bertanya bersamaan.

"Aku merinding mendengar suara gamelannya," jelas Vita seraya memegangi tengkuknya.

"Jangan bilang kau takut!" Diana mendengus.

"Aku bilang, aku merinding!" Vita memelototi Diana, mengeluarkan jurus andalannya--Mode Falsetto Maut.

"Biasanya kau yang membuat orang lain merinding?!" Diana memutar-mutar bola matanya.

Aisha dan Valentine menyeringai bersamaan.

"Kalau mau tertawa, tertawa saja!" Vita memarahi Aisha. "Jangan ditahan!" Hardiknya.

Valentine dan Diana kembali tergelak. Tapi Aisha tetap tidak tergoda.

"Setelah kupikir-pikir, aku juga mulai penasaran bagaimana cara membuatnya tertawa?!" Valentine mengomentari lelucon Vita.

"Bagaimana kalau kita coba gelitiki saja?!" Usul Diana.

"Kalau begitu biar aku yang mengikatnya dan kalian yang menggelitiki!" Valentine menyambutnya.

Tawa Vita akhirnya meledak. Membuat orang di dekatnya kompak menutup telinga.

Sementara gamelan pengiring tarian tradisional itu semakin meninggi dan semakin cepat. Gerakan-gerakan tarian yang dimainkan gadis bertopeng itu terlihat semakin liar hingga membuat sejumlah anak kecil menjerit ketakutan.

Orangtua mereka berusaha menenangkan anaknya masing-masing. Tapi anak-anak itu menatap Si Penari tanpa berkedip dan jeritan mereka semakin melengking mengikuti alunan musik pengiring yang semakin meninggi. Semua orang dalam kerumunan itu tercengang.

Begitu juga Aisha dan kedua sahabatnya. Tidak terkecuali Valentine. Keempat remaja itu melengak memperhatikan Penari Bertopeng itu, kemudian mengedar pandang mengawasi sekelilingnya.

Semua orang di sekitar Penari itu tidak berkedip atau pun berpaling menatap Si Penari. Seperti sedang berada di bawah pengaruh Hipnotis. Sementara anak-anak menjerit-jerit ketakutan, orang dewasa hanya terperangah kehilangan akal sehatnya.

"Penari itu menghipnosis para penonton!" Aisha mendesis.

Ketiga remaja di sampingnya menelan ludah bersamaan.

"Anak-anak itu kerasukan!" Vita menjerit dan menunjuk sekumpulan anak yang mulai mengerang dan menggeliat-geliut mengikuti irama musik pengiring dengan tatapan kosong.

Diana memekik seraya membekap mulutnya. "Ini pasti gara-gara Vita tertawa tadi!"

Valentine menyentakkan kepalanya ke samping dan memelototi Diana dengan tampang konyol.

"Gadis itu Penyihir!" Seorang pria berusia 30 tahun berteriak nyaring seraya menudingkan telunjukknya ke arah gadis penari itu.

Yang benar saja, batin Aisha kesal. Mudah sekali orang menebar kebencian hanya cukup dengan satu kata: Penyihir!

Seketika gamelan itu serentak berhenti dan semua orang memekik bersamaan.

Gadis Penari itu terhenyak menatap sekumpulan pria tak dikenal mengerumuninya dengan tampang garang. Seluruh tubuhnya mulai menggigil karena ketakutan. Ia mencengkeram lengan Penari Pria dengan tangan gemetar dan bersembunyi di belakang punggungnya.

"Dia membawakan tarian setan!" Teriak pria lainnya bersahut-sahutan.

"Tunggu dulu!" Tiba-tiba suara Aisha menggelegar mengalahkan suara semua orang. Membuat semua mata serentak berpaling menatapnya.

Vita dan Diana terperanjat saking terkejut. "Suaranya mengalahkan Vita!" Pekik Diana tak percaya.

Valentine juga tersentak menatap Aisha. Tindakan Aisha itu di luar kebiasaannya.

"Itu Tarian Tradisional suku Jawa," protes Aisha seraya menerjang ke tengah kerumunan. Kemudian mencengkeram lengan baju pria itu.

Pada bagian atas lengan bajunya Aisha melihat sekilas bordiran bertulisan: EFS

Sejumlah pria dewasa yang menghakimi penari itu memelototi Aisha dengan tampang geram. "Gadis itu Penyihir!" Seorang pria menghardiknya. "Apa kau tak lihat anak-anak itu kerasukan semua?!" Pria itu menunjuk anak-anak yang masih menangis dan menjerit-jerit.

"Itu reaksi alami anak-anak saat mereka ketakutan!" Aisha balas menghardiknya.

"Jadi kau setuju kalau pertunjukan ini memang menakutkan?" Pria lainnya menimpali.

Valentine menggeram seraya menyeruak ke tengah kerumunan dan berdiri di depan Aisha untuk membelanya. "Apa kalian tidak bisa membedakan pertunjukan seni dengan praktek sihir?"

Vita dan Diana masih tergagap di tempatnya dengan raut wajah yang seolah berkata: What can I do?

Pria yang menghardik Aisha menyeringai seraya memandang remeh ke arah Valentine. "Siapa lagi yang punya nyawa cadangan untuk disumbangkan pada Penyihir ini?!" Pria itu berteriak lantang seraya mengedar pandang dan menudingkan telunjuknya ke arah Gadis Penari.

Seorang pria berambut sebahu dengan gitar di punggungnya melangkah maju dan berdiri membentengi Gadis Penari yang tengah gemetar karena ketakutan. Terlihat jelas bahwa pria itu juga seorang Pecinta Seni. Dia takkan diam saja menyaksikan sebuah pertunjukan karya seni dihujat di depan matanya.

Para Fanatik itu tidak bisa membedakan seni dari sihir.

"Hah!" Pria pongah yang menghardik Aisha tergelak memaksakan tawa. "Tangkap Penyihir itu dan habisi semua orang yang membelanya!" Ia berteriak lantang memprovokasi semua orang.

Terpopuler

Comments

hanz

hanz

anak anak itu mengalami histeria

2024-07-15

1

Agil Revenely

Agil Revenely

Nice, Gabe!
ACTION DIMULAI 😎

2021-07-27

0

Eci Bae

Eci Bae

part action dimulai nih

2021-07-23

0

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 83 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!