Chapter 3

EMPAT TAHUN KEMUDIAN

________________________________________

Kegelapan adalah cahaya yang berpendar di bawah frekuensi rendah.

Dan aku benci cahaya seperti ini. Kegelapan membuat penglihatanku semakin tajam. Penglihatan yang bisa membuat seseorang memohon kematiannya namun kematian bahkan menjauhinya.

Kau, tak harus menjadi buta hanya karena aku benci cahaya!

_

"Tolong...!" Aisha menjerit histeris ketika lampu di kamarnya mendadak mati. Kegelapan menyelimutinya. Mengingatkan dirinya pada peristiwa empat tahun lalu dalam bilik pengasingan. "Tidak! Tolong! Keluarkan aku dari sini!"

Seketika seisi rumah berubah gaduh. Semua orang memekik panik, disusul suara-suara berderap dan berdebam pada lantai menggetarkan seisi rumah. Suara-suara orang berlarian mendekat ke kamar Aisha.

"Aku tak peduli bagaimana caranya, lampu di dalam rumah ini harus segera menyala dalam dua menit. Atau aku akan membunuh kalian semua!" Suara pria bercadar menggelegar dari ruang tengah. "Syeikha phobia pada gelap!"

Tak lama kemudian pintu kamarnya membuka. Valentine muncul di depan pria bercadar yang menenteng sebatang lilin di tangannya. "Aisha?!" Pria itu menaruh lilin di atas meja kecil di sisi tempat tidur Aisha dan menarik tubuh gadis itu ke dalam dekapannya.

Aisha membenamkan wajahnya di dada pria itu seraya masih memekik ketakutan dan terisak. Seluruh tubuhnya bergetar dalam dekapan pria bercadar itu.

Pria itu mengusap-usap punggung Aisha dan menenangkannya.

Anak laki-laki di sisi pria itu menepuk-nepuk punggung tangan Aisha tanpa berkata-kata. Tapi tatapannya menyiratkan dengan jelas bentuk kekuatiran yang tak dapat diungkapkannya.

Dua menit kemudian semua lampu dalam rumah itu kembali menyala. Tapi Aisha masih terisak dalam dekapan Nizar.

Pria itu menarik wajah Aisha dari dekapannya dan menyeka airmata bercampur keringat yang membanjir di wajah Aisha. "It's ok," katanya lembut namun tegas. "Lampunya sudah menyala!" Ia memberitahu Aisha.

Aisha mengedar pandang dalam keadaan masih terisak. Ia menengadah menatap lampu kamarnya kemudian menatap Valentine dan juga Nizar secara bergiliran. Seolah kedua pria itu muncul secara mendadak di dalam kamarnya.

Valentine menyeringai ke arah Aisha. Hanya raut wajahnya yang khas seolah menunjukkan bahwa ia tidak peduli pada gadis itu. Padahal debar jantungnya meletup-letup mengetahui Aisha takut pada gelap. Ia tak pernah tahu di dunia ini ada seseorang yang begitu ketakutan melihat gelap. Dan begitu ia mengetahuinya, hal itu terjadi di depan matanya.

"Kembalilah ke kamarmu, Valentine!" Nizar memerintahkan.

Valentine menepuk punggung tangan Aisha sekali lagi dan melangkah keluar.

"Terimakasih, Valentine!" Aisha berkata, parau.

Anak laki-laki itu hanya melambaikan tangannya sekali tanpa menoleh lagi.

Sementara pria bercadar itu masih memegangi kedua bahu Aisha dan duduk di tepi tempat tidurnya seraya memandangi wajah gadis itu dengan gelisah.

Aisha menundukkan kepalanya, salah tingkah menyadari posisi mereka yang begitu dekat. Aku baru saja memeluknya, kenangnya masam.

"Tidurlah, Aisha!" Pria itu menurunkan kedua tangannya dari bahu Aisha. "Aku akan keluar sekarang," katanya.

Oh, tidak! Tanpa sadar Aisha sudah menangkap tangan pria itu dan mencegahnya. Tapi tak mengatakan apa-apa. Kerongkongannya mendadak serasa tercekik mendengar pria itu ingin keluar dari kamarnya.

Pria itu mengerutkan dahi seraya mengamati cengkeraman Aisha pada lengan bajunya.

"I'm so... Sorry!" Aisha tergagap seraya menarik tangannya.

Pria itu menghela napas kemudian kembali memutar tubuhnya menghadap Aisha. "Baiklah! Aku akan menemanimu sampai kau tidur," katanya seraya memalingkan wajahnya dari tatapan Aisha, kemudian menarik sebuah bangku dari meja tulis di sudut ruangan kamar Aisha dan membawanya ke tepi tempat tidur. "Sekarang tidurlah, Aisha! Besok pagi kau harus ke sekolah!"

Aisha masih mematung dalam posisi duduknya. Masih belum percaya pada apa yang baru saja dilakukannya. Tapi ia memang belum pulih dari ketakutannya. Dan ia merasa aman berada di dekat pria itu sampai sejauh ini. Dia seperti ayahku, pikirnya masam.

Hannah kemudian muncul dari balik pintu dan terhenyak mendapati Nizar berada di sana. "Maafkan saya, Tuan! Saya baru selesai menyiapkan seragam Syeikha." Perempuan itu tertunduk setengah ketakutan.

"Tidak apa-apa, Hannah! Aku baik-baik saja. Aku hanya ketakutan." Aisha menyela.

Pria bercadar itu mengalihkan perhatiannya dari Aisha dan memandang pengasuh itu dengan sorot mata yang tak bisa ditebak. "Tidak apa-apa, Hannah! Ada aku di sini. Aku bisa menjaga Aisha lebih baik dari para pengasuh.

Aisha membelalakan matanya, tapi entah kenapa hatinya membenarkan ucapannya. Pria ini baru saja memberinya rasa aman yang jarang ia dapatkan dari pengasuhnya. Jadi ia kembali mencengkeram lengan baju pria itu karena khawatir pria itu akan meninggalkan kamarnya setelah ada Hannah. Biarkan Hannah beristirahat, katanya dalam hati.

Pria itu kembali mengamati cengkeraman pada lengan bajunya dengan alis bertautan.

Melihat hal itu, Hannah mendadak risih dan merasa malu. Jadi ia segera memohon diri tanpa menunggu perintah.

Setelah kepergiannya, Nizar kembali menatap wajah Aisha. Sepasang alisnya masih bertautan. Tapi kemudian ia berusaha untuk mengerti. Mata gadis itu berkilat-kilat khawatir setiap kali ia mencoba meninggalkannya. Aisha mungkin sedang merindukan ayahnya, pikirnya berusaha menepiskan perasaan anehnya.

Sejak gadis itu tinggal di rumahnya, mereka nyaris tak pernah bertegur sapa. Apalagi berbincang-bincang. Kurangnya komunikasi telah melahirkan dinding pemisah yang membuat keduanya hanya saling memendam prasangka.

Dengan kelembutan yang tak disengaja, pria itu mendorong bahu gadis kecil itu dan membaringkannya. Lalu menyelimuti tubuh kecilnya penuh perhatian. Seperti seorang ayah. Aku lebih pantas menjadi ayahnya, batinnya prihatin.

Tanpa paksaan, Aisha membaringkan tubuhnya menghadap Nizar. Gadis itu memandangi wajah pria di depannya yang masih menjadi misteri selama hidupnya. Kenapa ia terus menerus mengenakan selubung wajah itu meskipun di dalam rumah? Batinnya tak habis pikir.

Pria itu tercenung memandangi wajah gadis kecil itu dengan perasaan bersalah. Amanah telah menitipkan gadis itu untuk ia nikahi. Kenapa perempuan itu tidak memintanya untuk mengadopsinya saja sebagai putrinya?

"Putriku memiliki bakat kelainan yang bisa membuat pria mana pun takkan sudi menikahinya," tutur Amanah ketika pria itu menghampirinya setelah ia menyeret putri kandungnya sendiri ke dalam bangsal pengasingan. "Dia lebih baik mati muda daripada harus menjalani hidup dalam buangan seumur hidupnya!"

"Apakah kalian mengurung semua orang sampai mati?" Nizar menghardik beberapa perempuan dan laki-laki yang mengerumuninya saat pertama kali ia berkunjung ke desa kelahiran Aisha dan mendapati warga desa tengah menyeret anak berusia 9 tahun ke dalam kurungan besi. Hatinya meronta menyaksikan pemandangan semacam itu untuk kesekian kalinya.

"Tidak semuanya, Tuan! Bangsal itu hanya untuk mengisolasi orang-orang yang mengidap virus menular. Sebagian untuk keperluan pengasingan gadis yang baru pertama kali mendapat menstruasi. Itu sudah peraturan di desa ini!" Seorang pria setengah baya mencoba menjelaskannya pada pria itu. "Dalam beberapa kasus, kami memang mengurung anak-anak sampai mati," ungkapnya ragu. "Tapi itu hanya berlaku untuk anak yang berbahaya!"

"Berbahaya?" Suara Nizar semakin meninggi."Seperti gadis kecil tadi?"

"Gadis kecil tadi seorang penyihir, Tuan!" Seorang pria memberi tahu.

Nizar memelototi mereka satu persatu.

Sejumlah penduduk yang berkerumun itu serentak menunduk tak berani menatap pria itu.

Pada saat itulah Amanah mengutarakan alasan kenapa Aisha diasingkan. "Hari kelahirannya saja sudah ditandai kutukan, Tuan!" Perempuan itu terisak. "Warga desa sudah sepakat untuk membunuh bayi Aisha. Tapi suamiku menentangnya dan melawan hukum adat dengan hukum militer. Warga desa kalah pengaruh karena suamiku seorang Komandan Rayon Militer!" Perempuan itu mengedar pandang mengamati wajah-wajah penduduk itu satu persatu. Khawatir kalau-kalau mereka menentangnya jika ia menceritakan semuanya. Tapi tak satu pun dari mereka mengangkat wajahnya.

"Aku ingin bertemu suamimu, Ibu!" Nizar menyela cerita Amanah.

"Suamiku sudah meninggal, Tuan!" Amanah menundukkan wajahnya dengan raut wajah suram. "Dialah yang telah membunuhnya!" Amanah menunjuk ke arah pintu ruang isolasi tempat mereka mengurung Aisha.

Nizar mengetatkan rahangnya yang tersembunyi di balik kain selubungnya.

Terpopuler

Comments

Seul Ye

Seul Ye

Kalo inget part ini, kesian sejadi2nya sama nizar 🤣
Dianggep bapak sama doi kan lebih bengek daripada cinta bertepuk sebelah tangan wkwk.

2022-11-29

0

Seul Ye

Seul Ye

Ihiy, mbahnya kengston 🤣

2022-11-29

0

Amara Riney

Amara Riney

kecepatan thor 😅
mundur lagi

2021-08-10

0

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 83 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!