Ghostroses, 2005
"Bersumpahlah, Tuan akan menjaga Aisha!" Amanah memohon-mohon seraya bersimpuh di depan pria bercadar itu.
"Kau tidak tahu siapa aku, Ibu!" Nizar menandaskan. "Bisa saja keputusanmu ini membahayakan putrimu."
"Masih lebih baik putriku dalam bahaya dibanding mati perlahan dengan pasti. Cepat atau lambat putriku akan mati dalam bangsal pengasingan. Tidak seorang pun dibiarkan keluar hidup-hidup," katanya serak. "Setidaknya dalam bahaya masih berarti ia memiliki harapan untuk tetap hidup." Perempuan itu melengis di kaki Nizar.
Pria berjubah khas Timur-Tengah itu tercenung.
"Tidak seorang pun dibiarkan keluar hidup-hidup, kecuali jika seseorang menebusnya dan membawanya pergi dari desa ini!" Amanah menambahkan.
Nizar menghela napas. "Kepada siapa aku harus menebusnya?"
"Tentu saja kepada kepala suku, Tuan!"
"Apakah uang tebusan itu akan menjadi hak milik kepala suku?
"Tentu saja tidak, Tuan! Uang tebusan semacam itu akan dibagikan pada warga miskin dan yatim piatu."
"Baiklah, antarkan aku menemui kepala suku!"
"Apakah Anda akan menebus putriku, Tuan?" Amanah mengangkat wajahnya dan menatap wajah pria itu penuh harap.
Pria itu kembali tercenung dan tampak ragu sesaat. "Aku belum bisa memastikannya sekarang!"
Amanah menelan ludah, kemudian menarik tubuhnya dari lantai dengan susah payah.
"Siapa yang mengatakan pada Tuan bahwa uang tebusan seorang anak harus diserahkan kepadaku?" Suara Kepala Suku itu menggelegar setelah Nizar berhasil menemuinya dan memintanya berbicara empat mata saja. "Dengar, Tuan! Kami tidak menjual nyawa siapa pun di sini." Pria itu menandaskan.
"Tapi..." Nizar mendadak tergagap. Haruskah aku mengatakan bahwa Amanah baru saja mengatakannya. Tidak, batinnya. Tunggu dulu. Aku harus tahu peran apa sebenarnya yang sedang coba ia mainkan.
"Jika Tuan memang ingin membeli anak dalam bilik pengasingan, urusan kesepakatan dan hak tawar menawar adalah tanggungjawab orangtuanya. Sebagai kepala suku, mendengar Tuan berniat membawanya pergi dari desa ini saja sudah aku anggap cukup untuk menyelamatkan kami dari kutukan. Kami tidak mengharapkan uang tebusan, Tuan!" Kepala Suku itu menjelaskan dengan panjang lebar. "Kami hanya berharap anak itu tidak berada di sini supaya kami tidak tertimpa tulah!"
Nizar tercenung mempertimbangkan keputusannya. Ada yang salah dengan sikap Amanah, pikirnya.
"Tapi karena anak itu masih memiliki orangtua, Tuan harus meminta ijin pada orangtuanya. Hanya itu syaratnya!" Si Kepala Suku itu menegaskan. "Kami sudah cukup berdosa dengan mencoba menyingkirkannya. Itu adalah dosa pembunuhan. Dosa apa lagi yang coba Tuan tawarkan pada warga desa kami? Jika Tuan memang menginginkannya. Bawa saja anak itu dengan senang hati aku akan membebaskannya. Dengan begitu, aku juga terbebas dari dosa pembunuhan!"
"Apa sebenarnya yang engkau inginkan, Ibu?" Nizar menggeram setelah ia kembali menemui Amanah.
"Ampuni kelancanganku, Tuan! Aku hanya menguji ketulusanmu!" Amanah kembali menjatuhkan dirinya dan berlutut di depan pria itu.
Seketika hati pria itu mencelos. Lalu tercengang beberapa saat.
"Sudikah kiranya Tuan membebaskan putriku dan menikahinya?" Amanah berdesis lirih di antara isak tangisnya yang coba ia redam.
"Haruskah aku menikahinya juga?" Nizar melotot tak senang.
"Aku membutuhkan jaminan bahwa putriku tidak akan menjadi budak setelah dibeli dengan uang!"
"Apa?" Nizar terperanjat. Lalu hatinya terusik mendengar perkataan perempuan itu. Baiklah, aku mulai mengerti sekarang, batinnya. "Putrimu masih anak-anak!"
Perempuan itu merundukkan kepalanya hingga menyentuh tanah.
Nizar menelan ludah. Meski di kota asalnya ia terkenal sebagai Pemimpin Sindikat Mafia terbesar di benua Asia, Nizar adalah pribadi yang pantang mengingkari sumpah. Ia tak yakin bisa mengucapkannya untuk saat ini.
"Tuan kumohon dengan nyawaku, bawalah putriku dan nikahilah dia. Sejujurnya putriku memiliki bakat kelainan yang bisa membuat pria mana pun takkan sudi menikahinya," tutur Amanah jujur. "Ia bahkan tidak pernah diterima di mana pun, di semua tempat." Amanah kembali memelas.
Mendengar penuturan perempuan itu tentu saja membuat hati Nizar terenyuh. Tapi bahkan putri Amanah belum genap sepuluh tahun.
"Kadang aku memang berharap putriku lebih baik mati muda daripada harus menjalani hidup dalam buangan seumur hidupnya. Tapi jika tuan bersedia menikahinya, derajat putriku mungkin akan terangkat karena aku tahu Tuan adalah orang yang sangat berpengaruh di wilayah ini. Aku tidak keberatan meskipun putriku harus menjadi istri kedua atau ketiga. Aku hanya mengharap jaminan bahwa putriku bisa diterima di masyarakat."
"Baiklah!" Nizar menyela Amanah. Ia sudah tak tahan lagi menampung beban perasaan perempuan itu dalam kepalanya. Mendengar penuturannya, membuat hatinya ikut terusik dan merasakan sakitnya. Tapi sekaligus sudah tak sabar.
Urusan penebusan gadis itu sudah berlalu tujuh hari sejak ia melihat Aisha diseret ke dalam bilik pengasingan. Dan hal itu membuat Nizar terpaksa mondar-mandir di desa ini dan melupakan tujuan utamanya. Ia ingin urusan ini segera selesai. Jika hal ini ditunda lagi, gadis kecil itu mungkin sudah tak sanggup bertahan hidup. "Kumpulkan para saksi dan bawalah kepadaku seorang wali nikah. Aku akan menikahi putrimu hari ini juga!"
Amanah tercengang nyaris tak percaya mendengar keputusan pria itu.
"Dan cepatlah sebelum aku berubah pikiran!" Pria berjubah itu menghardik Amanah.
"Satu hal lagi, Tuan!" Amanah mencoba memastikan. "Bersediakah Anda mengucapkan sumpah perkawinan itu tanpa harus menghadirkan putriku?"
Apa lagi sebenarnya yang ia rencanakan? Nizar bertanya-tanya dalam hatinya. Apakah dia berniat merahasiakan ini dari putrinya. Atau, seberapa bahayanya gadis kecil itu jika ia dilepaskan sekarang?
Sudah cukup jelas perempuan ini tidak berani mengambil banyak resiko. Ia hanya ingin putrinya keluar dan pergi secepatnya setelah ia dikeluarkan.
Aku tak peduli, batinnya getir. Aku sudah memutuskan. "Lakukan secepatnya karena urusanku masih sangat banyak!" Nizar mulai naik pitam.
Dan sumpah pernikahan pun tak terelakan. Secara agama, pernikahan Nizar dan Aisha telah resmi. Aisha sudah menjadi istrinya. Nizar tadinya hanya berniat untuk mengadopsinya sebagai anak.
Nizar tidak pernah tahan menyaksikan anak-anak tak bersalah mendapat hukuman. Dan Aisha bukan satu-satunya anak yang pernah ditebusnya dari hukuman pengasingan. Tapi kebanyakan dari mereka hanya untuk diadopsi dan diberi pendidikan tinggi supaya masalah sistem hukum ini bisa mereka benahi sendiri setelah anak-anak itu memiliki gelar.
Tapi perempuan itu malah menjebaknya.
Bagaimana jika suatu saat nanti Aisha menemukan cinta sejatinya?
_
Atheena, 2009
Nizar menghela napas berat dan memejamkan matanya lekat-lekat untuk menekan airmatanya.
Dipandanginya wajah gadis belia di depannya dengan perasaan perih.
Gadis itu baru saja terlelap.
Nizar mengusap-usap pipi gadis itu dengan buku jarinya, untuk memastikan bahwa gadis itu sudah tidur pulas.
Aisha tidak bereaksi.
Nizar memperbaiki selimutnya kemudian mengembalikan kursi belajar Aisha ke tempatnya semula. Lalu berjalan pelan meninggalkan kamar Aisha tanpa meninggalkan suara.
Para pelayan yang mendapati tuannya baru keluar dari kamar Aisha, serentak tertunduk. Hati kecil mereka merasa risih dan tak mampu menentukan sikap. Mereka tak mengerti lagi bagaimana mereka harus memasang muka di depan tuannya.
Di satu sisi mereka sedikit miris mengingat usia Aisha baru menginjak 13 tahun. Seingat pengasuhnya, Aisha bahkan belum mendapatkan menstruasi. Tapi di sisi lain, mereka semua tahu bahwa tuan mereka sudah menikahinya.
Jantung pria itu berdegup kencang mengetahui apa yang mereka pikirkan. Secara alami, pria itu memiliki kemampuan membaca perasaan orang lain meski tak punya kemampuan untuk menguraikan isi pikiran mereka.
Tak seorang pun mengetahui kemampuannya. Karena ia merahasiakannya dari semua orang. Di tempat ini, kemampuan seperti itu tidak dapat diterima. Sekalipun ia cukup yakin bahwa tidak seorang pun di kota ini berani menentang Nizar.
Siapa yang berani menentang Nizar?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Seul Ye
Kalo waktu itu sih, si kengston pun pasti kicep di depan nizar wkwk.
Kalo sekarang, si daxraj mungkin berani 🤣
2022-12-02
0
Dwi Sari
pertama baca novelmu terasa membosankn saya skip yg lonceng ke13 tapi pas baca tata krama saya jdi kecanduan..munkn lain kali dibca lgi yg loncg 13..keren thor..
2021-08-13
1
Reyhan Ibrahim
Vote mendarat, Kak!
.
.
.
.
.
.
.
(Di novel sebelah)
2021-08-02
0