Chapter 11

Suasana di ruang tengah mendadak gaduh. Disusul suara-suara gedoran keras di pintu kamar Aisha.

Kelopak mata di depan Aisha serentak terbuka.

Dan Aisha belum sempat melihat wajahnya.

Pria itu menatap wajah Aisha yang tengah tergagap. Lalu menarik duduk tubuhnya seraya menaikkan selubung wajahnya dan melompat dari tempat tidur Aisha. Kemudian bergegas ke arah pintu dan membukanya.

Suara pekik tangis meledak dari ruang tengah. Disusul suara-suara berdebuk dan berdebam ribut.

Apa yang terjadi?

Langit mendung sepanjang hari. Meski hujan telah reda sejak semalam.

Nizar telah berhasil menenangkan Aisha. Tapi tak berhasil menyingkirkan kepahitan di dalam dirinya.

Pagi itu, El Khanza--ibu Nizar, meninggal dunia tanpa sebab yang jelas.

Tapi Aisha tahu penyebabnya adalah dirinya. Aisha terpuruk di depan pusara El Khanza seraya berdesis lirih. Kenapa kepahitanku selalu berujung maut? Ia meratap di dalam hatinya. "Apakah aku betul-betul terkutuk?" Rintihnya getir. Kemudian sampai di telinga Nizar.

Pria itu menghela napas berat kemudian berjongkok di sisi Aisha. "Dengar, Aisha!" Nizar berbisik seraya menyentuh bahu Aisha dengan lembut. "Aku telah merenggutmu dari ibumu, dan maut merenggut ibuku. Selalu ada harga mahal yang harus dibayar!" Nizar menandaskan.

Aisha terhenyak. Ditatapnya mata pria itu dengan alis bertautan.

Suara pria itu mengingatkan dirinya pada suara pria di dalam mimpinya. Tapi tatapan matanya mengingatkan ruang gelap yang mengungkungnya. Ketika Nizar menarik bangkit tubuh Aisha, sentuhannya terasa seperti rantai besi yang membelenggu tangan dan kakinya.

Pertanda apakah ini? Aisha bertanya-tanya dalam hati. Ia merasakan seluruh tubuhnya mendadak berat dan terbelenggu.

Valentine mengawasi Aisha dan juga ayahnya dengan tampang masam.

Sementara Lilith dan Arya Rachman mematung khidmat di sisinya. Mereka segera pulang setelah menerima kabar El Khanza. Lalu tertegun tiada daya. Kematian El Khanza terlalu mengejutkan bagi keduanya.

Selesai upacara pemakaman itu, semua orang menatap Aisha dengan tercengang. Keberadaannya di tengah keluarga Nizar mengundang banyak pertanyaan. Apakah dia putri Nizar?

Tapi kemudian semuanya dibuat heran ketika Nizar menarik Aisha ke dalam mobil pribadinya, sementara anak-anaknya berada dalam mobil yang terpisah.

"Siapa sebenarnya gadis itu?" Pertanyaan itu bermunculan dari mulut ke mulut. Kemudian menjadi desas-desus.

Nizar adalah orang paling berpengaruh nomor dua di kota Atheena. Tapi kekayaannya mengalahkan orang paling berpengaruh nomor satu, Jason Minor, Walikota Atheena. Dan segala sesuatu tentang Nizar selalu menjadi sorotan publik.

Hari itu, Jason Minor didampingi putranya, menghadiri pemakaman El Khanza. Ardian Kusuma, Dion Markus dan Martin Hernandez juga berada di sana. Sejumlah pengusaha dan orang-orang berpengaruh takkan melewatkan kunjungannya.

Upacara pemakaman El Khanza tidak ada bedanya dengan perjamuan penting para petinggi. Satu-satunya ajang pertemuan ekslusif yang paling dinantikan publik untuk mengekspos kehidupan mereka.

Bahkan Ardian Kusuma dan kedua polisi kota di sampingnya menatap Aisha dengan terbelalak.

Begitu juga Ezra Minor. Putra Walikota itu melirik Aisha sebelum mereka memasuki kendaraannya masing-masing.

Aisha balas meliriknya dengan wajah gelisah.

Pria itu memiliki rambut ikal sebahu berwarna coklat madu dengan iris mata sewarna. Tinggi badannya sama dengan Nizar dan postur tubuhnya sedikit mirip saat berjalan. Tapi usia Ezra Minor tidak lebih tua dari Arya Rachman.

Nizar menyentuh punggung tangan Aisha ketika mereka sudah berada di dalam mobil, dan Aisha masih menatap Ezra tanpa berkedip.

Aisha serentak terkesiap dan mengamati tangan itu tak mengerti. Apakah dia cemburu?

Tatapan pria itu terfokus lurus ke depan. Tampak dingin dan membeku. Tidak ada pancaran berkilat seperti ketika ia menatap Valentine waktu itu. Tapi aura yang dipancarkan dari sikap diamnya lebih mengerikan dibanding saat matanya berkilat-kilat.

Aisha menelan ludah ketika tangan itu meremas tangannya. Jantungnya berdegup kencang karena gusar. Bukan seperti letupan perasaan seseorang yang sedang berbunga-bunga. Tapi kekuatiran yang tak siap diterimanya. Genggaman pria itu terasa seperti sebuah peringatan: Jangan macam-macam denganku!

Nizar mengawasi Aisha melalui sudut matanya.

Gadis itu tertunduk dengan alis bertautan. Aisha tak pernah tertunduk saat gelisah. Kecuali di hadapan Nizar.

Tapi entah kenapa Nizar lebih menyukainya dibanding ketika ia mendongak untuk mengusir kegelisahannya.

Ada dua hal yang paling disukai Nizar dari cara Aisha menghadapi Nizar. Yang pertama, ketika gadis itu menatapnya dengan cermat. Dan yang kedua, ketika ia tertunduk rapuh dan menyerahkan diri.

Nizar mengembangkan senyum di balik kain selubungnya. Sementara Aisha masih tertunduk.

Saat makan malam, Aisha juga terus tertunduk. Tapi putranya juga melakukan hal yang sama. Valentine lebih banyak diam dengan tampang masam. Nizar mengawasi keduanya secara bergantian. Mencoba menerka apa yang sedang mereka pikirkan. Dua insan yang gemar mendongak ini jelas bersikap di luar kebiasaan.

Arya Rachman melirik Valentine dari sisinya. Terkejut mendapati adiknya mendadak pendiam. "Haruskah kau mengenakan benie hat saat makan?" Ia bertanya usil, berusaha mencairkan suasana. Kemudian merenggut beanie hat di kepala Valentine.

Valentine berusaha menghindar dan menepiskan tangan Arya. Tapi terlambat. Beanie hat itu terlepas dari kepalanya, dan seketika rambut coklatnya memburai dan tergerai melewati pinggangnya.

Aisha terkesiap dan terbatuk, tersedak makanannya. Pemandangan itu mengingatkan dirinya pada sosok pria yang kerap muncul di dalam setiap visi dan juga mimpi-mimpinya.

Nizar menatapnya dari seberang meja dengan mata terpicing.

Buru-buru Aisha meneguk air di gelasnya, sementara semua mata menatapnya dengan heran.

Sikap Aisha itu membuat Valentine akhirnya mengangkat wajah. Kemudian meliriknya.

Aisha mengerjap saat pandangannya beradu dengan Valentine. Mendadak salah tingkah.

Nizar mengalihkan perhatiannya kembali pada makanannya dan berpura-pura tidak melihat Aisha beradu pandang dengan putranya.

"Berapa lama kau memanjangkan rambutmu?" Arya Rachman cengengesan seraya mengacak-ngacak rambut Valentine dan melontarkan lelucon mengenai gaya rambutnya. "Apa kau melakukan extensions?"

Valentine menjauhkan kepalanya dari jangkauan Arya tanpa berbicara, masih dengan tampang masam.

Sementara Lilith mengamatinya dari seberang meja sambil mengunyah makanannya dan tersenyum lebar. "Kurasa dia tak pernah merawat dirinya selama di Mesir," komentarnya.

Aisha duduk gelisah kehilangan selera makannya ketika semua bayangan tentang pria berambut sepinggang berkelebat dalam kepalanya. Darahnya berdesir seiring degup jantungnya yang semkin cepat. Ia menyelesaikan kegiatan makannya tanpa menghabiskannya. Bayangan-bayangan hubungan intim di dalam mimpi-mimpinya membuat perutnya tak nyaman.

Sejak Valentine pulang dari Mesir, Aisha belum pernah melihat pria itu melepas beanie hat dari kepalanya. Terakhir kali ia melihatnya, rambut Valentine hanya sebatas pelipis. Aisha tak mengira pria itu memanjangkan rambutnya.

Aisha tidak terkejut melihat pria memanjangkan rambutnya. Ini bukan pertama kalinya Aisha melihat pria berambut gondrong. Arya Rachman juga berambut gondrong. Hanya tak sampai sepinggang.

Bahkan Ezra Minor, putra Walikota juga pengusaha muda terkenal bernama Ardian Kusuma, hingga dua polisi kota yang ditemuinya saat pemakaman. Mereka semua berambut gondrong. Setengah dari tokoh paling berpengaruh di kota ini rata-rata berambut gondrong.

Tapi berbeda dengan Valentine. Selain rambutnya sudah sepinggang, Valentine adalah satu-satunya pria yang memiliki akses ke kamar Aisha selain Nizar. Dan akan menjadi satu-satunya kandidat pria berambut sepinggang di dalam visi Aisha.

Valentine melirik gadis itu melalui sudut matanya namun tetap tertunduk dengan tampang masam.

Nizar juga masih menunduk berpura-pura fokus pada makanannya, sementara hati dan pikirannya mulai berkecamuk dipenuhi dugaan-dugaan yang mengganggunya. Darahnya seketika mendidih. Entah karena marah atau sekedar gelisah.

Terpopuler

Comments

Agil Revenely

Agil Revenely

mana action nya 😑

2021-07-26

0

Gista Adelia

Gista Adelia

pokoknya aku yakin banget Nizar cinta sejati Aisha

2021-07-21

0

Eci Bae

Eci Bae

Apa?
El Khanza meninggal setelah cari gara" sama Aisha 😳

2021-06-16

0

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 83 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!