"Whoa..." Diana tercengang ketika mereka keluar dari kantin kemudian mengintip ke arah lima gadis yang tadi histeris di kantin dan sekarang sudah berkerumun di koridor, sedang menggoda seorang anak laki-laki. "Dia memang tampan!" Ia berkomentar.
Serta-merta Vita ikut-ikutan mengintipnya melalui bahu gadis-gadis centil itu. Vita juga memekik senang dan menepuk bahu Aisha. "Untuk yang satu ini aku yakin kau akan setuju!"
Aisha terpaksa mengikuti arah pandangnya sepintas dan tersenyum tipis.
Seorang pria tinggi berwajah putih kemerah-merahan tengah mengedar pandang dengan rahang mendongak. Hindung mancungnya tampak menawan ketika ia menoleh ke sana kemari, karena ditilik dari sudut mana pun bentuk hidung mancungnya terlihat sempurna. Kedua matanya berbinar tajam ketika ia melayangkan pandang ke sekeliling tempat, entah sedang mencari siapa.
"Apa kau sedang mencari belahan jiwamu yang hilang, Tampanku?" Salah satu dari lima gadis centil itu menggodanya.
Aisha mengawasi pria itu tanpa minat. Mereka benar, katanya dalam hati. Pria itu memang tampan. Tapi raut wajah angkuhnya mengingatkan dirinya pada putra Nizar. Dan hal itu menyadarkan dirinya pada sebuah kenyataan bahwa ia akan menikahi pria tua sebentar lagi. Bukan pria tampan. Lupakan soal pria tampan! Ia mengingatkan dirinya.
"Hey, masak kau tidak tertarik juga pada pria setampan itu?" Diana melengak mengamati Aisha.
"Pria seperti apa sih sebetulnya sosok idamanmu?" Vita mulai penasaran.
"Aku suka pria tua," jawab Aisha sedikit sinis. Kemudian melengos menuju ruang locker.
Kedua sahabatnya itu membelalak bersamaan.
Suka tidak suka, aku akan menikahi pria tua, katanya dalam hati. Kenyataan itu membuat Aisha tak lagi mempercayai visinya. Meski sampai sejauh ini banyak hal terjadi sesuai visinya, kecuali mengenai sosok pria tinggi berambut panjang yang wajahnya masih menjadi misteri sampai sekarang seperti Nizar.
Pria itu tidak terbukti pernah ada di dunia ini, katanya dalam hati.
"Hi, Mom!" Tiba-tiba suara seorang pria menggelegar di belakang Aisha dan mengejutkannya.
Aisha melonjak dan menoleh ke arah sumber suara. Lalu terkesiap.
Seorang pria tinggi mengenakan beanie hat tahu-tahu sudah berdiri setengah merunduk di dekat Aisha seraya menyeringai ke arahnya. "Aku mencarimu dari tadi," katanya.
Aisha memicingkan matanya mengamati pria berjaket musim dingin berwarna cokelat itu dari atas sampai ke bawah. Kemudian kembali ke atas, ke wajahnya. Bukankan pria ini yang tadi membuat heboh anak-anak gadis? Katanya dalam hati.
"Kau tidak mengenaliku?" Pria itu bertanya heran.
Aisha menelan ludah tak kalah heran, kemudian mengedar pandang dan mendapati dirinya hanya sendirian di ruang locker itu. Ia mengetatkan rahangnya dan memutar tubuhnya menghadapi pria itu. Aku akan menghancurkan wajah tampannya kalau dia berani macam-macam padaku, katanya dalam hati.
"Wah," dengus pria itu. "Kau betul-betul tidak mengenaliku?!"
"Apa maumu sebenarnya?" Aisha bertanya dengan nada datar.
Pria itu menggembungkan pipinya dengan tampang kecewa. "Aku sebetulnya hanya ingin menjemputmu..." Pria itu menatap mata Aisha dan melanjutkan. "Mom!" Pria itu kembali menyeringai.
Aisha terkejut. Kemudian mengerutkan dahi. "Apa kau bilang? Mom?!" Ia memelototi pria itu.
"Apa aku harus memanggilmu, Ummi?"
Aisha menelan ludah.
"Apa perlu aku juga mencium tanganmu?" Pria itu serentak merampas tangan kanan Aisha dan mengecup punggung tangannya.
"Whoaa..." Seketika ruang locker itu berubah gaduh.
Vita dan Diana sedang melotot mengamati Aisha dan pria itu. "Ternyata pria tampan itu kekasihmu?" Diana melengak tak percaya. "Pantas saja kau tidak terkejut waktu semua orang berebut perhatiannya!"
Aisha menepiskan tangan pria itu secepatnya, kemudian memutar tubuhnya dan membuka locker-nya. Setelah ia menjejalkan sejumlah buku ke dalam tasnya, ia menutup pintu locker-nya dan menyampirkan tas ke bahunya.
Sementara pria tadi masih berdiri di belakangnya seraya mengedar pandang mengamati wajah gadis-gadis yang mulai berkerumun di depan pintu.
Vita dan Diana menghambur ke arah Aisha dan mulai cengengesan ke arah pria tampan itu. "Halo, tampan!" Goda Diana seraya melambai-lambaikan telapak tangannya, lalu mengulurkan tangannya. "Aku Diana, teman Aisha!"
"Hi," balas pria itu menyambut jabatan tangan Diana. "Aku Valentine," katanya. Kemudian menyalami Vita juga.
Aisha memekik tertahan. Ternyata dia putra Nizar, batinnya. Tapi haruskah dia memanggilku ibu? Aisha mengetatkan rahangnya menahan geram. Aisha mendelik kesal ke arah Valentine. Lalu mengambil sikap meninggalkannya.
"Hey!" Valentine menangkap pundaknya. "Nice to meet you," katanya pada Vita dan Diana.
Kedua gadis itu menatap Aisha dengan alis bertautan. "Apa dia cemburu pada kita?" Diana berbisik pada Vita.
Vita menggeleng. "Kurasa mereka sedang bertengkar sebelum kita memergokinya," komentar Vita.
Kedua gadis itu memperhatikan Aisha menghilang dan Valentine mengekor di belakangnya.
"Aku tak tahu kau sudah kembali." Aisha berkata setelah mereka berada di pekarangan.
"Akhirnya kau mengingatku!" Pria itu mengerjapkan matanya. "Aku sudah lulus, apa kau belum tahu?"
Aisha menoleh ke arah pria itu dan menatapnya. "Benarkah?"
"Ya!" Valentine menyaringai bangga. "Jangan khawatir, aku takkan mengganggu kencanmu dengan Abi!"
Aisha mendengus kesal dan memelototinya.
"Coba tebak hadiah apa yang diberikan Abi atas prestasi gemilangku?! Valentine mencengkeram lengan Aisha dengan raut wajah berbinar-binar senang. Kemudian menarik gadis itu keluar pekarangan setengah berlari.
Kelima gadis centil yang tadi menggodanya serentak memekik terkejut menyaksikan pemandangan itu dengan tatapan iri.
"Tadaaa...!" Valentine merentangkan tangannya seraya menyeringai di depan sebuah Bugatti Chiron warna merah mengkilat yang masih tampak baru.
Aisha membelalakkan matanya seraya menutupi mulutnya yang membulat dengan telapak tangannya. Seberapa kaya sebenarnya pacar tuaku itu? Aisha bertanya-tanya dalam hati. Apa pria tua itu juga punya pabrik uang sendiri?
"Bagaimana menurutmu?" Valentine meminta pendapatnya.
Ditanya seperti itu wajah Aisha berkerut-kerut kebingungan. Aku harus menjawab apa?
Valentine menaikkan sebelah alisnya menuntut jawaban.
"Kuharap hadiahnya sesuai dengan prestasimu," komentar Aisha sekenanya.
"Hahaha..." Valentine tergelak, memamerkan sederet gigi kecilnya yang mirip biji mentimun. "Sejujurnya nilai prestasiku lebih tinggi dari sekian juta dolar!" Valentine menyombongkan diri.
Aisha menanggapi pria itu dengan senyum tipisnya yang khas.
"Ayolah," kata Valentine setelah itu. "Aku akan mengajakmu berkeliling sebentar sebelum pulang." Valentine menepuk-nepuk kap mobil barunya.
Tepat pada saat Valentine menggamit lengan Aisha, Vita dan Diana baru saja keluar menuju pekarangan. Kedua gadis itu kembali terpukau menatap Bugatti Chiron milik Valentine. "Aisha betul-betul beruntung," ungkap Diana ketika mereka melewati lima gadis centil yang sedang bergunjing membicarakan Aisha.
"Dia memang pantas memilikinya!" Vita menimpalinya. "Aisha cantik tanpa polesan make-up tebal," sindirnya. "Dia juga tidak genit!"
Kelima gadis tadi sontak membeliak sebal ke arah mereka. Tapi tak satu pun berani menyela. Salah satu dari mereka kemudian menarik tangan yang lain dan mengajak teman-temannya menyingkir dari pekarangan.
Selepas kepergian gadis-gadis itu, Diana dan Vita meledak tertawa.
"Kau memang berbakat menjadi wanita keparat," komentar Diana puas.
"Oh, tidak," sergah Vita. "Aku wanita jahanam!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Delilah
Aku kok curiga bakal jadi persaingan cinta antara ayah dengan anak
2021-08-01
2
Nusan
Kirain bakal jadi bahan bullying juga di kampus
2021-07-29
0
Agil Revenely
Dan gw tak setampan putra Nizar
Gw gak bisa arogan
2021-07-26
0