Nizar memarkir mobilnya di depan sebuah bangunan tua mirip gereja. Kemudian keluar dari mobilnya dan seorang wanita berjubah gelap dengan cadar menghampirinya seraya menyodorkan jubah yang sama ke arahnya.
Nizar mengenakan jubah itu, kemudian mengeluarkan telepon seluler dari saku celananya dan memeriksanya.
"Matikan benda konyol itu!" Perempuan bercadar itu memarahinya. "Benda itu sudah tak berguna di sini."
Nizar mematikan ponsel itu dan menaruhnya ke dalam dasbor mobilnya.
Tak lama kemudian keduanya memasuki gedung lapuk itu dan bergabung dengan sekumpulan orang berjubah sama.
Mereka semua duduk bersila dan merunduk di atas kitab berjilid kulit harimau seraya bergumam membacakan mantera-mantera aneh.
Seorang gadis kecil terbaring tak sadarkan diri berselimut kain hitam di lantai podium di depan mata semua orang. Cahaya kuning dari ratusan lilin berpendar mengelilingi tubuhnya.
..._...
"Kalian semua ikut kami ke kantor untuk dimintai keterangan!" Seorang Petugas Kepolisian menginstruksikan.
"Semuanya?" Pria berambut sebahu dari kelompok pengendara sepeda motor sport bertanya.
"Ya, semuanya." Petugas itu menegaskan. "Tanpa terkecuali!"
Semua orang dalam kerumunan itu serempak mengerang.
Lebih dari lima puluh orang yang terlibat dalam tawuran tadi, yang pada saat ini masih berada di lokasi. Tapi kebanyakan dari pihak yang membela gadis Penari. Dari pihak musuhnya hanya tersisa dua orang yang langsung diringkus dengan cara khusus.
Pria berambut sebahu dari kelompok pengendara itu mengajukan keberatan. "Saya dan adik sepupu saya akan mewakili kelompok pengendara sepeda motor sebagai penanggung jawab!"
Pria itu mengusulkan untuk membawa perwakilan saja dari tiap kelompok dan langsung disetujui setelah petugas itu menatap matanya.
Pria itu menghipnosis petugas, pikir Aisha geli.
"Bagaimana dengan anak ini?" Diana menyela.
"Bawa saja dulu!" Vita mengusulkan. "Untuk sementara kau jadi ibunya!"
"Bagus!" Diana mendengus.
Dua Polisi Kota di belakang petugas yang menangani mereka menyeringai ke arah Vita. Salah satu dari mereka adalah kekasihnya, Dion Markus. Dan satu lagi sudah bisa dipastikan adalah Martinez atau Martin Hernandez.
Kedua Polisi Kota itu tidak dapat dipisahkan. Keduanya sudah menjadi satu paket sejak mereka masuk dalam cerita.
Dan akhirnya, Gadis Penari didampingi Penari Pria, Pria Bergitar, Pengendara Sepeda Motor Sport bersama adik sepupunya, anak laki-laki berusia 12 tahun, Aisha, Valentine, Vita dan Diana juga anak laki-laki berusia sembilan tahun itu berangkat ke kantor polisi. Sebagaimana sudah direncanakan penulis sebagai tokoh utama.
"Pastikan saja di sana ada studio musik!" Si Pengendara sepeda motor sport itu mulai mengoceh seperti perempuan. "Penulis keparat ini sedang berusaha membentuk kita menjadi grup Metalhead!"
"Selamat datang di Kawasan Wajib Gondrong!" Dion Markus menimpali.
..._...
Nizar menengadah mengamati langit malam yang kembali cerah setelah halilintar menggelegar. Udara malam ini akan panas, batinnya.
"Sejak kapan kau mulai punya kebiasaan baru?" Suara itu mengusik Nizar.
Nizar menurunkan mukanya dan menoleh ke belakang.
"Apa kau sedang berencana membangun kota yang puncaknya sampai ke langit?" Suara lainnya menimpali.
Ardian Kusuma dan Ezra Minor tahu-tahu sudah berdiri berdampingan sambil menyeringai di belakang Nizar. Kedua pria itu juga mengenakan jubah serupa.
Nizar menghela napas dan berbalik menghadap keduanya. Tapi ia diam saja. Raut wajahnya tidak terbaca karena selubung kain pada wajahnya tidak bergeser sedikit pun meski kedua pria di depannya mengetahui wajahnya.
"Bisakah Anda memperlihatkan wajah Anda?" Seorang petugas menegur Gadis Penari dari seberang mejanya.
"Maaf," desis gadis itu seraya berbalik menjauhi meja petugas.
Petugas itu mengerutkan dahi ketika gadis itu memutar tubuhnya hanya untuk membuka topeng.
Ia berjalan ke arah bangku tempat penari pria menunggunya.
Pria berambut sebahu yang membawa gitar yang duduk di sisi penari pria mengawasinya penuh tanda tanya. Apakah membuka topeng saja butuh ritual khusus?
Gadis itu berjongkok di depan penari pria dan menarik topengnya.
Pria berambut sebahu tadi terkesiap. Ia menelan ludah menatapnya tanpa berkedip.
Gadis itu balas menatapnya.
Tak lama keduanya dikejutkan suara Si Pengendara sepeda motor yang berdeham.
"Siapa nama Anda?" Petugas itu bertanya setelah gadis itu setelah terpana beberapa saat.
Reaksi yang sama juga ditunjukkan semua orang dalam ruangan. Gadis itu ternyata sangat cantik. Ia tak butuh mantera khusus untuk menghipnosis semua orang.
Pria bergitar itu merasa paling beruntung mendapat giliran pertama melihat wajahnya.
"Dewi Samudera," desis gadis itu.
"Apa?" Petugas di depannya tergagap.
"Nama saya Dewi Samudera!"
"Oh, sorry!" Petugas itu mendadak salah tingkah. Ia berdeham dan secepatnya memperbaiki durja sebagai petugas. "Apa itu semacam nama panggung?"
Gadis itu menggeleng.
"Bisa Anda tunjukkan kartu identitas Anda?"
Gadis itu menyerahkan kartu identitasnya.
Petugas itu memeriksanya dengan seksama. Lalu kembali mengerutkan dahi. Kemudian menyerahkannya kembali setelah ia mencatat datanya.
Setelah itu Dewi Samudera mulai dimintai keterangan mengenai kejadian di pusat karnaval.
Anak laki-laki berusia 12 tahun itu mencuri pandang ke arah Aisha dari sudut ruangan di samping Diana. Anak itu berdiri di dekat jendela kaca dan menyandarkan bahunya pada dinding seraya bersedekap.
Valentine mengawasi anak laki-laki itu melalui sudut matanya.
Aisha menyadarinya. Tapi ia berpura-pura sibuk dengan telepon selulernya. Sebuah panggilan masuk tiba-tiba mendominasi layar dan membuatnya sedikit terkejut dan mendadak salah tingkah.
Martin Hernandez yang pada saat itu berdiri di belakang tempat duduk Aisha, memperhatikan nama pada layar ponsel Aisha dan tertegun menatapnya.
Mohammed Nizar Ibraheem!
Gadis ini menyimpan nama lengkap Nizar dalam kontaknya. Martinez membatin. Gadis ini bukan putrinya!
Aisha menelan ludah dan mengedar pandang. Kemudian mematikan layar ponselnya dan mengabaikan panggilan itu. Lalu berdeham dan melipat kedua tangannya di depan dada seraya menyandarkan punggungnya.
Valentine dan Diana sedang sibuk mengerumuni anak laki-laki sembilan tahun bersama Vita dan juga kekasihnya. Mereka sedang sibuk menanyai anak berkekuatan super itu dengan antusias.
Sementara anak itu hanya duduk melengkung di sudut sofa di sisi Diana.
"Siapa namamu?" Diana bertanya padanya.
Anak itu mengedar pandang dan tampak ragu-ragu. "Aku..."
"Jangan takut!" Vita berusaha membujuknya. "Kami bukan orang jahat. Kami jagoannya. Tapi kau pahlawannya!" Ditepuknya bahu anak itu untuk menyemangatinya.
"Ya, dan kau merupakan salah satu dari tokoh utama dalam novel ini!" Valentine menambahkan. "Katakan saja siapa namamu, siapa orangtuamu dan kemana kau pulang. Karena kami harus mengantarmu nanti!"
"Namaku Raden Agung Tirtayasa Putra," tutur anak itu dengan tampang polos. Tapi tatapan matanya menyiratkan kecerdasan tingkat dewa.
Diana menggembungkan pipinya seraya memutar-mutar bola matanya. Panjang sekali, batinnya. "Apakah itu jawaban gabungan untuk pertanyaan nama, orang tua dan alamat? Bagaimana kami memanggilmu?"
Anak laki-laki itu kembali melengkungkan punggungnya dan merunduk. Tapi matanya menatap Valentine dan juga Vita yang berjongkok di depannya. "Di rumah, aku biasa dipanggil Agung!"
"Nama lengkap?" Si petugas masih tampak sibuk menginterogasi semua orang dalam ruangan.
Giliran Si Pengendara sepeda motor sekarang yang duduk di depan meja petugas. "Evan Jeremiah!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
hanz
hahaha ..
aku pikir sudah satu paket sejak masuk kepolisian.
2024-07-15
0
Dwi Sari
mau komen g jadi..
2021-08-14
0
Agil Revenely
baiklah, saatnya tidur, penulis keparat,, 🥱
see you soon ✌️
2021-07-27
0