Chapter 6

Sesaat setelah Aisha terlelap. Gadis itu merasakan selimut di tubuhnya bergerak. Lalu seseorang memeluknya dari belakang. Gadis itu berusaha membuka matanya ketika sepasang bibir menyentuh tengkuknya. Hembusan napas hangat seseorang menggelitik lehernya.

Tak lama kemudian sepasang tangan tadi menyelinap ke dalam selimutnya dan mulai merambat di perutnya, kemudian menjelajah ke bagian lain dan mulai menyentuh ***********.

Gadis itu terkejut menyadari *********** telah tumbuh. Aku pasti sedang bermimpi, batinnya tak percaya.

Tapi sentuhan itu terasa begitu hangat dan kuat. Terlalu nyata untuk dikatakan sebuah mimpi.

Detik berikutnya, tangan itu memutar tubuh Aisha ke posisi terlentang, dan seorang pria berambut panjang yang telah dikenalnya dalam mimpi-mimpinya, kemudian merunduk, membenamkan wajahnya di bawah dagunya. Bibir pria itu menyesap lembut bagian sensitif di dada Aisha.

Aisha mengerang. Sensasi rasa hangat menyelinap di dalam hatinya, kemudian menjalar ke sekujur tubuhnya. Tanpa sadar, gadis itu tahu-tahu sudah menekankan kepala pria itu semakin dalam ke dadanya. Perasaan hangat itu berubah memanas hingga tubuhnya menggelenyar dan sesuatu yang hangat keluar dari kewanitaannya.

"Aisha?!" Ia mendengar seseorang membisikan namanya.

Gadis itu menggeliat perlahan, tak rela melepaskan sentuhannya.

"Aisha?!" Suara itu semakin meninggi dan mengejutkannya.

Aisha tersentak dan menarik tubuhnya hingga terduduk.

"Apa kau baik-baik saja?" Suara perempuan di sisi tempat tidurnya membuat Aisha menelan ludah.

Gadis itu mengerjap dan tergagap.

Wajah Hannah berkerut-kerut khawatir di sampingnya.

"Hannah," desisnya tercekat.

"Apa kau bermimpi buruk?" Hannah bertanya lagi.

Ditanya soal mimpi, kedua pipi Aisha serentak merona. Tiba-tiba gadis itu malu sendiri mengingat isi mimpinya. "Pukul berapa sekarang?" Aisha mengalihkan pembicaraan tanpa berani menatap ke arah Hannah.

"Sudah pukul tujuh," sahut Hannah datar. Sepasang matanya tak lepas mengawasi gadis itu tanpa berkedip.

Tadi malam tuan berada di kamarnya, katanya dalam hati. Apakah di antara mereka sudah terjadi sesuatu? Ia bertanya-tanya. Tapi kemudian mengenyahkan pikiran itu. Bukan urusanku, batinnya mengingatkan dirinya sendiri. Bagaimana pun juga, mereka berdua sudah suami-istri.

Aisha menurunkan selimutnya ragu-ragu kemudian menatap bagian bawah tubuhnya dengan takut-takut. Kemudian mengintip ke dalam gaun tidurnya dan mendapati dadanya yang masih rata.

Hannah masih mengawasinya dengan tatapan curiga.

Gadis itu menyingkirkan selimutnya kemudian beranjak dari tempat duduknya. Mimpi itu lagi, batinnya. Dan sekarang semakin aneh.

Oh, tidak! Hannah memekik tertahan. Sepasang matanya tengah menatap noda darah di bagian belakang gaun Aisha.

Aisha menoleh ke arah pengasuhnya dan melengak. "Hannah?!"

Perempuan itu menutup mulutnya yang membulat dengan telapak tangannya. Sebelah tangannya menunjuk gaun tidur Aisha yang bernoda darah.

"Ada apa?" Aisha bertanya panik seraya meliukkan tubuhnya dan menjerit.

Hannah segera menyambar tubuh gadis itu dan memeluknya. "Sssshhh..." Ia mendesis dan mengusap-usap bahu Aisha. "Apa rasanya sakit?" Hannah bertanya.

Dua orang pelayan menyeruak masuk ke dalam kamar Aisha.

Tapi Hannah kemudian mengacungkan telapak tangannya, mengisyaratkan kedua pelayan itu untuk segera keluar.

Aisha tergagap-gagap kebingungan. "Hannah, apa yang terjadi padaku?" Ia bertanya gusar.

Hannah menghela napas dan berusaha menenangkan diri. "Duduklah, Aisha!" Perempuan itu menekan sedikit bahu gadis itu saat ia mendudukannya. "Apa itu terasa sakit?" Ia bertanya.

"Tidak, Hannah! Aku tidak merasakan apa-apa? Apa sebenarnya yang terjadi pedaku? Kenapa aku berdarah?" Aisha masih tergagap-gagap kebingungan.

Sekarang Hannah menarik berdiri tubuh Aisha dan menepuk bokong Aisha agak keras.

"Hannah?!" Aisha menghardiknya. "Apa sebenarnya yang sedang coba kaulakukan?"

"Kau tidak merasakan sakit?" Hannah menautkan kedua alisnya.

Begitu juga dengan Aisha. Gadis itu menatap pengasuhnya dengan dahi berkerut-kerut tak mengerti.

Sekali lagi, Hannah menghembuskan napas berat dan menatap wajah Aisha. "Apa semalam... Tuan menyentuhmu?" Hannah bertanya ragu-ragu.

Aisha tergagap. Tak yakin jawaban apa sebenarnya yang diharapkan Hannah. "Aku--entahlah," katanya terbata-bata. "Sebenarnya aku yang menyentuhnya, dan..." Ia memelukku semalam, katanya dalam hati. Karena aku ketakutan dan berlaku bodoh. Apa itu tidak pantas? Ia bertanya-tanya. "Aku ketakutan semalam, apa kau lupa?"

Hannah masih menunggu Aisha melanjutkan cerita.

"Apa sebenarnya yang sedang coba kau tanyakan?" Aisha balik bertanya.

"Aku hanya ingin memastikan..." Hannah menggantung kalimatnya dan tergagap.

Sekejap bayangan mimpinya berkelebat dalam kepala Aisha dan hal itu membuatnya kembali tersipu. Tidak, katanya dalam hati. Yang itu hanya mimpi. "Tidak, Hannah! Tidak!" Ia meyakinkan Hannah. "Dia tidak berbuat macam-macam padaku," katanya seraya mengernyit.

Hannah menghembuskan napas lega kemudian mendorong bahu gadis itu menuju kamar mandi. "Aku akan menyiapkan pembalut," katanya riang. "Kau sudah dewasa sekarang, Aisha!"

Aisha mengerutkan dahi kemudian mulai mengerti.

Saat sarapan, Aisha menggeliat-geliut memegangi perutnya. Oh! Ya, Tuhan! Kenapa perutku sakit sekali?

Nizar mengawasi gadis itu dari seberang mejanya.

Wajah Aisha memucat dan sebutir keringat dingin menggelinding di pelipisnya.

Pria itu melompat dari tempat duduknya kemudian mendekat ke arah Aisha.

Membuat semua pelayan terperanjat karena terkejut.

"Aisha, apa kau baik-baik saja?" Pria itu bertanya khawatir.

Ketiga anaknya memperhatikan mereka dengan tatapan cemburu.

Aisha menggangguk dan menelan ludah. Kemudian memaksa mengembangkan senyumnya. "Aku tidak apa-apa," katanya cepat.

"Kau pucat, Aisha!" Suara pria itu menggelegar menggetarkan seisi ruangan.

Para pelayan itu ketakutan.

Hannah segera menghambur ke arah mereka dan membisikan sesuatu di telinga tuannya.

Seisi ruangan memandangnya dengan mata terbelalak.

Nizar memicingkan matanya dan menatap wajah gadis itu dengan wajah berkerut-kerut. "Hari ini aku mengijinkan Aisha libur sekolah dan ia boleh makan di kamarnya!"

Seisi ruangan menahan napas. Lalu menunduk menghindari tatapan Nizar yang sudah mulai menjelajah seisi ruangan, mengamati wajah para pelayan itu satu per satu.

"Mari, Syeikha!" Hannah menarik tangan Aisha dengan lembut dan membimbingnya.

Tapi saat gadis itu berdiri, kepalanya merayang dan penglihatannya memburam.

Dengan sigap, pria bercadar itu menangkap tubuhnya dan menggendong Aisha. "Hannah!" Ia berteriak mengisyaratkan Hannah untuk mengikutinya ketika ia membopong tubuh Aisha menuju kamarnya setengah berlari.

Ketiga anaknya tercengang dan bertukar pandang.

"Makanlah duluan!" Nizar berteriak pada anak-anaknya.

Kemudian para pelayan di ruang makan itu serentak bergerak melayani ketiga anaknya.

Sesampainya di kamar Aisha, pria itu meletakan tubuh gadis itu di tempat tidurnya, kemudian mengambil bangku yang semalam dipakainya untuk menemani Aisha dan sekarang ia kembali duduk dengan posisi yang sama.

Aisha menatap pria itu dengan tatapan nanar. Ia membuka mulutnya perlahan, mencoba mengatakan sesuatu. Tapi yang keluar hanya rintihan.

Pria itu membantunya ketika gadis itu memaksakan dirinya untuk bisa duduk. Ia menyusun bantal di belakang tubuh Aisha hingga tinggi kemudian menyandarkan punggungnya.

"Tuan, apakah mau sekalian makan bersama Syeikha?" Hannah bertanya seraya merundukkan kepalanya.

Pria itu tercenung sesaat seraya memandangi Aisha kemudian mengangguk ke arah Hannah.

Hannah meletakkan nampan berisi makanan Aisha pada meja kecil di sisi tempat tidurnya, kemudian menepukkan kedua telapak tangannya. Tak lama dua pelayan menghampirinya dan Hannah meminta keduanya menyiapkan makanan untuk tuannya.

"Apakah itu terasa sakit?" Nizar bertanya pada Hannah.

"Tidak semuanya, Tuan! Tapi dalam beberapa kondisi gejalanya akan terasa sangat sakit di bagian perut." Hannah menjelaskan.

"Apakah berbahaya?" Nizar bertanya lagi.

Hannah tersenyum. Ini adalah pertama kalinya Hannah mendengar tuannya bertanya lebih dari satu kali seumur hidupnya. Nizar tidak pernah bertanya lebih dari satu kali mengenai hal yang sama. "Tidak, Tuan!" Hannah meyakinkan tuannya. Ia pasti khawatir setengah mati, pikirnya.

Terpopuler

Comments

hanz

hanz

tiga belas tahun dadanya masih rata ? 🤔

2024-07-15

1

Seul Ye

Seul Ye

Kaya begini dibilang karya aib.
Dasar penulisnya aja yg perfeksionis 🤣

2022-12-11

0

Amara Riney

Amara Riney

Kan ngeselin 😂
Cumiiii 😅

2021-08-10

0

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 83 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!