Chapter 19

"Aisha!"

Aisha mendengar pintu di depannya berderak, disusul suara logam terpelanting. Tubuh gadis itu semakin gemetar tak terkendali.

Tak lama ia mendengar suara mendesis di atas kepalanya. "Aisha, tenanglah!" Lalu sepasang tangan mencengkeram kuat bahunya.

"Tidak...! Kumohon...! Kembali! Kembali! Aku tak ingin merasakan sakit yang seperti ini lagi!" Aisha berusaha meronta seraya menjerit-jerit.

Tapi cengkeraman pada bahunya jauh lebih kuat. "Sssshhh... Sssshhh...!" Sepasang tangan menghela tubuhnya hingga berdiri kemudian mendekapnya dengan kuat.

"Tidak!" Pekik Aisha. "Lepaskan aku!"

Diluar dugaannya, dekapan itu seketika terlepas. Sesosok pria tinggi berambut sepinggang berwarna hitam mengkilat menatapnya dengan wajah khawatir. Sosok pria yang sudah sangat dikenalnya selama ini. Sosok pria yang selalu muncul di dalam setiap visi dan mimpi-mimpinya.

Aisha terkesiap mendapati sosok itu begitu nyata. Ia bahkan bisa melihat wajahnya sekarang. Begitu dekat di depan matanya. Seraut wajah lancip dengan hidung mancung yang mendongak sempurna, Alis tegas yang membingkai sepasang mata berbulu lentik dan sepasang bibir tipis yang mempesona. Semuanya terlihat begitu jelas dan spesifik. Ini terlalu nyata untuk dikatakan sebuah mimpi.

"Apa kau tidak mengenaliku?" Pria itu bertanya.

Tentu saja aku mengenalimu, batin Aisha. Kau adalah sosok pria yang kukenal dengan cukup baik di dalam mimpiku. Meski selama ini aku tak pernah melihat wajahmu, aku tahu itu kau. Tapi kenapa kau berada di sini? Di rumah Nizar!

"Aisha?!" Pria itu mengguncang bahu Aisha.

Aisha melirik tangan yang mencengkeram bahunya dengan alis bertautan, kemudian menyentuhnya dan tercenung.

Wajah di depannya berkerut-kerut kebingungan. Lalu mengedar pandang dan mendapati dua lembar kertas berserak di lantai. Seketika hatinya terasa perih. Lalu menatap Aisha dengan tatapan terluka. "Maafkan aku, Aisha!" Ia mendesis seraya menarik dagu Aisha dan mengangkat wajahnya yang tampak terguncang. Lalu memeluknya. Aku tak mengira keputusanku akan melukaimu, sesalnya dalam hati.

Perasaan hangat sekaligus perih menyelinap di dalam hati Aisha.

"Hannah!"

Aisha terperanjat mendengar pria itu berteriak memanggil pengasuhnya. Secepatnya ia menarik dirinya dari pelukan itu kemudian mengamati pria di depannya.

Tak lama kemudian pengasuhnya menghambur ke dalam kamarnya.

Aisha memekik tertahan ketika melihat pria itu berbicara pada Hannah. "Siapa kau sebenarnya?" Aisha bertanya terkejut.

Pria itu menyentakkan kepala dan mengalihkan perhatiannya dari Hannah. "Kau tidak mengenaliku?" Ia bertanya lagi.

Aisha menelan ludah dan mencoba untuk bicara lagi tapi kemudian tak tahu apa yang harus dikatakannya.

Sesaat pria itu melepaskan kedua tangannya dari bahu Aisha, kemudian membungkuk memunguti kertas yang berserak di atas lantai dan kembali merangkul Aisha. "Bereskan kamar Syeikha dan perbaiki pintunya. Malam ini Syeikha tidur di kamarku!" Pria itu berkata pada Hannah. Kemudian menarik Aisha ke luar dari kamarnya.

Valentine menghembuskan napas berat seraya menjatuhkan dirinya di lantai selasar. Kemudian memejamkan matanya seraya menyandarkan punggungnya pada dinding basah di bawah jendela kamar Aisha. Seluruh tubuhnya gemetar dan kehilangan tenaga. Tak dipedulikannya lagi cipratan air hujan yang telah membasahi sekujur tubuhnya. Ia kembali patah arang.

Aisha masih tercengang menatap wajah pria di depannya tanpa berkedip. Ia masih belum bisa membedakan penglihatan dengan kenyataan.

Pria itu bersedekap di depannya tanpa berkata sepatah kata pun.

Sementara Aisha mendongak mengawasinya dari tepi tempat tidur yang kini menjadi tempat duduknya.

"Bicaralah, Aisha!" Akhirnya pria itu memulai pembicaraan.

Aisha tak bereaksi. Masih tercenung memandanginya dengan tatapan nanar.

Pria itu menelan ludah kemudian menurunkan kedua tangannya dan mendekat. Lalu duduk di sisi Aisha.

Aisha belum lepas memandanginya. Ia bahkan belum berkedip sejak ia di bawa ke kamarnya.

"Jika ini masalahnya, baiklah!" Pria itu mengangkat lembaran kertas di tangannya, kemudian merobeknya di depan mata Aisha.

Aisha memekik tak percaya.

Pria itu menatap ke dalam mata Aisha. "Aku takkan melakukannya lagi, aku janji!"

Entah kenapa kata-kata itu seperti mengandung kekuatan magnet yang menarik kuat tubuh Aisha ke dalam dekapannya dan menyadarkannya. Seketika itu juga tangisan Aisha mulai meledak. Bukan Valentine, batinnya. "Ternyata..." Aisha terbata-bata. "Ternyata kau..." Aisha membenamkan wajahnya di dada pria itu.

Dada pria itu berdegup kencang ketika bibir Aisha menyentuh kulit dadanya yang terbuka. Pria itu mengenakan pakaian tidur model kimono berbahan satin. Karena panik tadi, ia tak sempat menggantinya saat ia menghampiri kamar Aisha. Ia tak mengira malam itu ia akan memeluk Aisha. Dan ini pertama kalinya kulit mereka bersentuhan. Situasi itu betul-betul membuatnya gugup sekaligus berdebar-debar.

Aisha merasakan debaran di dalam dada pria itu ketika ia menangis dalam pelukannya. Membuat jantungnya ikut tersengat, kemudian meledak-ledak.

Aisha menarik wajahnya dari dada pria itu dan menatap wajahnya sekali lagi. Berusaha memastikan sosok itu tidak berubah atau menghilang. Ini benar-benar nyata, batinnya. "Ternyata kau sangat tampan!" Aisha berdesis.

Pria itu mengerutkan dahinya. "Sejak kapan kau mulai belajar merayu?"

"Apa?" Tangisan Aisha mendadak terhenti. "Apa kau tak bisa membedakan rayuan dengan pujian?"

Pria itu tertawa ringan. "Aku sudah tua, Aisha! Apa kau lupa?"

Seketika wajah Aisha bersemu merah. Terbersit rasa bersalah mengingat dirinya pernah membayangkan pria itu setua ibunya. "Tidak," bantah Aisha. "Kau tak setua itu!" Itu adalah pertama kalinya Aisha melihat pria itu tanpa selubung di wajahnya. Nizar memang tak semuda harapannya, tapi ia juga tak setua yang dipikirkannya selama ini. Dan ia tak pernah mengira Nizar setampan ini.

Pria itu menatap ke dalam mata Aisha sekali lagi. "Apa itu artinya kau sudah menerimaku?" Pria itu bertanya terus terang.

Tanpa sadar, kedua tangan Aisha tahu-tahu sudah melingkar di belakang leher pria itu dan menarik tubuhnya hingga dada mereka bergesekan satu sama lain.

Seketika darah pria itu mendesir dan bergairah. Ia mengetatkan rangkulannya ke pinggang Aisha dan menyusupkan wajahnya di bawah rahang Aisha.

Aisha menaikkan rahangnya memberikan celah pada pria itu untuk menjelajahi lehernya dengan leluasa.

Dan pria itu secara otomatis mulai menggerakan wajahnya ke atas dan ke bawah dengan bibir memagut-magut leher Aisha.

Aisha memejamkan matanya dan mendongak, kedua tangannya sudah berada di belakang kepala pria itu dan mendorong kepala itu semakin dalam ke lehernya. Perasaan hangat mulai merayap di sekujur tubuhnya kemudian memanas. Membuat napasnya terengah-engah.

Reaksi itu jelas memancing gairah pria yang tengah memagutnya. Perlahan pria itu menurunkan tubuh Aisha dan mendaratkan bibirnya ke bibir Aisha. Lalu membenamkannya. Semakin lama semakin dalam dan akhirnya mendapat balasan. Lidah keduanya kemudian bertemu dan saling bertautan.

Tak lama tubuh keduanya roboh dalam posisi miring, dengan sepasang bibir yang masih saling bertautan. Kemudian mulai berguling-guling ke sana kemari, saling menindih satu sama lain dan akhirnya berhenti dengan posisi Aisha berada di bawah.

Pria itu menjauhkan wajahnya dari wajah Aisha, kemudian menatapnya dengan napas tersenggal. Lalu kembali membenamkan bibirnya di bibir Aisha.

Aisha mengerang ketika sebuah gigitan kecil menancap di lehernya. Tubuhnya mulai menggeliat lembut menggesek tubuh di atasnya.

Pria itu sudah kehilangan kendalinya sekarang. Tangannya mulai menjelajah ke bagian dada Aisha dan meremasnya perlahan.

Aisha melentikkan tubuhnya, menekankan dadanya ke dalam genggaman pria itu.

Membuat pria itu bergerak semakin liar dan mulai melucuti semua pakaian Aisha, kemudian menjelajahi bagian-bagian sensitif di tubuh Aisha dengan lidah dan mulutnya.

Aisha meletakan kedua tangannya di pinggul pria itu dan menekannya ke tubuhnya. Kemudian menggeliat menggesek bagian bawah perutnya seraya mengerang.

Membuat pria di atasnya semakin kehilangan akal sehatnya dan akhirnya berhasil mengoyak putik bunga milik Aisha.

Terpopuler

Comments

hanz

hanz

proses bercinta yang dituliskan dengan begitu indah.

2024-07-24

1

MyNameIs

MyNameIs

aku meremmmm,, sumpah masih polos

2021-02-21

0

Su-al Karepe Dewe

Su-al Karepe Dewe

aku benci pikiranku🙈

2021-02-10

1

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 83 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!