Tangisan seorang bayi membahana memecahkan keheningan malam. Disusul suara-suara perempuan yang menggumam tegang.
Adam Maulanna menyerbu ke dalam kamar, tempat di mana istrinya baru saja melahirkan.
Sejumlah wanita menatapnya dengan wajah pucat.
Apa yang terjadi? Kenapa mereka begitu ketakutan? Ia bertanya-tanya dalam hati.
Lalu salah satu dari mereka menghampirinya dengan gugup. "Anakmu perempuan," desisnya lirih.
Sebuah hantaman seperti palu godam memukul telak di ulu hatinya. Adam Maulanna menggeletar lemas dan terpuruk di lantai dalam posisi berlutut. Tidak, batinnya pilu. Anakku harus laki-laki, harapnya dalam hati. Tapi takdir tak bisa disangkal. Anak pertama yang dilahirkan istrinya adalah seorang anak perempuan. Dan itu hanya berarti satu hal.
Anak perempuan harus mati!
Sejumlah warga desa sedang berhimpun di pekarangan rumahnya menunggu jawaban.
Anak pertamanya lahir pada tanggal 6, bulan 6, tahun 1996.
Dalam tradisi suku mereka, tiga angka kembar dalam tanggal lahir seseorang dipercaya mengandung kutukan. Terutama jika itu angka 6. Dan 666 diyakini sebagai angka setan.
Seorang anak yang dilahirkan dengan angka setan adalah titisan setan.
Anak perempuan titisan setan harus mati. Jika anak perempuan titisan setan dibiarkan tetap hidup, kelak ia akan menjadi penyihir dan mendatangkan kutuk bagi mereka semua.
Tapi jika ia laki-laki, kelak anak itu akan menjadi kepala suku. Mereka bilang, anak laki-laki titisan setan akan diasuh entitas lain. Jika mereka berkenan, bayi laki-laki mereka akan dikaruniai kemapuan fisik yang sangat kuat dan bisa diandalkan untuk menyelamatkan desa mereka.
"Katakan, Adam!" Seorang pria setengah baya berteriak tak sabar. "Apakah anakmu laki-laki?"
Adam Maulanna berdiri tegang di hadapan sejumlah warga desa. Seluruh tubuhnya bergetar hebat menahan kengeriannya sendiri. Anakku tidak boleh mati, tekadnya. Lalu berusaha menguatkan dirinya dan memasang wajah dingin. "Anakku, perempuan!"
Serentak warga desa itu berteriak bersamaan. "Anakmu harus mati! Ia akan menjadi penyihir dan mendatangkan tulah!"
Adam Maulanna mengangkat tangannya untuk menenangkan warga desa. "Apakah selama ini kalian benar-benar telah membuktikan bahwa seseorang dengan angka lahir kembar pernah mendatangkan tulah?"
"Apa kau tak percaya pada nenek moyangmu?" Seorang pria tua menghardiknya.
"Maksudku pada jaman sekarang?! Sekarang adalah jaman di mana ilmu sihir dan mistis sudah dipandang sebagai isapan jempol. Kapan terakhir kali kalian membuktikan bahwa ilmu sihir masih ada? Apakah di antara kalian ada yang memilikinya?"
"Apa kau berharap mendapat tulah dulu, baru akan percaya?" Pria tua tadi kembali menghardiknya.
"Begini saja, beri aku waktu sampai anak itu benar-benar menunjukkan gejala-gejala kelainan. Jika anakku terbukti memiliki bakat sihir kalian boleh menghakiminya. Tapi jika tidak, mulai saat ini jangan ada lagi pembunuhan bayi perempuan hanya karena tanggal lahirnya!" Adam Maulanna melontarkan tuntutan balik dengan suara menggelegar.
"Kau melanggar adat, Adam Maulanna!" Sejumlah pria dewasa merangsek ke arah pria kekar berusia 35 tahun itu.
Tapi Adam Maulanna adalah seorang Komandan Rayon Militer di sebuah kota yang masih satu wilayah dengan desa mereka. Pria itu bergegas ke dalam rumah kemudian kembali ke teras rumahnya dengan mengacungkan sepucuk senjata api untuk menggertak warga desa. "Putuskan sekarang, atau aku akan membawa kasus ini ke pihak berwajib!"
Warga desa itu tersentak.
"Ini kasus pembunuhan!" Adam Maulanna menandaskan.
"Pergi saja dari desa ini dan bawa keluargamu. Supaya jika anak itu kelak terbukti mendatangkan tulah, desa kami tidak ikut menanggungnya." Kepala suku mereka akhirnya angkat bicara. Kemudian disepakati semua orang dengan teriakan-teriakan liar mereka yang tak puas dengan kekalahannya.
Adam Maulanna menggeram marah dan mengutuk mereka di dalam hatinya. Tapi dia jelas tak sudi lagi untuk tinggal dan menetap bersama mereka. Warga desa ini kerasukan setan, pikirnya masam. Mereka semua kerasukan setan dan mereka bilang anakku titisan setan? Hah! Adam Maulanna mendengus dan bergegas ke dalam rumah untuk bersiap meninggalkan desa. "Kita akan pergi dari desa ini!" Ia memberitahu istrinya.
Perempuan yang baru melahirkan itu membelalakkan kedua matanya dengan wajah gusar. "Di mana akal sehatmu, Adam? Aku baru saja melahirkan! Apa kau lupa?"
"Aku akan membawamu ke rumah sakit setelah kita tiba di kota. Apa kau ingin anak kita mati?" Adam menghardik istrinya.
Tubuh perempuan itu berguncang karena menangis. "Tidak," katanya parau. "Aku tidak mau anakku mati!"
"Perhatikan pertumbuhannya, Amanah!" Perempuan setengah baya yang menjadi Bidan saat proses kelahiran Aisha berpesan padanya sebelum kedua suami istri itu meninggalkan rumah. "Jika kelak anakmu lebih sering bermain dan berbicara sendiri, itu artinya ia sedang berinteraksi dengan entitas lain. Perhatikan juga ketika seseorang membuatnya marah. Atau ketika ia membenci seseorang. Kau harus tetap mengawasi pertumbuhannya sebelum anakmu memakan banyak korban."
Amanah menatap tajam ke arah Bidan itu dengan perasaan tersinggung. Tapi kemudian ia menyadari perempuan itu baru saja membantunya melahirkan putrinya. Dan ia mengatakan semua itu hanya untuk mengingatkannya. Bukan menghakiminya. Aku tak pantas marah padanya, katanya dalam hati.
Tapi setelah memasuki usia 3 tahun, pertumbuhan Aisha mulai menunjukkan gejala-gejala kelainan yang membuat ibunya dihantui perasaan takut sepanjang waktu.
Usia 3 tahun, Aisha gemar mengumpulkan sesuatu ke dalam toples kaca yang menurutnya adalah kunang-kunang. Tapi ibunya tak pernah melihat apa pun di dalam toples kacanya.
Lalu anak itu juga suka menuliskan daftar nama teman-temannya yang akan meninggal, lengkap dengan tanggalnya. Dan pada tanggal yang sama, anak-anak itu betul-betul meninggal dunia.
Usia 4 tahun Aisha jatuh dari sepeda saat membonceng anak lain yang membuat ayahnya murka. Tiga hari kemudian, ayah dari anak itu meninggal dunia dengan cara aneh, setelah memarahi Aisha.
Setelah Aisha masuk sekolah, kenakalannya mengalahkan anak laki-laki seusianya. Ia bahkan mengalahkan kakak kelasnya. Ia tumbuh menjadi anak yang suka berkelahi akibat terlalu sering di-bully. Tapi kedua orangtua Aisha tidak mau mengerti.
Hingga suatu hari ayahnya mengurung Aisha di gudang belakang selama semalaman untuk menghukumnya. Saat itu Aisha berusia 8 tahun. Tepat tengah malam gadis itu menjerit dari dalam gudang karena marah pada ayahnya.
Tak lama hujan badai bercampur petir melanda sekitar. Tapi ayahnya tidak mau percaya bahwa hujan badai itu datang akibat kemarahan putrinya. Dan ia mulai tak tega membiarkan putri kecilnya berada di gudang itu sendirian di tengah hujan badai, lalu ayah Aisha keluar di untuk menjemputnya dari gudang. Tapi listrik di tempat mereka padam akibat petir yang menyambar gardu listrik.
Jeritan Aisha menggelegar karena ia paling takut pada gelap. Dan pada saat yang sama halilintar juga menggelegar di atas atap gudang mereka dan menyambar tubuh ayahnya yang berada tepat di luar gudang.
Setelah satu tahun ayahnya meninggal dunia, Amanah membawa Aisha kembali ke desa asalnya karena para tetangga di sekitarnya merasa terancam oleh keberadaan Aisha. Mereka juga mengusirnya.
Setelah ia kembali ke desa asalnya, Amanah menyembunyikan Aisha dari perhatian warga desa. Gadis kecil itu tidak pernah diijinkan bermain keluar atau bergaul dengan siapa pun.
Tapi gadis itu merasa tak senang. Dan setiap kali ia menjerit dan menangis, angin badai dan tornado menyerang desa mereka.
Lalu warga desa mulai curiga. Tapi ibunya bersikeras bahwa Aisha tidak punya kelainan apa-apa. Dan Amanah berdalih bahwa Aisha dikurung dalam rumah karena ia sangat nakal.
Tapi kesalahan fatal kemudian membuat Aisha berakhir dalam tempat pengasingan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
hanz
kebetulan kebetulan yang akhirnya ditandai kemudian disakralkan.
2024-07-15
0
Anggap Aliando
Sepi-sepi aja, nih.... gak ada yang ngalong apa??
2021-08-04
0
Delilah
Jadi Aisha memang punya bakat sihir???
2021-08-01
0