Jullian berharap waktu kali ini akan berjalan lambat, ini jauh dari kata baik, Jullian di lingkupi perasaan yang tak mampu di utarakan dengan kalimat-kalimat.
Dilvina kini kembali berada tepat di hadapan nya, ia memakai apron berwarna coklat khas warna identik cafe nya, ia membawa baki berisi beberapa potong cake dan segelas teh juga sebuah kotak bekal beserta botol minuman siap bawa.
“Semoga mau menyukai nya” letakkan Dilvi di meja kecil sebelah sofa, kau akan pulang Jull?” Dilvi berbasa-basi yang sudah jelas jawaban nya ya, karena pakaian lelaki itu kotor walau tak terlihat oleh kasat mata.
Jullian mengangkat gelas di atas baki yang baru di letakkan Dilvi. “Iya, tidak ada baju pria yang bisa ku beli di toko tadu! tidak bisa kah kau duduk, akan berapa lama kau berdiri di sana?”
Dilvi tampak gugup, menyilangkan tangan dengan baki di pelukan nya. “Tidak masalah aku berdiri saja! maaf semua itu karena ku” sungguh ia masih sangat jijik membayangkan kelakukan nya semalam itu, mungkin akan menjadi seseuatu yang tidak bisa terlupakan.
Jullian mulai mengesap teh nya perlahan, menghirup aroma teh itu, tidak pernah berubah tetap sama ini terfavorite nya, ia perna mati-matian mencari nya, semenit kemudian Jullian meletakkan gelasnitu.
“Tidak masalah jangan di bahas lagi, kau pulang pukul berapa nanti?”
“Tidak tahu, aku akan pergi makan malam bersama Richard nanti malam…”
Dada Jullian seketika memanas, wanita ini baru saja membuat nya berbunga-bunga, seketika sudah membakar nya.
“Oh, baik lah , selamat bersenang-senang” air muka nya perlah berubah, Dilvi hanya diam tidak menyahuti lagi ucapan Jullian.
Jullian kemudian mengangkat jam pada lengan kiri nya, melirik waktu di arloji mahal itu. “Hem, baik lah aku harus pergi sekarang, perjalanan ke rumah lumayan panjang!”
Dilvi mendekat, “Tunggu, aku masukan dulu bekal mu!”
“Terimakasih, aku sudah kenyang!” Jullian mendadak dingin, namun ia berusaha senetral mungkin perlahan bangkit.
Kenyang? Bangkah dia tidak menyentuh cake nya.
“Lalu, bekal mu bagaimana Jull!l?” tegur Dilvi kala Jullian melangkah jauh.
“Lain kali saja, terimakasih, aku sudah terlambat” Jullian mengayunkan langkah nya berjalan keluar dari ruangan Dilvi membuat pintu terasa membantin kuat.
Bugh…
Jullian menarik nafas nya berat, merasa telah kehabisan segala cara, ia merasa apapun itu Dilvi tidak pernah sedikit pun melihat nya, menghiraukan nya, ia seperti mengejar bayangan yang tidak nyata, sesuatu ketidakpastian dan tidak kejelasan, seseorang yang semakin menjauh saat dia mendekat, seseorang yang berlari saat ia terpincang-pincang mengejar nya.
Kala dia merasa sudah lebih dari baik, namun kenyataan nya tidak, di titik ini pula dia mulai melemah, rasa nya ia hampir menyerah, tatapan nya kosong padahal jalan itu hampir di depan mata, sinar itu menyurut, perasaan nya benar-benar telah pasrah.
Dari ruangan nya Dilvi berjalan keluar, melangkah lebar dan berhenti tepat si ruang cefe yang masih di tutup separu pintu besi nya, menoleh pada Jullian yang benar-benar akan pergi, kali ini dia tidak tinggal, kali ini dia benar berlalu, Dilvi merasakan ada kepingan-kepingan yang baru menyatu, putik-putik baru yang tumbuh.
“Jullian!” teriakan Dilvi menggema, namun hanya di ruangan itu, Jullian di luar mendengar dengan samar namun cukup jelas, dia yang baru saja akan masuk ke dalam mobil seketika berhenti, dan menoleh ke arah belakang.
Dilvi tampak berjalan cepat ke arah nya mendorong pintu kaca lalu berlari kecil ke parkiran, “Jull, aku ikut pulang!”
Jullian terperangah, kesempatan apa lagi ini, dia memanggil ku, dia mengejar ku, dia mau ikut bersama, tidak menimbang atau memberikan pertanyaan, Jullian langsung memberi anggukan.
Lalu Dilvi meminta nya menunggu ia akan ke dalam mengambil tas lalu menutup kembali pintu café.
Masih 30 menit lagi saat mungkin para pekerja nya akan datang.
Dilvi berlari kecil sudah membawa tas milik nya, ia mulai mengunci pintu kaca yang tadi di buka lalu menutup dengan sebuah pintu besi yang kini entah kenapa terasa berat, Jullian yang melihat itu pun mengayunkan langkah mendekat, membuat Dilvi menyingkir , dengan satu kali tarikan kuat pintu besi yang cukup berat itu tertutup.
Dilvi melampirkan senyuman nya. “Terimakasih untuk yang kesekian Jull”
Jullian menyentuh poni Dilvi lalu mengacak-acak nya, “Aku suka kau tersenyum Dilvi” melampirkan senyuman tulus membuat Dilvi bersemu malu mengerucuti bibir nya.
“Apaan sih, gombal banget!"
Kedua nya pun tertawa berjalan beriringan menuju mobil dengan Jullian membukakan pintu untuk Dilvi, “Terimakasih, sudah menjadi penumpang pertama ku”
“Oh, ya sungguh! Ini mobil baru?” antusias wanita itu.
Jullian menyahut dengan alis yang di gerakkan dan melampirkan senyuman genit nya untuk masuk ke dalam mobil kemudian, “Kita pergi sekarang” ujar Jullian menolah pada Dilvi yang memasang seat belt nya
“Ayo!” Dilvina tampak semangat padahal ini hanya perjalan pulang kerumah.
Beberapa menit mobil telah melintasi jalanan, tidak ada yang memulai percakapan, ke dua nya tampak pada fikiran nya masing-masing, tidak tahu harus memulai dari mana, Jullian tampak sibuk dengan stir nya namun terus melirik dengan ekor mata, pun Dilvi lebih memilih menatap pada jalanan, namun mulai tersenyum sendiri tidak mengerti apa yang sedang ada di fikiran dan kepala nya
.
.
.
Sedikit penghantar tidur, udah, tabungan naskah nya sudah habis 😁 besok mulai ngetik lagi wkwkw jangan paksa up dua 😆
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Agus Purwanto
ksyaky jd nnih
2023-04-29
0
Juliezaskia
lanjut
2022-03-21
0
Casnialovly Purple
q Bru baca sampe sini part brp ya yg Julian nyulik Frans untuk nemenin dia k Manila nyari dilvin
2021-10-15
0