Sebulan berlalu saat semua nya menjadi seperti biasa, Jullian menjadi pemandangan setiap pagi untuk Dilvina yang memang selalu mengacuh kan nya, datang ke café di saat sarapan atau makan siang.
Namun lelaki itu tidak bisa lagi masuk saat kini Dilvi sudah mengganti pintu menggunakan akses finger print doorlock, walau sebenar nya bisa saja jika lelaki itu memaksa meretas nya.
Jullian sudah mulai bekerja di kota ini, bergabung dengan perusahaan besar di sana, tidak lah sulit untuk Jullian ia hanya perlu melakukan sebuah kerja sama dan mengembangkan perusahan orang tua nya yang memang sudah ada dan sudah mempunyai nama besar dalam bidang ekstractif seperti migas dan juga beberapa pengembangan property lain nya.
Di pagi hari ini, mentari tampak malu-malu menampilkan wujud nya, saat hujan pun baru saja reda, Jullian bersiap berangkat ke tempat kerja begitu Dilvina sudah menyalakan motor dan masuk ke dalam lagi seperti biasa menghindari Jullian di sana, walau tetap saja nanti Jullian akan datang ke café sebagai pelanggan setia dan mengancam apapun untuk Dilvi melayani nya, walau terkadang berhasil dan sering juga gagal.
Jullian sedang memanasi mobil milik nya, menghitung waktu tepat pukul 8 biasa nya Dilvi akan pergi, dari ujung jalan Jullian menoleh sebuah mobil yang sudah sangat ia hafal pemilik nya, ya Richard lelaki itu datang setelah 10 hari yang lalu ia pergi ke Papua.
“Ku fikir sudah mati!” ujar Jullian menatap pada mobil Richard yang berlalu.
Dilvi seperti nya tidak tahu Richard sudah kembali ia tampak terkesiap di depan pintu melihat mobil lelaki itu, Richard menuruni jendela nya membuat Dilvi mendekat. “Kau sudah kembali Rich?”ujar Dilvi melampirkan senyuman nya.
Ada yang patah tapi bukan batang,
Jullian mengulum senyum, menatap manik bersinar Dilvi yang begitu bahagia atas kehadiran Richard di sana, namun Jullian bisa setenang mungkin ini bukan kali pertama saat ia melihat Dilvi memperlakukan lelaki lain dengan sangat manis nya dan sama sekali tidak mempedulikan perasaan dia yang melihat nya.
“Ke pantai Rich, jadi aku harus mengganti pakaian?”
Jullian mendengar samar percakapan mereka di sana, bagai rumput liar di pinggir taman ia menepi merasa tidak berguna dan tak ada harga nya, saat kini lelaki lain bisa senantiasa mendapatkan waktu dan kesempatan bersama wanita yang jelas masih milik nya.
Milik nya? Jullian sebenar nya sangat malu mengatakan itu, mengingat sikap nya dulu di tambah kata-kata Dilvina kini yang pasti akan langsung bersungut menyadarkan nya dan berucap bagai sebuah tamparan kuat menjalari hingga ke dalam hati nya.
Kali ini dia hanya bisa tersenyum dan terus memantau dari jauh, mereka akan pergi ke sebuah pantai menghadiri peresmian tempat wisata yang baru di buka Richard.
Jullian melirik waktu pada Arloji di tangan nya, sudah pukul 8, Dilvina sudah masuk kembali ke dalam rumah seperti nya ia akan bersiap-siap untuk pergi, seperti biasa dan tidak akan pernah lupa lelaki itu akan mengirimkan nya pesan sebelum pergi.
+63xxx
Aku akan ke kantor, kau tidak ke cafè? Baiklah semoga hari mu indah, jaga diri mu Dilvina.
Jullian pun siap pergi setelah mengantungi kembali ponsel nya, tidak perlu menunggu balasan karena memang tidak pernah di balas Jullian pun tidak yakin apakah Dilvi membaca nya atau tidak.
Mobil Jullian mulai melaju, Richard pun memundurkan mobil nya mendapati mobil lain akan keluar dari sana, kemudian kedua nya pun saling sapa melalu klakson yang berbalas oleh kedua nya sebelum akhirnya Jullian pun melaju kencang meninggalkan kediaman nya.
Dilvi masih di atas bergerak-gerak memutar di depan kaca, menatap visual diri nya, dress pantai biru muda, tampak cantik di tubuh nya, tidak lupa topi yang siap di bawa pula.
Beberapa menit kemudian Dilvi pun berlari-lari kecil menuruni tangga membawa tas nya, mencari beberapa sendal yang mungkin akan nyaman di pakai dan segera pergi keluar dari rumah.
“Sudah?” tanya lelaki itu lemput melampirkan senyuman nya.
Dilvina memberi anggukan, menyalipkan rambut kemudian masuk ke dalam mobil, Richard menatap wajah cantik Dilvina menatap damba melampirkan lengkungkan bibir nya.
Dilvina bersemu malu, kini pipi nya tampak merona menjadi salah tingkah dan mengalihkan wajah nya, persekian detik Richard pun melajukan mobil.
Suatu kehormatan untuk Dilvi, Richard membawa nya ke peresmian tempat wisata yang baru di bangun nya sebuah pantai yang bahkan belum di resmikan saja sudah sangat terkenal dan banyak pengunjung nya, apa lagi di hari peresmian nya saat ini sudah pasti tempat itu akan sangat padat, pasti akan banyak orang penting dan orang-orang yang mungkin orang terdekat Richard di sana.
*
Tepat pukul 2 siang menjadi jam rutinitas untuk Sophia bangun mulai memasak, membeli makan atau mencuci, ia akan memulai aktifitas nya menjelang sore hari.
“Coco, sini sayang jangan lari!”
“Coco! Stop jangan keluar! Coco!!” kucing berbulu lebat itu pun berlari saat Sophia membersihkan lantai bawah tempat Coco selama ini berada.
Sudah pasti Coco berlari ke depan, padahal sudah sangat di hindari untuk tidak membuka pintu apa lagi keluar di waktu terang supaya tidak berpaspasan dengan makhluk astral di depan nya, sial nya Coco selalu menjadi penyebab pertemuan memuakkan itu.
“Coco, kenapa sih ke sana!” intip Shopia di sebalik pintu tersisa satu mobil di sana, sudah pasti itu Felix lelaki aneh yang menyebut diri nya pengangguran tidak bekerja, tetapi dia sangat kaya raya, punya segala nya, outfit brand-brand ternama aksesoris limited edition, dan buang-buang uang hanya karena ada angin di badan nya, dasar pria tidak waras, bathin Sophia.
“Coco, kenapa sih, kau nakal sekali!” geram Sophia pada Coco yang sudah masuk ke perkarangan rumah itu.
“Hay Coco, sini!” panggil Felix yang sedang berada di depan mencuci sendiri mobil milik nya.
“Lihat lah lelaki itu kata nya di sangat kaya tetapi dia mencuci mobil nya sendiri”
“Coco katakan pada ibu mu jangan mengintip dan mengumpat di belakang ku, keluarlah!” perbesar Felix suara nya, yang sangat jelas melihat pintu bergerak-gerak dan pakaian Sophia sedikit keluar dan terlihat di sana.
“Siapa yang mengintip, sok tahu!”sungut Sophia keluar dari persembunyian nya berjalan ke pada Felix dan kucing nya, Manik sophia membulat menatap dada lebar Felix yang lagi-lagi terekpose di hadapan nya.
“Mata mu Sophia, sudah dua kali kau tertarik melihat tubuh ku!”
Astaga manusia ini, filter di bibir dan otak nya sudah rusak kali ya, “Siapa yang melihat mu, kau fikir hanya kau saja yang memiliki nya!”
Felix terbahak mendapati kekesalan Sophia, “Kau tidak perlu mengakui nya, aku sudah tahu itu!”ucap Felix masih mengusap-usap Coco di pelukan.
“Terserah Felix, berikan Coco sini, waktu ku terlalu berharga untuk membuang nya bersama mu!”
“Ayo kita ke pantai Sophia ku lihat di televisi ada pantai baru buka seperti nya sangat bagus!”
Lihat lah manusia ini apa maksud ucapan nya, benar-benar tidak ada basa-basi nya.
“Aku sibuk! Cepat berikan Coco!”
“Atau kau ingin aku mereservasi tempat kerja mu lagi!”
“Felix!!! Kenapa sih kau tidak bisa untuk tidak mengganggu ku!”
“Kenapa, aku hanya mengajak mu ke pantai, kau harus nya senang aku tidak sembarangan mengajak orang!”
“Terserah apa kata mu, aku tidak peduli,Felix” tarik paksa Sophia Coco dari tangan Felix, dan di lepaskan oleh lelaki itu.
“Bilang saja kau takut tergoda dengan ku Sophia, katakan saja!”
“Kau fikir kau siapa? Hentikan omong kosong mu!”
Felix terus saja memperolok-olok Sophia, mengatakan Sophia takut tidak bisa mengendalikan diri jika bersama nya, terus-terus berulang, ucapan absrurd nya menggema menelup ke telinga masuk hingga ke hati nya, benar-benar membuat Sophia terkecoh tidak sadar ini hanya lah rencana Felix supaya Sophia mau di ajak nya.
Lelaki itu terus tergelak melampirkan smirk menyebalkan nya. “Baikalah, tunggu aku 15 menit lagi!” Sophia mutar bola mata nya jengah akhir nya ia pun menuruti ajakan Felix, ia pun mengayunkan langkah nya kembali ke rumah untuk segera bersiap-siap.
“Felix sialan!!!!” hentak-hentak Shopia kaki nya menaiki tangga ke atas.
Sophia sampai di kamar nya, segera memilih-milih pakaian yang akan di gunakan nya, otak jahat nya pun mendadak berkelana ingin sekali membuat Felix kapok dan jera , Sophia ingat sesuatu hal, ia sesuatu kejahatan yang mungkin akan di lakukan nya untuk Felix, dia berencana akan meninggalkan Felix sendiri di sana nanti dalam keadaan Felix tidak baik-baik saja.
Masih tertawa Sophia berlari kecil ke arah dapur, dan langkah Sophia pun berhenti di depan kulkas, ia membungkuk mencari sesuatu di sana, tangan nya bergerak-gerak mencari di rak-rak yang rapi di dalam kulkas.
Seketika Sophia tergelak, menemukan apa yang di cari nya, sebungkus jamu khusus yang pernah tamu nya berikan, ramuan-ramuan yang tidak memiliki rasa, namun mempunyai khasiat super mampu meningkatkan libidò berkali-kali lipat lebih dari obat perangsang, Sophia benar-benar akan melakukan ini meletakkan pada minuman makluk aneh itu lalu meninggalkan nya sendiri di sana nanti.
Wanita itu tidak berhenti tergelak, membayangkan apa yang akan terjadi pada Felix di sana nanti, ia pun melangkah kembali ke kamar memasukan ramuan itu kedalam tas, untuk segera turun, tawa Sophia tak menyurut bahkan hingga ia turun akan mengunci rumah nya, benar-benar sesuatu momment yang di nantikan akan membuat Felix tersiksa merasakan effect ramuan itu di antara keramaian orang di sana.
Felix pun sudah di dalam mobil, menggunakancelana 3/4 nya di padukan dengan kemeja bermotif lembut menunggu Sophia masuk, Sophia melengkungkan bibir tersenyum, membuka pintu di sebelah kemudi, dengan sangat janggal nya ia menyapa Felix melampirkan senyuman nya.
“Kita pergi sekarang Fell?” ujar wanita itu.
Lelaki itu berkerut dahi, padahal tadi dia sangat tidak ingin, “Iya”sahut Felix mulai memutar stering mobil nya.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Dewi Nurmalasari
Lu sndri yang g anggap n dibuang di maki2 pula, disuruh cari cwo lain pula
2024-01-19
0
Cucu Ulpah
awas jangan sampai senjata makan tuan ya sofia🤭🤭
2022-09-27
0
cah solo
perjuang jull utk kmbali sama dilvi sdng diuji
2022-04-12
1