Sudah menjadi rutinitas biasa saat semburat cahaya mulai naik ke permukaan menghapus seberkas langit gelap, Sophia kembali pulang menjelang pukul 5 pagi wanita itu tiba di rumah nya bersama seseorang lelaki yang menghantar nya.
Kedua nya saling melambaikan tangan, memberikan ciuman perpisahan dan lelaki itu pun pergi kembali untuk mengemudian mobil nya.
Seperti biasa sekeliling tempat tinggal nya masih sepi, lampu-lampu pun masih menyala, namun ada sebuah hal aneh yang membuat Sophia berhenti, tepat di depan rumah, rumah yang baru di huni tetangga baru itu, Sophia melihat ada seorang lelaki di sana, duduk di undakan tangga teras rumah nya, dengan beberapa botol beer mengudarakan asap rokok disana.
Dia bukan Felix yang berkenalan dengan Sophia kemarin, tapi Sophia tahu mungkin itu salah seorang penghuni lain nya yang Felix katakan.
Tatapan nanar yang terlampir pada lelaki yang melihat ke bawah itu, ia bahkan tidak menyadari Sophia memperhatikan nya, lelaki itu menoleh ketika Sophia membuka pintu besi nya yang menimbulkan suara gesekan kuat dan cukup nyaring, Sophia tidak mau ambil peduli pada lelaki yang dia rasa sedang depresi itu, ia pun segera masuk ke dalam rumah nya.
Ruangan masih gelap saat Sophie melangkah kan kaki, Dilvi masih terlena di alam mimpi, namun di luar sana semalaman seorang lelaki menjadikan jendela kamar Dilvi sebagai titik sorot, dan benar semalam setelah Jullian masuk ke dalam rumah, salah satu lampu kamar di rumah itu mati.
Julillian yakin itu adalah kamar Dilvi wanita itu tidak suka terang ia ingat Dilvi yang selalu mematikan lampu kamar nya saat ia tidur, padahal ia sendiri tidak tidur di kamar itu.
Jullian meremas kaleng minuman nya, menyesali diri, tapi memang benar semua itu karena dia tidak terima di jodohkan saat itu, namu ia juga tidak bisa menolak karena terlalu mencintai ibu nya, namun hari demi hari dia sudah pun sudah merasa bergantung pada wanita itu sayang nya wanita itu sudah pergi sebelum ia benar-benar menyadari lalu menyesali.
Di rumah Sophia kehidupan yang berbanding terbalik saat Sophia beranjak tidur, kini Dilvi siap berangkat bekerja, mereka masing-masing berada di poros nya, Sophia tidak ingin mencampuri teman nya begitu pun Dilvi ia tidak ingin mengikuti jejak Sophia seorang pekerja malam dan merupakan bintang di tempat nya, ia memiliki banyak uang, tabungan dalam sekali hentakan bahkan rumah itu pun milik nya sendiri ya semua nya hanya bermodalkan desahan laknàt nya.
Sophia keluar dari dapur ia mencari sesuatu, wamita itu baru selesai membersihkan diri, kini rutinitas seperti biasa memberikan makan Coco, sebelum dia tidur seharian.
“Coco where are you, Coco mommies coming, darlin'…”panggil Sophia pada kucing jantan kesayangan nya itu.
“Coco…” Panggil terus Sophia sambil memegangi panganan Coco. “Dill, Coco ada di kamar mu?” panggil Sophie pada teman nya itu.
Dilvi terkesiap, mâmpus dah semalam aku buka pintu tidak lihat Coco sudah masuk atau belum ya.
“Ha, Coco tidak ada di kamar aku beb!” jawab Dilvi dari kamar sedang memakai pakaian nya.
“Tapi semalam kau lihat dia ada akan Dill?” selidik Sophia lagi.
Deg… Sumpah aku tidak tahu.
“Aduh, di bawah kali Soph coba turun deh!” Dilvi pun keluar kamar. “Dia kan suka tidur di bawah, coba deh lihat”timpal nya lagi.
Sophia berdehem ia pun turun ke bawah di ikuti Dilvi di belakang nya sedikit merasa takut bagaimana jika Coco tidak ada, “Aduh mati lah aku, pakai lupa lagi semalam lihat tu kucing !”
“Coco! Coco, kau dimana sayang!” ulang-ulang Sophia berkali-kali.
“Tidak ada Dill, kau yakin dia masuk. Rumah tadi malam!” tegas Sophia kali ini.
“Beb Sorry, aku tidak tahu, setelah pindahin motor aku lupa lihat Coco aku fikir mungkin dia di kamar mu!” jelas Dilvi benar-benar yakin Sophia pasti akan marah kali ini kucing kesayangan nya tidak ada.
“Ya ampun Dill, kenapa sih tidak di pastikan dulu, kau kan tahu dia suka sekali main di luar, bagaimana jika orang menculik nya…” ucap Sophia datar menghela nafas nya lemas kemudian.
“Tenang beb tenang, tenang aku cari di luar ya!” Dilvi pun memakain sendal nya segera, “Kau pergilah tidur, aku cari sampai dapat pokok nya!” ia membuka pintu persekian detik langsing keluar.
Sophia yang sudah kesal, tidak menyahuti lagi teman nya itu, ia pun segera naik lagi ke atas,bersungut dan menggerutu sendiri kebiasaan Dilvi selalu membuat Coco hilang.
Di luar rumah Dilvi terus menajamkaam pandangan nya, mencari keberadaan Coco ke kanan dan kiri dengan masih terus manggil-manggil nama kucing milik Shopia itu.
“Coco…Coco”langakah nya tak menyurut di halaman sana, mengedarkan manik nya sambil terus menggerutu. “Coco kau memperlambat waktu ku!”
“Coco where are you sayang!!” ia sudah berputar di jalanan terdekat tidak ada satu ekor kucing pun di sana, kini Dilvi berbalik kembali ke rumah nya.
Dilvi melihat pada rumah di depan nya, pintu di sana terbuka, biasa nya Coco sering main di depan rumah itu dan suka masuk kerumah orang yang terbuka, Dilvi menatap penuh selidik, kini dia berada tepat di depan perkarangan rumah itu, wanita cantik yang sudah siap berangkat ke Caffe nya itu mau tidak mau melangkah ke rumah orang baru yang tidak ia kenali itu.
“Ya Tuhan Coco, kau benar-benar membuang waktu ku!” kesal nya
Dilvi pun mau tidak pun melangkah ke area rumah tetangga di depan nya, kini sudah berada di undakan tangga untuk naik ke pintu masuk utama, denga terus mengudarakan panggilan nama Coco di depan rumah mewah itu, tidak lagi berteriak suara nya lebih lembut kini mengingat ini adalah rumah orang.
“Coco… “
“Coco sayang…” Dilvi menarik nafas nya kesal apa iya dia harus mengetuk pintu dan menanyakan pada orang di dalam melihat pintu memang masih terbuka.
Coco tidak pernah pergi jauh kecuali bermain di rumah-rumah tetangga sekitar sini, apa mungkin Coco masuk ke dalam fikir nya.
“Ahhh…Coco” desah nya, seperti nya kali ini Dilvi yakin ia mungkin harus mengetuk pintu yang terbukan itu dan menanyakan pada sang penghuni, Dilvi mulai melangkah naik pada undakan tangga yang tidak banyak itu, untuk kemudian mengetuk nya.
Dilvi sedikit ragu mengingat penghuni nya adalah lelaki dan juga tidak di oleh nya, namun dari pada Sophia marah lalu mendiami nya, ia pun mengetuk daun pintu yang terbuka lebar itu.
Tok
Tok
Tok
“Permisi!”
“Permisi!”
Di dalam kamar Jullian baru saja beranjak akan tidur lelaki itu berada di kamar lantai bawah, dan Felix di lanfai atas kini tengah sibuk dengan berbagai data penyelidikkan nya.
Jullian yang siap tidur pun mengangkat kepala nya mendengar sama suara panggilan di pintu yang ia ingat dia belum menutup nya.
“Permisi!” ulang Dilvi lagi.
Jullian bangkit kali ini, lelaki yang baru siap mandi itu pun bangkit mendengar jelas itu suara milik Dilvina, ia mendadak kalang-kabut mau apa dia?
“Hallo permisi, ada orang tidak ya!” ulang Dilvi lagi-lagi
Entah sebuah keberuntungan atau kesempataj mendapatkan Dilvi di rumah itu, lelaki itu menghitung waktu, berfikir sebentar apa yang ia harus lakukan.
Dari arah tangga ternyata Felix turun ia lun mendengar sedari tadi seorang wanita memanggil di bawah, lelaki itu menuruni satu persatu undakan tangga dari atas sana sudah terlihat seorang wanita cantik di depan pintu menoleh pada nya.
“Eh, Sorry saya tinggal di depan”
“Iya, ada apa”sahut Felix tatap penuh selidik seperti nya ini yang bernama Dilvina. Lelaki itu berjalan mendekat di area itu.
“Em itu, saya mau tanya ada lihat kucing masuk sini tidak? warna nya abu-aba, ada kalung merah muda di leher nya…”
“Kalung nya bertuliskan nama Sophia ya?”timpal lelaki itu pula.
“Iya, iya benar, anda melihat nya?”Antusias Dilvi mendapat jawaban Felix.
“Tadi malam ada di sini, sekarang tidak tahu kemana dia?” jawab lelaki itu mengulurkan tangan untuk berkenalan.
“Saya Felix” ucap lelaki itu kemudian.
Dilvi pun menyambut tangan lelaki itu, “Dillvi!” sambut Dilvi setelah nya. “Aduh kemana ya dia sekarang, apakah anda tidak lihat ke arah mana dia pergi !”
“Tadi malam masih ada di depan sana” tunjuk Felix pada teras mereka. “Pagi ini belum ada lihat tuh!”
-Jullio-
Kucing nya tidur di kamar ku, minta dia pergi ku rasa aku belum siap menemui nya.
Felix segera membaca ponsel nya yang bergetar masih berdiri di depan pintu bersama Dilvi, lelaki itu pun mengulas senyuman membaca pesan itu mendapatkan sebuah ide brilliant.
Di sisi depan Dilvi pun bersiap akan pergi mendapati lelaki itu tampak nya sibuk dengan ponsel nya.
“Hemmm baiklah saya mau cari ke tempat lain lagi, nanti kalau lihat tolong hantar ke rumah bisa tidak ya?”
“Eh tunggu, apakah anda tidak ingin mencari nya di dalam, siapa tahu dia ada di dalam, cari lah sendiri saya akan keluar mencari makanan!”
“Ha? Masuk” ulang Dilvi meyakinkan.
“Iya cari saja mungkin aja dia masuk karena pintu terbuka, dan saya tidak tahu ya kan?”
Ada benar nya namun Dilvi tidak yakin untuk memasuki rumah orang baru terlebih adalah lelaki, ia tampak ragu menggigiti bibir bawah nya, namun siapa tau benar ada karena Coco kan memang suka masuk ke rumah-rumah orang yang terbuka pintu nya.
“Masuk saja, tidak ada orang di sini, saya akan pergi sekarang kok!” Felix mengulang nya lagi kini lelaki itu mengeluarkan kunci mobil meyakin kan Dilvina yang tampak ragu.
“Baiklah, aku akan pergi sekarang, nanti tutup pintu nya ketika anda pulang!” lelaki itu pun melangkah keluar.
Dilvina yang ragu pun mengangguk perlahan, Dilvi berfikir seperti nya lelaki itu tahu ia tidak nyaman masuk karena ada lelaki di sana, namun Dilvi salah itu hanyalah sebuah rencana terselubung Felix.
Walau ragu Dilvi pun tetap melangkah masuk, mengayunkan langkah pelan, mata nya mencari mengedar di seisi ruangan.
Di dalam kamar Jullian mengumpat, “Sialan Felix!!” kesal nya atas Felix nya tidak mengindahkan permintaan nya malah membuat Dilvi masuk.
.
“Coco…” panggil Dilvi yang sudah berada di dalam rumah.
Tidak di sangka langkah pertama Dilvi langsung menuju ke kamar di sebelah pintu, ”Sreeeeeeeeetttt” ia mendorong pelan pintu yang terbuka separuh daun nya itu ,Jullian pun terkesiap benar-benar terlonjak bangkit karena belum sempat ia menutup pintu itu.
Bruakk…
Felix pun mendorong kuat tubuh Dilvi yang masih mengintip memasukkan separuh kepala nya kedalam kamar, sedetik kemudian Felix yang sudah menunggu pun dengan cepat menarik pintu dari luar dan segera mengunci nya membuat kedua nya terjebak di dalam sana.
.
.
.
.
Dukung penulis dengan memberikan dukungan like, vote, dan comment nya, terimakasih ❤❤❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Dewi Nurmalasari
wkwkw sahabat yang luar biasa
2024-01-19
0
Dewi Dina
Felix , jebakanmu mantap banget
2023-03-09
0
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
Ada Rasa Rindu Juga Rasa Bersalah Dalam Hati....
2022-08-27
0