Beberapa mayat tergeletak di halaman rumah hingga ruangan keluarga, beberapa petugas kesehatan tampak sudah tak bernyawa masih dalam keadaan terduduk di tempat nya, semakin jauh langkah semakin banyak di lihay nya tumpahan darah.
Dilvi menggigiti bibirnya, jantung nya berpacu sangat kencang, "Ada apa ini?” dia masih tidak percaya, apakah dia sedang tidur dan sedang bermimpi buruk, langkah nya terhenti saat di dengar oleh nya teriakan sang ayah di dalam ruang kerja nya.
“Tidak! aku tidak bermimpi aku sadar, ayah!” ujar nya mendengar jeritan ayah seperti kesakitan, di sambuti beberapa kali suara tembakan dan gelak tawa beberapa orang di dalam sana.
"Ayah...." suara Dilvi tertahan, tubuh nya bergetar hebat, kaki nya tak mampu lagi berpijak, apa yang sedang menimpa ayah nya, Dilvi mundur beberapa langkah, mengambil kesempatan bersembunyi di balik gorden ketika dia mendengar derap langkah dan pintu terdengar di buka, persekian detik beberapa orang keluar dari sana.
"Vincent!" Dilvi tidak bergeming lelaki itu adalah salah satu dari ke tiga orang kepercayaan ayah nya dari Dilvi kecil, Dilvi benar-benar terbelalak tidak percaya, ada apa ini sebenar nya, ia nyaris terhuyung mendapatkan jelas semua hal di hadapan nya.
“Ayah, ayah kenapa, apa yang merka lakukan pada ayah!” Dilvi menangis menahan getaran di bibir nya.
"Mama, Giana, Emerald , bagaimana nasib mereka, apakah Daniel dan Antonio melakukan hal buruk pada mereka.
Dilvina masih gemetaran, sebisa mungkin dia menetralkan diri nya, masih berharap dalam doa seiring nafas nya ayah nya baik-baik saja, begitupun Mama dan adik-adik nya.
Benar-benar dia seperti berada di padang savana berada di tempat terancam di antara singa-singa buas yang jika sedikit saja terdengar keberadaan nya dia yakin dia akan di lahap habis tak bersisa.
Ini jelas persekongkolan yang sudah terencana, sungguh bahkan Dilvi sangat kenal orang-orang yang bersama Vincent itu merupakan para keamanan yang sehari-hari mengamankan pulau tempat kediaman mereka, dan yang bejatuhan tergeltak dimana-mana mungkin adalah bagian dari klan lain yang tidak ingin menjadi pengkhianat dan bersedia mati.
Malam menjelang pagi, saat Dilvi bahkan belum pergi dari sebalik gorden, saat ini iblis-iblis berwujud manusia masih berkeliaran di sana, terdengar jelas Daniel dan Antoni sudah berada di sana, sungguh benar yang di fikirkan Dilvi mereka bertiga berkhianat kepada ayah nya, lalu dimana Mama dan adik-adik nya.
Seperti menjawab bertanyaan, Antoni dengan gelak tawa mengatakan Sonia ibu Dilvi, adik-adik nya juga dua pembantu nya di buang di bibir pantai, tidak jauh dari pemukiman penduduk.
"Di buang?" seperti apa maksud mereka di buang apakah di lempar dari atas. "Mama, Sandri, Erland" ujar nya lirih benar-benar ia tak berhenti memohon semua nya tidak mengalami hal buruk seperti ayah nya.
"Ayah!" baru saja dia memikirkan Ibu dan Adik-adik nya, para lelaki itu menyeret keji tubuh ayah nya, sungguh ayah nya sudah tak berdaya, mereka berucap bahwa ayah nya telah mati setelah dua kali tembakan menghantam dada nya.
Dilvi mrasa sesak di dada nya, seperti hujami pukulan dahsyat bertubi-tubi, “Ayah” tangis nya tak bersuara.
“Bìadab” saat sudah tak bernyawa saja mereka masih menampari wajah ayah nya, menendang di seluruh tubuh tak bernyawa nya, Dilvi nyaris hampir hilang kesadaran nya, dia benar-benar tak mampu lagi berdiri, dia melemas, semua kenyataan yang di lihat nya sangat amat berat, persekian detik Dilvi pun terjerembab di balik gorden besar di belakang sofa rumah itu.
Beberapa jam berlalu.
Kini cahaya terang mulai mengusik manik nya, Dilvi mengerjab, menyipitkan mata nya, sudah terpampang jelas siang hari yang cerah di sebalik jendela, namun suasana masih terasa mencekam, suara tembakan-tembakan terdengar lagi, namun di ruangan tempat Dilvi berada sudah kosong, jasad ayah nya juga tidak ada lagi di sana.
Hanya ada beberapa jasad dua orang keamanan, dan satu petugas bersih-bersih, Dilvina menelisik, pada jasad lelaki bertubuh kurus itu, dada nya masih naik turun, Dilvi langsung mendekat, jika dia nyaris terbunuh sudah jelas dia bukan bagian dari Vincent, Antoni dan Daniel.
Dilvi tidak tahu nama nya, lelaki itu sudah tak berdaya, Dilvi menggerak-gerakkan tubuh nya, memukul pelan wajah nya, petugas bersih-bersih itu pun membuka mata ny berat, mengucap nama Dilvi.
“Ce-pat pergi non, tempat ini akan di ledakkan” lelaki itu terbata bagian perut nya sudah bergelimangan darah.
Dilvi menggeleng, bagaimana bisa dia pergi ia sudah melirik dari jendela manusia-manusia iblis masih berada di luar sana, pun penjagaan para pengkhianat di mana-mana.
“Ma-suk ke ruang kerja bapak, di sa-na ada pintu ke ruang ba-wah tanah, di belakang susunan rak buku, ruang bawah tanah lo-rong nya tembus ke pantai dekat pemu-kiman nelayan, minta bantuan di sana!” lelaki itu menangi di ujung kalimat nya.
Lelaki itu sudah mengabdi di keluarga Johannes sebelum Dilvi ada, benar-benar tidak kuasa bagaimana kejadian buruk ini menimpa makhluk tuhan sebaik Johannes lekaki yang penuh wibawa, tegas, namun sangat bersahaja, dan mudah berbaur dengan siapa saja.
Johannes jauh dari kata bengis atau sok berkuasa, dia menganggap semua pekerja seperti keluarga, hidup rukun aman menjamin kesejahteraan setiap pekerja nya, tidak di sangka malaikat berwujud manusia seperti Johannes bisa membuat para tangan kanan nya gelap mata.
Entah sejak kapan,Antoni, Daniel dan Vincent sudah merencanakan perbuatan keji ini, bahkan ke tiga nya sudah lebih dari 15 tahun bekerja untuk Johannes menangani semua dengan baik apapun perintah nya.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Cucu Ulpah
ketiga tangan kanannya bener" iblis...air susu d balas air tuba bener" tdk Punya hati😠😠
2022-09-27
0
Drew 1
brasa nonton.. 😳
2022-09-04
0
Yuni MamaRizky
kasihan banget ya keluarga divi gk tahunya ada kisah masa lalu yg mencekam akankan terkyak
2022-05-04
0