“Hallo Fell kau dimana?”
“Di klub kenapa?”
“Apa yang kau lakukan, kata mu kau ada pekerjaan di Makati?”
“Sudah selesai tadi sore, baik lah aku sedang sibuk jangan mengganggu ku!”
“Shit apa yang kau lakukan!”
Tut… tut… Felix pun mematikan sepihak panggilan Jullian pada nya, lalu mengarahkan ponsel nya ke atas untuk mengambil potret cantik Sophia yang sedang membuat garis-garis di punggung, tanpa sepengetahuan wanita itu dan mengirimkan nya kepada Jullian kemudian.
Persekian detik Jullian yang kebetulan memegang ponsel pun membuka pesan bergambar yang di kirmkan Fellix, lelaki itu mengutuk seketika teman nya itu, “Shopia?sialan Felix tujuan mu sana untuk mencari istri ku, bukan mencari jodoh untuk mu!”
Tepat pukul 10 malam Felix dan Sophia pulang bersama, ini menjadi pekerjaan ter awkward alias teraneh sejak 2 tahun Sophia bekerja di tempat hiburan malam itu, hanya dalam kurun waktu dua jam Felix membayar nya cukup mahal dan tidak melakukan apapun selain membuat garis-garis berbentuk tulang- belulang di punggung nya.
Sepanjang perjalanan Sophia memasang wajah datar, tidak tahu harus bersikap seperti apa dengan makhluk aneh di sebelah nya ini, sementara Felix tampak sibuk dengan benda pipih dan alat seperti detector kecil di tangan nya.
“Apa pekerjaan mu Fellix? Sophia menoleh kepada Fellix memecah keheningan.
“Tidak ada!” lelaki itu menjawab santai menaikan kedua alis nya.
Sophia menatap Fellix penuh selidik, “Jadi dari mana kau uang sebanyak itu untuk menutup Klab dalam semalam dan pergi sebelum waktu nya?”
“Kenapa ada masalah, atau kau ingin aku membeli nya?”
Sumpah, Sophia semakin merasa tidak waras berbicara dengan makhluk seperti Fellix, Sophia menggeleng bingung kebetulan mobil pun sudah sampai di halaman rumah.
Sophia menoleh kepada Fellix, sedikit bergidik ngeri “Terimkasih” ujar Sophia segera turun dan berjalan pergi.
Malam yang menggelikan untuk Sophia ia tutup rapat-rapat enggan berbagi kepada Dilvi lagi pula tidak ada yang penting dan tak berkesan sama sekali, sejak malam ini Sophia tak lagi ingin berpaspasan dengan orang seperti Felix, lelaki penuh ke Absurdtan.
Beberapa hari berlalu.
Dilvina menjalani aktifitas nya seperti biasa, saat dia bahkan tahu dari Sophia lelaki bernama Jullian itu tak ada di sana, hidup nya setidak nya tak perlu was-was lagi, hanya perlu mematikan ponsel karena Jullian selalu ada di sana.
Dilvi melajukan motor nya seperti biasa, melewati rute yang normal, tak ada kendala apapun, jalanan tidak terlalu padat Dilvi melaju santai membelah jalanan, beriringan dengan berbagai macam pengendara dan pengemudi lain, tidak terlalu lama Dilvi pun sampai di Caffe milik nya.
Seperti biasa ia memarkirkan motor nya pada slot khusus milik nya, dan di awali dengan melepas segala perlengkapan mengendarai motor, seperti helm, sarung tangan hingga sweater nya, untuk kemudian ia melangkah masuk ke dalam Café milik nya,
“Pagi Sissy!”Sapa Wido melihat owner nya sudah sampai.
“Pagi, Do” Balas Dilvi melanjutkan langkah nya kemudian untuk masuk ke dalam ruangan nya.
Dilvi menelisik pada cctv keadan Café di pagi ini, lumayan ramai, kemudian ia bergeser sedikit ke meja kebesaran nya, tempat nya menjadi owner, manager, sekagus marketing, dan sesekali ke dapur membantu baking dua orang yang bertugas membuat berbagai jenis pastry, dessert dan sebagai nya sana.
Tidak terlalu berat lagi pula akan memakan banyak pembiayaan jika harus merekrut karyawan lagi terkecuali café sudah stabil memeiliki beberapa cabang dan sudah berjalan lama.
Dilvi memulai dengan beberapa laporan keuangan café memfokuskan mata dan fikiran nya pada laporan-laporan itu, wanita itu menopang wajah, menatap pada layar kotak di hadapan nya, tatapan serius sesekali menginput seseuatu.
Cekrek
Dilvina terkesiap, mendapati sebuah suara jepretan foto di hadapan nya, manik nya seketika membulat sempurna, lelaki dengan aroma khas parfum yang pernah sangat Dilvina kenal sudah berada di dalam sana dan kini tepat di hadapan nya.
“Kau! kenapa di sini?” tanya Dilvi meninggikan ucapan nya.
Jullian memasukkan ponsel milik nya ke dalam saku jas nya, terus mengulas senyuman.
“Apa lagi, aku ingin melihat istri ku!”
Dilvina terbelalak. “Tutup mulut mu, orang lain akan mendengar nya!” Dilvina melirik mengedarkan pandangan nya penuh selidik.
“Tenang lah, pintu sudah ku kunci, tidak ada yang tahu aku di sini, lagi pula bukan kah kau yang mengendalikan segala nya?” masukan lelaki itu tangan nya ke dalam saku lalu berjalan ke dalam.
“Apa yang kau inginkan?”Dilvi menelisik tampilan lelaki itu, kali ini begitu rapi stelan jas dengan kemeja di dalam.
“Kenapa kau suka sekali mengulang pertanyaan! Harus berapa kali aku mengatakan aku ingin menemui istri ku!” jelas lelaki itu kini langkah nya berhenti di sebuah sofa dan memutuskan untuk duduk di sana.
“Jullian! Astaga!” Dilvina bangkit dari duduk nya, menatap was-was pada lelaki itu. “kenapa kau duduk, pergi lah sekarang, aku tidak ada waktu berbasa-basi pada mu!”
“Aku ingin minum segelas teh dan sepotong croissant buatan mu, sebagai sarapan untuk memulai hari ini!”
“Pergilah keluar, minta kepada pekerja ku!”
Lelaki itu menyandarkan punggung nya pada sofa, menatap tawa pada Dilvina. “Aku tidak akan kesini jika aku bisa mendapatkan nya di tempat lain!”
“Aku sudah bilang, hentikan semua omong kosong mu!”
“Berikan, atau kekasih mu yang sedang menunggu mu di depan akan tahu kau sedang bersama seorang lelaki di dalam sini!”
Dilvina terlonjak kaget. “Richard? Ia pun langsung memeriksa cctv pada layar nya menelisik di mana lelaki itu, Dilvi memukul dahi nya seketika ketika melihat Richard duduk di ujung sana, Dilvi lupa ia belum mengaktifkan ponsel nya.
Dilvi pun bersiap akan menemui Richard di depan seperti nya para pelayan nya juga tidak menyadari Richard datang karena café masih ramai saat ini.
“Dilvi!”tahan Jullian langkah Dilvi oleh panggilan nya.
Dilvi semakin kalut, lelaki ini selalu membuat nya frustasi dari dulu hingga sekarang, “Baiklah, sekali ini tidak besok atau yang kedua kali!” Dilvi pun berlalu pergi dengan wajah kesal nya.
“Sekali ini dan akan berlanjut setiap hari”
Jullian tersenyum penuh kemenangan, menatap pada punggung Dilvi yang berlalu.
Dilvina pun pergi ke luar untuk segera membawa yang di minta Jullian kepada nya, tangan Dilvi cekatan dengan cepat meletakkan gelas dan menyeduh seperti biasa, berjalan cepat ke pemanggang mengambil croissant yang masih fresh from oven untuk segera di tata di piring dan di bawa kepada Jullian.
Dari jauh, Richard sudah melihat Dilvina, lelaki itu kini sedang memperhatikan nya, Dilvi melambaikan tangan, mengisyaratkan tunggu kepada lelaki itu, Richard mengangguk ‘Iya’.
Dilvina pun dengan gerakkan cepat, mengayunkan langkah kembali ke dalam ruangan nya membawa baki berisi tèh dan beberapa buah croissant yang Jullian inginkan.
Lelaki itu mengulas senyum, mendapati kehadiran Dilvi, wajah cantik berseri dengan rambut yang tergurai rapi berjalan ke arah nya.
“Nikmatilah, aku harus pergi sekarang!”Dilvi pun terburu-buru berlalu.
“Dilvina!” panggil Jullian membuat Dilvi lagi-lagi berhenti.
“Apa lagi, tolong mengertilah aku punya kehidupan lain selain si lelaki pengacau itu” cerca Dilvi menegaskan ucapan nya.
Jullian bangkit, berjalan mendekat kepada Dilvi, “Berhubungan lah, tapi ku mohon jangan terlalu jauh, aku berharap masih ada kesempatan kedua dan sedikit ruang untuk ku” lirih lelaki itu menatap sendu pada manik Dilvi yang masih jengah menatap nya.
Dilvina memalingkan wajah nya seketika, sebisa mungkin menghidari lelaki itu untuk tidak meluluhkan nya, saat kini dia memang benar-benar sedang mencoba memasukan Richard ke hati nya, dan menenggelamkan masa lalu nya.
“Katakan pada nya, kesempatan itu sudah tidak ada!” ujar Dilvi melangkah pergi meninggalkan Jullian sendiri.
.
.
Aku enggak tahu bab 12 nya hilang sendiri, 😥 ni reupload..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Siti Baridah
lanjuut thoi
2022-07-11
0
Siti Baridah
semangat thor...ak sukabanget ceritanya
2022-07-11
0
Hana Moe
sambil menyelam minum air kan gpp to bang jul🤣🤣🙄
2022-04-29
0