Tin..
Tin..
Langit mendung belum menyurut namun tetes hujan tidak lagi turun, udara memang masih terasa lembab jalanan pun masih sangat basah.
Motor yang di kendarai Dilvi baru saja tiba di halaman rumah nya, ia menunggu hujan reda hingga akhir nya memutuskan pulang sebelum taburan air mungkin akan berjatuhan lagi.
Bukan mantan lagi yang di rindukan kala hujan, namun semangkuk mie kuah dengan potongan cabai di atas nya, saat ini bahkan ia sudah menelan saliva membayangkan akan segera memasak nya.
hari ini ia pulang lebih awal karena bukan weekend, Caffe tidak terlalu ramai, lagi pula ia sudah merekrut dua tenaga kerja seorang barista pria dan seorang pelayaan wanita.
Halaman tampak basah saat motor akan di parkirkan di carport kecil milik tetangga sebuah rumah kosong depan rumah yang tidak ada penghuni nya, waktu sangat tepat hujan pun mulai turun lagi saat ia tiba beryukur ia sudah sampai di rumah.
Dilvi berlari kecil mengangkat tangan seperti memberi hormat menutupi wajah nya, segera membuka sebuah pintu besi, barulah kemudian pintu kayu dan segera masuk ke dalam rumah.
“Sophiaa, aku pulang!!” teriak Dilvi melepaskan sepatu nya dan segera melangkah ke atas.
“Beb, kau dimana?“Seperti nya sudah tidak ada Damian, mobil yang biasa di bawa lelaki itu pun tidak terparkir lagi di depan.
Dilvi pun mengedarkan pandangan nya mencari-cari keberadaan teman nya yang ia yakin belum berangakat bekerja.
“Soph....“!???
“BBHAAAAAAA!!!” teriak Sophia yang datang entah dari mana.
Dilvi terkesiap.“Apa’an sih tidak lucu tau, kau dari mana?”selidik Dilvi menduduki kursi meja makan mereka. “Wow bihun kuah!” lihat Dilvi di hadapan nya semangkuk mie kuah persis apa yang ada di fikiran nya.
“Eh, jangan di makan!! Aku dari kamar, habis ngintip!”Sophia pun menarik kursi duduk di depan Dilvi.
Tidak mengindahkan Dilvi yang seperti mendapatkan oase di gurun pasir pun segera menyuap nya.
“Dilviiiii jangan!!!” tarik Sophia sendok Dilvi membuat nya jatuh ke dalam mangkuk, “Itu di kasih tetangga baru, bukan aku yang buat!”
“Ha? Tetangga yang mana?” Dilvi terperangah atas sendok yang jatuh.
“Tetangga depan, tempat parkir motor mu!” jelas Sophia mengangkat kaki nya ke atas kursi.
“What!! sudah ada penghuni nya, eh motor milik ku masih parkir di sana!”
“Tadi aku bilang sih kita sering menumpang parkir, kayak nya orang nya baik, its oke kata nya!”
Dilvi tidak terlalu yakin, namun rasa nya dia juga sudah malas untuk keluar lagi karena hujan turun deras lagi, di sisi depan tangan Sophia sudah menarik mangkuk mie dari Dilvi.
“Nala kena nana jaja, nala kicot nala nuda, saya makan mie tuan raja, jangan buat mati muda” Sluuurpp, Sophi pun menyantap bihun kuah itu, melampirkan tertawa atas mantra nya.
“Shit Sophii!!!!! kata mu tidak boleh di makan,sialan!” goyang Dilvi meja makan mereka.
Sophia pun masih tergelak tertahan oleh suapan mie dalam mulut nya, “Enak!” ucap nya tidak jelas atas kunyahan nya. “Aku butuh asupan sebelum berangkat kerja, kau tau Dill, yang hantar mie ini handsome!” antusias Sophia menjelaskan.
Dilvi pun menggeleng malas. “Ingat suami woy, hargai aku yang tidak tidur setiap Damian pulang, shit!” lempar Dilvi teman nya dengan sendok pelastik di atas sana.
Sophia mengelak, lagi-lagi ia hanya tertawa dengan terus memakan bihun kuah nya. “Penyemangat Dill, tetanggan sama pria handsome, bosan lihat nya lolo-lolo stroke (kakek-kakek) bawa anjing, lihat dada sedikit pura-pura jatuh lalu teriak tolong… tolong, usia tinggal sejengkal langkah, nafsu masih saja panas menggelora”
Dilvi sukses tergelak kali ini, “Sakit jiwa, Sophia!”
“Aku tidak bercanda, his name’s kakek panda kau harus lihat setiap pagi aku pulang kerja!” ujar Sophia masih terus mengunyah bihun nya, Sophia terus bercerita semua hal kekonyolan nya, seperti itu lah dia sehari-hari, selalu ceria dan tanpa pernah menyaring ucapan nya, Dilvi bersyukur Sophia selalu bisa membuat nya tertawa dan menemani hari-hari tersuram nya.
Mungkin adalah sebuah hal terniat sudah seminggu hari ini Jullian meminta Felix teman nya untuk menyewa rumah di kawasan Manila tempat Dilvi tinggal, namun baru pagi hari ini mereka tempati karena Felix baru tiba.
Tidak masalah bagi Felix dia memang selalu pulang pergi Jakarta – Fillipina setiap bulan, karena kedua orang tua nya ada di Cebu city sebuah provinsi di Fillipina, kali ini lah dia baru bisa menyempatkan diri menemani Jullian di tengah kesibukan nya.
Felix merupakan seorang agen mata-mata dari sebuah organisasi yang sama seperti Jullian dulu, hanya saja ia illegal namun memiliki kedudukan dan eksistensi yang cukup kuat.
Di dalam rumah yang lebih mewah dari rumah yang di tempati Dilvina dan Sophia, Felix siap beranjak tidur, ya tidur! kali ini dia akan menjadi seorang yang normal mana mungkin seorang Felix tidur di jam waras jika di luar situasi ini biasa nya.
Lelaki itu baru saja menghantarkan makanan yang di beli nya, untuk tetangga depan nya, berawal dari supaya saling kenal beramah-tamah, oh no jelas bohong? Ia jelas ingin tahu yang mana Dilvina istri Jullian itu.
Ini memang terlalu manis si sosok srigala harus nya tidak melakukan ini, tapi baiklah seorang Felix yang selalu kejam bisa melakukan apa saja, apa lagi hanya menjadi sangat manis untuk kali ini, mengayunkan langkah ke depan rumah tetangga nya membawa makanan itu, namun sayang bukan Dilvi yang ada melainkan wanita lain yang bernama Sophia yang berkenalan dengan Felix tadi.
Di tempat lain, Jullian masih mengemudikan mobil milik Felix, ia baru saja check out hotel mengambil beberapa barang nya dari sana, memegangi stir mobil, ia menatap ke arah jalanan dengan wipers yang bergerak-gerak menyapu rintik di depan nya.
Lelaki itu berfikir apakah dia waras, apakah ini sebuah hal gila entah lah, apapun hasil nya dia hanya ingin berusaha, setidak nya walau tak mungkin bersama lagi, ia ingin melihat kebahagiaan Dilvi sebelum akhir nya ia bisa pergi jauh dan menjalani hidup lebih tenang.
Beberapa waktu berlalu, Sophia sudah berangkat ke tempat kerja nya, Dilvi pun masuk ke kamar, baru saja akan berbaring ia mendadak mengingat perkataan Sophia tentang ada penghuni di rumah depan, ia menjadi kefikiran telah meletakkan motor nya di sana bagaimana jika orang nya tidak suka atau ada mobil yang akan masuk.
Dilvina pun berniat untuk memindahakan motor nya mumpung belum terlalu malam walau lagi-lagi hujan masih turun, gadis itu pun memakai sweater nya sudah dengan piyama tidur untuk segera turun dan memindahkan motor milk nya.
Mengayunkan langkah ke ruangan yang sudah gelap untuk segera turun ke bawah, kawasan perumahan itu lumayan sepi, apa lagi menjelang malam, ia pun membuka pintu segera berjalan ke depan rumah yang hanya berbataskan jalan kecil di tengah nya.
Dilvi pun masuk ke carport di rumah tanpa pagar itu, sedikit menelisik ke arah jendela dan pintu, keadaan tampak sepi namun lampu rumah tampak menyala di lantai dua.
Tidak ingin berlama-lama ia pun segera menyalakan motor untuk segera memindahkan, membawa mundur motor bebek itu, sebelum akhir nya ia berbelok.
Dari sisi kanan Jullian baru sampai, dari jauh lampu sorot mobil nya membuat Dilvi silau, namun Dilvi tidak peduli ia tetap menyebrang, sedikit mengangguk seolah menyapa siapa pun di dalam mobil dengan kaca gelap dan lampu yang menyorot itu.
Mobil yang di kendarai Jullian sudah berhenti tepat di depan runah nya, jantung nya berdegub kencang melihat ada sosok Dilvi di sana, wanita yang sudah lama sekali di cari oleh nya, wanita yang bahkan setelah kepergian nya bahkan menjadi yang sangat-sangat di rindukan nya.
Sungguh itu kah kau, benar kah, itu kau Dilvina?
Terlihat Dilvi membentuk sudut bibir nya menyapa pengemudi mobil yang ia tidak tahu siapa di dalam nya, hati Jullian di buat berdenyut, lelaki itu mengingat sikap keterlaluan nya pada gadis yang padahal sudah sangat baik di kirimkan semesta untuk nya itu.
Jullian masih menatap tak berkedip, sosok cantik dengan wajah sendu itu, “Apakah kau sehat Dilvi? Apakah kau bahagia , atau apakah tuhan telah memberikan mu lelaki yang baik setelah kebodohan ku?”
"Dilvi, boleh kah aku memeluk mu?"Jullian menjadi lirih menarik nafas nya sangat berat. "Maafkan aku Dilvi!" ucap nya pelan sekali.
Masih di atas motor nya yang sudah di parkir di depan rumah, Dilvi kembali menoleh dari jauh siapa lelaki itu, apakah dia penghuni rumah itu? kenapa dia tidak turun? Dilvi pun siap naik setelah mengunci kembali motor nya, tidak mengindahkan lagi siapa pengendara di dalam sana.
Semenit kemudian ketika Dilvi masuk kembali ke rumah nya, lelaki itu pun turun membawa beberapa barang nya, masih terus menyorot ke arah pintu rumah Dilvi, lelaki itu berdiri di tempat yang memang gelap jika Dilvi melihat nya dari jauh ia mungkin tidak akan melihat wajah nya.
Jullian Anderson kini lelaki itu menunda masuk ia menelisik ke jendela, dua buah daun jendela di lantai dua rumah tepat di depan nya, menunggu kesempatan lampu mana yang sebentar lagi akan mati, itu lah kamar yang mungkin di tempati Dilvi.
Lagi-lagi merasa bodoh menunggu sebuah lampu di kamar seorang wanita mati, mata Jullian masih menatap lurus ke kedua jendela kaca dengan sinar lampu kekuningan di balik gorden tipis di atas itu, namun yang ada lampu di atas sana tidak kunjung mati.
Malah terlihat wanita itu menyibak sedikit gorden nya sedang mengintip di sebalik jendela, secepat kilat Jullian berbalik, takut mungkin dia akan terlihat jelas dari atas sana, Jullia pun melangkahkan cepat kaki nya dan segera masuk.
Sungguh entah daya tarik apa Dilvi di buat penasaran dengan pengendara mobil itu, dia pun menyibak gorden itu mengintip di sana, ya seseorang lelaki dengan beberapa bawaan nya sudah masuk ke dalam rumah nya.
.
.
.
.
Beri dukungan kepada author,
berikan komentar, like dan vote nya 😍☺
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Ainie Niknik Rafif
baca ulang, sambil nunggu up cerita Auriga & Abel ❤
2025-01-22
4
𝙌𝙤𝙧𝙞𝙨𝙮𝙖
baca ulang Thor🥰kangen aku
2023-12-28
2
Sulaiman Efendy
BENAR JULLIANKN TETANGGA BARU DILVI
2023-08-13
0