Di dalam mobil Felix masih stanby menunggu satu persatu rangkaian rencana nya berjalan rapi, untuk satu persatu kemudian masuk ke dalam jebakan nya.
“Apa rencana mu,Felix? Kenapa Dilvi! bagaimana jika hal buruk terjadi pada nya, dia wanita baik-baik bukan wanita seperti ku, tolong hentikan semua ini Felix” Sophia terus memohon saat kini tatapan pun semakin lirih, iya bahkan menitikkan air mata semua ini di sebabkan oleh nya.
“Dan aku juga bukan seperti mu Sophia! aku tidak akan menjerumuskan nya pada hal yang di larang, maka diam lah!” masih tetap dingin lelaki itu sedang menghitung waktu, menunggu momment yang sebentar lagi akan pecah.
Sophia seketia terdiam atas kecaman itu, apapun itu lelaki ini sangat tidak bisa di tebak rencana nya.
Di kejauhan masih di sebuah meja hidangan tampak Dilvi tengah mengangkat telephone, ia terlihat panik, pramusaji di sebelah sudah dari 10 menit lalu membuat Dilvi meminum nya, benar bukan Felix nama nya jika tidak berhasil, lelaki itu bahkan sudah membuat keadaan di café milik Dilvi heboh, ia membuat seorang pemilik gedung mendatangi Café Dilvi dan membuat keributan di sana.
“Satu, dua, tiga!” hitung Felix yakin Dilvi akan segera meminta di hantarkan ke café sesaat lagi.
Dan ya, dalam hitungan ke 5, Dilvi beranjak bangkit meminta Richard untuk segera menghantarkan nya ke cafè, Dilvi terlalu keras jika sadar, baiklah akan kita coba dalam kondisi seperti ini.
Sebab Felix tidak pernah berbasa-basi dalam hal apapun, tidak suka menunggu mendasari satu-satu hingga ke inti nya.
“Kita pulang sekarang Shopia” ujar Felix sesimple itu membiarkan semua berjalan dengan sendiri nya.
“Dilvi, kau lihat pelayan itu,Felix! dia pasti sudah melakukan nya” Sophia Frustasi kenapa di harus membuat ini bagaimana nanti nasib Dilvi di depan Richard.
“Dilvi akan aman, kau hanya perlu diam, kika kau tidak memberi ku jalan, aku mungkin tidak akan melakukan nya, tenang lah aku sedang melakulan sesuatu yang mungkin bermanfaat untuk nya ya walau bisa saja tidak!”
“Bagaimana bisa diam, teman ku dalam masalah,manfaat apa kau maksud!”
“Dia akan menyelesaikan masalah nya, ku ulangi lagi, tetep diam dan tenang lah!” lelaki itu pun mulai memutar stering mobil nya untuk melaju pergi dari sana.
“Masalah apa? kau selalu membuat masalah..... ” Sophia menghela nafas nya berat menyandarkan pasrah kepala nya kemudian.
Lelaki itu tak mengindahkan lagi kali ini, hanya melampirkan seringaian nya membayangkan apa yang sebentar lagi akan terjadi.
Di perjalanan Dilvi mulai tampak diam, saat kini tubuh nya mulai merasa mengeluarkan hawa panas, aliran darah nya mulai mengakir dengan deras, jantung nya berdegub kencang, Richard tampak biasa saja lelaki itu pun sedang mengangakt ponsel nya menyibukkan diri. Dilvina memejam, setiap menit tubuh nya semakin merasakan ketidak stabilan.
“Rich, bisa kah kau mempercepat laju mu?”
“Ini sudah cepat sayang, kau lihat kita sudah di pintu utara!”
Dilvina mulai meremang,tubuh nya berpeluh padahal kondisi pendingin mobil stabil. “Apakah aku demam?”bathin nya, bagaimana jika seperti ini menghadapi staff pemilik gedung yang di katakan Luna datang dan marah-marah.
“Kau baik-baik saja, Dill?” Richard mulai melihat nafas Dilvi yang tak beraturan, menggerakkan kedua kaki nya seperti gelisah.
Dilvi menggeleng mengisyartakan tidak ada apa-apa, mencoba tetap tenang pada tubuh yang setiap menit serasa menegang, tidak lama mobil Richard pun sampai tepat di depan pintu masuk café, lelaki itu mengatakan ridak bisa menemani Dilvi hingga pulang masih ada pertemuan lain.
"Its oke Rich, pergilah!"
Dilvi pun tidak mempersalahkan itu, ia keluar dari mobil membawa getaran di tubuh nya sebisa mungkin, saat kini gelanyar aneh itu pun mulai terasa parah.
Dilvi mengayunkan langkah nya masuk, mendorong pintu kaca perlahan. “Luna, dimana staff gedung itu?” Dilvina ingin mempercepat di kondisi tidak nyaman nya ini.
Luna yang masih memegangi baki pun mengedarkan pandangan nya, “Dimana dia, tadi di sini kak! Wido dimana orang tadi?” selidik Luna masih terus mengedarkan pandangan nya.
Wido pun menatap sekeliling, “Tadi ada di sana, itu minuman masih ada!”
sahut lelaki itu di dalam bar cafe.
“Lalu kemana dia?” tekan kan Dilvi suara nya.
Wido dan Luna saling berpandangan, memberi pertanyaan-pertanyaan lewat isyarat, memang benar ada nya orang dari gedung datang mereka tidak berbohong.
“Sissy tadi ada, sungguh kami tidak berbohong, coba lihat di cctv!”
“Untuk apa saya kembali jika hanya melihat CCTV!” Dilvi pun melangkah pergi meninggalkan kedua nya, nafas nya kian memburu saat dia merasa di bawah sana semakin berkedut tidak terarah berdesir hebat menjalar entah kemana-mana.
Ia melangkah perlahan, meremasi jemari-jemari nya, kedua mata nya di pejami ia berhenti tepat di depan pintu siap masuk ke dalam ruangan nya, jemari nya pun menempel siap membuka kunci.
Seketika merasa ingin pipis dan perasaan setruman di titik itu, Dilvina berjongkok menahan gelenyar rangsangan,“Aku kenapa”
“Lama sekali kau kembali!!!” baritone itu menyentakkan Dilvi, Jullian sudah berbaring di sofa panjang, mengangkat kepala menoleh pada Dilvina masih memakai stelan jas nya ia sudah berada di sana dari sore tanpa pernah di perintah.
Dilvi menoleh. “Kenapa kau bisa masuk!”Dilvi menggigiti bibir bawa nya , entah perasaan apa tiba-tiba melihat lelaki itu dia tampat tergoda.
“Kau kenapa?” Terkesiap Jullian melihat wajah Dilvi yang memerah.
Dilvi menggeleng, tubuh bergetar hebat, di bawah sana semakin berdenyut rasa ingin di sentuh, semakin membasah, keringat jagung mulai berkucuran.
Dilvina perlahan berdiri melemparkan barang-barang nya ke atas meja, tidak peduli lagi Jullian di sana, ia berlari ke kamar mandi kecil di ujung ruang.
Dilvi mendesah sangat ingin mendapati sesuatu, ia pun menurunkan dress nya, menyentuh milik nya lagi-lagi yang terasa berkedut.
“Jull— Dilvi merintih nama itu rasa nya ia ingin bertanya ini apa, saat lelaki itu pun terkesiap di luar sana mendapati kondisi Dilvina yang baru saja di lihat nya.
“Dilvi! Kau kenapa?”
Tok
Tok
Dilvina menggeleng, manik nya membasah dia tidak tahu dia kenapa, saat bahkan kini ia merasa sangat gila seperti terdorong ingin menjamahi bagian-bagian sensitive nya.
“Dilvi buka pintu nya!!”
Dilvi takut membuka pintu, hawa panas meledak-ledak siap tempur menenggelamkan kewarasan nya, bibir nya terbuka merasakan aliran kuat yang menyerang lubang terbungkus di bawah sana.
“Jull!” kali ini dia menangis, dia ketakutan, ia tidak pernah merasakan ini, merasakan bahkan melihat Jullian telentang saja dia telah berfikiran ingin naik di atas menyerang nya.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
DIAN Riskawati
aku baca lagi kak,,,,kangen di tahun 2021 baca novel ini
2025-02-24
0
Agus Purwanto
Felix parah
2023-04-29
0
raramanda
wkwkw klo pun syudah baca pengen ngulang teruss klo rindu juliett sama gadis setengah matang
2022-02-03
1