Sophia menatap malas pada jalanan menuju pantai yang padat, ia pun menyandar pada headboard, akan berapa lama menuju ke dalam jika seperti ini.
“Buang-buang waktu!” gerutu Sophia menatap pada jalanan.
Felix juga berfikir hal yang sama jika tahu akan seramai ini lebih baik pergi ke tempat lain, namun terlambat kini mereka sudah berada seperempat jalan, akan percuma jika kembali tetap akan terkeba antrian masuk.
“Jika ramai mungkin saja tempat nya bagus!”sahut Felix kemudian.
“Berada di keramaian, astaga Felix aku tidak suka ini!”
“Tidak, di sana ada resort kita pergi ke bibir pantai itu, kata nya sunset di sana bagus!”
“Wah, romantis sekali manusia seperti mu mengajak seorang wanita melihat sunset! Ohh tidak please Felix jangan suruh aku menggosok punggung mu dengan coin lagi, aku tidak mau!”
Felix tergelak, “lalu apa? Kau ingin bergantian punggung mu yang ku gosok, kali ini!”
Sophia bergidik geli, mengalihkan wajah nya, ini hari mu Felix , selamat bersenang-senang, tunggu pembalasan ku.
Setelah 15 menit mengantri di pintu masuk kedua nya pun turun dari mobil, berada tepat di depan sebuah resort mewah di garis pantai yang indah, Sophia menatap bahagia pada deburan ombak di tepian laut biru, angin yang mulai membuat rambut nya melambai,
Jujur Sophia bahkan tidak pernah pergi ke pantai Damian sangat jarang membawa nya berlibur, lelaki itu hanya sering membawa nya ke ke tempat hiburan, nongkrong di bar,lounge dan sejenis nya.
Sophia tidak habis fikir kenapa lelaki yang menyebalakan ini kenapa dia mau mengajak nya ke sini,
“Hey induk kucing, kau masih mau berdiri atai masuk ke dalam!” ujar Felix mendahului nya di depan.
Sophia mengerucuti bibir nya, mengikuti langkah Felix ke dalam area resort, masih terus mengedarkan pandangan nya kesekitar menikmati suasana resorts dan pantai yang indah.
Hingga langkah Felix berhenti di sebuah restaurant seafood, “Aku ingin makan, sudah lama aku tidak makan!”
“Sudah lama aku tidak makan?” Sophia terperangah, kalimat absurd apa lagi itu, kenapa tidak mengatakan dari pagi aku belum makan, atau dari siang aku belum makan, ah sudah lah terserah dia saja.
Dàmn terlalu menikmati suasana Sophia bahkan hampir lupa rencana buruk nya, tapi tidak seru tempat ini tidak terlalu ramai, alangkah baik nya di lakukan di keramaian pantai fikir nya.
Felix memilih sebuah meja tepat di ujung, berada di atas batuan dan akar-akar pohon yang merambat di bawah sana, di ikuti Sophia setelah nya.
“Kau ingin makan apa induk kucing? oh kau pasti tidak mengerti baiklah aku saja yang pilih!” ujar Felix memutuskan sendiri pilihan nya.
Sialan, kau fikir kau siapa tunggu sebentar lagi kita akan bersenang-senang.
Sophia hanya diam membiarkan lelaki itu memasan sendiri menu makanan nya kepada pramu saji yang datang kemeja, beberapa menit kemudian lelaki itu menutup buku menu di susul sang pramu saji turun dari sana.
“Kau tau tempat ini milik siapa, induk kucing?” tanya lelaki itu tiba-tiba.
“Siapapun dia aku tidak tertarik mengetahui nya!” ketus Sophia menatap ke arah batuan pantai di bawah sana.
“Ku fikir kau peduli itu! sungguh aku sangat muak melihat nya!” air muka Felix tiba-tiba berubah.
Di moment seperti ini Felix menjandi sangat tidak suka pada Dilvina, tidak menyangaka akan bertemu dengan nya, wanita itu tampak tertawa bersama Richard di sebuah meja, di depan hamparan hidangan mewah, dan lilin-lilin indah yang mulai menyala.
“Shit apakah Jullio sekejam ini pada mu!” sesal Felix melihat perjuangan Jullian berbulan-bulan bahkan berpindah hanya untuk mengejar nya.
“Kau kenapa?”Sophia berkerut dahi.
Felix tidak mengindahkan Sophi ia masih di selimuti letupan-letupan emosi menatapi pemandangan memuakkan di hadapan nya, lelaki itu bangkit menambil kotak rokok di saku nya dan pergi.
“Aku akan kesana!” ujar lelaki itu bangkit tanpa mengatakan Dilvina ada di jarak beberapa meja di belakang Shopia.
Felix pun berjalan melewati Dilvi ia sengaja melewati nya, menatap bengis pada Dilvi seperti mengisyatkan ia sedang mengangkat bendera peperangan pada wanita itu, Dilvi pun seketika terkesiap melihat ada Felix di sana menatap nya benci dan melengos begitu saja.
Sudah pasti kesempatan ini menjadi momment yang terbaik untuk Sophia, semesta seperti sangat mendukung aksi nya, bertepatan dengan pergi nya Felix pramu saji mengawali penghantaran minuman ke meja mereka, tetap tenang jangan gegabah lelaki itu Sophia yakin sedang melirik pada meja mereka.
Sebisa mungkin melakukan tanpa berjejak, saat dia mulai perlahan meraih ponsel dalam tas susah payah dengan bungkus serbuk jamu di bawah nya, Sophia perlahan merobek bungkus di dalam tas untuk kemudian menggeser minuman Felix dan menaburkan nya.
Sophia panik, serbuk masih tampak di atas apakah ini akan larut bathin Sophia, tidak mungkin mengaduk nya yakin sekali mata Felix sedang mengarah kepada, “Shit!” Sophia panik bukan kepalang dia pun meniup-niup dari jauh.
Ah…persekian menit serbuk itu tenggelam ke dalam orange jus pesanan Felix.
“Kau tidak pintar Sophia!” sarkas lelaki itu tepat si belakang Sophia tiba-tiba
Wanita itu terkesiap, menggigiti bibir bawah nya, “A-apa?”
“Keluarkan Sophia?”ujar lelaki itu santai duduk di hadapan nya.
“Apa maksud mu?” Sophia melemah melampirkan manik sendu nya.
“Sophia, ku hitung sampai dua!” Felix meninggikan suara nya. “SATU!!”
“Aku tidak mengerti maksud—
“SATU SETENGAH!” bentak Felix memotong kalimat sangakalan Sophia.
“SOPHIA!!!”
Seperkian detik Sophia mengeluarkan benda terlarang itu dari dalam tas nya, tangan cepat Felix langsung mengambil bungkusan itu, lelaki itu menyeringai tanpa perlu membaca ia sudah paham guna nya
Felix melemparkan benda itu kemeja, “Kau mau membuat ku menderita, lalu kau akan mentertawakan aku dengan bahagia, bukan!” suasana menjadi dingin saat kini nada Felix menjadi sangat datar.
Sophia menggetar, rasa malu bercampur faku menyelimuti nya, “Fellix aku minta maaf!”
Lelaki itu tertawa, “Cara mu sangat kotor Sophia, kau bisa bayangkan jika aku meminum nya apa yang terjadi, kau tau benda ini, aku yakin kau tidak tahu, bagaimana jika aku memperkosa seorang gadis, istri seseorang, atau nenek-nenek lumpuh, Astaga Sophia berhentilah melakukan hal-hal…Felix menarik nafas nya berat menahan kekesalam
Sophia tertunduk takut, jantung nya bertalu-talu rasa nya ia ingin menghilang dari hadapan lelaki ini.
“Hay kau sini!” panggil Felix pada seorang pramusaji yang lewat tiba-tiba.
“Saya!” tunjuk pramusaji itu diri nya sendiri.
“Iya” Felix membuat Sophia pun terperangah apa yang akan di lakukan lelaki ini, apa sesuatu hal untuk menghukum nya.
“Felix maafkan aku” lirih Sophia masih menekuk, manik nya membasah menahan takut dan rasa bersalah.
Pramusaji itu pun datang, memberi hormat “Ada yang bisa saya bantu tuan?”
Jullian menatap nya serius, dari ujung kaki hingga kepala, “Kau barusan menggaruk dalam lubang hidung mu, lalu pergi menghidangkan makanan tanpa mencuci nya, kau akan di pecat!”
Pramusaji itu melonjak kaget, “Ampun tuan, ampun?saya tidak sengaja!” ucap lelaki ketakutan langsung berjongkok mengangkat tangan seperti memohon.
“Bangkit kesalahan mu sangat fatal!” ujar Felix menegaskan kalimat nya.
“Tuan sayan mohon, jangan buat saya di pecat! Saya mohoh!”
Felix langsung mengintruksi, “Maka lakukan perintah ku, dengarkan aku, lakukan tugas ini aku tidak akan mengulang, ini vitamin! wanita di meja 23 membutuhkan ini, bagaimana pun cara nya dia harus memasukan ke dalam mulut nya!”
“Ha”Sophia terperangah kata mu itu cara kotor yang berbahaya.
Benar-benar semua yang di lakukan Felix membuat Sophia terperangah, apa-apa ini, dia menyebut itu vitamin, meja 23 wanita siapa?
“Bagaimana,bisa?” tegaskan Felix pertanyaan nya.
“Baik tuan, bisa!!mereka baru saja menyantap menu pembuka, belum ke menu utama!” ujar pramu saji itu.
“Terserah! pergilah, waktu tidak lama!”ujar lelaki itu tak melihat namun menggerakkan tangan nya.
Sophia pun menoleh kesekitar mencari meja dengan nomor 23, dan siapa yang di maksud lelaki super attractive ini, “Meja 23,ha…Dilvi!” terkesiap Shopia baru menyadari ada Dilvi di sana.
“Kenapa Dilvi?” Sophia benar-benar terlonjak kaget mata nya membulat menatap Felix penuh pertanyaan. “Felix, kenapa Dilvi?”Sophia masih bertanya-tanya.
“Bangkitlah, kita pulang sekarang!” balas Felix lagi-lagi mengintonasi tinggi menegaskan kalimat nya.
Sophia benar-benar merasa gila, lelaki ini sungguh benar-benar tidak bisa di mengerti, bahkan mereka belum makan atau memulai apapun, kini ia bangkit, Sophia menarik nafas nya berat, benar-benar tidak bisa mencerna dengan nalar nya.
.
.
.
Dukung author dengan memberikan, like, vote dan comment nya thx 💓
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Dewi Nurmalasari
ya lu g tau aja julio bahkan ninggalin bini nya buat kenalan sm cwo lain, biar punya hub sm cwo lain
2024-01-21
0
Nonna Mel
terus klo dilvi minum bahaya dong dilvi kn lgi sma richard
2023-12-27
0
Sulaiman Efendy
SOPHIA MAU JEBAK SIAPA DGN OBAT PRANGSANG ITU..?
2023-08-13
0