Benar saja, kali ini serangan lawan datang lebih mengerikan lagi. Tiga besi perak itu, sudah berubah bentuk menjadi segulung angin tornado berwarna perak.
Serangan datang bagaikan badai. Serangan itu datang dari tiga sisi yang berbeda.
Shin Shui masih tetap tenang. Wajahnya masih sedingin es sekejam malaikat maut. Walaupun hatinya sedikit kaget, tapi itu hanya sesaat.
Serangan badai tersebut datangnya secara bersamaan. Membawa debu dan batu kerikil yang tajam. Semuanya menjadi satu.
Udara di saja terasa semakin sesak. Shin Shui pun merasa sedikit tertekan. Ini adalah pertama kalinya dia bertarung melawan pendekar tangguh dari negara tetangga. Karena itulah, Shin Shui masih mencoba memahami situasi dan mengukur sampai di mana kekuatan lawan terlebih dahulu.
Dia mulai bergerak. Tubuhnya melayang ke belakang sejauh tiga tombak. Tapi sayangnya ketiga lawan masih terus mengejar dengan serangan dan kekuatan yang sama. Mau tidak mau Shin Shui harus berhenti.
Dia menggenggam Pedang Halilintar semakin erat lagi. Aura biru mencolok semakin bercahaya menyelimuti tubuhnya. Matanya semakin bersinar tajam dan mematikan penuh hawa membunuh.
"Perisai Halilintar …"
"Wushh …"
Sebuah gelombang energi berwarna biru mendadak keluar dari dalam tanah di depan Shin Shui. Energi itu bentuknya persegi panjang dengan tinggi dua tombak.
Tiga lawan kaget karena tidak menyangka musuhnya bisa mengeluarkan jurus dahsyat dalam waktu sekejap mata. Mereka berniat untuk menarik serangan, sayangnya tidak bisa karena sudah terlanjur.
Maka tanpa ampun lagi, keempat jurus dahsyat tersebut bertemu menimbulkan sebuah ledakan keras. Beberapa cekungan besar tercipta, sebagian benteng sekte hancur.
Keempat pendekar terpental. Tapi mereka masih tetap berdiri dan bersiap untuk melanjutkan pertarungan lagi. Setetes demi setetes darah mulai menetes dari pelipis Shin Shui. Tubuhnya basah dengan keringat.
Ketiga lawan tidak jauh berbeda. Dari sudur bibir mereka, terlihat ada darah segar yang keluar.
Wajah mereka jelas menggambarkan amarah yang sangat besar. Begitu sudah merasakan nafasnya kembali normal, ketiga pendekar itu kembali melesat menyerang Shin Shui.
Walaupun sudah terluka, ternyata gerakan mereka masih cepat juga. Bahkan luka yang di akibatkan benturan jurus tadi seolah tidak ada apa-apanya bagi mereka.
Dalam hati Shin Shui memuji kekuatan tiga orang ini. Harus dia akui bahwa ketiganya merupakan lawan yang cukup merepotkan. Tapi itu bukan berarti bahwa dia tidak mampu mengalahkannya.
"Trangg …"
"Trangg …"
Benturan pusaka mulai terdengar lagi. Itu artinya pertarungan dahsyat dilanjut kembali.
Shin Shui semakin serius. Pedang Halilintar dia mainkan dengan kecepatan tinggi di bawah tekanan tenaga dalam yang hebat. Semakin tinggi tekanan tenaga dalam yang disalurkan, maka cahaya dan ketajaman serta kekuatan pedang pusaka itu semakin bertambah dahsyat.
Tiga lawan mulai merasa kewalahan. Mereka mengubah gaya bertarungnya. Enam buah besi lancip mengurung Shin Shui dengan rapat. Enam besi perak itu bergerak menusuk ke seluruh tubuh Pendekar Halilintar.
Sayangnya itu semua tidak berarti bagi Shin Shui. Sebab saat ini, dia telah mengeluarkan delapan puluh persen kekuatannya.
Udara yang sudah tertekan, kini di tekan kembali seolah langit-langit pecah.
Suara gemuruh semakin terdengar tiada henti. Langit seperti berguncang dan bumi bergetar.
Gerakan Shin Shui seperti seorang dewa. Dia menari di bawah semua serangan lawan. Cahaya biru mencolok berkilat mencari mangsa. Shin Shui menyerang tanpa memberikan sedikit pun ketenangan bagi lawan.
Pedang Halilintar semakin berkilat menyambar semua yang ada di sisinya. Satu sabetan pedang, satu suara gemuruh. Itu artinya, semakin sering Shin Shui menyabetkan Pedang Halilintar, maka semakin sering juga gemuruh yang terdengar.
Langit seperti runtuh. Pohon-pohon di sekitar arena mengering karena tidak kuasa menahan besarnya energi yang ada saat ini. Bahkan ada juga beberapa pohon yang tumbang dan tercabut dari akarnya.
Tiga lawannya mulai putus asa. Mereka tidak menyangka bahwa Pendekar Halilintar selincah ini. Baru kali ini mereka menyadari betapa mengerikannya Shin Shui ini.
Karena situasinya semakin tidak menguntungkan, maka tak ada jalan lain lagi, ketiga pendekar dari Sekte Besi Perak itu berniat untuk mengadu nyawa.
Mereka menyambut serangan Shin Shui sekuat tenaga yang datangnya bagaikan kilat. Dalam serangan kali ini, sinar biru dari Pedang Halilintar, menampakkan satu ekor naga biru yang sedang marah.
"Wushh …"
"Blarrr …"
Ledakan terdengar lagi. Tapi kali ini Shin Shui masih tetap pada posisi semula. Sedangkan ketiga lawannya, terpental menabrak dinding perguruan.
Tubuh mereka seketika terasa sakit bukan main. Beberapa tulangnya patah. Mulutnya memuntahkan darah kehitaman. Wajah mereka pucat seperti mayat.
Tak berhenti sampai di situ, Shin Shui kembali mengambil tindakan cepat. Dia langsung mengeluarkan jurus tingkat tinggi untuk segera mengakhiri pertarungan ini.
"Tiga Halilintar Menyambar Bukit…"
"Wushh …"
Tiga buah sinar biru mencolok sebesar pohon kelapa melesat secepat kilat. Dalam hitungan detik, tiga sinar itu sudah tiba di hadapan lawan. Tidak ada waktu untuk menghindari serangan tersebut.
Apalagi dengan kondisi mereka saat ini. Ajal tak dapat di hindari lagi. Suara menggelegar menjadi pertanda bahwa ketiganya telah tewas oleh Shin Shui.
Tubuh mereka gosong. Dadanya melesak ke dalam akibat tak kuasa menahan tekanan jurus dahsyat Pendekar Halilintar.
Tempat yang tadinya ramai oleh sebuah pertarungan. Kini halaman itu menjadi sepi kembali. Yang tersisa hanyalah mayat dari para pendekar bernasib sial itu.
Hawa kematian masih terasa kental di sana. Shin Shui pun masih tetap berdiri memandangi mayat-mayat itu.
Pedang Halilintar ia masukan kembali. Tak berapa lama, dua pendekar dari Istana Kekaisaran datang dari arah belakang.
"Kau hebat pahlawan," kata seorang pendekar.
"Terimakasih. Bagaimana luka orang-orang itu?"
"Sudah sembuh. Luka yang mereka derita langsung kering dan perlahan mulai lenyap,"
"Bagus. Kalau begitu kita segera kembali ke istana saja," ajak Shin Shui.
"Apakah mereka juga ikut?"
"Tentu. Bawa saja mereka, ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan," kata Shin Shui.
"Baik kalau begitu. Aku mengerti,"
Setelah membereskan mayat-mayat itu, mereka segera pergi ke Istana Kekaisaran. Shin Shui dan yang lainnya terbang laksana burunh phoenix.
Tak perlu waktu lama, mereka telah tiba di Istana Kekaisaran. Shin Shui segera mengajak orang-orang tadi ke ruangan di mana Kaisar Wei An berada.
Mereka mengetuk pintu terlebih dahulu. Setelah mendapat jawaban dari dalam, orang-orang itu kemudian segera masuk. Kedatangan Shin Shui mendapat sambutan penasaran dari mereka.
"Bagaimana pahlawan?"
"Apakah benar mereka dari Kekaisaran Tang?"
"Berapa orang jumlahnya?"
Berbagai pertanyaan datang memberondong Shin Shui. Tapi dia tidak segera menjawab, justru malah duduk terlebih dahulu. Ia meminum arak yang sudah di sediakan.
"Tenang dulu. Nanti akan aku ceritakan, sekarang kita harus tahu dulu cerita awalnya," kata Shin Shui dengan tenang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 447 Episodes
Comments
zevs
18
2024-04-09
0
arfan
748
2021-07-27
2
Dadang Ribet
t
2021-06-21
1