"Apakah di antara kalian ada yang bisa membantuku menyembuhkan mata Li'er?" tanya Shin Shui sambil memandang berkeliling kepada semua tetua Sekte Bukit Halilintar.
Semua tetua terdiam seperti patung. Mereka bukanlah seorang tabib atau orang yang ahli dalam pengobatan. Sehingga semua tetua hanya menggelengkan kepalanya perlahan.
"Kalau begitu, aku minta tolong untuk panggilkan tabib yang ada sini," kata Shin Shui memberikan perintah.
"Baik Kepala Tetua. Aku segera pergi," jawab seorang kepala tetua.
Dia segera berlalu dari sana dan menuju ke ruangan tabib Sekte Bukit Halilintar. Setelah beberapa saat menunggu, tabib pun datang. Ia memberikan hormatnya kepada semua tetua yang ada di ruangan tersebut.
Ada sepuluh tabib yang dimiliki oleh Sekte Bukit Halilintar, dan mereka semua kini hadir di ruangan para tetua. Kesepuluh tabib itu sudah malang melintang dalam dunia pengobatan.
Mereka bukan tabib kelas bawah, bahkan sebagian dari mereka dulunya adalah seorang tabib yang mempunyai nama terkenal. Salah satunya adalah dia si Tabib Seribu Cara, nama aslinya Qi Lan.
Usianya memang tidak muda lagi, tapi dialah yang paling hebat di antara tabib lainnya yang dimiliki oleh Sekte Bukit Halilintar. Tabib Seribu Cara terkenal karena dia memiliki banyak macam cara untuk menawarkan berbagai jenis racun ganas dan meracik pil berharga bagi kelangsungan meningkatkan kultivasi para murid Sekte Bukit Halilintar.
Chen Li masih menangis sejak dari tadi. Namun kali ini ia sedikit lebih tenang. Para tabib sudah berjejer untuk mengobati anak sang kepala tetua itu. Tinggal menunggu perintah, maka mereka akan bergerak menjalankan tugas.
"Aku minta bantuan kalian. Barangkali anakku bisa sembuh," kata Shin Shui kepada sepuluh tabib itu.
"Perintah Kepala Terus adalah sebuah penghormatan bagi kami. Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyembuhkan Tuan Muda Li'er," kata Tabib Seribu Cara mewakili yang lainnya.
"Kalau begitu, silahkan segera dimulai, " kata Shin Shui memberikan perintah.
Chen Li lalu di bawa ke sebuah ruangan cukup besar. Ruangan itu memang di khususkan untuk para tetua yang terluka. Satu tabib mulai masuk ke dalamnya.
Ia segera meracik obat-obatan dengan sumber daya yang sudah disediakan oleh sekte. Kemudian dia menotok beberapa jalan darah dan menusuk beberapa titik pakai jarum perak. Cara pengobatan seperti ini biasanya hanya bisa dilakukan oleh mereka yang sudah mencapai tahap tertinggi dalam ilmu pengobatan.
Detik berganti menit, dan menit berganti jam. Semua tabib yang sudah berusaha mengobati Chen Li, keluar dengan wajah murung. Saat ditanya oleh Shin Shui ataupun tetua yang lainnya, mereka akan tertunduk dan menggelengkan kepala.
Entah karena takut, atau sedih. Tidak bisa dipastikan. Yang jelas dalam wajahnya, mereka menggambarkan kekecewaan. Mungkin kecewa karena ternyata ilmu pengobatannya masih rendah.
Kini tinggal tibalah tabib giliran terkahir, dialah si Tabib Seribu Cara, Qi Lan. Ia segera melangkahkan kakinya masuk ke ruangan di mana Chen Li berada, sebelum menyentuh daun pintu, Shin Shui menarik sedikit tangannya.
"Sekarang harapanku hanyalah dirimu," bisik Shin Shui.
"Baik Kepala Tetua. Akan aku coba, semoga saja berhasil," jawabnya pelan.
Tabib Seribu Cara sudah ada di dalam ruangan. Chen Li dalam posisi terlentang. Namun bocah itu masih terus menangis tiada hentinya. Semakin lama suaranya semakin terdengar menyayat hati. Dia merintih meratapi nasibnya.
"Tuan Muda, kau jangan khawatir. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk menyembuhkanmu," kata Tabib Seribu Cara.
"Paman, apakah aku bisa kembali seperti semula?" tanya Chen Li disela isak tangisnya.
"Bisa. Kau berdoa saja Tuan Muda. Pasti langit memberikan jalan untukmu," ucapnya.
Chen Li mulai terlihat agak tenang sekarang. Tangisannya mulai berhenti, bahkan ia tertidur pulas. Padahal Tabib Seribu Cara hanya mengusap-usap kepalanya pelan.
Setelah dipastikan tidur, Tabib Seribu Cara mulai melakukan tugasnya. Ia memeriksa seluruh bagian tubuh Chen Li apakah ada yang terluka atau tidak.
Jubah kecilnya ia buka, sedangkan si anak di telungkupkan. Lali ia balikan lagi. Chen Li ia dudukan. Tabib Seribu Cara mulai meracik obat secara tradisional. Karena menurutnya, membuat pil atau obat lainnya secara tradisional biasanya memberikan hasil yang lebih baik.
Tabib Seribu Cara memeriksa seluruh urat syaraf Chen Li, barangkali ada yang terjepit atau putus. Semua metode sudah ia lakukan, tapi hasilnya nihil. Ia mulai kebingungan, selama hidupnya, baru kali ini Tabib Seribu Cara mengalami kebingungan sampai seperti ini. Pikirannya seperti sudah mentok.
Karena tak ada cara lain lagi, Tabib Seribu Cara terpaksa membuka sedikit mata Chen Li dengan tangannya. Sebab semua syaraf normal, bahkan semua organ tubuh Chen Li terbilang sangat baik. Namun kenapa ia bisa seperti ini? Mungkinkah ada penyakit jenis baru?
Tabib tua itu lalu membuka mata Chen Li. Begitu di buka, Tabib Seribu Cara terperanjat kaget. Sangat kaget. Baru kali ini ia melihat ada mata seorang manusia yang seperti itu.
Tabib Seribu Cara melihat bahwa mata Chen Li sangat jauh berbeda dengan mata orang pada umumnya. Mata bocah itu antara unik, indah, atau bahkan menyeramkan. Bagian mata yang lainnya memang sama seperti kebanyakan orang, tapi bola matanya itulah yang berbeda.
Bola mata itu berbentuk titik seperti mata pisau kecil-kecil. Jumlahnya ada lima dan saling berhadapan. Setiap titik mirip mata pisau itu, mempunyai warna yang berbeda. Di lihat secara teliti, setiap titik masing-masing menggambarkan unsur dasar elemen. Yaitu api, air, bumi, angin, dan halilintar.
Ditengah lima titik mata pisau, ada titik bulat lain. Bentuknya benar-benar bulat sempurna. Titik itu berwarna merah darah.
Tabib Seribu Cara segera menutup kembali mata Chen Li. Ia tak kuasa menatapnya berlama-lama sebab kepalanya tiba-tiba berdenyut dan sangat sakit. Tabib Seribu Cara segera keluar dan membawa masuk Shin Shui.
"Ada apa? Sepertinya kau mengalami hal buruk," kata Shin Shui yang melihat bagaimana pucatnya wajah Tabib Seribu Cara.
"Kepala Tetua, anakmu, anakmu …, mendapatkan anugerah dari dewa," katanya agak gugup.
"Maksudmu bagaimana?"
"Bola mata anakmu …" Tabib Seribu Cara tidak melanjutkan perkataannya karena Chen Li terbangun.
"Paman, bagaimana keadaanku? Apakah aku sudah kembali normal?" tanya Chen Li.
"Tuan muda, mari kita keluar sebentar," ajak Tabib Seribu Cara.
Chen Li bangun dari tempat tidur dan di gendong menuju ke ruangan para tetua. Shin Shui masih kebingungan, ia ingin bertanya, namun waktunya belum tepat.
"Bagaimana dengan mataku paman?" tanya Chen Li lagi sambil menggoyangkan tangan Tabib Seribu Cara. Entah sudah berapa kali ia mengucapkan kata seperti ini.
"Ma-maaf tuan muda, aku belum bisa membuatmu seperti semula lagi," katanya sambil penuh penyesalan.
"Apa? Apa katamu? Jadi … jadi aku tak bisa melihat dunia lagi?"
"Tidakkk … langit, kenapa kau memberikan cobaan kepadaku seperti ini?"
"Aku mau melihat …, aku kau melihattt …"
Chen Li berteriak keras. Suaranya kali ini bukan bernada kesedihan. Tapi bernada kemarahan. Ia marah, sangat marah. Kenapa dia harus mendapatkan cobaan yang seperti ini? Mata adalah sumber utama, kalau mata dia tidak bisa di buka lagi, bagaimana ia akan menjalani kehidupan?
Chen Li meraung semakin keras seperti orang kerasukan. Semua murid terdiam saat mendengar teriakan itu. Mereka yang berlatih, berhamburan ke asal suara. Ternyata di depan halaman ruangan tetua, Chen Li sedang berlutut menengadahkan kepalanya ke langit.
Amarah semakin meliputi tubuh Chen Li. Tak ada yang berani mendekatinya, bahkan Shin Shui pun diam. Dia tidak tahu harus melakukan apa.
Tiba-tiba langit bergemuruh. Suara halilintar menggelegar menyambar-nyambar. Suara-suara seram lainnya terdengar sahut-sahutan. Angin berhembus sangat kencang menerbangkan atap Sekte Bukit Halilintar.
#catatan. Sekilas kalai diterjemahkan rinci, mata Chen Li mirip seperti Sharingan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 447 Episodes
Comments
zevs
gas
2024-04-09
0
Dzikir Ari
wah itu mata yg unik pastinya ....
2023-04-28
1
Rahman Hartomo
anugrah mata oncom Wek wek
2022-11-09
1