Suasana ketegangan itu segera pecah menjadi kepanikan saat Kaisar Wei An hampir tewas oleh Shin Shui.
Beberapa orang pendekar Istana Kekaisaran dan keluarga Kaisar Wei An sendiri langsung melesat cepat ke tempat kejadian. Mereka mengambil sang Kaisar yang berada di dalam cekungan dengan keadaan setengah sadar itu.
Para keluarga awalnya marah dan benci terhadap Shin Shui. Tapi setelah Penasihat Mu Ying menjelaskan semuanya, mereka akhirnya faham.
Bahkan istri Kaisar Wei An sendiri faham akan maksud Shin Shui. Meskipun dia merupakan puteri dari Kaisar Tang Yang, yang berkuasa di Kekaisaran Tang, tetapi dia tak dapat memungkiri bahwa ucapan Shin Shui itu masuk akal.
Apalagi ini menyangkut politik. Kekuasaan.
Bicara tentang politik dan kekuasaan, apapun bisa terjadi. Musuh bisa jadi kawan, dan kawan bisa jadi musuh dalam sekejap mata hanya untuk memperoleh kekuasaan yang lebih besar lagi.
Sayangnya Kaisar Wei An belum mengerti sepenuhnya tentang ucapan Shin Shui. Dia keburu terbawa emosi sehingga semua perkataan Shin Shui, di anggap omong kosong.
Suasana di halaman Istana Kekaisaran masih diliputi oleh hawa yang mencekam. Hawa ingin membunuh masih terasa kental di sana.
Semua yang ada di tempat tersebut, tidak ada yang berani memandang Shin Shui berlama-lama. Sebab mereka merasakan adanya energi yang begitu besar memancar dari tubuh Shin Shui.
"Apakah di antara kalian ada yang tidak menerima atas apa yang aku lakukan?" tanya Shin Shui dengan suara seram sambil di saluri tenaga dalam sehingga suaranya menggema.
Matanya berkeliling ke semua orang. Dalam pancaran mata itu saja, mereka bisa membaca bahwa kali ini, Shin Shui tidak sedang bermain-main.
"Ayo katakan siapa yang tidak terima. Biar sekalian kita tuntaskan di sini. Apakah manusia memang seperti ini? Selalu berpikir dari sudut pandangnya sendiri, selalu bersikap egois. Apakah egois sudah menguasai diri manusia?"
Tak ada yang berani menjawab. Jangankan untuk menjawab, hanya membuka mulut sedikit pun, mereka tidak berani.
Di saat seperti itu, Penasihat Mu Ying lalu berjalan menghampiri Shun Shui yang masih dalam kemarahan besar.
Ia membungkuk memberikan hormat dulu sebelum ia bicara tentang maksud yang sebenarnya.
"pahlawan, maaf, aku mohon redakan nafsumu. Ini hanyalah salah paham semata, jadi tolong jangan di teruskan lagi," kata Penasihat Mu Ying sambil memberikan hormatnya kepada Shin Shui.
Pendekar Halilintar itu tidak langsung menjawab sebab gejolak dalam dirinya masih terus bergemuruh bagaikan lahar gunung yang siap untuk menghambur ke luar.
Shin Shui menenangkan diri dulu, berusaha tenang seperti air di danau. Perlahan tapi pasti, aura biru yang menyelimuti tubuhnya mulai lenyap.
Langit yang hitam kelam, dan gemuruh Guntur yang terdengar tiada henti, kini mulai normal kembali. Shin Shui sudah berhasil menguasai diri, keadaan langit pun kembali normal.
"Baiklah, aku mohon maaf karena sudah berbuat kekacauan di Istana Kekaisaran," kata Shin Shui kepada Penasihat Mu Ying.
"Tidak ada yang perlu di persoalkan pahlawan. Ini hanya murni kesalahpahaman, mungkin Kaisar keburu terbawa nafsunya sendiri. Mohon pahlawan sudi untuk memaafkan," ucap Penasihat Mu Ying sungguh-sungguh.
Tak ada rasa kesal dan dendam dalam perkataannya. Dia memang selalu bijak dalam berkata, sehingga mau tak mau, hati Shin Shui pun luluh juga.
"Terimakasih Penasihat Mu, karena sudah memahami aku,"
"Ah tidak, tidak. Sekarang, apa yang harus aku lakukan pahlawan?"
"Bawa saja Kaisar ke kamar. Nanti aku akan mengobatinya," kata Shin Shui.
Penasihat Mu Ying mengangguk. Kemudian ia menyuruh beberapa orang untuk membawa Kaisar Wei An ke kamarnya.
Prajurit bergerak. Mereka mengangkat Kaisar secara perlahan. Seolah dia itu barang antik yang tidak boleh lecet.
Setelah sampai di kamar dan di baringkan, prajurit itu lalu kembali ke posisinya masing-masing. Saat ini di kamar itu hanya ada Shin Shui, Penasihat Mu Ying, dan keluarga Kaisar Wei An.
Para pendekar Istana Kekaisaran di suruh menunggu di ruangan utama.
"Pahlawan, mohon kemurahan hatinya. Mohon obati suamiku," kata istri Kaisar Wei An dengan penuh hormatnya kepada Shin Shui.
"Baik Permaisuri Lian, aku akan mencoba untuk mengobatinya," kata Shin Shui kepada istri Kaisar Wei An yang bernama Tang Lian Cheng.
Shin Shui lalu duduk di pinggir Kaisar yang kini sedang berbaring tak sadarkan diri. Ia memulai pengobatannya dengan cara menyalurkan tenaga dalam terlebih dahulu. Setelah cukup lama, Shin Shui lalu memberikan sebutir pil untuk di masukkan ke mulut Kaisar.
"Seharusnya dalam waktu kurang dari dua jam, ia akan kembali seperti semula," kata Shin Shui.
"Terimakasih pahlawan. Terimakasih,"
"Jangan sungkan Permaisuri Lian, sudah kewajibanku untuk membantu," kata Shin Shui.
Setelah itu, Shin Shui kalu ke luar dari kamar Kaisar dan menunggu di ruangan sebelumnya bersama para pendekar yang lain. Walaupun semua orang Istana Kekaisaran tahu bahwa tadi Shin Shui bertarung bersama Kaisar, tapi di antara mereka tidak ada yang berani membahas dan memperlihatkan sikap permusuhan.
Selain mereka tidak berani, di antara semua orang yang tadi hadir, memang mereka juga mengakui bahwa semua ucapan Shin Shui itu masuk di akal. Oleh sebab itulah mereka memandang Shin Shui seperti sebelum terjadinya pertarungan.
Setelah dua jam menunggu, akhirnya Kaisar Wei An sadar juga. Ia langsung ke luar ruangan setelah Penasihat Mu Ying menceritakan semuanya. Kaisar Wei An mengganti pakaiannya dulu, karena pakaian yang tadi sudah koyak di segala tempat.
Ia segera masuk lagi ke ruangan di mana para pendekar dan Shin Shui menunggu di sana. Saat Kaisar Wei An memasuki ruangan, keadaan hening dan sedikit terjadi ketegangan. Mereka semua khawatir bahwa junjungannya akan bersikap lain terhadap Shin Shui.
Tapi untungnya, perkiraan mereka salah total. Justru Kaisar Wei An bersikap seperti biasanya. Bahkan dia melemparkan senyumannya.
"Pahlawan, terimakasih telah membuat mataku terbuka. Aku merasa bodoh karena tidak bisa melihat keagungan Gunung Thian San. Hari ini kau berhasil membuatku sadar," kata Kaisar Wei An yang ternyata masih bersikap hormat kepada Shin Shui.
"Tidak ada yang perlu di sesalkan Kaisar. Semua yang sudah terjadi lebih baik kita jadikan pelajaran bersama. Aku tidak menyalahkanmu, hanya saja tindakan terburu nafsumu yang kurang aku sukai," ucap Shin Shui kepada Kaisar Wei An.
Saat semua orang di sana sedang berbincang-bincang beberapa hal, tiba-tiba seorang prajurit Istana Kekaisaran masuk dengan tergopoh-gopoh.
"Ada apa?" tanya Kaisar Wei An kaget.
"Kami, kami mendapatkan laporan bahwa di perbatasan Kota Pek Yang, ada beberapa puluh orang mencurigakan. Mereka membuat kekacauan di sana," kata prajurit tersebut.
"Siapa mereka?"
"Tidak tahu Kaisar, yang jelas mereka mengaku berasal dari Kekaisaran Tang," kata prajurit.
Mendengar perkataan itu, semua orang yang ada di sana nampak sangat terkejut. Terlebih lagi Kaisar Wei An dan istrinya. Mereka saling pandang tidak mengerti. Bahkan semua pendekar pun saling pandang untuk beberapa saat.
Baru saja Shin Shui bicara, ternyata tak lama langsung terbukti nyata.
###
Btw maaf ya, kemaren ga up. Soalnya kecapean abis ada urusan hehe. Sempetnya cuma up yang novel utama.
Jangan lupa baca juga Kisah Pendekar Maung Kulon☕
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 447 Episodes
Comments
Erna Sukma
Maluuu tuuuhh kaisar
2021-09-26
2
Emmy Saputri
dramanya terlalu tinggi.
kaya nnton flm sinetron idosiar atw tpi
di mna bohongnya trlalu kentara.
2021-09-02
1
arfan
808
2021-07-27
1