Shin Shui tak bisa lagi berucap. Bahkan menjawab ucapan gurunya, Lao Yi pun rasanya sangat susah. Mulutnya terasa seperti terkunci dsn tenggorokannya kering. Pendekar Halilintar itu hanya bisa mematung melihat kepergian tiga orang yang sangat ia sayangi itu.
Tanpa mereka, Shin Shui tidak akan menjadi seperti sekarang. Dan tanpa mereka pula, mungkin Pendekar Halilintar tidak akan pernah ada.
Shin Shui masih terus memandangi kepergian Cun Fei, phoenix biru dan Lao Yi. Semakin lama mereka berubah menjadi cahaya putih lalu berubah lagi menjadi serbuk-serbuk yang beterbangan tertiup angin.
Ketiganya pergi dengan senyuman kebanggaan. Senyuman itu nampak tulus dari dalam jiwa.
Setelah itu, tiba-tiba Shin Shui terbangun dari tidurnya. Ia mengusap pipinya yang terasa basah. Ternyata dia telah menangis. Dikira hanya mimpi, akan tetapi mimpi itu benar-benar terasa nyata.
Suasana di Sekte Bukit Halilintar semakin sepi sunyi. Tak ada seorang pun yang masih terjaga dari tidur kecuali dirinya. Semua orang sudah terlelap bersama mimpi-mimpi mereka. Bahkan suara binatang malam pun telah lenyap.
Shin Shui hanya sendiri ditemani sang rembulan yang memancarkan sinar indah di cakrawala. Bintang-bintang berkelipan menambah syahdunya suasana. Shin Shui masih melamun, Pendekar Halilintar itu sedang memikirkan apa yang tadi sempat di ucapkan oleh gurunya.
"Aku merasa tadi hanyalah mimpi. Tapi ternyata, mimpi itu sangat terasa nyata olehku. Sepertinya ini memang bukan sembarang mimpi. Baiklah kalau begitu, besok aku akan putuskan langkah apa yang akan di ambil terlebih dahulu," gumam Shin Shui sambil terus memandangi rembulan yang mulai tertutup awan kelabu.
Tak lama setelah bergumam sendiri, Shin Shui lalu pergi dari sana dan berniat untuk menuju ke kediamannya lagi. Dia khawatir, pasti Yun Mei sudah menunggunya dari tadi.
"Sushi, kau dari mana saja? Aku menunggumu sejak tadi," tanya Yun Mei saat Shin Shui baru saja masuk kamar.
"Aku habis cari angin Memei. Kenapa kau belum tidur?" tanya Shin Shui.
"Aku tidak bisa tidur. Aku menunggumu dari tadi," kata Yun Mei sedikit manja.
"Dasar manja," ucap Shin Shui sambil mencubit hidung istrinya tersebut.
"Li'er sudah tidur?" Shin Shui menanyakan anak semata wayangnya kepada Yun Mei sambil membuka jubahnya, bersiap untuk istirahat.
"Sudah. Dia pun tadi mencarimu Shushi,"
"Dia memang manja kepadaku. Mungkin karena kau kadang keras mendidiknya," kata Pendekar Halilintar sambil tersenyum.
"Ayah dan anak sama saja," jawab Yun Mei tak mau kalah.
"Sudah, sudah. Mari tidur sayang," ucap Shin Shui sedikit romantis.
Ia naik ke tempat tidur, lalu mencium kening Yun Mei sebelum akhirnya berniat untuk tidur sambil memeluk istrinya.
###
Hari sudah pagi. Suara burung-burung berkicau merdu di Bukit Awan dan di atas atap Sekte Bukit Halilintar. Yun Mei bangun lebih dulu seperti biasanya. Istri dari Pendekar Halilintar itu mulai melakukan pekerjaan rumahnya.
Setelah sarapan sudah siap, Yun Mei segera membangunkan Shin Shui dan Chen Li.
"Li'er, bangun sayang. Ibu sudah membuat sarapan untukmu," kata Yun Mei sambil mengusap kepala anaknya.
"Aku masih ngantuk bu," Chen Li merengek dan berniat untuk tidur kembali.
"Ini sudah pagi sayang. Ayo cepat, ayah sudah menunggu di meja makan," kata Yun Mei.
"Li'er, bangun sekarang. Jangan manja seperti anak gadis. Kau itu pria," teriak Shin Shui dari ruang meja makan.
Mendengar ayahnya memanggil, seketika Chen Li langsung terbangun. Dia duduk di pinggiran tempat tidur, sementara Yun Mei membereskannya terlebih dahulu.
Namun hal aneh terjadi. Di mana Chen Li tidak bisa membuka matanya. Padahal ia sudah berusaha keras. Bocah itu mengucek matanya beberapa kali, tapi tetap saja kedua mata itu tidak terbuka.
"Ibu, mataku kenapa ibu. Apa yang telah terjadi dengan mataku. Aku tidak mau buta bu," kata Chen Li kepada ibunya.
"Kamu kenapa sayang? Coba buka matamu lagi. Jangan membuat ibu cemas Li'er," Yun Mei mulai panik saat mendengar perkataan Cen Li bahwa matanya tidak bisa terbuka.
"Tidak bisa bu. Aku sudah mencobanya, tapi mataku tidak bisa terbuka," kata Chen Li lalu mulai menangis meratapi nasibnya.
"Shushi, cepat kemari," teriak Yun Mei memanggil Shin Shui.
Mendengar teriakan istrinya, Shin Shui segera menuju ke kamar Chen Li. Dia mendapati Yun Mei sedang memeluk putranya dengan erat. Chen Li menangis di pelukan ibunya, sementara Yun Mei kebingungan dengan apa yang terjadi sekarang.
"Ada apa Memei?" tanya Shin Shui.
"Li'er, mata Li'er tiba-tiba tidak bisa terbuka. Aku tidak tahu apa yang sudah terjadi," kata Yun Mei semakin panik.
Shin Shui tidak langsung bicara. Dia lalu duduk di samping Cen Li. Yun Mei melepaskan pelukannya. Kini giliran Shin Shui yang memeluk.
"Ayah, kenapa dengan mataku. Aku tidak mau jadi orang buta ayah. Aku ingin normal seperti yang lainnya. Aku ingin bermain, aku ingin melihat dunia yang indah," Chen Li menangis semakin kencang di pelukan Shin Shui.
"Sabar anakku. Kau tidak akan buta, pasti kau nanti bisa melihat kembali. Sekarang, mari kita sarapan dulu. Nanti ayah akan membantumu," ucap Shin Shui membujuk Cen Li.
Shin Shui sendiri tiba-tiba lupa dengan mimpi yang semalam ia alami. Di mana Lao Yi berkata bahwa mulai sekarang Chen Li tidak bisa membuka matanya kecuali saat sedang marah. Kelak jika memang sudah saatnya Chen Li bisa mengendalikan kekuatan alami yang ia miliki, maka mata itu akan terbuka kembali.
Sebenarnya mata Chen Li hanya tidak bisa dibuka saja. Tapi ia tidaklah buta. Bahkan dalam keadaan tertutup matanya seperti sekarang, Chen Li masih bisa melihat sesuatu yang ada di dekatnya. Hanya saja dia belum mengerti karena memang masih anak-anak.
Chen Li terus meraung-raung memegangi matanya dengan kedua tangan. Air matanya kian deras membasahi pipi yang lembut itu. Shin Shui memeluk Chen Li untuk memenangkannya. Sementara Yun Mei semakin kebingungan. Ia sendiri tidak mengerti atas apa yang terjadi menimpa anaknya.
"Mari kita pergi ke sekte. Ayah akan meminta mereka untuk mengobatimu Li'er," ucap Shin Shui sambil mengelus-elus rambut Chen Li.
Bocah menggemaskan itu menganggukan kepalanya. Namun ia masih dalam keadaan menangis. Shin Shui lalu memangkunya dan berjalan menuju ke Sekte Bukit Halilintar diikuti Yun Mei di belakangnya.
Sepanjang jalan, Chen Li tak henti-hentinya merengek layaknya anak kecil pada umumnya. Namun tangisannya saat ini lebih tenang daripada sebelumnya.
Begitu sampai di ruangan para tetua Sekte Bukit Halilintar, mereka semua kaget karena melihat Chen Li yang tak biasanya menangis, kini mereka melihatnya histeris.
"Kepala Tetua, apa yang terjadi dengan Li'er?" tanya Lu Xiang Chuan, salah satu dari tiga murid mendiang Yashou.
"Entahlah Tetua. Tiba-tiba saja mata Li'er tidak bisa di buka lagi saat baru bangun tidur," ucap Shin Shui.
Para tetua yang lain pun kebingungan. Mereka lalu mengerubungi Shin Shui untuk melihat keadaan Chen Li.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 447 Episodes
Comments
zevs
maraton
2024-04-09
0
Dzikir Ari
lanjutkan Tor
2023-04-28
1
Tom
apa la slahnya bg ilmu dgn cara mudah, ne ngn pnya sengssra dlu but dpt.. kedekut n kejsm jg ko ne Thor
2021-10-02
1