Perlahan namun pasti, Chen Li si anak yang diberi sesuatu oleh para dewa itu mulai tenang lagi. Matanya kini sudah benar-benar tertutup. Seluruh tubuhnya melemas. Otot yang tadinya menonjol, masuk kembali. Urat di pelipis, kini hilang sudah.
Semua tetua Sekte Bukit Halilintar bernafas lega lagi karena pada akhirnya Tuan Muda mereka bisa kembali seperti sedia kala. Shin Shui segera menghilangkan jurus Penjara Halilintarnya. Ia sendiri langsung melesat memangku Chen Li karena bocah itu pingsan.
Shin Shui segera berjalan masuk ke ruangan para tetua lagi. Ia membaringkan Chen Li di ruangan sebelumnya. Seorang tetua maju ke halaman yang luas itu. Para murid berkumpul kembali di sana.
"Sekarang keadaan sudah normal lagi. Kalian boleh kembali melanjutkan kegiatan masing-masing," kata si ketua memakai pengerahan tenaga dalam.
Semua murid menjawab serempak. Mereka menuruti perkataan tetua itu. Yang tadi berlatih, berlatih lagi. Yang di suruh kegiatan lain, mereka pun segera melanjutkannya.
Keadaan sudah tenang seperti sedia kala. Langit cerah lagi dan hembusan angin kembali pelan menggoyangkan pohon bunga sakura. Di sana hanya tersisa halaman yang sedikit rusak akibat kejadian barusan.
Di ruangan para tetua, semua tetua sudah duduk di kursinya masing-masing. Para tabib pun hadir di sana. Di antara mereka belum ada yang berani bicara, sebab Shin Shui sendiri masih terdiam.
Setelah beberapa saat, tiba-tiba Yun Mei bicara lebih dulu.
"Shushi, apa yang terjadi dengan Li'er? Anak kita tidak papa kan? Dia baik-baik saja? Kenapa Li'er bisa mempunyai kekuatan yang begitu dahsyat?" tanya Yun Mei mengajukan pertanyaan sekaligus.
Ada raut wajah kekhawatiran pada wanita itu. Naluri seorang ibu memang terkadang lebih kuat daripada ayahnya.
"Kau tenang saja Memei. Anak kita baik-baik saja. Tidak akan terjadi apa-apa terhadap Li'er," kata Shin Shui lembut kepada Yun Mei.
"Baiklah, aku percaya kepadamu," jawabnya sambil tertunduk.
Suasana kembali hening. Para tetua sedang menunggu apa yang akan di ucapkan oleh Shin Shui. Mereka bisa tahu sebab wajah Shin Shui yang memberitahukannya.
"Aku rasa mata Li'er tidak bisa di buka kembali," kata Shin Shui sambil memandangi semua orang yang ada di sana.
"Kenapa Kepala Tetua?"
"Pasti bisa. Aku siap mencarikan tabib yang lebih hebat untuk menyembuhkan Li'er,"
"Tidak mungkin. Pasti ada cara lain lagi Kepala Tetua,"
Para tetua merasa tidak terima atas ucapan Shin Shui barusan. Mereka yakin bahwa mata Chen Li masih bisa disembuhkan. Pasti ada obatnya. Tidak ada penyakit yang tidak ada obatnya, pikir para tetua.
"Shushi, barusan kau bilang bahwa Li'er tidak papa. Tapi barusan kau juga bilang bahwa mata Li'er …" Yun Mei tidak bisa menyelesaikan kata-katanya karena air mata wanita itu segera keluar deras membasahi pipi yang lembut.
Shin Shui tidak menanggapi perkataan istrinya. Ia kembali menunjukkan wajah serius dan kharismanya sebagai seorang pemimpin.
"Percuma. Sampai ke ujung dunia dan sampai mana kalian berusaha pun, mata Li'er tetap tidak akan terbuka lagi. Kecuali memang sudah saatnya dan hanya dia sendiri yang dapat membuka mata itu,"
Semua orang kembali terdiam. Bahkan Yun Mei pun tidak berani lahi bicara. Semua mata memandang Shin Shui dengan tatapan penasaran. Setelah menghela nafas, Shin Shui melanjutkan kembali ucapannya.
"Aku baru ingat tadi, kemarin aku bermimpi. Dalam mimpi itu aku bertemu dengan guru, senior Cun Fei, dan phoenix biru. Guru mengatakan sesuatu kepadaku tentang malapetaka besar yang sebentar lagi akan terjadi di Kekaisaran Wei ini. Waktunya mungkin kurang dari dua atau tiga tahun. Bahkan sekarang negeri siluman yang dipimpin oleh Kaisar Naga Merah, mengalami malapetaka juga. Aku ditugaskan untuk ke sana secepat mungkin."
"Selain itu, guru juga memberitahuku bahwa Li'er, mendapatkan tugas dari langit. Bahkan tugasnya lebih berat dariku. Ia memikul beban umat manusia, karena alasan itulah para dewa memberikan sesuatu yang istimewa kepada Li'er. Para dewa memberikan bekal kepada Li'er lewat matanya. Dan guru juga bilang bahwa ke depannya, mata Li'er tidak akan biss terbuka kembali. Mata itu akan terus tertutup sebelum Li'er bisa mengendalikannya sendiri. Dan sebelum waktu tersebut datang, mata istimewa itu akan terbuka juga apalagi Li'er marah. Seperti tadi contohnya. Dan aku baru tahu sekarang bahwa bekal yang diberikan oleh para dewa ternyata sangat mengerikan," kata Shin Shui sengaja menjelaskan panjang lebar.
Semua orang terkejut dan merasa bahagia. Akhirnya sekarang mereka mengerti apa yang terjadi. Menurut semua orang yang ada di sana, Chen Li merupakan anak yang paling beruntung di dunia ini. Bukan hanya manusia yang menyayanginya, bahkan para dewa sekalipun.
"Kepala Tetua, apakah kau sudah memberitahukan hal ini kepada Li'er?" tanya seorang tetua.
"Belum. Mungkin sebentar lagi kalau sudah saatnya, aku pasti akan memberitahu hal ini,"
"Jadi sebenarnya Li'er tidak buta?" tanya Yun Mei kepada Shin Shui.
"Sama sekali tidak Memei. Anak kita normal, hanya saja ia harus rela matanya tertutup. Tapi kau jangan khawatir, sebab orang tuli saja masih ada yang bisa mendengar. Dan orang buta, masih ada yang bisa melihat," ucap Shin Shui.
"Maksudmu?" tanya Yun Mei kebingungan.
"Walaupun mata Li'er tidak bisa terbuka setiap waktu. Tapi ia masih tetap bisa melihat semuanya,"
"Dengan cara?"
"Hati dan perasaan. Dua hal ini bahkan lebih tajam daripada indera tubuh lainnya. Oleh sebab itulah Li'er harus di ajarkan cara menggunakan hati dan perasaannya," kata Shin Shui menjelaskan.
Akhirnya Yun Mei pun mengerti semuanya. Itu artinya, untuk ke depan dia harus mengajarkan Chen Li tentang hati dan perasaan. Seperti apa yang dikatakan Shin Shui barusan.
"Kalau begitu kami siap membantu Li'er," kata seorang tetua sambil bangkit berdiri diikuti tetua lainnya.
"Terimakasih. Aku tidak akan lupa kebaikan kalian," ucap Shin Shui.
"Seharusnya kami yang berterimakasih kepada Kepala Tetua," jawabnya.
"Kepala Tetua, apakah kau punya sebutan untuk mata Li'er? Bukankah mata itu sangat istimewa karena diberikan oleh para dewa?" kata seorang murid wanita mendiang Yashou yang bernama Yiu Jiefang.
"Hemm … kau benar. Sepertinya aku harus memberikan nama untuk mata Li'er," kata Shin Shui setuju dengan ucapan Yiu Jiefang.
"Jadi, menurut Kepala Tetua, nama apa yang cocok?" tanya yang lainnya.
"Karena mata itu pemberian para dewa, maka aku akan memberikannya nama … Mata Dewa," katanya dengan mantap.
"Mata Dewa … hemmm, nama yang bagus," ucap Yun Mei.
"Benar-benar nama yang cocok," kata tetua lainnya.
"Karena kalian merasa setuju, sepertinya aku harus bersulang dan minum arak. Mari kita bersulang untuk Mata Dewa," kata Shin Shui dengan semangat.
Semua orang pun gembira. Tanpa sungkan lagi mereka segera menuangkan arak yang memang sudah tersedia di meja para tetua.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 447 Episodes
Comments
zevs
m a r a t o n
2024-04-09
0
kek mata rine saringan aja hahhahah
2022-10-07
2
Muhammad Amin
lanjut dong
2021-08-02
1