Orang-orang yang ada di sana semuanya minum arak dengan bahagia. Pada akhirnya, seseorang yang akan melanjutkan kisah Shin Shui telah terlahir kembali.
Setelah selesai meminum arak, mereka segera melakukan pekerjaannya. Banyak dokumen-dokumen yang sudah menumpuk di sana. Banyak juga laporan-laporan yang telah diterima. Semua itu pekerjaan setiap hari mereka.
Di luar, para murid telah berlatih kembali setelah makan siang dan waktu istirahat selesai. Para murid selalu berlatih dengan semangat. Tak ada kata lelah yang terucap dari mulut mereka. Dan tidak ada gambaran penyesalan dalam wajah mereka karena telah masuk ke sekte ini.
Mereka yang menyesal masuk ke Sekte Bukit Halilintar, berarti orang itu benar-benar bodoh.
Saat semua tetua sedang sibuk menyelesaikan pekerjaan mereka, tiba-tiba seorang angota Sekte Bukit Halilintar masuk.
"Ada apa?" tanya Shin Shui.
"Maaf kepala tetua, ada seseorang yang ingin bertemu dengan Kepala Tetua. Mereka ada dua orang," kata orang tersebut.
"Siapa mereka?"
"Saya tidak tahu. Yang jelas mereka tetap bersikeras ingin bertemu dengan Kepala Tetua," katanya.
"Tidak tahu sopan santun. Biar aku saja yang melihat siapa orang itu," kata seorang tetua terpancing emosinya.
Sebab menurutnya, siapa pun dia, kalau bertamu tentulah harus memberitahu siapa dirinya dan ada perlu apa. Kalau tidak, orang itu adalah orang yang sombong.
"Tidak perlu. Biar aku saja yang menemui mereka," kata Shin Shui dengan senyuman.
"Tapi Kepala Tetua, mereka sungguh tidak sopan," katanya tetap ngotot.
"Tidak masalah. Mungkin dia memang hanya ingin bertemu denganku," kata Shin Shui lembut.
"Ba-baiklah," jawab tetua itu lalu duduk kembali dan segera melanjutkan pekerjaannya.
Shin Shui lalu menoleh kepada anggota yang memberikan laporan tersebut.
"Antarkan aku ke sana untuk menemui mereka," pinta Shin Shui.
"Bai Kepala Tetua. Mari,"
Shin Shui berjalan di belakang mengikuti. Jalannya santai dengan kedua tangan berada di belakang. Tapi saat berjalan, seolah waktu berhenti. Semua murid dan para guru yang sedang mengajar, serempak memberikan hormatnya.
Semua kepala tetua di sebuah sekte pastilah mendapatkan penghormatan besar dari anggotanya. Namun tidak semua kepala tetua bisa mendapatkan kehormatan yang sama dengan Shin Shui.
Kini ia telah sampai di pintu gerbang. Ternyata memang benar, di sana ada dua orang yang sudah menunggu Shin Shui. Keduanya kira-kira baru berumur tiga puluh tahun. Wajah mereka takkan dengan kulit putih, hidung mancung dan tatapan mata yang menarik. Namun di balik tatapan itu, ada sesuatu yang mengerikan. Jika ditatap lebih dalam, mata itu hampir mirip dengan mata iblis dalam sebuah dongeng.
Kedua orang itu memakai pakaian yang sama. Senjata yang sama. Bahkan wajah yang sama. Sepertinya mereka adalah saudara kembar. Di baju bagian dada kirinya, terdapat lambang sebuah tapak dan di bawahnya ada lambang bongkahan es.
"Perguruan Tapak Es …" gumam Shin Shui.
Seketika pikirannya melayang ke masa lalu. Di mana ia pernah bertarung dengan seorang guru besar di daerah Timur. Guru besar itu berjuluk Dewa Es Sesat (baca di Legend Of Lightning Warriors pertama). Tapi siapa kedua orang ini? Karena merasa penasaran, akhirnya dia pun bertanya.
"Salam hormat untuk kedua pendekar. Bolehkah aku tahu siapakah kalian berdua?" tanya Shin Shui dengan sopan.
Kedua pendatang itu lalu membalikan badannya berbarengan, karena sebelumnya mereka memunggungi.
"Apakah kau Shin Shui si Pendekar Halilintar?" tanya seorang di antara mereka.
"Benar, aku bernama Shin Shui. Adakah yang bisa aku bantu?" tanya Shin Shui masih tenang.
"Tentu. Aku harap kau mau membantu kami," katanya dengan dingin.
"Baik, katakan saja. Tapi sebelumnya perkenalkan dulu siapa kedua pendekar," ucap Shin Shui.
"Aku Soan Cu. Dan ini kakakku Soan Mu,"
"Apakah kalian saudara kembar?"
"Ya,"
"Apakah kalian berasal dari Perguruan Tapak Es?"
"Benar. Bagaimana kau tahu?" tanyanya.
"Aku melihat lambang itu di bajumu,"
"Bagus. Berarti kau masih ingat dengan kejadian sepuluh tahun lalu saat bertarung dengan Dewa Es Sesat," katanya.
"Tentu aku masih mengingatnya. Apakah kalian murid Dewa Es Sesat?"
"Bukan hanya murid. Kami adalah cucunya,"
"Ah, pantas kalian mirip dengannya. Ada apakah kalian jauh-jauh sampai datang ke sini?"
"Sudah aku katakan bahwa kami ke sini memerlukan bantuanmu," katanya sedikit membentak.
"Ah iya, aku lupa. Silahkan katakan saja," kata Shin Shui.
"Apakah kau benar-benar akan membantu kami?"
"Selama itu memang wajar, aku akan berusaha membantu kalian,"
"Bagus. Kalau begitu aku minta tolong supaya kau mencabut nyawamu sendiri untuk kami," katanya semakin dingin.
Orang yang tadi bersama Shin Shui kaget. Amarahnya langsung memuncak. Ia hendak menyerang kedua tamu kurang ajar itu, tapi tangan Shin Shui segera menahannya.
"Hemm, jangan katakan bahwa kalian berniat untuk balas dendam," kata Shin Shui mulai dingin.
"Kau pikir untuk apa kami jauh-jauh ke sini kalau bukan untuk membalaskan kematian kakek?"
"Lalu, apakah kalian pikir bahwa kalian benar-benar sanggup membunuhku?" Shin Shui balik bertanya dengan nada yang semakin dingin.
"Jangan memandang remeh kami. Kami sudah berlatih sepuluh tahun hanya untuk menunggu saat-saat seperti ini. Apakah dengan dua kekuatan Pendekar Dewa tahap enam masih belum mampu untuk membunuhmu?" seorang yang bernama Soan Mu berkata dengan sombong.
"Aku sarankan supaya kalian lebih baik berlatih setidaknya sepuluh tahun lagi. Setelah itu, kalian baru datang ke sini lagi," kata Shin Shui.
"Sombong. Apakah kau takut?"
"Jangan sebut aku Shin Shui kalau harus takut kepada kalian," Shin Shui mulai kesal. Tatapan matanya berubah menjadi setajam pisau.
"Hahaha … kalau begitu, apakah kau siap mati di tangan kami?" Soan Cu semakin sombong.
"Kalau kalian memang mampu, aku sungguh bahagia bisa mati di tangan orang seperti kalian," katanya dingin.
"Bagus. Kalau begitu, aku menantangku bertarung di dalam dan disaksikan oleh semua anggota sekte murahan ini," kata Soan Mu menghina Sekte Bukit Halilintar.
Shin Shui tidak menjawabnya. Ia menggertakkan gigi saking kesalnya. Siapa pun boeh menghina dirinya, tapi jangan pernah menghina sektenya.
Akhirnya mereka di bawa masuk. Soan Cu dan Soan Mu berjalan dengan angkuh. Ia memperlihatkan kekuatannya dengan cara merobohkan pohon-pohon bunga sakura yang ada di sana hanya menggunakan satu jari telunjuknya.
Semua anggota Sekte Bukit Halilintar menjadi heboh. Bahkan para tetua pun segera keluar untuk melihat apa yang terjadi di sana. Saat melihat ada seorang dua pendekar sombong, amarah semua anggota meluap. Mereka seperti segerombolan harimau yang marah saat wilayahnya diganggu.
Namun lagi-lagi Shin Shui melarang mereka hanya dengan satu isyarat tangan kanannya saja. Semua orang menurut. Mereka lalu berdiri di pinggiran halaman. Sedangkan Shin Shui sudah berdiri di tengah halaman bersama saudara kembar itu.
"Semuanya. Saksikanlah pertarungan ini. Saksikanlah kematian pahlawan kalian … hahaha," kata Soan Cu sambil berteriak keras dipengaruhi tenaga dalam sehingga semua orang mendengarnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 447 Episodes
Comments
zevs
6
2024-04-09
0
Muhammad Amin
uji coba
2021-08-02
2
arfan
876
2021-07-27
1