Hari sudah pagi lagi, kini semua orang sudah berkumpul di halaman Sekte Bukit Halilintar. Mereka akan mengantar kepergian Shin Shui yang akan segera berangkat menuju ke Istana Kekaisaran.
Dia akan berangkat sendiri. Pendekar Halilintar sama sekali tidak mau di kawal oleh siapa pun. Menurutnya, lebih baik yang lain menjaga keamanan Sekte Bukit Halilintar. Karena bukan tidak mungkin kalau musuh akan datang, sekali pun sekte itu sudah terkenal dan ditakuti, musuh tetaplah ada.
Shin Shui sudah siap untuk berangkat. Sebelumnya ia berpamitan lebih dulu kepada semua anggota sekte Bukit Halilintar lalu kepada Chen Li dan juga Yun Mei.
"Li'er, kau jangan nakal ya. Berlatih yang rajin. Ayah pergi hanya sebentar," kata Shin Shui sambil mengacak-acak rambut Chen Li.
"Baik ayah. Li'er janji tidak akan nakal," katany sambil tersenyum lucu.
"Memei, aku pergi dulu. Kau jaga baik-baik anak kita ini," kata Shin Shui.
"Baik Shushi. Kau jangan khawatir, aku akan menjaga anak kita,"
"Baiklah. Aku pergi dulu," katanya sambil mencium kening.
"Semuanya, aku berangkat dulu,"
"Hati-hati Kepala Tetua …"
"Semoga selamat sampai tujuan Kepala Tetua …"
Seruan demi seruan dari para murid dan para tetua Sekte Bukit Halilintar mengiringi kepergian Shin Shui.
Dia seger melesat terbang bersama burung-burung yang baru keluar dari sarangnya. Mentari baru muncul sedikit, Shin Shui amat menikmati pemandangan indah ini dari atas sana.
Pendekar Halilintar itu terlihat gagah bagaikan seekor burung phoenix. Jubahnya berkembang tertiup angin. Rambutnya berkibar indah ditempa sinar mentari pagi.
###
Tak terasa sepuluh hari sudah berlalu semenjak kepergiannya menuju ke Istana Kekaisaran Wei. Selama perjalanan itu Shin Shui tidak menemukan halangan apa pun, sesekali dia melihat-lihat kehidupan rakyat yang ada di bawah kekuasaan Kekaisaran Wei.
Ternyata semua hidup sejahtera. Walau pun tidak semuanya memiliki banyak harta, setidaknya rakyat bisa hidup dengan tenang dan damai. Para petani, terus bercocok tanam memenuhi keperluan pangan.
Para pedagang bisa berdagang mengais rezeki untuk keluarganya dengan tenang. Beban rakyat sedikit terangkat karena pajak yang ditetapkan oleh pemerintah tidak besar. Di kota-kota besar, kehidupan jauh lebih maju lagi.
Banyak para pedagang besar yang datang dari luar Kekaisaran berdagang di sini. Sebab menurut mereka, saat inilah puncak kejayaan Kekaisaran Wei. Jelas, ini sangat menguntungkan bagi mereka.
Ekonomi maju pesat. Kehidupan aman tenteram, siapa yang tidak sejahtera jika tanah airnya seperti ini?
Shin Shui saat ini sedang berjalan santai di sebuah kota besar. Ia ingin mencari restoran ternama yang ada di kota ini. Kesukaannya dari dulu adalah makan. Makanan apa pun, selama itu memang lezat, walau pun mahal ia akan tetap mencobanya.
Terkadang Shin Shui berpikir, lebih enak menjadi pendekar yang senang mengembara seperti dulu. Sebah menjadi seorang kepala tetua sebuah sekte itu, terkadang membosankan juga.
Setiap hari ia harus mengerjakan tugas yang sudah menumpuk. Dari pagi sampai malam, terus seperti itu. Bukankah ini membosankan namanya? Coba kalau ia masih seperti dulu, mungkin Shin Shui sudah menjelajah ke seluruh negeri.
Pada akhirnya Shin Shui berhenti di sebuah restoran besar yang mewah. Di depannya terdapat kapan nama restoran yang bernama "Restoran Kelas Atas". Dari namanya saja, sudah bisa di bayangkan bahwa semua makanan di tempat ini pasti mahal.
Tapi Shin Shui tidak peduli, sebab berapa pun harganya, dia bisa membayar. Selain itu, dia mungkin bisa mendapatkan informasi penting terkait dunia persilatan atau pun lainnya. Sebab dari zaman dahulu hingga sekarang, mencari informasi di tempat makan lebih mudah daripada tempat lainnya.
Seorang pelayan wanita menghampirinya ketika ia duduk si meja kosong pojok ruangan. Shin Shui segera memesan makanan termahal yang di sediakan di sini.
Sambil menunggu pesanan datang, ia memandang berkeliling. Para pengunjung di sini ternyata ada dari berbagai macam kalangan. Termasuk kalangan dunia persilatan.
Di sebelah depannya, ada sekelompok orang yang menurut Shin Shui sedikit mencurigakan. Mereka berjumlah sembilan orang. Pakaiannya seragam, berwarna hijau tua dan di punggungnya ada lambang seekor ular hijau melilit sebatang tongkat.
Sebentar-sebentar salah seorang dari mereka meliriknya. Kadang-kadang ia pun beradu pandang dengan orang-orang tersebut. Sepertinya sekelompok orang itu sedang membicarakan sesuatu yang rahasia.
Shin Shui ingin mendengarkan lebih lanjut, namun tak sempat karena pesanan telah datang. Ia memesan makanan bernama Sup Tujuh Daging Siluman. Sesuai namanya, sup ini memang berisi tujuh daging siluman berukuran cukup besar. Menurut keterangan pelayan, sup ini sangat baik untuk menyembuhkan luka dalam dan bisa mempercepat mengembalikan tenaga dalam yang sudah terbuang.
Shin Shui segera memakan sup tersebut selagi masih hangat. Tapi telinganya masih di pergunakan dengan jelas untuk mendengar pembicaraan sembilan orang tadi.
Kecurigaannya terbukti, salah satu di antara mereka membicarakan tentang Sekte Teratai Putih. Di mana sekte itu merupakan salah satu sekte beraliran putih kelas atas.
Tak lama kemudian, mereka pergi seperti terburu-buru. Perasaan Shin Shui semakin curiga, ia pun mempercepat makannya. Setelah membayar semua biaya, dia segera pergi untuk mengikuti sembilan orang tadi.
Awalnya Pendekar Halilintar itu bisa mengikuti mereka. Namun saat tiba di sebuah hutan, Shin Shui tiba-tiba kehilangan jejaknya.
"Aku yakin tadi mereka ke sini. Tapi kenapa sekarang menghilang, hemm …" Shin Shui memandang berkeliling, tapi tak ada satu pergerakan pun.
Tak lama, kesembilan orang tadi tiba-tiba muncul di hadapannya. Mereka berdiri sejajar terpaut dua puluh langkah dari Shun Shui.
"Siapa kau? Kenapa mengikuti kami?" tanya salah seorang di antara mereka.
"Justru aku yang seharusnya bertanya, kalian siapa? Rasanya aku baru pertama kali melihat sekte yang berpakaian seperti itu," kata Shin Shui.
"Hemm, kami dari sekte Ular Hijau. Kami berasal dari perbatasan Timur, jadi wajar kalau kau baru pertama melihat," kata salah seorang mewakili yang lainnya.
"Lalu, tujuanmu ke sini untuk apa? Aku dengar kalian tadi membicarakan Sekte Teratai Putih,"
"Itu bukan urusanmu. Yang jelas, kami memang berniat untuk mengunjungi Sekte Teratai Putih," katanya, suaranya sedikit meninggi dan ekspresi wajah memancarkan kebencian.
Shin Shui semakin curiga. Hatinya semakin yakin bahwa mereka ini bukanlah orang baik-baik.
"Sudah tentu urusanku. Karena aku menjamin keamanan dunia persilatan. Dan aku melihat, kalian seperti memiliki niat buruk kepada Sekte Teratai Putih," ucapnya.
"Aku bilang bukan urusanmu. Jadi jangan ikut campur, lebih baik sekarang pergi dari hadapanku!!!"
"Hemm, kalau aku tidak mau?"
"Kami akan memaksamu …"
"Wushh …"
Cahaya hijau tua segera selesai cepat ke arah Shin Shui. Cahaya itu membawa hawa panas yang menyengat.
Shin Shui lalu menggerakan tangan kanan dengan gerekan menepis. Sinar hijau tadi kemudian terpental begitu saja lalu menabrak batang pohon hingga hancur jadi serpihan kecil.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 447 Episodes
Comments
zevs
11
2024-04-09
0
arfan
778
2021-07-27
2
Dadang Ribet
y
2021-06-21
1