Keadaan berubah menjadi lebih tegang. Empat orang sisanya tak pernah menyangka bahwa orang-orang mereka akan tewas mengenaskan seperti ini.
Mimpi pun rasanya tidak. Mereka tidak mau percaya akan kejadian hari ini, tapi sayangnya itu tidak bisa. Sebab peristiwa ini nyata dan di saksikan oleh mata mereka sendiri.
Bau amis dari darah langsung tersebar ke segala arah. Lalat hijau seketika datang mengerumuni mayat-mayat itu.
Shin Shui masih berdiri mematung. Pedang Halilintar ia acungkan ke bawah. Dari batang pedang, setetes demi setetes darah terus mengucur membasahi rerumputan. Wajah Shin Shui berubah menjadi sedingin es.
Empat orang itu melangkah maju. Senjata seperti lima belas orang tadi langsung mereka cabut. Bedanya, masing-masing dari empat orang ini, memegang dua batang besi perak.
"Kau tahu aturan Sekte Besi Perak?" tanya salah seorang di antara mereka.
"Tentu saja tidak, karena aku bukan bagian dari kalian,"
"Bagus. Mulut yang pemberani. Aku beritahu padamu, Sekte Besi Perak mempunyai aturan bahwa siapa pun yang membunuh orang-orangnya, maka pelaku harus ikut mati. Bagaimanapun caranya,"
"Jadi maksudmu, aku harus ikut mati bersama orang-orangmu yang tidak berguna itu?"
"Tepat. Mau tidak mau, kau harus mau. Bersiaplah untuk menyusul mereka,"
"Aku sudah siap dari tadi. Kalau memang kalian merasa mampu, majulah. Biar kalian tahu bagaimana kejamnya Pendekar Halilintar,"
"Mulut yang sombong,"
"Harus. Kalau aku sedang berhadapan dengan orang sombong, maka aku harus lebih sombong,"
"Hemm, baik. Kita mulai," kata orang itu.
Baru saja mereka mau bergerak, tiba-tiba dari dalam sekte keluar dua orang pendekar yang tadi bersama Shin Shui. Meraka membawa orang-orang yang bisa di selamatkan. Termasuk si kakek tua tadi.
Melihat kakek tua itu selamat, salah seorang dari musuh Shin Shui berniat untuk mencegah lalu menyerangnya. Namun hal itu segera diketahui oleh Shin Shui.
"Berani melangkahkan kaki lagi, aku tidak menjamin bahwa detik berikutnya kau masih hidup," kata Shin Shui memberikan ancaman.
Entah kenapa, langkah orang itu langsung terhenti seketika. Dia kemudian masuk ke dalam barisannya lagi. Padahal, dengan kekuatan rekan-rekannya tentu dia tidak harus merasa setakut itu.
Tapi entah bagaimana, ucapan Shin Shui barusan itu seperti mengandung wibawa yang sangat besar.
"Cepat keluar dari tempat ini. Awasi saja keadaan. Serahkan mereka kepadaku," kata Shin Shui.
Suasana hening kembali. Namun keheningan ini menjadi sebuah pertanda bahwa pertarungan yang dahsyat, akan segera di mulai.
"Sekarang!!" kata satu orang memberikan perintah.
"Wushh …"
Keempatnya menjejakkan kaki ke tanah. Tubuhnya meluncur bagaikan anak panah lepas dari busur. Sinar perak melesat cepat mengincar Shin Shui.
Dalam satu tarikan nafas, keempatnya sudah tiba di hadapan Pendekar Halilintar. Mereka langsung mengirimkan sejumlah serangkaian serangan mematikan. Sinar-sinar perak sudah mengurung Shin Shui.
Suara angin berdecit tajam. Hawa panas menjalar ke sekitar arena. Pertarungan berjalan semakin hebat.
Bunyi berdentangan mulai terdengar. Senjata keempat orang tersebut sudah beradu. Benturan logam terdengar membuat bising telinga.
Tubuh Shin Shui terus berputar di ikuti Pedang Halilintar. Ia membuat sebuah perisai yang sulit ditembus oleh lawan. Namun harus Shin Shui akui, bahawa serangan keempat orang ini memang berbahaya.
Di lihat dari kecepatan dan kuatnya serangan yang mereka lancarkan, keempatnya berada di sekitar levelan Pendekar Dewa tahap lima. Kalau di Kekaisaran Wei, setara dengan Pendekar Dewa tahap enam.
Ini artinya, Shin Shui harus mengeluarkan sekitar delapan puluh persen kekuatan yang sesungguhnya. Sebab saat ini, dia harus melawan empat Pendekar Dewa tahap enam sekaligus.
Pertarungan semakin sengit. Benturan energi terjadi sepanjang pertarungan. Shin Shui mulai mengambil tindakan.
Pedang Halilintar beraksi kembali.
"Tarian Ekor Naga Halilintar …"
"Wushh …"
Jurus dashyat yang dia ciptakan saat latihan di Gunung Siluman, akhirnya keluar kembali.
Shin Shui menari di balik semua serangan. Pedang Halilintar bergerak meliuk-liuk bagaikan ekor naga yang marah. Mengibas ke sana kemari, menusuk setajam pisau.
Lima belas jurus sudah berlalu. Pertarungan masih terlihat imbang. Empat lawan tak mau mundur, mereka justru semakin maju mendekatkan jaraknya dengan Shin Shui.
Besi perak yang lancip itu menusuk-nusuk tak kenal lelah. Seolah besi itu tidak akan berhenti sebelum mengenai sasarannya.
Keadaan arena pertarungan semakin parah. Cekungan dangkal terlihat di segala sisi. Mayat-mayat tadi satu persatu terlempar akibat efek angin yang ditimbulkan dari pertarungan dahsyat tersebut.
Shin Shui menambah kecepatan. Kali ini, tujuh puluh persen kekuatannya sudah keluar. Gerakannya semakin cepat. Laksana halilintar marah, dia bergerak menyambar ke segala arah. Keempat lawan mulai merasakan kewalahan.
Satu di antara keempatnya, terkena sabetan Pedang Halilintar di bagian pinggang kanan. Tidak terlalu lebar dan dalam, namun luka seperti itu saja mampu membuat seorang Pendekar Surgawi tahap lima ke bawah langsung tewas. Artinya, luka yang orang itu derita lumayan parah.
Gerakan orang tersebut mulai melambat. Wajahnya memucat seperti mayat. Tak ada darah dalam luka yang di akibatkan oleh Shin Shui itu. Hanya saja, orang itu merasaka sakit yang luar biasa dari dalam tubuhnya.
Perubahan pada orang itu tak luput dari pengmatan Shin Shui. Maka begitu ada kesempatan untuk menyerang balik, dia mengincar orang itu lebih dulu.
"Langkah Halilintar …"
"Tebasan Membelah Langit …"
"Wushh …"
"Trangg …"
"Trangg …"
Shin Shui menyerang orang itu dengan kecepatan di luar nalar. Untuk beberapa saat dia mampu mengimbangi, namun sayangnya pedang itu sudah tidak terlihat lagi bentuknya. Yang terlihat hanyalah cahaya biru mencolok sedang menggempur segala sisi tubuhnya.
Detik berikutnya. Pedang Halilintar berhasil membelah kepala orang itu. Tak ada kata terkahir yang terucap karena dia langsung tewas saat itu juga.
Darah muncrat sampai mengotori jubah biru Shin Shui.
Begitu satu lawan tewas, dia segera membalikan tubuhnya. Naas, Shin Shui terlambat satu langkah. Begitu dia berniat menggempur lagi, tusukan besi perak lawan berhasil menyerempet pangkal lengan kirinya.
Shin Shui mengeluh pendek. Rasa dingin menusuk tulang mulai menjalar ke seluruh tubuh. Dia tahu bahwa besi itu mengandung racun ganas, maka dengan cepat Shin Shui menyalurkan tenaga dalam untuk memperlambat jalannya racun tersebut.
Walaupun begitu, pertarungan terus berlangsung. Dia melakukannya sambil menahan semua serangan lawan. Hal seperti ini hanya bisa dilakukan oleh mereka yang berkemampuan sangat tinggi.
Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.
Ketiga lawan yang menyadari perubahan pada tangan kanan Shin Shui, merasa gembira. Mereka melompat mundur beberapa tombak lalu kembali menyerang dengan gerakan berbeda. Dari geraknya saja, sudah terlihat bahwa ini jurus tingkat tinggi.
"Jurus Tiga Serangkai … Tiga Besi Mengejar Nyawa …"
"Wushh …"
Sinar perak terlihat semakin besar. Udara terasa semakin sesak bahkan retak. Shin Shui menyadari bahwa kali ini lawannya sudah sungguh-sungguh. Seluruh kemampuan lawan, sepertinya akan dikeluarkan sebentar lagi.
Tinggal menunggu waktu yang tepat, maka pertarungan ini akan bertambah mengerikan lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 447 Episodes
Comments
zevs
17
2024-04-09
0
Darmawan
ini alurnya bgi mn ya thor,ini klu bisa bikin novel khusus siszunzui.
2022-06-23
2
Tom
mampos ko shui,😁😁🤣🤣🤣
2021-10-02
1