Sembilan belas orang tersebut bergerak mengelilingi Shin Shui. Senjata mereka semuanya sama. Yaitu sebuah besi lancip dengan panjang satu depa. Berwarna perak. Warnanya berkilauan terkena sinar matahari.
Dalam sekejap, mereka serempak mengirimkan serangan. Yang bergerak ternyata tidak semuanya, melainkan hanya sekitar lima belas orang saja. Sedangkan yang empat masih berdiri menantang.
Lima belas orang itu mengirimkan serangan berupa tusukan jarak jauh. Sinar perak berkilat secepat angin menyambar ke arah Shin Shui. Saking terangnya, bahkan bisa membuat mata silau.
Tapi itu semua hanya berlaku bagi orang lain. Karena bagi Shin Shui si Pendekar Halilintar, serangan seperti itu sama sekali bukan masalah berarti.
Shin Shui masih berdiri tegak menunggu sinar-sinar tersebut menyambar tubuhnya. Begitu hampir tiba, dia hanya berputar satu kali ke arah kanan. Hasilnya membuat orang yang ada di sana terbelalak.
Lima belas sinar putih perak tadi, terpental ke segala arah menyambar sesuatu yang ada di tempat tersebut. Ada yang terpental menyambar pohon, menabrak dinding, bahkan ada yang hampir mengenai pengirimnya sendiri.
"Hemm, kalian yang lemah atau memang akunya yang terlalu kuat?" Shin Shui berkata dengan nada sinis. Sifat gilanya mulai keluar bersamaan amarahnya yang sebesar gunung Thiang San.
Darah dibayar darah. Hinaan dibayar hinaan. Skor 1-1. Tadi Shin Shui di hina, sekarang giliran mereka yang dihina. Ada senyum kemenangan terlukis pada bibir Pendekar Halilintar yang memerah itu saat melihat kelima belas lawannya bertambah emosi.
Ucapan Shin Shui barusan, bahkan terdengar lebih menakutkan daripada gemuruh halilintar sekali pun. Baru kali ini mereka mengalami hinaan seperti itu. Apalagi, di tempat asalnya mereka di kenal sebagai sekte yang di segani kawan maupun lawan.
Shin Shui tahu, bahwa dua puluh orang itu merupakan orang-orang yang berasal dari sekte Besi Perak, hal ini terlihat dari lambang pakaian mereka. Sekte Besi Perak berada di salah satu daerah Kekaisaran Tang, entah apa tujuan mereka kemari. Yang jelas, pasti ada tugas sangat penting yang harus mereka jalankan.
"Manusia sombong. Jangan bermain-main bersama kami, Sekte Besi Perak tidak akan memberikan ampunan bagi siapa pun yang berani menghina. Cepat keluarkan senjata andalanmu sebelum terlambat," kata salah seorang di antara lima belas pendekar tersebut.
Empat pendekar sisanya masih berdiri mematung tanpa ekspresi. Bahkan tatapan mata mereka seperti kosong namun memiliki keseraman tersendiri.
"Hemm, menghadapi tikus kecil seperti kalian, rasanya aku tidak perlu mengeluarkan senjata. Aku takut baru lihat saja, kalian langsung tewas. Lagi pula, senjataku terlalu berharga bagi kalian yang rendah ini," katanya sengaja menyombongkan diri.
"*******. Kalau kau tidak mau mencabut senjata, itu artinya kau memang tidak ada niat bertarung hidup dan mati melawan kami. Sungguh sayang, masih ada saja pendekar yang takut mati di zaman sekarang ini," ucapnya sambil tersenyum sinis.
Shin Shui mendengus pelan sebelum akhirnya ia angkat bicara, "Apakah kalian akan tetap memaksaku untuk menggunakan senjata?"
"Tentu. Karena kami tidak pernah bertarung melawan pendekar yang lemah," kata mereka.
"Baik, berjanjilah untuk tidak menyesal,"
"Menyesal? Kami akan bahagia jika bisa mati di tanganmu. Yang jadi pertanyaan, apakah kau yakin bisa membunuh kami?" katanya sombong.
Shin Shui tidak menggubrisnya. Dia hanya memperhatikan ke orang-orang yang saat ini sedang mengelilingi dirinya tersebut. Menurut penglihatan Shin Shui, kelima belas orang itu berada pada tahap Pendekar Surgawi tahap enam.
Tapi dia merasakan bahwa mereka sebanding dengan Pendekar Surgawi tahap tujuh yang ada di Kekaisaran Wei. Itu artinya, setiap pendekar yang ada di Kekaisaran Tang, kekuatannya setara dengan satu tahapan lebih tinggi pendekar Kekaisaran Wei.
Melihat kenyataan ini, dia jadi teringat perkataan gurunya bahwa tingkatan level pendekar Kekaisaran Wei, merupakan yang terlemah saat ini.
Setelah selesai mengamati, Pendekar Halilintar segera mencabut pedang pusakanya yang beberapa waktu belakangan ini tersimpan dalam Cincin Ruang.
Pedang Halilintar!
Sebuah pedang yang sangat indah dengan seluruh sarung berwarna biru mencolok. Ada ukiran halilintar dan naga serta burung phoenix pada sarung tersebut. Tanpa menunggu waktu lagi, Shin Shui mencabut pedang pusaka tersebut dari sarungnya.
Aura dari halilintar langsung terasa. Langit cerah perlahan mendung. Energi di sana tiba-tiba terasa semakin menekan. Pedang itu mendadak diselimuti aura biru dengan di selingi kilatan petir.
Lima belas pendekar tertegun untuk beberapa saat. Dalam hati, mereka merasa sedikit menyesal karena sudah menyuruh lawan untuk mengeluarkan senjatanya. Namun penyesalan itu sia-sia saja karena nasi sudah jadi bubur.
Seperti di komando, kelima belas pendekar tersebut serempak mengirimkan serangan jarak jauh kembali. Namun serangan kali ini lebih dahsyat. Sinar perak yang melesat, bukan hanya sebuah sinar belaka. Melainkan di dalamnya ada besi lancip beracun yang di pakai untuk membunuh semua murid tadi.
Shin Shui diam tidak bergerak. Dia hanya menggenggam Pedang Halilintar dengan erat. Tak ada tanda-tanda bahwa dia akan mengambil tindakan. Tapi begitu serangan lawan berjarak satu langkah lagi darinya dan sinar sudah mengurung. Dia menggerakan sedikit Pedang Halilintar.
"Wushh …"
Satu sinar biru mencolok melesat secepat kilat yang menyambar bumi. Kilatan cahaya biru itu bergerak mengarah kepada tiga pendekar. Dalam sekejap, sinar tadi sudah kembali dan lenyap lagi bersamaan dengan lenyapnya sinar perak dari lawan.
Semua orang yang ada di sana kembali dibuat terkejut oleh Shin Shui.
Tidak ada yang tahu bagaimana orang itu melakukannya. Kejadian seperti sebelumnya terulang kembali, tiga teman mereka tahu-tahu sudah tewas tergeletak tanpa kepala. Tak ada darah yang keluar dari ketiganya.
Kedua belas pendekar saling pandang. Bulu kuduk mereka terasa bergidik.
"Jangan bermain-main bersama Pendekar Halilintar," katanya menirukan ucapan mereka.
"Duarr …"
Ucapan itu di akhiri dengan halilintar yang tiba-tiba berbunyi.
Kembali lawan terkejut. Kali ini bukan hanya terkejut, melainkan ketakutan setengah mati. Nama Pendekar Halilintar, sudah tersebar ke mana-mana.
Siapa yang tidak tahu tentangnya? Bahkan kasarnya, anak kecil usia tiga tahun pun tahu siapa itu Pendekar Halilintar.
Keempat orang yang tadi berdiri tanpa ekspresi, sesaat menggambarkan keterkejutan. Tapi itu hanya beberapa tarikam nafas, setelah itu mereka kembali seperti semula.
Karena nasi sudah menjadi bubur, maka kedua belas orang tersebut nekad menyerang Shin Shui dari jarak dekat. Semuanya bergerak secara bersamaan.
Sinar perak yang semakin menyilaukan mata di acungkan mengarah kepada Shin Shui. Gerakan mereka cepat dan gesit. Kerja sama yang memulai dan serangan yang cukup berbahaya.
Kalau kejadian ini terjadi dahulu, mungkin Shin Shui sendiri akan merasa kerepotan. Tapi kalau sekarang, ceritanya lain lagi.
"Langkah Halilintar …"
"Tebasan Pedang Halilintar …"
"Wushh …"
"Crashh …"
"Crashh …"
Dala hitungan detik, lima orang terkapar tewas tanpa kepala seperti sebelumnya. Shin Shui tak mau berhenti sampai di situ saja, dia bergerak mengelilingi semua musuh. Pedang Halilintar terus berkelebat mencari sasarannya.
Begitu dia berhenti, pertarungan pun berhenti. Sebab saat ini, lima belas orang tadi sudah berubah menjadi mayat. Mereka tewas membawa rasa takut yang tidak ada duanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 447 Episodes
Comments
zevs
16
2024-04-09
0
arfan
768
2021-07-27
3
Dadang Ribet
yesssss
2021-06-21
1