Semua orang yang menyaksikan pertarungan ini tercengang. Terlebih mereka para tetua Sekte Bukit Halilintar. Mereka tahu bahwa Shin Shui memiliki kekuatan di luar nalar manusia. Tapi mereka juga baru tahu, bahwa kekuatan Shin Shui ternyata lebih besar daripada yang mereka bayangkan selama ini.
Sebab setelah perang besar berkahir, Shin Shui memang jarang turun tangan lagi. Dia turun kalau ada hal-hal tertentu yang menurutnya sangat penting. Dan sebelumnya, tidak ada bodoh yang berani menantang Shin Shui seperti Soan Cu dan Soan Mu.
Semua orang tahu siapa itu Shin Shui. Bahkan Kaisar Wei An sendiri pernah berkata bahwa perintah Shin Shui, sama dengan perintahnya. Yang berani kurang ajar terhadapnya Shin Shui, berarti sama saja kurang ajar terhadap Kaisar Wei An.
Kalau sudah seperti itu, siapa yang berani berlaku kurang ajar kepadanya? Hanya orang bodohlah yang akan melakukannya. Bahkan secara khusus, Shin Shui diberi gelar "Pahlawan" oleh Kaisar Wei An.
Shin Shui kemudian berjalan menghampiri Soan Cu dan Soan Mu yang sudah berada dalam keadaan sekarat itu. Sinad mata keduanya memancarkan kebencian mendalam saat melihat Shin Shui.
Walaupun nafas mereka sudah terengah-engah, tapi dendam mereka belum pudar. Mereka belum mati, jadi mereka takkan diam saja.
Soan Cu dan Soan Mu mengerahkan sisa tenaga dalamnya yang terkahir. Hawa ingin membunuh kembali menyelimuti tempat itu. Soan Cu dan Soan Mu tiba-tiba bangkit berdiri lagi.
Keduanya langsung memberikan serangan telak kepada Shin Shui. Mustahil baginya untuk bisa menghindari serangan ini sebab jaraknya yang begitu sangat dekat. Paling hanya terpaut sepuluh langkah saja.
"Badai Kematian …"
"Pukulan Es Utara …"
"Wushh …"
"Wushh …"
Dua jurus maut melesat. Energi yang terkandung di dalamnya dua kali lebih besar dari pada tadi. Shun Shui terkejut, namun itu hanya sekejap. Kalau orang lain, pasti akan kelabakan mencari cara untuk menyelamatkan diri.
Tapi Shin Shui tidak. Shin Shui tetaplah Shin Shui, dia bukan orang lain. Dia menghengakan kedua kakinya ke atas. Bukan untuk menghindari dua serangan itu, melainkan untuk mengeluarkan jurus yang jauh lebih dahsyat lagi.
Soan Cu dan Soan Mu tak bisa lagi berkata apa-apa. Keduanya baru menyadari bahwa ucapan Shin Shui memang benar. "Aku sarankan supaya kalian lebih baik berlatih setidaknya sepuluh tahun lagi. Setelah itu, kalian baru datang ke sini lagi,".
Ucapan itu mulai terngiang-ngiang di telinga saudara kembar tersebut. Sayangnya semua itu sudah terlambat. Waktu tidak bisa di ulang lagi
Shin Shui mengangkat kedua tangannya ke atas. Aura berwarna biru semakin dekat menyelimuti tubuhnya. Langit yang cerah mendadak gelap. Angin yang tenang jadi kencang. Langit mulai bergemuruh. Tanah langsung bergetar.
Kalau Shin Shui sudah mengeluarkan jurus yang dapat mengguncangkan langit dan bumi, maka hanya sedikit pendekar saja yang mampu terlepas dari jeratannya. Lepas dari jeratan Shin Shui, artinya lepas dari kematian. Sayangnya, Soan Cu dan Soan Mu bukan termasuk pendekar yang mampu melepaskan jeratan itu.
"Badai Halilintar …"
"Glegarrr …"
Halilintar mulai terdengar tiada henti. Lidah petir menyambar ke segala penjuru. Di sana mulai hujan, tapi bukan hujan air. Melainkan hujan halilintar.
Seiring berjalannya waktu, halilintar semakin banyak dan suasnaa semakin menyeramkan. Shin Shui belum menurunkan kedua tangan, tapi detik berikutnya, dia menurunkannya juga.
"Glegarrr …"
Badai halilintar menyambar Soan Cu dan Soan Mu tanpa dapat mereka hindari lagi. Badai itu terus menggulung keduanya sampai mereka tewas dengan kondisi yang mengenaskan. Tubuh mereka gosong. Kondisinya sudah berbalik seratus persen, kulit hang tadinya putih, kini hitam legam.
Tanah di sekitarnya hancur akibat halilintar yang terus menyambar. Semua murid ketakutan melihat kejadian ini. Terutama mereka yang masih baru. Sebab para murid tersebut baru kali ini melihat bagaimana kekuatan Kepala Tetua mereka.
Saat Shin Shui sedang marah, hanya ada satu kata yang cocok untuknya. Dewa iblis …, dia gagah bagaikan dewa, tapi menakutkan bagaikan iblis.
Saat jurus tingkat tingginya keluar, hanya kata mengerikan saja yang pantas mewakili semuanya.
Shin Shui segera menarik kembali jurus Badai Halilintar, sehingga keadaan langsung kembali pulih seperti semula. Pendekar Halilintar lalu melayang turun tepat di hadapan mayat Soan Cu dan Soan Mu.
Ia tidak berniat untuk membunuh saudara kembar itu. Tapi mereka tetap keras kepala. Sehingga pada akhirnya, langit memutuskan bahwa si kembar harus mati di tangan Shin Shui. Walaupun begitu Soan Cu dan Soan Mu tersenyum saat kematiannya.
Mereka seolah bahagia. Tidak dapat membunuh Shin Shui, tapi akhirnya dapat mati di tangan Shin Shui. Keduanya mungkin merasa terhormat karena bisa mati di tangan Pendekar Halilintar.
"Si kembar yang malang …" gumam Shin Shui lalu mendesah berat.
Ia menyayangkan kematian keduanya. Tapi apa boleh buat, kematian tidak dapat dihindari lagi.
"Urus dua orang ini. Kuburkan dengan layak," kata Shin Shui memberikan perintah.
Empat orang lalu melesat ke sana lalu mengangkat mayat Soan Cu dan Soan Mu. Shin Shui sendiri kemudian berjalan mendekati semua tetua yang daritadi melihatnya tanpa berkedip.
Mereka masih tidak percaya bagaimana Shin Shui bisa sekuat ini. Tidak ada yang tahu kapan ia melakukan latihan kecuali dirinya sendiri.
"Kepala Tetua, kenapa kau menyuruh untuk menguburkan mereka. Padahal mereka begitu kurang ajar terhadapmu," kata seorang Tetua Sekte Bukit Halilintar saat jaraknya dengan Shin Shui sudah dekat.
"Mereka berhak mendapatkannya," kata Shin Shui yang terus berjalan memasuki ruangan para tetua kembali dan diikuti yang lainnya.
"Tapi kenapa?"
"Karena mereka pemberani," ucap Shin Shui sambil memberikan senyuman manisnya.
Semua tetua sudah kembali ke ruangan. Semua murid pun sudah kembali melanjutkan kegiatannya. Shin Shui lalu minum arak untuk menenangkan dirinya.
###
Hari yang cerah sudah berganti jadi malam yang kelam. Rembulan hanya sedikit bersinar karena tertutup awan kelabu. Hujan rintik-rintik mulai membasahi bumi. Suasana di Sekte Bukit Halilintar sudah sepi.
Shin Shui dan Yun Mei saat ini berada di kamar sang anak. Mereka belum dapat tidur sehingga memutuskan untuk menjaganya.
Chen Li masih belum juga tersadar sejak dari siang. Sepertinya dia benar-benar kelelahan sehingga pingsannya begitu lama. Yun Mei khawatir takut terjadi sesuatu terhadap Chen Li, namun Shin Shui berusaha untuk terus menenangkannya.
"Kau janga khawatir Memei. Li'er baik-baik saja. Dia hanya merasa lelah, percayalah padaku," kata Shin Shui sambil mencium kening Yun Mei.
Yun Mei mengangguk, hatinya sedikit tenang kalau berada di dekat Shin Shui.
Keduanya tidak tahu bahwa saat ini Chen Li sedang mengalami suatu kejadian aneh dalam tidurnya. Ia bermimpi, mimpi yang terasa seperti nyata.
###
Catatan: Kalau penulisan author beda dengan yang lainnya, maaf ya. Karena memang beginilah adanya. Kalau kalian ada yang pernah baca novel silat karya Kho Ping Hoo, Gu Long, dll, pasti kalian akan tahu kenapa bahasa penulisannya gitu😀
Salam hangat buat kalian pembaca☕
Kalau bagus jangan lupa untuk dijadikan referensi ya😆☕🖐
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 447 Episodes
Comments
zevs
8
2024-04-09
0
Masdar Helmi
gmn bisa d blg lebih kuat kekuatan dua kerajaan sdg kan tingkat pelatihan udah d batasi sampai tingkat dewa tahap 7 puncak, d atas tu tingkat keabadian harus naok k alam dewa, benar aneh........
2022-03-20
2
M.agung sarifatullah
semangat thor
2022-01-16
1