"Pahlawan, harap Anda jangan berkata sembarangan. Kekaisaran Tang, terutama Kaisar Tang Yang sendiri adalah mertuaku. Bagaimana mungkin seorang mertua akan mencelakai anak dan menantunya. Ini sungguh tidak masuk akal. Kalau Kekaisaran Sung, masih mungkin, tapi kalau Kekaisaran Tang, aku sungguh tidak yakin," kata Kaisar Wei An sambil memandang Shin Shui dengan tajam.
Kali ini, dia terlihat sangat serius. Bahkan tatapan matanya menggambarkan kekesalan terhadap Shin Shui.
"Sejak kapan aku suka bermain kalau sedang seperti ini? Apakah Kaisar sudah lupa bagaimana sikapku? Bahkan yang tadi aku katakan tentang beberapa orang, mereka mengaku di suruh oleh Kaisar Tang Yang," ucap Shin Shui tak kalah tegasnya.
Suasana di ruangan tersebut berubah jadi tegang. Sebagian pihak menyetujui perkataan Kaisar We An. Mana mungkin seorang mertua akan menempatkan anak dan menantunya di dalam jurang?
Tapi pihak lain juga mengetahui siapa itu Shin Shui. Mereka tahu jelas bagaimana sifat dan karakter Shin Shui. Pendekar Halilintar tidak pernah bermain-main dalam ucapannya jika sedang serius.
"Tanpa bukti yang jelas, bagiku semua yang kau katakan hanya omong kosong belaka," kata Kaisar Wei An tetap ngotot tidak percaya.
"Hemm, bukankah saat ini adalah puncak kejayaan Kekaisaran Wei? Siapa yang tidak ingin menguasai negeri yang kaya akan sumber daya alam dan tidak kekurangan pangan? Dari segala lini, Kekaisaran Wei saat ini sedang dalam posisi yang sangat baik. Ekonomi kita tidak kekurangan, semuanya berjalan baik. Siapa yang tidak tergiur?" Shin Shui berkata semakin tegas. Wibawa seorang pemimpin besar muncul kembali.
"Apakah sudah lupa bahwa setiap manusia memang serakah? Jadi bukankah masuk akal jika sekalipun Kekaisaran Tang mengincar negeri kita? Mengingat Kekaisaran Wei kita yang jadi tanah air seperti sekarang ini," ucap Shin Shui melanjutkan pertanyaannya yang tadi sempat berhenti.
Semua orang tertegun mendengar perkataan Shin Shui. Apa yang dia katakan memang sangat masuk akal. Siapa yang tidak ingin? Apalagi kalau hal tersebut menyangkut kekuasaan. Bukankah banyak sekali orang di dunia ini yang menginginkan sebuah kekuasaan?
Diam-diam, orang yang hadir di ruangan tersebut membenarkan kembali perkataan Shin Shui. Namun untuk bersuara, mereka tentu saja tidak berani.
"Mungkin memang benar. Tapi tetap saja aku masih belum yakin. Pahlawan, sebenarnya apa yang kau inginkan sehingga berani berkata seperti itu? Apakah kau ada masalah dengan orang-orang Kekaisaran Tang? Kalau iya, aku masih sanggup membantumu asalkan kau mengatakannya. Jangan malah menuduh yang bukan-bukan seperti ini," kata Kaisar Wei An dengan tegas. Sorot matanya bertambah tajam kepada Shin Shui.
"Terserah Kaisar kalau begitu. Yang jelas, aku sudah mengatakan apa yang harus aku katakan. Percaya atau tidak, terserah kalian saja," kata Shin Shui sambil menggebrak meja sedikit keras.
Dari dulu, Shin Shui paling tidak suka di tuduh seperti ini. Dia lebih baik di pukul daripada di tuduh yang bukan-bukan. Setelah bangkit berdiri, pendekar serba biru itu segera melangkahkan kakinya ke luar.
Tapi tiba-tiba, Kaisar Wei An justru menarik tangannya. Kemudian ia berlari cepat sampai ke halaman Istana Kekaisaran sambil terus menarik Shin Shui yang kini pergelangan tangannya di genggam erat. Sangat erat.
Para pendekar kaget. Mereka segera mengikuti Kaisar Wei An dari belakangnya. Semua pendekar berhenti lalu mengelilingi halaman yang di tengahnya kini ada Shin Shui dan sang Kaisar.
"Kaisar, apa maksudmu membawaku ke sini?" tanya Shin Shui keheranan.
"Aku hanya ingin kau minta maaf karena telah menuduh yang bukan-bukan terhadap mertuaku," kata Kaisar Wei An berwajah serius.
Sepertinya dia sangat marah atas ucapan Shin Shui tadi.
"Tidak. Aku tidak akan meminta maaf, karena apa yang aku katakan ini, memang akan segera terjadi. Dan aku yakin itu," kata Shin Shui tetap pada pendiriannya.
Niat Shin Shui memang baik, ini semua demi kelangsungan Kekaisaran Wei. Tapi memang kenyataannya sedikit sulit diterima, terlebih oleh Kaisar Wei An sendiri. Tapi apa mau di kata? Toh kenyataannya memang begitu. Sayangnya, Kaisar Wei An malah keburu terbawa nafsu. Sehingga dia tidak bisa berpikir dengan jernih.
Shin Shui pun mengerti akan hal ini. Oleh sebab itu, dia masih bisa menahan diri untuk tetap bersabar sebisa mungkin.
"Aku peringatkan sekali lagi supaya kau segera minta maaf. Kalau tidak …" Kaisar Wei An tidak menyelesaikan perkataannya. Sebaliknya, ia semakin tajam menatap Shin Shui.
Bagaikan seekor harimau yang memandang musuhnya dengan ganas. Sorot matanya benar-benar mengerikan. Kalau orang lain yang melihatnya, sudah pasti akan berkeringat dingin saat melihat tatapan itu.
Tapi sayangnya yang di tatap adalah Shin Shui si Pendekar Halilintar. Shin Shui tetaplah Shin Shui, bukan orang lain.
"Kalau tidak, apa?"
"Kalai tidak aku terpaksa akan membuatmu mengatakannya dengan caraku sendiri," bentak Kaisar Wei An.
Selesai berkata seperti itu, ia langsung melesat menyerang Shin Shui. Gerakannya secepat kilat yang menyambar bumi. Saat ini dia sudah mencapai tingkatan Pendekar Dewa tahap tujuh pertengahan, jadi bisa di bayangkan bagaimana kuatnya kaisar itu.
Shin Shui sadar bahwa kali ini Kaisar Wei An tidak main-main lagi. Walaupun dia sudah mencapai tingkatan Pendekar Dewa tahap tujuh akhir belum lama ini, namun kekuatannya sulit untuk di ukur.
Tapi meskipun begitu, dia tetap jeri juga saat melihat keseriusan Kaisar Wei An yang menyerang dirinya itu. Maka dengan gerakan sederhana, Shin Shui bergerak menghindari serangan kaisar.
"Kaisar, aku peringatkan kau untuk sudahi semua ini. Tidak ada gunanya, aku tidak ingin di antara kita ada yang terluka hanya karena salah paham," kata Shin Shui sambil terus menghindari serangan Kaisar Wei An yang berupa kilatan cahaya.
"Sudahi? Kau bilang sudahi? Aku tidak akan menyudahi kalau kau tidak meminta maaf. Tidak peduli siapa yang akan terluka, belum mencoba bagaimana bisa tahu?" kata Kaisar Wei An masih dengan mada marah.
Diam-diam Shin Shui dan semua orang yang menyaksikan kejadian ini mengeluh.
Semua orang tahu siapa itu Shin Shui dan bagaimana kalau ia sudah marah. Apalagi kalau jurus-jurus kitabnya sudah keluar. Rasanya, dua Kaisar Wei an sekali pun bukan tandingannya.
Tak lama, keluarga kaisar muncul mulai dari anak, istri, adik, sampai ibunya. Mereka ingin menghentikan pertikaian ini, tapi untuk saat ini sepertinya tidak ada gunanya. Apalagi Kaisar Wei An yang sudah di kuasai oleh nafsu.
Kaisar itu terus menggempur Shin Shui dengan serangan jarak jauh yang mematikan. Kilatan cahaya mirip lidah petir menyambar-nyambar mencari sasaran. Halaman itu sudah berlubang akibat serangan yang gagal mengenai sasarannya.
Sampai saat ini Shin Shui masih terus berusaha menghindar. Tak dinyana, Kaisar Wei An malah mengeluarkan jurusnya yang lebih hebat lagi.
"Awan Panas Menembus Gunung …"
"Wushh …"
Secercah cahaya merah keluar dari belakang Kaisar Wei An. Cahaya itu lebarnya lima tombak dan bergerak ke arah Shin Shui secepat kilat. Pendekar Halilintar masih berniat menghindari serangan, namun sayangnya dia sedikit terlambat.
Akibatnya, Shin Shui terhantam telak sampai dia terpental sejauh tiga tombak. Dari sudut bibirnya keluar sedikit darah segar. Kekuatan pendekar setingkat Kaisar, memang tidak main-main.
Shin Shui mulai marah. Sorot matanya berubah setajam pisau. Aura biru mulai menyelimuti seluruh tubuhnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 447 Episodes
Comments
zevs
13
2024-04-09
0
Erna Sukma
Kasih pelajaran aja Shui.. kaisar yg tak mau denger peringatan n pendapat orang lain
2021-09-26
2
arfan
807
2021-07-27
1