"Apa yang sedang mereka lakukan saat ini?" tanya Shin Shui mendahului yang lainnya.
"Mereka saat ini berada di sebuah sekte kecil aliran putih, pahlawan. Entah apa yang sedang mereka lakukan di sana. Yang jelas, gelagatnya penuh kecurigaan," kata si pelapor.
"Berapa lama perjalanan ke perbatasan Kota Pek Yang?" tanya Shin Shui.
"Sekitar setengah hari perjalanan. Karena kota itu lumayan jauh dari Kotaraja. Hanya saja kebetulan kami sedang berkeliling melihat-lihat keadaan, tidak tahunya bertemu dengan mereka,"
"Berarti kejadiannya sudah dari tadi, dan saat kau merasa ada yang aneh, kau langsung pergi ke sini untuk melapor?"
"Tidak salah ucapan pahlawan,"
"Hemm, baik. Kalau begitu antarkan aku ke sana sekarang juga," pinta Shin Shui kepada si pelapor.
Orang itu mengangguk. Saat Shin Shui akan berangkat, Kaisar Wei An mengutus juga dua orang pendekar Istana Kekaisaran untuk menemani Shin Shui. Dua orang itu, merupakan pendekar yang terbilang lumayan.
Kekuatan mereka sudah mencapai tahap Pendekar Dewa tahap lima akhir. Semuanya pria berumur sekitar empat puluh tiga tahun. Setelah mendapatkan izin dari sang Kaisar, keempat orang tersebut segera pergi ke Kota Pek Yang.
Perjalanan yang seharusnya di tempuh selama setengah hari itu, pada akhirnya bisa di persingkat menjadi kurang lebih tiga jam. Hal ini terjadi karena mereka bergerak menggunakan kecepatan tinggi. Si pelapor tadi di gendong oleh Shin Shui.
Sebab menurutnya jika berjalan mengikuti kecepatan si pelapor, tentu akan semakin lama. Dan mungkin kalau ada sesuatu yang terjadi, mereka malah terlambat.
Setelah tiba di sana, Shin Shui meminta si pelapor untuk langsung menuju ke tempat yang di maksud. Akhirnya tak lama, mereka semua sudah tiba di sebuah sekte pinggiran hutan.
Sekte itu tidak besar, mungkin memang pantas disebut sekte kecil. Bangunannya hanya seluas sekitar dua ratus meter persegi. Di sekeliling bangunan tersebut terdapat banyak sekali pohon cemara yang tinggi sedang bergoyang-goyang tertiup angin.
Di sana ada juga benteng yang mengelilingi sekte. Tingginya sekitar tiga tombak. Mereka tidak langsung masuk, si pelapor lebih dulu membawa Shin Shui dam yang lain ke rekannya yang sedang bersembunyi di balik dapuran pohon bambu.
"Apakah kau tahu apa yang sedang terjadi di dalam?" tanya Shin Shui kepada prajurit Kekaisaran yang bersembunyi itu. Jumlahnya ada enam orang.
"Kami tidak tahu pasti pahlawan. Yang jelas, tadi kami mendengar adanya sedikit keramaian seperti beradunya sebuah logam. Tapi itu hanya sebentar, setelah itu keadaan sepi kembali," katanya.
"Hemm, berapa jumlah orang-orang yang mencurigakan itu?"
"Kurang lebih ada sekitar dua puluh orang,"
"Kau tahu mereka berasal dari Kekaisaran Tang, dari mana?"
"Mereka menyebutnya sendiri saat penjaga sekte menanyakannya,"
"Baik kalau begitu. Kalian tunggu saja di sini," ucap Shin Shui.
Setelah itu, dia bersama dua orang pendekar lainnya langsung melompati benteng lalu masuk ke dalam sekte.
Shin Shui dan dua pendekar Kekaisaran Terkejut saat pertama masuk ke sana. Pasalnya, di halaman sekte itu sudah banyak tergeletak para murid yang sudah menjadi mayat.
Ketiganya segera turun dan bertanya apa yang terjadi kepada seorang murid sekarat. Hanya saja, dia tidak bisa menjawab. Murid itu hanya mampu menunjukkan jari telunjuknya ke dalam, setelah itu dia langsung tewas.
Semua murid yang tewas, hampir mendapatkan luka yang sama. Yaitu tenggorokan mereka tertusuk sebuah besi lancip berukuran satu jengkal berwarna perak.
Tak mau membuang-buang waktu, Shin Shui segera masuk ke dalam menerjang sebuah pintu yang di kunci. Sekali tendang, pintu itu langsung hancur berantakan. Kemarahan sudah tergambar di wajahnya.
Di dalam, seorang kakek tua yang diduga merupakan Kepala Tetua sekte tersebut, sedang di siksa bersama tiga Tetua lainnya. Keadaan mereka sudah sangat mengkhawatirkan. Siapa pun yang melihatnya, pasti akan merasakan iba.
Di dalam ruangan tersebut berdiri dua puluh orang yang membentuk lingkaran. Begitu Shin Shui masuk, mereka terperanjat kaget.
"Siapa kalian bertiga?" tanya seorang dengan nada membentak.
"Justru kami yang seharusnya bertanya. Siapa kalian?" tanya seorang pendekar yang bersama Shin Shui.
"Siapa kami tidak penting. Yang jelas, kami tidak ada urusan dengan kalian," jawab orang itu tak kalah garang.
"Tentu saja ada. Jika kalian membuat kekacauan di Kekaisaran Wei, itu berarti kalian sudah berurusan dengan kami,"
"Hemm, Kekaisaran yang lemah berani bicara di depan kami," kata orang itu menghina.
Shin Shui dan yang lainnya langsung naik darah sampai ke level tertinggi. Pendekar Halilintar benar-benar merasakan dadanya bergejolak panas. Walaupun apa yang orang itu katakan benar adanya, tapi ucapan barusan sama saja dengan penghinaan. Terlebih lagi dari caranya ia bicara.
"Cepat tarik kembali ucapanmu sebelum aku mengambil tindakan yang membuat kau akan menyesal seumur hidup," kata Shin Shui sangat marah.
"Hehehe, ternyata ada pendekar yang besar mulut. Kau pikir bisa melakukan apa terhadap kami heh? Apakah matamu buta? Jumlah kalian hanya bertiga, sedangkan kami? Dan kau berani berkata seperti itu? Sungguh manusia yang menantang Malaikat Pencabut Nyawa," kata orang itu semakin sombong.
"Keparat!!! Sekali lagi aku peringatkan atau aku akan memecahkan kepalamu sekarang juga,"
Suara Shin Shi sudah berubah menjadi serak parau. Dua orang yang ada di sisinya bergeser mengambil jarak. Mereka sudah tahu tabian Pendekar Halilintar ini, apalagi kalau suaranya sudah berubah. Maka diam-diam keduanya pun mengambil langkah inisiatif mempersiapkan diri.
"Cih, benar-benar mulutmu minta di robek. Aku bilang tidak ya tidak. Aku sama sekali tidak takut terhadap pendekar sepertimu. Seorang pendekar yang lemah, sama seperti Kekai-, "
Belum sempat dia menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba perkataan orang itu langsung terhenti. Tanpa ada yang mengetahui bagaimana caranya, tahu-tahu orang tersebut langsung ambruk dengan kepala pecah. Seketka darah muncrat ke mana-mana menebarkan bau amis.
Semua rekan orang itu menjadi geram. Amarah mereka seketika meledak. Harus diakui bahwa sembilan belas orang itu merasa sedikit kaget juga saat melihat kemampuan Shin Shui yang mampu membunuh tanpa berkedip, atau bahkan tanpa bernafas sekali pun.
Tapi kalu diingat lagi, untuk apa mereka takut? Mungkin kejadian barusan itu hanya sebuah kebetulan saja. Toh jumlah mereka beberapa kali lipat lebih banyak, jadi tidak ada yang perlu di takuti
Maka saat mengingat hal itu, sembilan belas orang tersebut langsung maju menyerang Shin Shui dan dua rekannya. Di sisi lain, Shin Shui lalu melayang ke mundur ke belakang dan mendarat di halaman. Ia sengaja mencari tempat yang lebih leluasa lagi.
"Saat mereka semua tiba, kalian pergilah ke dalam selamatkan dulu orang-orang sekte ini yang sekiranya dapat bertahan. Setelah itu, obati mereka dengan pil ini," kata Shin Shui kepada dua rekannya sambil memberikan satu botol pil.
Awalnya mereka ragu, tapi saat melihat sinar mata Shin Shui, keduanya tidak berani lagi membantah.
Saat semua orang itu tiba di halaman, mereka langsung menyerang Shin Shui dengan ganas. Sedangkan kedua rekannya kemudian masuk ke dalam secara diam-diam sesuai perintah Shin Shui.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 447 Episodes
Comments
zevs
15
2024-04-09
1
arfan
774
2021-07-27
2
Dadang Ribet
lanjutkan
2021-06-21
2