Di sana pemandangannya sangat indah dan asri. Pohon sakura terlihat sangat banyak mengelilingi tempat tersebut. Bunga tulip bermekaran berwarna-warni. Pohon maple merah, begitu menawan menari-nari di bawah hembusan angin padang yang sejuk.
Chen Li sedang duduk sendirian di bawah pohon sakura. Di sana ia merasa amat tenang dan damai. Alunan suara seruling yang entah dari mana, terdengar memanjakan telinga. Alam seolah menari bersama alunan suara seruling itu.
Burung-burung bersuara mengiringi alunan nada. Mentari bersinar terang seolah turut bahagia mendengarkan lantunan nada itu. Chen Li begitu sangat menikmatinya. Ia bersandar di bawah pohon, bibirnya tersenyum manis.
Semakin lama, suara seruling tersebut semakin jelas terdengar. Rasanya semakin dekat dengan dirinya. Chen Li membuka mata saat mendengar langkah kaki. Ia melihat ke sebelah kanan.
Ternyata, di sana ada seorang yang rupawan memakai pakaian putih bersinar. Penampilannya tak beda jauh dengan kaisar. Orang itu wajahnya sedikit bersinar memberikan kelembutan. Ia berjalan mendekat sambil terus meniup seruling batu gioknya. Seruling giok yang indah dengan ronce merah merumbai-rumbai. Warnanya hijau muda. Kalau di tempat gelap, pasti seruling itu bercahaya.
Orang itu semakin mendekat lalu duduk tepat di pinggir sebelah kanan Chen Li. Mau tak mau bocah itu harus bangun. Begitu bangun, orang tersebut berhenti meniup seruling. Chen Li sedikit kecewa, tapi itu tak lama.
"Maaf, paman siapa?" tanya Chen Li penasaran.
"Apakah kau bernama Shin Chen Li? Anak dari Shin Shui si Pendekar Halilintar?" tanya balik orang itu.
"Benar. Kenapa paman bisa tahu namaku dan ayahku?" Chen Li semakin penasaran. Rasanya ia baru bertemu kali ini saja, kenapa orang itu bisa mengenalnya?
"Aku kakek gurumu Li'er. Aku guru ayahmu," ucapnya sambil tersenyum lembut.
"Benarkah? Apakah paman bernama Lao Yi?" tanya Chen Li sambil memandang lekat.
"Benar Li'er,"
"Kakek guru. Hormat untuk kakek guru," Chen Li langsung bersujud tiga kali memberi hormat. Ia amat bahagia bisa bertemu dengan kakek gurunya.
"Tapi, kenapa kakek kelihatan muda?"
"Karena kakek sudah menjadi Pendekar Keabadian. Kakek tidak akan tua, tapi kakek juga sudah beda dunia denganmu," kata orang itu yang memang dialah Lao Yi.
"Jadi sekarang kakek tinggal di mana?"
"Nanti kau akan tahu sendiri Li'er,"
Chen Li mengangguk. Kemudian raut wajahnya berubah menggambarkan kesedihan mendalam. Ia semakin tertunduk, Chen Li kecil ingin bicara, namun ia takut.
"Kalau ada yang ingin di bicarakan, bicaralah Li'er. Jangan kau pendam sendiri," ucap Lao Yi, ia sudah tahu apa yang dirasakan oleh cucu muridnya itu.
"Kakek tidak akan marah?"
"Tentu saja tidak. Mana mungkin kakek bisa marah kepada bocah lucu sepertimu," katanya.
Chen Li tertawa sebentar memperlihatkan wajah tampannya.
"Kakek, kenapa aku tidak seperti orang lain?"
"Hemm, bukankah kau sama seperti yang lain?"
"Mungkin iya kek. Tapi …, mataku tidak seperti yang lain. Aku tidak bisa melihat karena mataku tidak bisa di buka kek," Chen Li semakin sedih.
Wajah yang lucu itu, kini menampakkan kesedihan. Chen Li tidak sadar, bahwa walaupun ia tidak bisa membuka mata, saat ini dia bisa melihat semuanya dengan jelas.
"Kau tkdak buta Li'er. Justru kau istimewa. Kau masih bisa melihat sama seperti orang lain,"
"Bagaimana caranya kek?"
"Kau bisa melihat dengan hati dan perasaanmu. Hati dan perasaan itu, lebih tajam daripada matamu sendiri. Dengan hati dan perasaan, kau bisa melihat apa yang tidak bisa di lihat oleh mata. Dengan itu juga, kau bisa melihat orang lain lebih detail,"
"Apakah itu benar kek?"
"Tentu. Sekarang pun, buktinya kau bisa melihat kakek bukan? Karena apa? Karena hati dan perasaanmu sedang tenang. Karena itulah, mulai saat ini kau jangan menangis lagi. Kau harus menggunakan hati dan pikiranmu. Suatu saat, matamu akan terbuka lagi,"
"Tapi kek, aku tidak bisa. Sedangkan aku sendiri ingin menjadi seperti ayah. Aku ingin jadi seorang pendekar yang membantu orang lain kek,"
"Nanti kakek akan beritahu bagaimana caranya. Kau bisa Li'er. Sangat bisa, bahkan nanti kau akan lebih hebat daripada ayahmu," ucap Lao Yi.
"Kakek tidak bercanda bukan?" Chen Li semakin bersemangat. Wajahnya kembali bersinar.
"Tentu saja tidak. Karena kau istimewa. Matamu itu pemberian para dewa. Para dewa sangat menyayangimu, jadi kau jangan nakal. Jangan menangis lagi. Suatu saat kalau sudah dewasa kau akan tahu Li'er,"
"Wah …, para dewa baik sekali. Terimakasih para dewa," kata Chen Li lalu bersujud tiga kali sebagai ungkapan terimakasihnya.
"Li'er, kakek pergi dulu ya. Ini hadiah untukmu," kata Lao Yi sambil memberikan seruling giok tadi.
"Kakek mau ke mana? Li'er masih ingin bersama kakek," Chen Li murung kembali.
"Kakek ada bersamamu Li'er. Kakek ada di sini," katanya sambil menunjuk hati Chen Li dengan telunjuknya.
"Ingat pesan kakek, jangan nakal lagi. Kalau kamu nakal, kakek akan marah," kata Lao Yi sambil memegang kepala Chen Li lalu mengacak-acak rambutnya sedikit.
"Eumm," Chen Li mengangguk. "Aku janji tidak akan nakal lagi kek. Aku akan menjadi orang baik," katanya bersemangat lalu memegangi seruling giok dengan erat.
"Kakek guru, bagaimana caranya memainkan seruling ini?" tanya Chen Li belum mengerti.
"Nanti kau bisa sendiri. Coba saja besok. Kakek pergi dulu,"
"Baik kek. Hati-hati kakek guru," Chen Li bersujud kembali sampai Lao Yi menghilang.
Saat Lao Yi pergi, hari sudah pagi. Shin Shui dan Yun Mei berlari ke kamar anaknya karena dia mendengar Chen Li terus berteriak menyebut 'kakek guru'.
"Li'er, ada apa sayang? Kamu tidak papa kan?" Yun Mei panik karena melihat Chen Li seperti kebingungan.
"Aku bertemu kakek guru bu. Dia memberikan hadiah ini kepadaku," kata Chen Li kegirangan kemudian memperlihatkan seruling giok yang kini digenggam erat di tangannya.
"Kau mendapatkannya dari mana Li'er?" Yun Mei terpana melihat seruling indah itu.
"Dari kakek guru ibu. Kakek bilang, itu hadiah dari kakek untuk Li'er. Kakek juga bilang bahwa Li'er disuruh jangan nakal lagi. Bahkan kata kakek, Li'er bisa jadi pendekar seperti ayah," ucap bocah itu bertambah girang.
Di dekat pintu, Shin Shui hanya tersenyum melihat tingkah anaknya. Tapi hatinya sakit. Bagaikan tertusuk ribuan jarum. Betapa besar kasih sayang gurunya. Bahkan anaknya sendiri, ia temui dan diberikan hadiah.
'Andai guru masih ada di sini,' batin Shin Shui.
"Ayah, lihat! Bagus kan?" kata Chen Li turun dari kasur lalu menghampiri Shin Shui.
"Bagus Li'er. Kau harus menjaga hadiah ini. Jangan sampai hilang. Jadi mulai sekarang, kau harus berlatih silat dengan rajin supaya kakek bangga padamu," kata Shin Shui sambil memangkunya.
"Baik ayah. Pasti Li'er akan rajin berlatih lagi," ucapnya.
Yun Mei hanya geleng-geleng kepala dan tersenyum. Wanita itu pun turut bahagia melihat anaknya bisa seperti itu. Chen Li memang bocah baru berumur sepuluh tahun, sifat manjanya masih ada. Terlebih kalau di luar jadwal latihan.
Namun kalau sudah berlatih, ia akan sama seriusnya seperti Shin Shui.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 447 Episodes
Comments
zevs
9
2024-04-09
0
Ipunk Mdrc
mimpi woi
2024-01-21
1
Reader penguasa
bukannya ga bisa buka mata ya?
2023-10-27
2