Semua orang panik melihat fenomena ini. Terutama mereka para murid. Semua murid lari berhamburan mencari tempat yang aman untuk berlindung. Mereka mengira bahwa ini sebuah malapetaka besar. Dalam sepuluh tahun terakhir, baru sekarang lagi kejadian mengerikan seperti ini terjadi di Sekte Bukit Halilintar.
Sebab setelah perang besar sepuluh tahun lalu, Sekte Bukit Halilintar benar-benar aman dari bahaya. Paling hanya kejadian-kejadian kecil yang di sebabkan oleh orang bodoh saja.
Sebab siapa pun, pasti tahu tentang Sekte Bukit Halilintar. Bahkan setiap pendaftaran dibuka, peserta selalu bertambah setiap tahunnya. Hingga pada saat ini, Sekte Bukit Halilintar menjadi sekte terbesar, termewah, juga sekte nomor satu di Kekaisaran Wei.
Selain seluruh murid, para tetua sekte pun mulai sedikit panik. Mereka sudah mengambil sikap siaga apabila ada serangan datang dari seseorang. Sebab para tetua merasakan adanya energi besar yang menyelimuti tempat itu.
Semakin lama, langit semakin bergemuruh. Halilintar menyambar tanpa jeda. Bahkan angin pun berhembus lebih kencang daripada tadi. Tidak ada yang tidak panik, kecuali Shin Shui seorang.
Chen Li masih meraung keras. Bahkan semakin keras. Kedua pelipis matanya mengeluarkan urat-urat. Selain urat di pelipis, urat serta otot di beberapa bagian tubuh lainnya pun mulai nampak.
Shin Shui berjalan mendekati Chen Li. Niatnya untuk menenangkan anak semata wayangnya, tapi niat itu tidak terwujud karena begitu tangannya terjulur, mata Chen Li tiba-tiba terbuka.
Dua bola matanya menatap tajam Shin Shui. Untuk beberapa saat, Pendekar Halilintar itu tak bisa bergerak. Ia diam seperti patung. Bukan karena terkejut, kalau hanya terkejut ia pasti bisa dapat menguasai diri dalam sekejap. Tapi Shin Shui memang benar-benar tidak bisa bergerak. Ada energi besar yang menahan dirinya.
Chen Li semakin menatap tajam Shin Shui. Bocah itu menyentakkan matanya. Seketika, Shin Shui langsung terlempar sampai lima belas langkah. Semua orang semakin terkejut.
Mereka mengira bahwa Chen Li pasti dikendalikan oleh siluman ataupun iblis. Para tetua mulai memperlihatkan tanda bahwa mereka akan bergerak, tapi Shin Shui segera memberikan isyarat dengan tangannya supaya mereka diam dan tidak ada yang ikut campur.
Shin Shui mulai berdiri kembali. Dia mengatur nafasnya dan mulai mengeluarkan kekuatannya. Sebuah energi berwarna biru muncul menyelimuti tubuh. Halilintar yang menyambar ke segala arah, kini perlahan mulai tertuju kepada Shin Shui.
Melihat kejadian ini, semua murid terbengong. Mereka tidak menyangka bahwa kepala tetua mereka mempunyai kekuatan sehebat ini. Bahkan para tetua pun sama. Baru kali ini Shin Shui menunjukkan kekuatannya lagi.
Pendekar Halilintar berjalan perlahan mendekati Chen Li. Ia sudah siap untuk 'bertarung' dengan sang anak.
Bocah itu pun berjalan mendekati sang ayah. Sorot matanya semakin tajam dan titik yang mirip mata pisau di matanya, semakin terlihat dengan jelas.
"Wushh …"
Sebuah cahaya merah membara menyerang Shin Shui dengan cepat. Cahaya merah itu mengandung energi yang sangat besar dan murni. Shin Shui menahannya menggunakan jurus Perisai Halilintar.
Dua energi besar berbenturan. Ledakan cukup besar terdengar begitu dua tenaga itu beradu. Baik Shin Shui maupun Chen Li, tidak ada yang terpental. Mereka masih berdiri dengan sigap di posisinya masing-masing.
Tanpa diduga, Chen Li kembali menyentakkan matanya. Kali ini cahaya biru mirip halilintar melesat cepat dari mata bocah itu mengarah kepada Shin Shui.
"Wushh …"
"Blarrr …"
"Ughh …"
Shin Shui terpental sampai jatuh bergulingan. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa serangan yang barusan itu memiliki kecepatan secepat cahaya.
Tak berhenti sampai di situ, Chen Li mulai bergerak lagi. Jika tadi ia hanya menggunakan mata saja, kali ini bocah itu menggunakan kedua tangannya juga. Kedua tangannya diselimuti oleh lima macam warna cahaya sampai ke pangkal lengan.
Dia melesat cepat ke ayahnya dan langsung memberikan hujan serangan pukulan. Setiap pukulan membawa hawa yang bercampur aduk. Ada hawa panas, dingin, berat, bergetar, bahkan ada juga hawa angin setajam pisau.
Shin Shui terkesiap. Dengan gerakannya yang tak kalah cepat, Pendekar Halilintar pun menggerakan kedua tangannya.
"Bukkk …"
"Blarrr …"
Tangan kanan ayah dan anak itu bertemu. Ledakan kembali terjadi akibat dua buah energi berbenturan. Shin Shui merasakan pangkal lengannya bergetar. Saat ini kebingungan. Apakah dia harus mengeluarkan semua kemampuannya untuk menghadapi Chen Li? Apakah dia tega melukai anak semata wayangnya?
Saat ini keduanya saling tatap kembali. Keduanya sama tajam. Sama gagah, dan sama tampan. Di saat seperti itulah Shin Shui teringat akan mimpinya yang bertemu dengan Lao Yi, Cun Fen, dan juga phoenix biru.
Untuk beberapa saat ia berusaha mengingat kembali mimpi yang aneh itu. Di mana gurunya, Lao Yi, mengatakan bahwa Chen Li memiliki bekal yang diberikan langsung oleh para dewa tanpa ia ketahui. Mungkin bekal yang dimaksud adalah apa yang ia lihat sekarang.
Belum sempat ia memikirkan tindakan selanjutnya, Chen Li sudah menyerang lagi. Ia mengibaskan kedua tangannya bergantian. Lima macam garis berbagai warna melesat menyerang Shin Shui.
Karena ia sudah mengetahui semuanya, maka Shin Shui tidak ragu lagi. Ia balas menyerang. Pendekar Halilintar menunjukkan taringnya lagi di hadapan semua anggota Sekte Halilintar.
"Tornado Halilintar …"
"Wushh …"
Tiga buah tornado tercipta di depan Shin Shui. Ketiganya melesat ke depan dan beradu dengan sinar yang diakibatkan oleh kibasan tangan Chen Li. Untuk kesekian kalinya, gemuruh kembali terdengar. Namun kali ini lebih keras dan lebih hebat lagi.
Shin Shui tidak tinggal diam, begitu jurusnya lenyap, dia bergerak maju menyerang. Kecepatannya hampir sama dengan petie yang menyambar bumi. Hanya dua kedipan mata, Shin Shui sudah ada di hadapan anaknya.
"Pukulan Dewa Halilintar …"
"Wushh …"
"Bummm …"
Chen Li terpental jauh ke belakang. Yun Mei berteriak, namun ia tidak berani mengambil tindakan. Semua orang mengira bahwa Shin Shui tidak sadar melakukan hal tersebut. Tapi semua anggapan itu salah. Pendekar Halilintar memang sengaja melakukannya.
Chen Li sudah bangun dan berdiri tegak. Dia menghentakkan kakinya ke tanah. Detik berikutnya, ia sudah ada di depan Shin Shui. Bocah itu berniat untuk memberikan pukulan telak kepada ayahnya.
Namun sayang niatnya harus tertunda karena tiba-tiba Shin Shui tidak ada di depannya.
"Aku di sini," kata Shin Shui yang sudah berpindah jadi di belakang tubuh Chen Li. Jaraknya terpaut sekitar lima belas langkah. Entah bagaimana ia tiba-tiba bisa berpindah tempat seperti itu, tidak ada yang berhasil melihatnya.
Sebelum Chen Li menyerang lagi, Shin Shui sudah mendahuluinya. Dia mengumpulkan tenaga dalam di kedua telapak tangannya. Begitu terkumpul, Pendekar Halilintar menghentakkan tangannya ke atas dengan posisi telapak tangan ke atas pula.
"Penjara Dewa Halilintar …"
"Tarr …"
"Duarr …"
"Glegarr …"
Chen Li terkurung dalam penjara yang mengeluarkan cahaya biru. Penjara itu berbeda dari penjara lainnya. Sebab penjara tersebut, terbuat dari unsur halilintar.
Shin Chen Li tidak bisa bergerak. Kedua tangan dan kakinya di borgol sangat kuat. perlahan-lahan, bocah itu mulai tenang kembali. Matanya mulai tertutup lagi. Saat mata itu kembali tertutup, alam semesta pun kembali seperti semula.
Gemuruh halilintar sudah tidak terdengar. Raungan suara-suara seram hilang ditelan bumi. Dan angin yang berhembus kencang, lenyap entah ke mana. Tubuh Shin Shui mulai kembali normal. Ia segera mengawasi Chen Li yang saat ini masih terlihat belum tenang sepenuhnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 447 Episodes
Comments
Dzikir Ari
seerrrrruu
2023-04-28
1
Tom
ayooooh... Chen li bunuh bapa mu.. ambil matanya🤣🤣🤣🤣
2021-10-02
2
Muhammad Amin
mta naga
2021-08-02
1